
Fajar dari
timur mengakhir malam yang dingin. Tidak pernah terbisik di benak Jack akan
bermalam di tempat yang cukup menakutkan. Bermula pada sebuah tugas untuk
menyortir sebuah peti kayu. Dan berakhir dengan malam yang berdarah. Puluhan
mayat terkapar tidak bernyawa di depan gua yang gelap. Kaku terbalut embun pagi
yang dingin.
Jack masih
menatap penuh pertanyaan pada mahluk yang tergeletak didepan matanya. Lama ia
melihat kearah coklat kulitnya, memastikan bahwa itu memang mahluk yang sedang
ia tunggu-tunggu atau itu hanya permulaan. Benarkah mahluk itu yang membunuh
budak bertato bulu burung hitam.
“Jadi apa
kau sudah tahu mahluk apa ini” Kelar menatap Jack dengan mata penuh harap. Pria
bertopi lebar itu juga tampak sudah lama menunggu untuk menanyatakan pertanyaan
itu.
Jack
membalas tatapan itu “Bawa mahluk itu keluar dari sini, akan ku jelas
setelahnya” kata Jack yang memperlihatkan dirinya memang mempunyai sesuatu
mengenai apa yang menjadi pertanyaan Kelar.
Mendengar
hal itu Kelar pun tidak berkata lagi. Kelar melangkah mendekati mahluk yang
sudah menjadi mayat itu. Di tariknya tangan mahluk yang sudah remuk bagai
remahan roti, walau begitu tangan mahluk itu tidak putus. Jaring-jaring otot
yang tipis itu masih kuat melekat di lengan. Tanpa bantuan siapa pun Kelar
dengan mudah menarik mahluk yang lebih besar dari gajah. Bahkan lebih tinggi
dari jerapah. Tidak terlihat letih sedikit pun.
Pagi itu
embun masihlah tebal. Masih sangat sulit untuk melihat dengan jelas apa yang
ada disekitar. Jack pun hanya duduk terdiam. Memikirkan apa yang cocok untuk
menjelaskan kepada Kelar, mahluk apa yang mengganggu malam mereka.
Sedangkan
Pigoun sudah terkapar bagai mayat. Ia tertidur setelah bertarung dengan cukup
sengit. Terlhat lelah dan letih. Bahkan suara ngoroknya menggema, memenuhi
lorong gua.
“Jack, Aku
menunggu” kata Kelar.
“Baik” kata
Jack. Mata melihat dengan seksama mahluk yang ada di hadapan mereka. “aku
pernah mendengar mahluk yang bernama gano” Jack mulai bercerita. “Itu hanya mitos.
Tapi aku tidak yakin itu adalah mitos atau bukan, sejujurnya mahluk ini
__ADS_1
terlihat mirip dengan apa yang dikabarkan mitos itu. Tinggi, kurus seperti
mumi, berkuku layaknya tombak dan bermata satu. Deskripsi itu sangat mirip
dengan mahluk ini. Tapi….” Jack menghentikan perkataannya. Memang benar apa
yang ia ucapkan. Bisa saja mitos itu memang nyata. Namun itu benar-benar mitos
yang tidak dapat di percaya dulunya. Tapi sekarang Jack mulai berpikir,
jangan-jangan semua mitos yang di ceritakan pendongeng jalanan itu benar
adanya.
“Tapi apa”
Kelar tampak penasaran.
“Mahluk itu
cuman berada di luar tembok putih” kata Jack lagi. pengetahuan yang saat ini
Jack miliki berasa dari pendongeng jalanan yang berkunjung dari satu desa ke
desa yang lain. “Bagaimana bisa mahluk ini berada disini jika mereka ada di
luar tembok” sembari Jack mengitari
mahluk itu.
Kabut tebal
mulai hilang terpapar cahaya matahari. Dan Jack masih belum tahu apakah ini
benar atau Gano. “Mahluk ini Gano” kata Jack dengan serius. Jack berusaha
menyakinkan Kelar.
Sekarang
masalah baru menghampiri hari yang tidak menyanangkan. Para budak mati
terbunuh, mahluk aneh menampakan diri.
Jack” Kelar tampaknya juga sudah tahu apa yang Jack katakan itu hanya sebuah
karangan. “Mah,aku anggap saja itu benar” timpal Kelar lagi.
Jack hanya
menatap. Kulit dari mahluk itu perlahan terbakar oleh sinar matahari. Jelas itu
adalah hal baru bagi Jack. Untuk kali pertama ia melihat mahluk aneh terbakar
selain bangsa vampire.
Mereka pun
masih dalam keadaan bertanya-tanya dan Kelar kembali pada tenda hitam tempat ia
menyimpan peti hitam.
Jack pun
mengumpulkan mayat budak yang sudah terbunuh. Di galinya tanah untuk mengubur
orang-orang yang sudah ia tangkap itu. tidak seorang pun membantu dirinya.
Kelar juga sudah tertidur bersama Slimin. Dan Pigoun masih menyembuhkan diri
dengan tertidur pula. Lagi pula Jack tidak mengharapkan bantuan siapa-siapa. Ia
adalah orang yang bisa mengurus semuanya sendiri.
2 jam
berlalu dan selesailah ia dengan tanah kering hitam itu. Baju hitam kotor akan
pasir yang juga hitam. Ia berhenti sejanak dan melihat langit yang sudah
__ADS_1
kembali membiru. Namun udara disana masihlah dingin seperti pengunangan. Jack
menghela nafas panjang.
Satu persatu
ia masukan mayat-mayat itu kedalam tanah. Dengan tatapan sedingin es ia menanam
semua budak itu. selesai dengan itu jack kembali teringat akan kejadian di masa
lalu.
Seorang anak
kecil yang riang gembira bermain di padang ilalang. Berlari kesana kemari
mengejar kupu-kupu. Senyum polos juga murni bocah itu perlihatkan. Sedang nun
jauh di kursi kayu pria dan wanita sedang menatanpnya dengan hangat. Melambaikan
tangan kebahagian. Sebuah keluarga yang begitu indah. Terlebih lagi ada
kehidupan lain di dalam perut buncit wanita itu.
Bocah kecil
itu tidak pernah mengira akan memiliki saudara. Bocah itu pun kembali pada
kursi kayu tempat ayah dan ibunya menunggu ai bermain. Dapat ia lihat senyum
yang begitu tenang dan hangat. Memeluknya dengn erat ketika datang menghampiri.
Menganggkat tinggi tubuhnya kelangit, bermain terbang-terbangan. Yang mana itu
hanya bisa dilakukan oleh bangsa burung dan bangsa peri. Namun ia sebagai
mahluk yang egois dan kecil. Bocah itu punya cita-cita ingin terbang
mengelilingi dunia dengan sayap sendiri.
Namun kebahagia
itu hanya semu. Bocah itu di tinggal oleh kedua orang tuanya. Meninggalkan ia
didalam kegelapan yang begitu menakutkan. Sepi dan sunyi. Hanya bertemankan batu
hitam. Siapa yang akan menduga bocah kecil dengan cita-cita besar berakhir
didalam sebauh kegelapan. Terkurung di balik jeruji besi pucat. Bahkan pada
waktu itu ia belumlah genap 10 tahun. Belumlah ia merayakan ulah tahun yang di
gelari 10 tahu sakali oleh penduduk desa.
Bocah itu
juga pernah menjadi orang yang penduduk desa percaya suatu saat nanti akan
menjadi orang yang akan menyelamatkan dunia mereka. Namun saat ini ia malah
terkungkung oleh kegelapan. Ia bertanya pada apaoun. Salah siapakan ia mendapat
derita ini. salahnya kah yang terlahir dengan mata yang indah. Atau salah orang
lain yang tidak berhati. Menculik ia dalam keadaan ia sedang mengejar
kupu-kupu. Atau ini adalah salah kupu-kupu yang menuntun jalan salah padanya. Di
balik jeruji besi itu, ia hanya bisa menangis dan menangis. Berharap akan
datang pahlawan yang mengulurkan tangan padanya. Seperti yang dikatakn para
pendongeng di desanya. Seperti para kepala desa katakan, jika dalam kesulitan
memintalah kepada dewa pertolongan dan niscaya ia kan membantu. Tapi sudah
ribuan kali bocah itu meminta sudah berlinang air mata meminta untuk
diselamatkan namun tidak juga ada pahlawan yang menolong dirinya. dan bocah itu
__ADS_1
hanya bisa pasrah, beharap memang ada pahlawan yang akan menyelamatkan dirinya.
Namun mungkin itu terjadi.