LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 20 identitas


__ADS_3

Fajar dari


timur mengakhir malam yang dingin. Tidak pernah terbisik di benak Jack akan


bermalam di tempat yang cukup menakutkan. Bermula pada sebuah tugas untuk


menyortir sebuah peti kayu. Dan berakhir dengan malam yang berdarah. Puluhan


mayat terkapar tidak bernyawa di depan gua yang gelap. Kaku terbalut embun pagi


yang dingin.


Jack masih


menatap penuh pertanyaan pada mahluk yang tergeletak didepan matanya. Lama ia


melihat kearah coklat kulitnya, memastikan bahwa itu memang mahluk yang sedang


ia tunggu-tunggu atau itu hanya permulaan. Benarkah mahluk itu yang membunuh


budak bertato bulu burung hitam.


“Jadi apa


kau sudah tahu mahluk apa ini” Kelar menatap Jack dengan mata penuh harap. Pria


bertopi lebar itu juga tampak sudah lama menunggu untuk menanyatakan pertanyaan


itu.


Jack


membalas tatapan itu “Bawa mahluk itu keluar dari sini, akan ku jelas


setelahnya” kata Jack yang memperlihatkan dirinya memang mempunyai sesuatu


mengenai apa yang menjadi pertanyaan Kelar.


Mendengar


hal itu Kelar pun tidak berkata lagi. Kelar melangkah mendekati mahluk yang


sudah menjadi mayat itu. Di tariknya tangan mahluk yang sudah remuk bagai


remahan roti, walau begitu tangan mahluk itu tidak putus. Jaring-jaring otot


yang tipis itu masih kuat melekat di lengan. Tanpa bantuan siapa pun Kelar


dengan mudah menarik mahluk yang lebih besar dari gajah. Bahkan lebih tinggi


dari jerapah. Tidak terlihat letih sedikit pun.


Pagi itu


embun masihlah tebal. Masih sangat sulit untuk melihat dengan jelas apa yang


ada disekitar. Jack pun hanya duduk terdiam. Memikirkan apa yang cocok untuk


menjelaskan kepada Kelar, mahluk apa yang mengganggu malam mereka.


Sedangkan


Pigoun sudah terkapar bagai mayat. Ia tertidur setelah bertarung dengan cukup


sengit. Terlhat lelah dan letih. Bahkan suara ngoroknya menggema, memenuhi


lorong gua.


“Jack, Aku


menunggu” kata Kelar.


“Baik” kata


Jack. Mata melihat dengan seksama mahluk yang ada di hadapan mereka. “aku


pernah mendengar mahluk yang bernama gano” Jack mulai bercerita. “Itu hanya mitos.


Tapi aku tidak yakin itu adalah mitos atau bukan, sejujurnya mahluk ini

__ADS_1


terlihat mirip dengan apa yang dikabarkan mitos itu. Tinggi, kurus seperti


mumi, berkuku layaknya tombak dan bermata satu. Deskripsi itu sangat mirip


dengan mahluk ini. Tapi….” Jack menghentikan perkataannya. Memang benar apa


yang ia ucapkan. Bisa saja mitos itu memang nyata. Namun itu benar-benar mitos


yang tidak dapat di percaya dulunya. Tapi sekarang Jack mulai berpikir,


jangan-jangan semua mitos yang di ceritakan pendongeng jalanan itu benar


adanya.


“Tapi apa”


Kelar tampak penasaran.


“Mahluk itu


cuman berada di luar tembok putih” kata Jack lagi. pengetahuan yang saat ini


Jack miliki berasa dari pendongeng jalanan yang berkunjung dari satu desa ke


desa yang lain. “Bagaimana bisa mahluk ini berada disini jika mereka ada di


luar tembok”  sembari Jack mengitari


mahluk itu.


Kabut tebal


mulai hilang terpapar cahaya matahari. Dan Jack masih belum tahu apakah ini


benar atau Gano. “Mahluk ini Gano” kata Jack dengan serius. Jack berusaha


menyakinkan Kelar.


Sekarang


masalah baru menghampiri hari yang tidak menyanangkan. Para budak mati


terbunuh, mahluk aneh menampakan diri.


Jack” Kelar tampaknya juga sudah tahu apa yang Jack katakan itu hanya sebuah


karangan. “Mah,aku anggap saja itu benar” timpal Kelar lagi.


Jack hanya


menatap. Kulit dari mahluk itu perlahan terbakar oleh sinar matahari. Jelas itu


adalah hal baru bagi Jack. Untuk kali pertama ia melihat mahluk aneh terbakar


selain bangsa vampire.


Mereka pun


masih dalam keadaan bertanya-tanya dan Kelar kembali pada tenda hitam tempat ia


menyimpan peti hitam.


Jack pun


mengumpulkan mayat budak yang sudah terbunuh. Di galinya tanah untuk mengubur


orang-orang yang sudah ia tangkap itu. tidak seorang pun membantu dirinya.


Kelar juga sudah tertidur bersama Slimin. Dan Pigoun masih menyembuhkan diri


dengan tertidur pula. Lagi pula Jack tidak mengharapkan bantuan siapa-siapa. Ia


adalah orang yang bisa mengurus semuanya sendiri.


2 jam


berlalu dan selesailah ia dengan tanah kering hitam itu. Baju hitam kotor akan


pasir yang juga hitam. Ia berhenti sejanak dan melihat langit yang sudah

__ADS_1


kembali membiru. Namun udara disana masihlah dingin seperti pengunangan. Jack


menghela nafas panjang.


Satu persatu


ia masukan mayat-mayat itu kedalam tanah. Dengan tatapan sedingin es ia menanam


semua budak itu. selesai dengan itu jack kembali teringat akan kejadian di masa


lalu.


Seorang anak


kecil yang riang gembira bermain di padang ilalang. Berlari kesana kemari


mengejar kupu-kupu. Senyum polos juga murni bocah itu perlihatkan. Sedang nun


jauh di kursi kayu pria dan wanita sedang menatanpnya dengan hangat. Melambaikan


tangan kebahagian. Sebuah keluarga yang begitu indah. Terlebih lagi ada


kehidupan lain di dalam perut buncit wanita itu.


Bocah kecil


itu tidak pernah mengira akan memiliki saudara. Bocah itu pun kembali pada


kursi kayu tempat ayah dan ibunya menunggu ai bermain. Dapat ia lihat senyum


yang begitu tenang dan hangat. Memeluknya dengn erat ketika datang menghampiri.


Menganggkat tinggi tubuhnya kelangit, bermain terbang-terbangan. Yang mana itu


hanya bisa dilakukan oleh bangsa burung dan bangsa peri. Namun ia sebagai


mahluk yang egois dan kecil. Bocah itu punya cita-cita ingin terbang


mengelilingi dunia dengan sayap sendiri.


Namun kebahagia


itu hanya semu. Bocah itu di tinggal oleh kedua orang tuanya. Meninggalkan ia


didalam kegelapan yang begitu menakutkan. Sepi dan sunyi. Hanya bertemankan batu


hitam. Siapa yang akan menduga bocah kecil dengan cita-cita besar berakhir


didalam sebauh kegelapan. Terkurung di balik jeruji besi pucat. Bahkan pada


waktu itu ia belumlah genap 10 tahun. Belumlah ia merayakan ulah tahun yang di


gelari 10 tahu sakali oleh penduduk desa.


Bocah itu


juga pernah menjadi orang yang penduduk desa percaya suatu saat nanti akan


menjadi orang yang akan menyelamatkan dunia mereka. Namun saat ini ia malah


terkungkung oleh kegelapan. Ia bertanya pada apaoun. Salah siapakan ia mendapat


derita ini. salahnya kah yang terlahir dengan mata yang indah. Atau salah orang


lain yang tidak berhati. Menculik ia dalam keadaan ia sedang mengejar


kupu-kupu. Atau ini adalah salah kupu-kupu yang menuntun jalan salah padanya. Di


balik jeruji besi itu, ia hanya bisa menangis dan menangis. Berharap akan


datang pahlawan yang mengulurkan tangan padanya. Seperti yang dikatakn para


pendongeng di desanya. Seperti para kepala desa katakan, jika dalam kesulitan


memintalah kepada dewa pertolongan dan niscaya ia kan membantu. Tapi sudah


ribuan kali bocah itu meminta sudah berlinang air mata meminta untuk


diselamatkan namun tidak juga ada pahlawan yang menolong dirinya. dan bocah itu

__ADS_1


hanya bisa pasrah, beharap memang ada pahlawan yang akan menyelamatkan dirinya.


Namun mungkin itu terjadi.


__ADS_2