
Di mulut gua yang gelap. Mahluk asing yang tidak Jack kenal,
mengamuk. Membantai seluruh budak yang ada di dalam gua itu. Menebas para budak
dengan kukunya yang tajam bagai tombak. Entah dari mana ia berasal masih
menjadi tanda tanya.
Budak budak yang ada didalam sana hanya bisa berteriak dan
berlarian mencari jalan. Mereka pun tanpa pikir panjang berlarian keluar gua
untuk menyelamatkan diri, berharap ada yang bisa mengulurkan tangan untuk
mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Setiap langkah yang mereka
pijakan di luar gua menjadi luka yang berakhir dengan merenggut nyawa. Mereka
mati di bunuh oleh Kelar. Dianggapnya para budak ini sebagai penghianatan.
“Tidak ada ampun bagi penghianat yang lari” ucapnya. Ia pun merapikan kembali
peti hitam yang baru saja ia pakai untuk membunuh para budak. “Gua itu” katanya
menatap jauh ke gua yang menjadi sumber keributan yang terjadi. Keributan yang
memaksanya untuk membunuh para penghianat ini. Kelar pun mengikat kembali peti
hitam itu di punggungnya. Berjalan melangkah medekati gua gelap.
Setiba Kelar pada gua yang gelap itu, ia melihat Jack yang sedang
melihat jauh kedepan. Terlihat santai duduk di atas batu. Tidak ada kecemasan
atau kekhawtiran di matanya. Padahal para budak yang ia kasihani tadi mati
terkapar di tanah hitam. Tenang dan elegan. “Apa kita hanya menonton saja?” bertanya
pada pria yang duduk diatas batu. Saat Kelar berbicara kumis dan janggutnya
juga ikut bergerak.
“Untuk sekarang percayakan saja padanya” balas Jack. Kata itu
menyimpan rasa percaya yang sangat tinggi pada pria yang sedang bertarung
didepan mata mereka berdua.
Kelar pun mengalihkan pandangannya pada sebuah pertarungan. Sebuah
duel yang amat sengit. Antara Pria bertubuh besar bagaikan bola baja melawan
mahluk aneh yang berkuku tajam bagai gading gajah.
“Pukulanmu kuat juga” kata pria besar itu. Ia memegang tongkatnya
dengan kedua tangan. Menyorongkan kedapan mengahadap mahluk aneh itu.
“Apa kau tahu mahluk apa itu?” ucap Kelar dengan nada bertanya.
“Aku baru kali ini melihat mahluk semacam ini, sangat aneh” ucap Kelar lagi.
Mahluk itu tinggi namun kurus seperti mumi yang hanya menyisakan
sedikit otot pada tulang yang besar. Menjulang tinggi di atas Pigoun yang
sedang bertarung dengan mahluk itu. Jika di bandingkan dengan Pigoun, mungkin
tingginya mencapai 2 kali lebih tinggi atau lebih. Jika di bandingkan dengan
Kelar maka mahluk itu 5 kali lebih tinggi dari dirinya. Pigoun memiliki 4 meter
tinggi tubuhnya, maka dari itu mahluk yang ada didepan mereka memiliki tinggi
badan 8 atau 10 meter, jika tidak membungkuk seperti padi menguning bisa saja
tingginya mencapai 12 meter atau lebih. Kelar mengelengkan kepala, sangat sulit
mengakui hal itu benar terlihat olehnya. Jadi mahluk itu terlihat agak sedikit
merendah. Walau begitu masih saja terlihat tinggi. Mahluk itu berdiri dengan
dua kaki yang jenjang dan tangan yang panjang. Juga mempunyai kuku yang begitu
tajam bagian unjung seperti tombak, membulat besar seperti gading gajah.
Berkulit coklat bagaikan manusia yang sudah menjadi mumi. Memang jika di
__ADS_1
bandingkan dengan mahluk aneh itu Pigoun terlihat jauh lebih kecil.
Itu baru perkiraan dari Kelar. Namun pastinya Kelar tidak tahu, sangat
sulit baginya untuk melihat detail kecil yang ada pada mahluk yang mengamuk.
Lentara yang menyala tidak cukup terang untuk menyorot seluruh tubuhnya yang
tersembunyi di balik gelap itu. Bahkah api unggun yang mereka buat sudah tidak
lagi menyala. Padam kerena kekacauan yang terjadi tadi.
“Kita akan tahu setelah Pigoun mengalahkannya” ucap Jack.
Jack mengatakannya seolah Pigoun pasti mampu mengalahkan mahluk
itu. Namun yang Kelar lihat justru bertolak belakang dari apa yang di ucapkan
oleh Jack. “Baiklah” kata Kelar yang ragu. Pandangan Kelar pun mengarah pada
sebuah pertarungan yang ada di depan matanya.
Mahluk itu pun mengangkat tangan, menunjukan kuku tajamnya di balik
gelap. Bersiap akan menyerang Pigoun dengan kukunya. Dan benar saja kuku bagai
tombak itu pun melaju dengan cepat mengarah pada Pigoun. Namun Pigoun tidak ada
niat ingin menghindar sama sekali. Justru mengancangkan genggaman pagangan pada
tombak. Melebarkan kedua tangannya. memegang tiap ujung tongkatnya dengan
tangan kiri dan kanan.
Satu detik kemudian sebuah bentrokan terjadi. Pigooun yang dalam
keadaan menahan serangan dari atas kepala hanya bisa mengangkat tombak.
Bentrokkan itu menghasilkan angin yang kuat hingga menerbangkan debu-debu.
Bahkan pijakan Pigoun retak. Kakinya tergeser satu jengkal kebelakang. “Aku
pukul” ucap Piguon yang menandakan ia akan membalas serangan itu.
Pigoun yang berada di bawah dengan sekuat tenaga melemparkan tangan
bersiap akan menghantam kepala mahluk yang bermata satu itu. Pada saat Pigoun
sudah merapatkan tangan yang bersiap ingin memukul, justru ia terhempas ke
tanah, dirinya tidak menyadari bahwa mahluk itu memiliki 2 tangan. Yang
menyebabkan Pigoun terkubur di dalam bebetuan. Walau begitu Pigoun terlihat
baik-baik saja Tidak perlu waktu lama bagi Pigoun untuk bangkit kembali.
Kelar yang melihat semua itu hanya bisa memasang wajah kikuk. Walau
bukan dirinya yang terhampas namun wajahnya seolah berkata bahwa ia juga ikut
merasakan sakit. “Dia tidak boleh bertindak seceroboh itu” ucap Kelar. Pigoun
tidak hanya besar, Pigoun juga tahan banting seperti paku baja. Sekeras apapun
di pukul oleh palu, sekeras itu pula ia akan menusuk masuk.
“Pigoun bukan seseorang yang kalah hanya dalam satu pukulan. Perlu
ratusan atau bahkan ribuan kali untuk benar benar membuatnya tumbang tak
berdaya” kata Jack yang memuji Pigoun.
Kelar juga dapat melihat semua itu. Bagaimana Pigoun bangkit dalam
sekejap setelah tubuhnya mental terpukul oleh mahluk asing itu. “Kau benar,
tapi-“ Kelar setuju dengan apa yang Jack katakan. “Jika seperti itu terus
berlansung, aku tidak yakin Pigoun akan mampu bertahan lama” ucap Kelar. Ia
sedikit ragu dengan apa yang Jack katakan. Bukan ragu akan perkataan Jack.
Melainkan ragu karena melihat pertarungan yang tampak seimbang. “Baiklah Pigoun
apa yang akan kau lakukan?” gumannya.
Pigoun yang baru saja bangkit harus menerima tamparan dari mahluk
__ADS_1
asing itu lagi. Kelar bisa melihat semua itu, bahkan di mata Kelar serangan itu
tidaklah sulit untuk di hindari bahkan sebetulnya Pigoun tidak perlu
repot-repot harus mennahan tamparan itu. Cukup dengan melompat beberapa langkah
kebelakang atau kesemping pasti sudah bisa mengelak dari tamparan mahluk asing.
Namun hal itu tidak dilakukan oleh Pigoun. “Apa yang dia lakukan, jangan
buang-buang tenagamu untuk menahannya” Kelar tampak kesal dengan cara Pigoun
mengatasi serangan mahluk asing itu.
Pigoun pun memilih menguatkan genggaman pada tongkatnya untuk
menahan tamparan mahluk itu. Pigoun memang mampu menahan serangan mahluk itu,
namun pada serangan yang kedua, pada saat mahluk asing itu menggunakan
tangannya yang satu lagi membuat Pigoun tak bisa bergerak. Hanya bisa pasrah
memberikan rusuknya menjadi sasaran empuk. Dan Pigoun pun terlempar lagi.
Melesat dengan cepar bagai peluru kertapel. Membuat tubuhnya berkali-kali
menghantam dinding. Pigoun dalam sekejap bangkit lagi, dan begitu seterusnya.
“Apa yang dia lakukan. Mengapa tidak mengelak saja” kata Kelar yang
tidak mengerti dengan apa yang Pigoun lakukan. Baru kali ini ia melihat Pigoun
bertarung begitu ceroboh. Jika ia mengingat kembali pada pertarung-pertarungan
yang pernah mereka hadapi semuanya telihat sepele jika di bandingkan dengan apa
yang ada di depan matanya.
Hingga pada serengan yang sekian kalinya, mahluk asing itu
melakukan serangan yang berbeda. Yaitu ia mengunakan kaki yang berdurinya untuk
menyepak secara horizontal hingga menyapu seluruh area atas tanah. Jika yang
seperti itu jelas serangan itu sangat sulit untuk dihindari. Dan jalan
satu-satunya adalah menahan dengan sekuat tenaga. Pigoun yang memang sejak tadi
menahan setiap serangan yang dilakukan oleh mahluk itu puh mengambil kuda-kuda.
Ia bersiap menerima serangan musuhnya. “Majulah” katanya dengan mata yang
menyala.
Serangan sapuan Horizontal pun ditahan oleh Pigoun namun hanya satu
detik. Dan detik selanjutnya ia sudah melesat terhempas dan bahkan terbenam
pada dinding gua. Variasi serangan yang berbeda itu benar-benar terlihat
menghancurkan Pigoun. Membuat Kelar
cukup kaget dengan apa yang baru saja ia lihat. Bahkan sapuan menggunakan kaki
itu tampak berbahaya “Melompatlah” teriak Kelar. Kelar mengkhawatirkan Pigoun.
Namun yang terjadi justru Pigoun memasang kuda-kuda bersiap dengan
sepakan yang akan menghantam dirinya. Satu detik kemudian kaki mahluk itu pun
melayang. Dengan sekuat tenaga Pigoun menahan sepakan itu. Kekhawatiran Kelar
terjadi. “Melompatlah” Kelar berteriak.
Pigoun terlempar lagi menabrak dinding gua itu. batu-batu
berjatuhan meninbum pria bertubuh besar itu. Serangan itu benar-benar
membuatnya terlempar jauh, bahkan bisa di anggap sebagai serangan pamungkas
yang mengalahkan Pigoun. Kali ini Pigoun tidak terlihat bangkit.
Mahluk aneh itu pun terlihat senang. Mulutnya menampakan gigi tajam
seperti gerjaji. Bersuara aneh di dalam gua gelap. Dengan kakinya yang jenjang
itu, perlahan mendekati arah Pigoun yang terlempar. Terlihat masih belum puas
__ADS_1
dengan serangan yang baru saja ia lakukan.