
Jack yang mengawas pun merasa ada hal yang aneh. Bertanya pada diri kemana dua budak yang baru saja masuk kedalam gua itu. Jack pun melangkah berjalan perlahan masuk kedalam gua gelap, berhampar kerikil, genangan air bersimbah dan berlumut. Di lihatnya kedua pekerja itu sedang menatap kedalan ruang gelap yang jauh di dalam sana.
“Hooooiii, cepat lah.” ucap Jack datang menghampiri. Matanya menatap dingin. Ini kedua kalinya Jack harus masuk kedalam gua itu. dan akan kembali lagi ke luar gua. guna mengawasi para pekerja paksa. namun tidak di sangka letih juga Jack harus bolak-balik. Tidak terkira kepergian Serge membuat Jack harus mengambil alih semuanya. Menyesal juga Jack mengusir Serge terlalu awal.
Namun untuk yang kali ini ada perbedaan saat Jack memasuki Gua gelap yang dingin.Matanya pun melirik kesekitar gua lambab itu. Masih sama dengan hamparan kerikil kecil di tanah. Langit gua gelap yang hitam. Dinding sepi di temani lentara. Semuanya sama hanya saja udara yang begitu menyayat. Bagai silet yang mengiris sekujur tubuh. Tubuh keras Jack juga ikut merasakan hal itu.
Udara pun berhembus dari gelap. Seketika itu ia merasakan getaran mengguncang hati. Jack teralihkan kedalam Gua gelap itu. Mata biru itu tajam menatap jauh kedalam kegelapan.Serius. Mengambil posisi mode bertempur.
Sedangkan kedua budak yang ada di hapannya. Begetar. Menunduk. Meringkuk. Katakutan.
“Ada yang tidak beres disini tuan” ucap budak itu. Wajahnya muram.
“Benar tuan, bagaimna bisa ada angin dari dalam sana?” budak satunya juga menunjukan ekspresi sama. Ketakutan.
Lagi, angin berhembus lembut namun menyayat seperti silet. Menusuk bagai jarum kecil menembus kulit. Jack juga merasakan hal yang sama. Mata biru menyala itu juga menyadarinya sejak tadi. Angin itu bagai nafas yang berhembus teratur. Jack dapat merasakan aura mencekam dari dalam sana. Hawa keberadaan mahluk buas yang lapar. Yang haus darah. Jack tidak tahu apa yang terjadi di dalam gua ini. Jack hanya pernah mendengar ada sebuah pristiwa 20 tahun lalu. Namun detailnya jack tidak tahu itu apa.
Ia masih menatap jauh kedalam kegelapan gua. Menghiraukan keluhan budak-budak itu. Jack mendekatkan diri ke dinding gua. Samar cahaya api itu memperlihatkan goresan yang membekas pada batu dinding yang kasar. Bukan sebauh pahatan atau ukiran kuno, melainkan seperti cakaran kuku tajam yang mengais dengan penuh kemarahan. Tidak pernah terpikirkan oleh jack akan ada hewan yang mempu mengores dinding batu begitu dalam.
Tangannya meraih lentara yang menyepi itu. Melemparnya sejauh yang ia bisa. Namun lentera itu padam sebelum jatuh ketanah. Rintikan air jatuh terus bersuara. Mengema didalam sana.
“Air” ucap jack. Benar-benar membuat Jack berpikir keras. Apa yang sebenarnya ada didalam gua ini. Aura yang begitu mengcekam seakan meminta untuk pergi. Jack juga mengerti batasan. Meski rasa menggebu meminta untuk jalan jauh ke dalam sana. “Belum saatnya. Akan tiba waktu yang tepat” ucap Jack.
“Apa? apa yang aneh. Jangan beralasan cepat selesaikan pekerjaan kalian” ucap Jack. Ia pun sesegera keluar dari sana. Jack merasakan hal sudah lama tidak ia rasakan. Ketakutan.
Ia pun berdiri di luar gua. Menatap jauh kedalam gelapnya gua itu. Mencoba membenturkan aura miliknya dengan Aura yang keluar dari kegelapan itu.Jack ingin membangunkan mahluk yang tertidur di dalam
sana.
__ADS_1
Namun aura dari kegelapan itu tidak beraksi apa-apa hanya sebuah aura yang konsisten berhembus bagai nafas naga.Bagaikan tebing terjal yang konsisten dengan kabut putih. Menyeramkan tapi tidak memburu. Beberapa kali ia coba membenturkan dengan Aura miliknya namun hasil nihil. Tidak ada hasil. Tidak ada respon yang diinginkan Jack.
“Mooooooaah” suara kerbau berbunyi. Tanda Jack sadari Aura yang ia keluarkan itu menakuti para Kerbau.
Mengeleng-gelengkan kepalanya dengan resah. Berlari-lari di tempat.
“Yosh, yosh, tenang-tenang. Yosh, yosh. Makan saja rumput lezat itu” kata sang kusir. Berbicara dengan tenang kepada kerbau. Seolah kerbau-kerbau itu mengerti akan ucapannya. Tangannya menyapu punggung kerbau. Gemetar membelai pelan. Tangan bergetar itu memperlihatkan tato bulu burung yang bertimpa dua diantara terlunjuk dan jempol.
“Ada apa dengan kerbau itu?” Jack bertanya. Berpura tidak tahu.
“Sepertinya kerbau-kerbau itu ketakutan tuan” suara itu terdengar ketakutan. Bergetar dan memaksa senyum.
“Sejak kapan?” Tanya pria berkulit pucat.
Sang kusir mengangkat bola matanya. Mengingat hal yang telah lalu. “Ketika melewati hutan itu tuan, mulanya
saya tidak menegrti mengapa mereka bertindak demikian. Namun ada hal yang aneh terjadi. Ketika kami melewati hutan disana. seolah ada seseorang yang meminta pertolongan. Tapi hutan itu begitu berkabut dan juga rimbun. Membuat saya tidak berani untuk melangkah kedalam sana.”jelas sang kusir.
Tidak ada yang aneh dari sang kusir. Hanya pria tua yang sudah paruh baya bertudung jubah coklat. Memiliki tato bulu bertimpa 2 di antara jari telunjuk dan jempolnya.
“Tuan, sejak awal kami bertiga yang mengurus kerbau-kerbau ini. Namun ada sesuatu yang terjadi. Kedua teman saya masuk kedalam hutan berkabut itu. Entah apa yang terjadi di dalam sana saya tidak tahu. Mereka bertingkah aneh sebelum masuk kedalam sana. Seperti terbuai akan sesuatu. Tidak lama setelah mereka masuk kedalam sana saya mendengar satu teriakan begitu keras. dan ini yang terjadi tuan” jelas sang kusir dengan
menunjukan sesuatu.
Sebuah kantung yang berisi penuh itu memperlihatkan 2 kepala manusia. Sang kusir pun menunduk terlihat pilu. Menahan tangis yang dalam. Pria berjubah coklat itu menutup kembali kantungnya. Mengikatnya di kereta kuda.
Jack pun tidak terlalu peduli. “Sudahlah, ini bayaran kalian” sekantong emas ia lempar tepat ditangkapan sang kusir.Meski agak aneh namun hutan itu juga menjadi pertanyaan besar. “Tidak mengherankan mengapa tempat ini di namakan tempat terkutuk” ucap Jack.
__ADS_1
Sang kusir itu pun tampak bergegas. Merapikan barang bawaannya dan mengembela kerbau-kerbau kembali pulang. Melambaikan tangan menjauh dari gua terkutuk itu.
Jack hanya menatap. Walau sebetulnya ia tidak perduli, namun entah apa yang memaksanya harus berdiri dan membalas lambaian dari sang kusir itu. Hingga suara yang mengegetkan terdengar. Suara kayu jatuh. Menyadarkan Jack dari lambaian tangan itu.
“Apa lagi ini” ucap Jack. Mengaruk-garuk kepalanya. Mata biru menyala itu menatap dingin.
“Hoi kau, bebaskan aku. Jika tidak-”
Tanpa aba-aba, Jack menarik pedangnya. Satu tebasan memisah kepala dari tubuhnya. Kepala itu berguling mengenai kaki budak yang ada di belakang. Menganga dengan mata yang membelalak. Irisan rapi bagai pemotong kertas yang tajam. Mengucurkan darah bagai air mancur.
Budak yang di belakang terdiam sesaat “EE-AAAAAAAA”teriaknya dengan keras.
“Jika tidak apa?”Jack mengangkat kepala tanpa tubuh itu. “Hah, tuan. Apa, aku tidak dengar. Coba katakan dengan jelas” ia mendekatkan telinganya dengan mulut budak itu.
Tidak ada belas kasih dari ucapan Jack. Keadaan pun menjadi hening. Para budak kumal yang bergelangkan rantai di kaki terdiam. Menelan pahit pemandangan yang baru saja mereka lihat. Suram dan berdarah. Ternyata Jack jauh lebih sadis dari pengawas yang sebelumnya. Jika Serge adalah orang yang bersenang-senang atas derita orang lain. Sedangkan Jack seseorang yang tidak bisa mentolerir kelalaian.
Ia pun mengibas pedang keudara. Cipratan darah menempel di kotak kayu. Membasahi tanah dengan warnanya yang merah. Jari jemari pun merogoh kocek. Mengeluarkan sapu tangan putih. Tanpa berkata lebih. Semua budak yang ada di sana terlihat mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya jika berprilaku sama.
Dari peti kayu itu mencuat berbilah pedang dan kapak. Para budak pun tidak berani berkomentar apalagi melawan. Mereka hanya tunduk dan patuh sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaan yang tak di gaji itu demi hidup hari esok.
Tidak jauh dari sana beberapa kereta kuda mendekat. Berjalan lambat dengan membawa gerobak yang ditarik kuda. Dua orang duduk bersebelahan saling menghadap di dalam kereta paling depan.
“Kelar, bagaimana jika pasang taruhan” ucap seseorang. Menatap serius. Pria kurus dengan rambut panjang terurai sepundak. Berbulu mata lentik layaknya model majalah terkenal. Rambutnya lurus seperti mie yang baru saja di rebus sedikit bergelombang dan juga tipis. Bajunya berwarna coklat panjang menutupi sampai tangan, lebar menjuntai seperi tudungan meja. Di bahu kanannya mengantung pelindung dada besi yang membentuk seperti kulit tringiling. Hitam keras berlapis. Sedangkan celananya juga berwarna coklat panjang yang ketat
pada bagian bawah betis, menyatu dengan sepatu putih. Beberapa ikatan melingkar di paha, hitam tempat menyimpan belati-belati kecil. Dia adakah Slimin.
“Apa itu?” pria di depannya bertanya. Pria itu menggunakan topi lebar seperti payung, berjanggut dan berkumis tipis, jubah putih dengan warna hitam tiap bagian sisinya, lehernya tertutupi oleh kerah jubah yang tinggi. Dan
__ADS_1
sepatu hitam pekat yang cocok dengan celana hitam. Di samping ia duduk terdapat sebuah peri besi. Pria itu bernama Kelar.
“Aku bertaruh, dia pasti sudah membunuh salah satu dari mereka?” ucapnya dengan percaya diri. Slimin merasa dirinya cukup mengenal Jack. Hingga ia dengan sagat percaya diri dengan apa yang ia ucapkan barusan. Pria kurus itu menatap Kelar dengan senyum.