LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 11 insiden


__ADS_3

“Oh, kepalaku berat sekali” ucap Slimin seraya berjalan mendekati


arah Pigoun. Pandangannya masih belum jelas. Matanya masih merah. Terhuyung-huyung


ia berjalan. Memaksa diri untuk pergi kea rah asal suara itu. Slimin pun


berjalan mengarah Pigoun terlebih dahulu. “Kau tunggu di sini, Pigoun” perintah


Slimin.


“Guling guling, guling guling, guling guling” kata yang keluar dari


mulut Piguon. Yang tampak acuh pada apa yang di ucapkan Slimin.


“Ah, terserah saja. Aku pergi dulu” Slimin pun pergi tidak


menghiraukan Pigoun. Ia langkahkan kaki menyusul Kelar dan Jack.


Rambutnya yang kriting seperti mie juga ikut bergoyang. Seirama


dengan langkah pelan bak pangeran yang berjalan di atas karpet merah. Memasuki


lorong gelap. Disana ia dapat melihat bara yang masih menyala. Tulang-tulang


yang bersih tidak menyisakan satu serat daging pun tergelatak di atas perapian.


Aroma daging yang terbakar memenuhi lorong tempat ia berjalan.


Hingga ia masuk lebih dalam lagi  dan bau


yang cukup menyengat menggantikan baud aging bakar itu. Tercium bau amis darah


yang menyerbu seisi lorong “Ah, bau sekali?” kata Slimin sembari menutup


hidungnya dengan tangan.


Di atas batu berpasir. lembab yang berjamur. 2 pekerja lunglai di


tanah. Kaku dan pucat. Darah bersimbah di tanah tempat mereka terbaring.


“Apa ini ulah binatang buas?” terka Slimin. Setelah melihat mayat


itu. Tanpa kepala dan dada yang berlubang.


“Tidak, Binatang buas tidak akan berbuat yang seperti ini. Jika di


lihat ini pasti ulah seseorang” kata Kelar. Yang membungkukkan tubuh supaya


bisa melihat dengan jelas.


“Jika bukan binatang buas, itu artinya salah satu dari mereka


adalah pelakunya” Slimin asal bicara menuduh siapa saja yang ada di kepalanya,


Serta sorot mata yang tajam menatap ke arah budak yang sedang meringkuk.


Di dalam gua gelap itu. Di isi dengan lentera sepanjang lorong.


Samar memperlihatkan goresan pada dinding. Juga di tanah tempat mereka


berpijak. Noda merah membentuk jalan. Seperti ada mayat berdarah yang terseret


terbawa kedalam gua gelap.


Jack hanya menatap diam. Mengedar pandang pada sekumpulan manusia


yang sedang melihat dari jauh. Mereka yang di rantai kakinya. Tidak bisa lari


kemana pun. Para budak.


“Bagaimana menurutmu Jack?” Kelar menatap Jack meminta pendapat.


Jack tidak menjawab. Masih diam menatap kea rah sekeliling. “Haruskah kita


bertanya pada mereka” ucap Kelar lagi.


“Masih belum Kelar. Kita pastikan dulu siapa mereka ini” kata Jack


yang mengalihkan pandangan pada mayat yang terbaring kaku.


“Benar, mari kita lihat dulu keparat ini” ucap Kelar yang


melanjutkan pengamatan.


“Ah, sial kepalaku masih berat” Slimin mengeleng-gelang kepala. “Jadi


apa yang kita punya disini, Ah mayat rupanya. Jack bagaimana jika aku saja yang


bertanya kepada para budak itu” ucap Slimin menatap Jack.


“Jangan buru-buru begitu. Mereka tidak akan lari” jawab Jack. Jack


sangat yakin dengan apa yang dirinya katakan. Jika memang mereka mau melarikan


diri. Maka mereka harus memutuskan rantai yang ada di kaki mereka. “Itu


bukanlah besi sembarangan” kata Jack lagi.


“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Melihat mayat mati


ini?. ini sangat menjijikan Jack” kata Slimin yang membuang muka. Wajah merona


di wajahnya perlahan hilang. Tampaknya mabuk itu sudah mau menghilang.

__ADS_1


“Bagus sekali jika kau ingin tahu, pertama kita amati dulu mayat


itu” jawab Jack. “Apa yang kau temukan Kelar” kata Jack yang melirik pria yang


sedang mengamati mayat itu.


“Aku sulit melihat semuanya dengan jelas. Obor dan lentera ini


tidak cukup terang untuk melihat segalanya dengan mudah” keluh Kelar yang hanya


dapat melihat samar. Namun bukan berararti ia tidak dapat melihat sama sekali.


Pria bertopi lebar itu masih bisa menangkap semuanya. “Tapi tidak perlu


menunggu hari esok, semuanya sudah lihat sekarang” ia tersenyum. Layak seorang


pemenang.


“Kau dengar itu Slimin. Dia bisa melihat semua” ucap Jack kepada


pria berambut kriting kuning.


“Eh, Hebat juga” kata Slimin yang memuji.


“Jadi apa yang kau lihat Kelar?” tanya Jack.


Kelar mengelengkan kepala sejenak, memejamkan mata. “Baik. Aku mulai


dengan perkiraan dia mati terlebih dahulu. Melihat mayat yang sudah pucat


seperti ini membuatku ragu mayat itu mati malam ini. justru aku melihat ia


seperti mati siang tadi” kata Kelar.


“Bagaimana caranya melihat itu?” Slimin bertanya dengan wajah ingin


tahu.


“Aku seorang tukang daging Slimin. Aku tahu bagaimana keadaan hewan


yang sudah lama mati dan yang baru saja mati. Yang baru saja mati akan terlihat


begitu segar dan berbau amis yang cukup segar, dari baunya saja aku bisa


membedakan keduanya. Ketika masuk kedalam gua ini aku sudah penasaran baunya


tidak lagi seperti darah segar. Melainkan darah yang sudah cukup membusuk”


terang Kelar panjang lebar.


“Hah, pantas saja daging buatanmu begitu lezat” ucap Slimin lagi.


“Yap, itu benar. Boleh ku lanjutkan” kata Kelar yang meminta ijin.


“Selanjutnya, potongan yang ada di leher ini” Kelar menunjukan potongan leher


pada mayat yang terbaring di tanah hitam. Kelar menunjukan wajah yang aneh.


Antara kagum atau penasaran. Bercampur dalam wajanya yang berkumis dan


berjanggut tipis. “Potongn seperti ini bergitu terampil. Aku yakin seseorang


yang melakukannya menggukan senjata tajam yang tipis. Yeh, seperti pedang milik


mu itu Jack” ia mengarahkan pada pinggang Jack. Yang disana tergantung pedang


panjang.


“Oi, oi jangan bercanda seperti itu” ucap Slimin yang menahan tawa.


“Aku tidak bercanda, tapi jika ku lihat lagi pada kerbau dan budak


yang di bunuh Jack sore tadi, itu terlihat berbeda. Hasil tebasan Jack sedikit


lebih kasar. Sedangkan tebasan pada mayat ini jauh lebih rapi dan aku tidak


yakin ia memotong kepala pria ini dengan apa” kata Kelar yang mencari benda


yang tepat untuk mengatakannya.


“Benang” kata Jack.


“Yah, benar. Potongan itu terlihat setipis benang” Kelar


membenarkan.


“Jika senjata itu adalah benang. Hanya satu tempat yang ahli dalam


menggunakan benang dengan mahir. Desa Senar” ucap Slimin. “Apa kau yakin ini


aka nada hubungan dengan desa pembunuh itu” tanya Slimin.


“Kemungkinan itu ada Slimin, tapi kemungkinan untuk salah juga ada.


Kita tidak bisa memutuskan secepat itu juga” menatap Slimin.


“Ya, kau benar. Tapi lubang di dadanya itu terlihat bertolak dengan


benang yang sedang kita bicarakan” Slimin pun mendekatkan kepalanya kepada


mayat yang terbaring kaku.


“Yah, itu juga cukup membuatku bingung. Bagaimana bisa dua luka

__ADS_1


bahkan tiga luka tidak memiliki kemiripan sama sekali” kata Kelar yang juga


menatap penuh tanda tanya.


“Apa yang membingugkanmu Kelar” Jack mulai bersuara.


“Kau tahu ini Jack, luka yang di terimanya tidak seperti di lakukan


oleh satu orang. Lihat saja dada yang berlubang itu. Itu terlihat di tusuk oleh


sesuatu yang memiliki bentuk seperti tangan manusia. Terlebih lagi remukan pada


lengan dan betis. Aku tidak melihat tanda-tanda ikatan atau sesuatu yang


menjerat. Remukan itu terlihat di pukul dengan satu pukulan keras oleh benda


tumpukl seperti tongkat” diam sejenak “itu terlihat seperti ini” katanya yang


memperagakan. Ia berdiri menghadap Slimin. Dan menjadikan Slimin sebagai


demonstrasi mengambil sebatang kayu kecil yang ada pada kaki lentera. Ia


menunduk dan perlahan memukul arah betis Slimin dengan ancang. “Dan betisnya


remuk seperti remahan roti. Tapi anehnya tida ada darah yang keluar. Hanya luka


dalam yang di terimanya, ini benar benar aneh. Sedangkan tangannya. Slimin


tolong majukan kedua lenganmu” ucap Kelar.


Slimin pun hanya menurut “Seperti ini” katanya yang merentangkan


kedua tangan kedepan.


“Yah begitu” Kelar pun mulai dengan mengangkat tangannya kearah


langit. Menjatuhkan tongkat kecil yang ada ditangannya menghantam pelan lengan


Slimin. “Dan langan juga hancur seperti itu. Hanya satu pukulan untuk masing


masing” jelas Kelar pada Jack.


“Oh sial, ini benar benar aneh” ucap Slimin yang menurunkan


tanganya. “Jadi tidak hanya benang senjata yang di gunakan pembunuh ini?”


Slimin menatap Kelar dengan meminta sebuah jawaban.


“Jadi Yah, bisa aku simpulkan begitu” jawab Kelar.


“Tapi Kelar, bagaiman kau tahu dadanya berlubang oleh tangan


manusia?” tanya Slimin. “Tapi melihat pria ini tubuhnya begitu bugar. Jika


manusia biasa aku rasa perlu usaha yang sangat banyak untuk mengambil


jantungnya. Itu pasti sulit” kata Slimin yang coba melihat dari sudut yang


lain.


“Kau benar, jika itu adalah orang biasa. Bukan sulit namun itu


sangat mustahil. Bahkan dengan belati pun aku tidak yakin orang biasa bisa


melukai pria ini” Kelar tersenyum. “Tidakkah kau merasa ada yang aneh dengan


tubuh pria ini. Meski sudah mati namun aura yang dimilikinya masih keluar


layaknya dia masih hidup. Orang ini bukan orang biasa. Dan seseorang yang


berhasil mengambil jantungnya dan memenggal kepalanya bukanlah sembarang orang.


Dunia yang luas Hah. Oh satu hal. Aku juga pernah mencoba mengambil jantung


hewan dengan menusuknya dengan tangan kosong. Akibatnya kuku-ku patah. Dan


ketika kau coba pada boneka yang kurajut serupa hewan namun jauh lebih lemah


dan lembut. Hasilnya persis seperti yang ada disana” kata Kelar yang begitu


panjang.


Jack hanya menatap diam saja. Ia sedang memikirkan kemungkinan apa


yang akan orang-orang yang lakukan terhadap jantung itu. Semua yang dikatakan


Kelar semuanya hampir serupa apa yang Jack pikirkan. Hanya saja Jack tidak


ingin berbicara layaknya orang yang menjelaskan sesuatu. Biarkan orang lain


yang melakukannya dan ia akan menjadi orang terakhir yang akan memutuskan mau


di bawa kemana jalan yang mereka ambil selanjutnya.


“Jack, aku tahu Jack” kata Kelar yang tampak tahu apa yang Jack


pikirkan.


“Baiklah, mari kita mulai tanyai para saksi” kata Jack. Ucapan itu


mengarah pada budak yang ada didalam sana juga. Seseorang yang berteriak


seperti wanita. suara yang juga mengagetkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2