LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 4 Kaburnya Sang Pengecut


__ADS_3

Di mulut gua yang lembab. Perseteruan terjadi. Bukan perbuatan permusuhan. Hanya sebuah perseteruan antara seorang rekan. Ironi memang namun begitulah mereka. Selalu ada hal yang  jadi penyulut bara menyala. Namun semua akan berakhir dengan hilangnyasatu atau dua hal yang berharga. Entah apa itu namun yang pasti bukanlah sepasang sendal atau seutas tali. Melainkan hal yang jauh lebih berharga.


Cambuk itu berhasil menjerta lengan Jack. Buku dan pena terjatuh ke tanah. Jack tidak bergerak sedikit pun.


“Ahaha. Lemah” Serge senang. Merasa dirinya telah menang. “Sudah ku katakan kau tidak lebih dari seorang bu-“


Darah mengucur. Sebuah lengan jatuh ke tanah.


“Eh” mata Serge membulat tidak percaya. “HE-HEAAAAAAAAH” Teriakan Serge begitu keras. Ia terjatuh ke tanah. Suara itu jauh lebih menggema dari pada rintihan budak di dalam gua. “Jack, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi” Serge memohon ampun. Tangan kiri Serge memegang ujung lengan yang putus. Dan Serge Merangkak mundur menggunakan tulang ekor.


Darah mengalir membasah dari ujung potongan daging yang bertulang. Tumpah membasahi paha sampai kaki. Pria bertindik pucat pasi layaknya besi dingin tertimpa embun.


Jack mendekatkan diri. Mata biru itu tidak menunjukan Eksperesi. Tatapannya dingin seperti es yang membeku.


Perseteruan itu menjadi pusat perhatian. Para budak yang sibuk berkerja. Berhenti sesaat. Perseteruan itu berhasil membuat para budak melebarkan senyum.  Wajah wajah mulai terlihat berseri dari sebelumnya. Mengepalkan tangan. Isyarat dukungan terhadap Jack.


“Mungkin dia sedang menghukum si brengsek itu” kata budak yang berbisik.


Dari wajah yang gembira itu tersimpul ungkapan, mereka juga ikut menikmati perlakuan Jack. Sudah sepantasnya pria sekejam Serge mendapat hukuman. Sudah sepantasnya Serge menderitaa seperti itu.


Karma tidak pernah tidak terjadi.


“Semuanya pasti akan berbalas” budak itu tersenyum.


Namun Jack tidak peduli pada budak itu. Tidak pernah setitik pun niat, ia ingin membalas rasa sakit para budak itu. Jack hanya merasa yang tidak berguna sebaiknya di singkirkan.


“Ha, Serge. Kau tahu sampah?”

__ADS_1


Mata biru membara menatap wajah Serge “Itulah dirimu. Kau tahu mengapa kau masih hidup selama ini. Karena aku tak ingin membuat Boss marah. Akan sangat merepotkan jika dia tahu” ucap Jack. Mata biru itu tajam melihat mata coklat yang mulai bergetar.


“Dia tahu? Apa maksudmu. Maksudmu kau akan membunuhku tanpa dia tahu” wajah Serge semakin pasi. Menelan ludah, bibir bergetar, dan keringat dingin mulai membasah kening Serge.“Tidak, Tidak, Tidak. Jangan lakukan ini Jack”


“Apa kau takut serge?” ucap pria bermasker. Tidak ada kesan apa pun. Haya perkataan datar tanpa rasa. Ia


mendekatkan diri. Menunduk menatap pria malang yang terduduk kaku.


“Jack. Maafkan aku. Aku mohon jangan bunuh aku. Aku akan menjadi abdi setia Jack. Aku mohon” suara yang bergetar Serge memohon untuk melepaskan dirinya. Bersujud seperti budak yang telah ia lukai tadi. Seperti orang yang baru saja mati d itangannya.


“Tapi bercanda” ia tersenyum lebar. Sebilah belati kecil yang ia sembunyikan akhirnya keluar. Mengarah ke dada Jack. “MATI KAU SIALAN” tiba tiba Serge berubah menjadi seorang yang pemberani. Lakon yang Serge lakukan berhasil membuat Jack lengah. Namun begitulah sifat Serge. Menghunuskan pedang dari belakang.


“Kau tak pernah belajar Serge” ucap Jack. Jack membiarkan belati itu tertancap di dada. Juga ingin bermain seperti Serge. Membiarkan rasa menang membumbung hingga langit di hati Serge. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.


Belati itu tidak tertancap. Justru berdenting. Layaknya menusuk tembok baja.


“Hah, bagaimana bisa?” Serge terkejut. Tipu daya yang sangat pamungkas itu digagalkan begitu mudah. “Puluhan kali aku berhasil selamat berkat trik semacam ini. Bahkan sudah banyak pendekar mati ditanganku tapi, tapi kenapa ini tidak berpengaruh padamu?” ucap Serge. Senyum itu hilang. Belati kecil itu jatuh ke tanah.


“Kau kira aku akan mati dengan cara yang konyol seperti itu. Naif sekali kau Serge. Tidak salah jika kau di kenal dengan sebutan pengecut” Jack berkata remeh. “Aku beritahu kau satu hal, GHODAM” Jack akhirnya melebarkan bibir.


Pedang di tangan Jack berubah menjadi api biru yang membara. Seperti pedang merah yang menyala di dalam tungku. Hanya saja pedang itu adalah sumber apinya.


“Lama sekali aku mempelajarinya. Namun pada akhrinya aku mengerti Serge” ucap Jack. Menatap dengan penuh kagum. Jack terpesona akan kemampuannya yang baru. Memerkan kehebatan di hadapan Serge.


Jack menganyunkan pedang membara itu. Putus lagi lengan Serge sebelah kiri. Percobaan kekuatan yang baru saja ia pelajari itu. “Namun ini masih belum sempurna” kata Jack.


“Aaaaaaaaaaaaaa” Serge berteriak

__ADS_1


“Ini sangat sakit” jawab Serge dengan lemah. Merangkak mundur perlahan. Mendorong tubuh dengan kaki.


“Baiklah. Sekarang waktunya. Waktu habis Serge” Jack berdiri. Mengacungkan pedang di hadapan Serge. Mengambil jarak yang cukup jauh. Jack ingin Serge menjadi kelinci percobaan. Menebasnya dari jauh. Ingin memastikan seberapa jauh jankauan pedang biru membara itu. Jack pun menggerakan tangan dengan pelan.Satu tebasan.


Namun kecepatan itu dapat di hindari oleh Serge. Gerakan menukik dan berguling Serge yang tampak sudah terlatih membuatnya berhasil lolos dari kematian. Hal itu cukup membuat Jack merasa takjub.


Serge pun menatap Jack dari kejauhan. Menatap focus dengan sorot penuh dendam. Pria yang jauh itu mengeluarkan Aura yang berbeda. Seperti ada yang bangkit dari dirinya. Samar namun bisa Jack rasakan itu. Jack mulai berpikir. Mungkinkah itu ada Ghodam. Atau justru hanya suatu kebetulan.


“Dasar bodoh, serangan seperti itu tidak akan bisa membunuhku Jack. Suatu hari nanti” menghentikan perkataan. Menarik nafas dalam. “Suatu hari nanti, AKU SERGE AKAN MEMBALAS PENGHINAAN INI” ucap Serge keras.


Serge pun berlari kearah hutan. Menghilang bersama kabut yang putih.


Jack tersenyum licik. “Yah, dia berhasil lolos”. Dan tertawa setelah itu. Sudah lama Jack tidak merasa getar di hatinya. Sudah lama ia harus menyimpan rasa yang selalu tertutup rapat. Namun hari ini perlahan ia merasa ada


yang memaksa dirinya untuk mengamuk kembali.


Tidak ada rasa penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. Hanya ada sedikit kesenangan. “Baik, kita lihat apa yang akan kau lakukan Serge. Jangan mengecewakanku” kata Jack menatap hutan hijau yang berkabut.


Ia pun kembali pada pos kerjanya. “Apa yang kalian lihat” ucap Jack. Membubarkan penonton yang sedari tadi mematung. Dan kini mereka kembali pada aktivitas suka rela itu. Memindahkan peti kayu.


Gua sunyi tempat peti tersusun rapi. Gelap bagai bayangan malam. Menghembuskan angin dingin yang menusuk kulit bagai jarum. Sunyi senyap. Tak ada tanda kehidupan. Hanya rintik air yang menetes. Jatuh perlahan bagai detik berlalu.


“Apa kau merasakannya?” seorang budak berhenti berkerja. Tangannya bergetar. Bulu kuduk terangkat. Udara dingin berhembus dari kegelapan itu menyapu tubuh. Lentera berguncang ingin melompat. Api kacil di atasnya bergoyang-goyang ,menunduk ingin padam.


“Yah, dingin sekali. Udara macam apa ini?” bertanya dengan merangkul tubuh. Jantung berdetak cepat. Keringat dingin mulai membasah. Bibir kering menelan kosong. Kaki bergetar. Ada mahluk yang bersemayam di gua itu.


Mereka berdua yang berdiam dirihanya bisa mematung. Seolah di perintah untuk tidak bergerak. Seolah jika bergerak hal buruk akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2