
“Oh, kepalaku berat sekali” ucap Slimin seraya berjalan mendekati
arah Pigoun. Pandangannya masih belum jelas. Matanya masih merah. Terhuyung-huyung
ia berjalan. Memaksa diri untuk pergi kea rah asal suara itu. Slimin pun
berjalan mengarah Pigoun terlebih dahulu. “Kau tunggu di sini, Pigoun” perintah
Slimin.
“Guling guling, guling guling, guling guling” kata yang keluar dari
mulut Piguon. Yang tampak acuh pada apa yang di ucapkan Slimin.
“Ah, terserah saja. Aku pergi dulu” Slimin pun pergi tidak
menghiraukan Pigoun. Ia langkahkan kaki menyusul Kelar dan Jack.
Rambutnya yang kriting seperti mie juga ikut bergoyang. Seirama
dengan langkah pelan bak pangeran yang berjalan di atas karpet merah. Memasuki
lorong gelap. Disana ia dapat melihat bara yang masih menyala. Tulang-tulang
yang bersih tidak menyisakan satu serat daging pun tergelatak di atas perapian.
Aroma daging yang terbakar memenuhi lorong tempat ia berjalan.
Hingga ia masuk lebih dalam lagi dan bau
yang cukup menyengat menggantikan baud aging bakar itu. Tercium bau amis darah
yang menyerbu seisi lorong “Ah, bau sekali?” kata Slimin sembari menutup
hidungnya dengan tangan.
Di atas batu berpasir. lembab yang berjamur. 2 pekerja lunglai di
tanah. Kaku dan pucat. Darah bersimbah di tanah tempat mereka terbaring.
“Apa ini ulah binatang buas?” terka Slimin. Setelah melihat mayat
itu. Tanpa kepala dan dada yang berlubang.
“Tidak, Binatang buas tidak akan berbuat yang seperti ini. Jika di
lihat ini pasti ulah seseorang” kata Kelar. Yang membungkukkan tubuh supaya
bisa melihat dengan jelas.
“Jika bukan binatang buas, itu artinya salah satu dari mereka
adalah pelakunya” Slimin asal bicara menuduh siapa saja yang ada di kepalanya,
Serta sorot mata yang tajam menatap ke arah budak yang sedang meringkuk.
Di dalam gua gelap itu. Di isi dengan lentera sepanjang lorong.
Samar memperlihatkan goresan pada dinding. Juga di tanah tempat mereka
berpijak. Noda merah membentuk jalan. Seperti ada mayat berdarah yang terseret
terbawa kedalam gua gelap.
Jack hanya menatap diam. Mengedar pandang pada sekumpulan manusia
yang sedang melihat dari jauh. Mereka yang di rantai kakinya. Tidak bisa lari
kemana pun. Para budak.
“Bagaimana menurutmu Jack?” Kelar menatap Jack meminta pendapat.
Jack tidak menjawab. Masih diam menatap kea rah sekeliling. “Haruskah kita
bertanya pada mereka” ucap Kelar lagi.
“Masih belum Kelar. Kita pastikan dulu siapa mereka ini” kata Jack
yang mengalihkan pandangan pada mayat yang terbaring kaku.
“Benar, mari kita lihat dulu keparat ini” ucap Kelar yang
melanjutkan pengamatan.
“Ah, sial kepalaku masih berat” Slimin mengeleng-gelang kepala. “Jadi
apa yang kita punya disini, Ah mayat rupanya. Jack bagaimana jika aku saja yang
bertanya kepada para budak itu” ucap Slimin menatap Jack.
“Jangan buru-buru begitu. Mereka tidak akan lari” jawab Jack. Jack
sangat yakin dengan apa yang dirinya katakan. Jika memang mereka mau melarikan
diri. Maka mereka harus memutuskan rantai yang ada di kaki mereka. “Itu
bukanlah besi sembarangan” kata Jack lagi.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Melihat mayat mati
ini?. ini sangat menjijikan Jack” kata Slimin yang membuang muka. Wajah merona
di wajahnya perlahan hilang. Tampaknya mabuk itu sudah mau menghilang.
__ADS_1
“Bagus sekali jika kau ingin tahu, pertama kita amati dulu mayat
itu” jawab Jack. “Apa yang kau temukan Kelar” kata Jack yang melirik pria yang
sedang mengamati mayat itu.
“Aku sulit melihat semuanya dengan jelas. Obor dan lentera ini
tidak cukup terang untuk melihat segalanya dengan mudah” keluh Kelar yang hanya
dapat melihat samar. Namun bukan berararti ia tidak dapat melihat sama sekali.
Pria bertopi lebar itu masih bisa menangkap semuanya. “Tapi tidak perlu
menunggu hari esok, semuanya sudah lihat sekarang” ia tersenyum. Layak seorang
pemenang.
“Kau dengar itu Slimin. Dia bisa melihat semua” ucap Jack kepada
pria berambut kriting kuning.
“Eh, Hebat juga” kata Slimin yang memuji.
“Jadi apa yang kau lihat Kelar?” tanya Jack.
Kelar mengelengkan kepala sejenak, memejamkan mata. “Baik. Aku mulai
dengan perkiraan dia mati terlebih dahulu. Melihat mayat yang sudah pucat
seperti ini membuatku ragu mayat itu mati malam ini. justru aku melihat ia
seperti mati siang tadi” kata Kelar.
“Bagaimana caranya melihat itu?” Slimin bertanya dengan wajah ingin
tahu.
“Aku seorang tukang daging Slimin. Aku tahu bagaimana keadaan hewan
yang sudah lama mati dan yang baru saja mati. Yang baru saja mati akan terlihat
begitu segar dan berbau amis yang cukup segar, dari baunya saja aku bisa
membedakan keduanya. Ketika masuk kedalam gua ini aku sudah penasaran baunya
tidak lagi seperti darah segar. Melainkan darah yang sudah cukup membusuk”
terang Kelar panjang lebar.
“Hah, pantas saja daging buatanmu begitu lezat” ucap Slimin lagi.
“Yap, itu benar. Boleh ku lanjutkan” kata Kelar yang meminta ijin.
“Selanjutnya, potongan yang ada di leher ini” Kelar menunjukan potongan leher
pada mayat yang terbaring di tanah hitam. Kelar menunjukan wajah yang aneh.
Antara kagum atau penasaran. Bercampur dalam wajanya yang berkumis dan
berjanggut tipis. “Potongn seperti ini bergitu terampil. Aku yakin seseorang
yang melakukannya menggukan senjata tajam yang tipis. Yeh, seperti pedang milik
mu itu Jack” ia mengarahkan pada pinggang Jack. Yang disana tergantung pedang
panjang.
“Oi, oi jangan bercanda seperti itu” ucap Slimin yang menahan tawa.
“Aku tidak bercanda, tapi jika ku lihat lagi pada kerbau dan budak
yang di bunuh Jack sore tadi, itu terlihat berbeda. Hasil tebasan Jack sedikit
lebih kasar. Sedangkan tebasan pada mayat ini jauh lebih rapi dan aku tidak
yakin ia memotong kepala pria ini dengan apa” kata Kelar yang mencari benda
yang tepat untuk mengatakannya.
“Benang” kata Jack.
“Yah, benar. Potongan itu terlihat setipis benang” Kelar
membenarkan.
“Jika senjata itu adalah benang. Hanya satu tempat yang ahli dalam
menggunakan benang dengan mahir. Desa Senar” ucap Slimin. “Apa kau yakin ini
aka nada hubungan dengan desa pembunuh itu” tanya Slimin.
“Kemungkinan itu ada Slimin, tapi kemungkinan untuk salah juga ada.
Kita tidak bisa memutuskan secepat itu juga” menatap Slimin.
“Ya, kau benar. Tapi lubang di dadanya itu terlihat bertolak dengan
benang yang sedang kita bicarakan” Slimin pun mendekatkan kepalanya kepada
mayat yang terbaring kaku.
“Yah, itu juga cukup membuatku bingung. Bagaimana bisa dua luka
__ADS_1
bahkan tiga luka tidak memiliki kemiripan sama sekali” kata Kelar yang juga
menatap penuh tanda tanya.
“Apa yang membingugkanmu Kelar” Jack mulai bersuara.
“Kau tahu ini Jack, luka yang di terimanya tidak seperti di lakukan
oleh satu orang. Lihat saja dada yang berlubang itu. Itu terlihat di tusuk oleh
sesuatu yang memiliki bentuk seperti tangan manusia. Terlebih lagi remukan pada
lengan dan betis. Aku tidak melihat tanda-tanda ikatan atau sesuatu yang
menjerat. Remukan itu terlihat di pukul dengan satu pukulan keras oleh benda
tumpukl seperti tongkat” diam sejenak “itu terlihat seperti ini” katanya yang
memperagakan. Ia berdiri menghadap Slimin. Dan menjadikan Slimin sebagai
demonstrasi mengambil sebatang kayu kecil yang ada pada kaki lentera. Ia
menunduk dan perlahan memukul arah betis Slimin dengan ancang. “Dan betisnya
remuk seperti remahan roti. Tapi anehnya tida ada darah yang keluar. Hanya luka
dalam yang di terimanya, ini benar benar aneh. Sedangkan tangannya. Slimin
tolong majukan kedua lenganmu” ucap Kelar.
Slimin pun hanya menurut “Seperti ini” katanya yang merentangkan
kedua tangan kedepan.
“Yah begitu” Kelar pun mulai dengan mengangkat tangannya kearah
langit. Menjatuhkan tongkat kecil yang ada ditangannya menghantam pelan lengan
Slimin. “Dan langan juga hancur seperti itu. Hanya satu pukulan untuk masing
masing” jelas Kelar pada Jack.
“Oh sial, ini benar benar aneh” ucap Slimin yang menurunkan
tanganya. “Jadi tidak hanya benang senjata yang di gunakan pembunuh ini?”
Slimin menatap Kelar dengan meminta sebuah jawaban.
“Jadi Yah, bisa aku simpulkan begitu” jawab Kelar.
“Tapi Kelar, bagaiman kau tahu dadanya berlubang oleh tangan
manusia?” tanya Slimin. “Tapi melihat pria ini tubuhnya begitu bugar. Jika
manusia biasa aku rasa perlu usaha yang sangat banyak untuk mengambil
jantungnya. Itu pasti sulit” kata Slimin yang coba melihat dari sudut yang
lain.
“Kau benar, jika itu adalah orang biasa. Bukan sulit namun itu
sangat mustahil. Bahkan dengan belati pun aku tidak yakin orang biasa bisa
melukai pria ini” Kelar tersenyum. “Tidakkah kau merasa ada yang aneh dengan
tubuh pria ini. Meski sudah mati namun aura yang dimilikinya masih keluar
layaknya dia masih hidup. Orang ini bukan orang biasa. Dan seseorang yang
berhasil mengambil jantungnya dan memenggal kepalanya bukanlah sembarang orang.
Dunia yang luas Hah. Oh satu hal. Aku juga pernah mencoba mengambil jantung
hewan dengan menusuknya dengan tangan kosong. Akibatnya kuku-ku patah. Dan
ketika kau coba pada boneka yang kurajut serupa hewan namun jauh lebih lemah
dan lembut. Hasilnya persis seperti yang ada disana” kata Kelar yang begitu
panjang.
Jack hanya menatap diam saja. Ia sedang memikirkan kemungkinan apa
yang akan orang-orang yang lakukan terhadap jantung itu. Semua yang dikatakan
Kelar semuanya hampir serupa apa yang Jack pikirkan. Hanya saja Jack tidak
ingin berbicara layaknya orang yang menjelaskan sesuatu. Biarkan orang lain
yang melakukannya dan ia akan menjadi orang terakhir yang akan memutuskan mau
di bawa kemana jalan yang mereka ambil selanjutnya.
“Jack, aku tahu Jack” kata Kelar yang tampak tahu apa yang Jack
pikirkan.
“Baiklah, mari kita mulai tanyai para saksi” kata Jack. Ucapan itu
mengarah pada budak yang ada didalam sana juga. Seseorang yang berteriak
seperti wanita. suara yang juga mengagetkan mereka.
__ADS_1