LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 18 Pigoun dan kesenangan


__ADS_3

Di mulut gua yang gelap. Mahluk asing yang tidak Jack kenal,


mengamuk. Membantai seluruh budak yang ada di dalam gua itu. Menebas para budak


dengan kukunya yang tajam bagai tombak. Entah dari mana ia berasal masih


menjadi tanda tanya.


Budak budak yang ada didalam sana hanya bisa berteriak dan


berlarian mencari jalan. Mereka pun tanpa pikir panjang berlarian keluar gua


untuk menyelamatkan diri, berharap ada yang bisa mengulurkan tangan untuk


mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Setiap langkah yang mereka


pijakan di luar gua menjadi luka yang berakhir dengan merenggut nyawa. Mereka


mati di bunuh oleh Kelar. Dianggapnya para budak ini sebagai penghianatan.


“Tidak ada ampun bagi penghianat yang lari” ucapnya. Ia pun merapikan kembali


peti hitam yang baru saja ia pakai untuk membunuh para budak. “Gua itu” katanya


menatap jauh ke gua yang menjadi sumber keributan yang terjadi. Keributan yang


memaksanya untuk membunuh para penghianat ini. Kelar pun mengikat kembali peti


hitam itu di punggungnya. Berjalan  melangkah medekati gua gelap.


Setiba Kelar pada gua yang gelap itu, ia melihat Jack yang sedang


melihat jauh kedepan. Terlihat santai duduk di atas batu. Tidak ada kecemasan


atau kekhawtiran di matanya. Padahal para budak yang ia kasihani tadi mati


terkapar di tanah hitam. Tenang dan elegan. “Apa kita hanya menonton saja?” bertanya


pada pria yang duduk diatas batu. Saat Kelar berbicara kumis dan janggutnya


juga ikut bergerak.


“Untuk sekarang percayakan saja padanya” balas Jack. Kata itu


menyimpan rasa percaya yang sangat tinggi pada pria yang sedang bertarung


didepan mata mereka berdua.


Kelar pun mengalihkan pandangannya pada sebuah pertarungan. Sebuah


duel yang amat sengit. Antara Pria bertubuh besar bagaikan bola baja melawan


mahluk aneh yang berkuku tajam bagai gading gajah.


“Pukulanmu kuat juga” kata pria besar itu. Ia memegang tongkatnya


dengan kedua tangan. Menyorongkan kedapan mengahadap mahluk aneh itu.


“Apa kau tahu mahluk apa itu?” ucap Kelar dengan nada bertanya.


“Aku baru kali ini melihat mahluk semacam ini, sangat aneh” ucap Kelar lagi.


Mahluk itu tinggi namun kurus seperti mumi yang hanya menyisakan


sedikit otot pada tulang yang besar. Menjulang tinggi di atas Pigoun yang


sedang bertarung dengan mahluk itu. Jika di bandingkan dengan Pigoun, mungkin


tingginya mencapai 2 kali lebih tinggi atau lebih. Jika di bandingkan dengan


Kelar maka mahluk itu 5 kali lebih tinggi dari dirinya. Pigoun memiliki 4 meter


tinggi tubuhnya, maka dari itu mahluk yang ada didepan mereka memiliki tinggi


badan 8 atau 10 meter, jika tidak membungkuk seperti padi menguning bisa saja


tingginya mencapai 12 meter atau lebih. Kelar mengelengkan kepala, sangat sulit


mengakui hal itu benar terlihat olehnya. Jadi mahluk itu terlihat agak sedikit


merendah. Walau begitu masih saja terlihat tinggi. Mahluk itu berdiri dengan


dua kaki yang jenjang dan tangan yang panjang. Juga mempunyai kuku yang begitu


tajam bagian unjung seperti tombak, membulat besar seperti gading gajah.


Berkulit coklat bagaikan manusia yang sudah menjadi mumi. Memang jika di

__ADS_1


bandingkan dengan mahluk aneh itu Pigoun terlihat jauh lebih kecil.


Itu baru perkiraan dari Kelar. Namun pastinya Kelar tidak tahu, sangat


sulit baginya untuk melihat detail kecil yang ada pada mahluk yang mengamuk.


Lentara yang menyala tidak cukup terang untuk menyorot seluruh tubuhnya yang


tersembunyi di balik gelap itu. Bahkah api unggun yang mereka buat sudah tidak


lagi menyala. Padam kerena kekacauan yang terjadi tadi.


“Kita akan tahu setelah Pigoun mengalahkannya” ucap Jack.


Jack mengatakannya seolah Pigoun pasti mampu mengalahkan mahluk


itu. Namun yang Kelar lihat justru bertolak belakang dari apa yang di ucapkan


oleh Jack. “Baiklah” kata Kelar yang ragu. Pandangan Kelar pun mengarah pada


sebuah pertarungan yang ada di depan matanya.


Mahluk itu pun mengangkat tangan, menunjukan kuku tajamnya di balik


gelap. Bersiap akan menyerang Pigoun dengan kukunya. Dan benar saja kuku bagai


tombak itu pun melaju dengan cepat mengarah pada Pigoun. Namun Pigoun tidak ada


niat ingin menghindar sama sekali. Justru mengancangkan genggaman pagangan pada


tombak. Melebarkan kedua tangannya. memegang tiap ujung tongkatnya dengan


tangan kiri dan kanan.


Satu detik kemudian sebuah bentrokan terjadi. Pigooun yang dalam


keadaan menahan serangan dari atas kepala hanya bisa mengangkat tombak.


Bentrokkan itu menghasilkan angin yang kuat hingga menerbangkan debu-debu.


Bahkan pijakan Pigoun retak. Kakinya tergeser satu jengkal kebelakang. “Aku


pukul” ucap Piguon yang menandakan ia akan membalas serangan itu.


Pigoun yang berada di bawah dengan sekuat tenaga melemparkan tangan


bersiap akan menghantam kepala mahluk yang bermata satu itu. Pada saat Pigoun


sudah merapatkan tangan yang bersiap ingin memukul, justru ia terhempas ke


tanah, dirinya tidak menyadari bahwa mahluk itu memiliki 2 tangan. Yang


menyebabkan Pigoun terkubur di dalam bebetuan. Walau begitu Pigoun terlihat


baik-baik saja Tidak perlu waktu lama bagi Pigoun untuk bangkit kembali.


Kelar yang melihat semua itu hanya bisa memasang wajah kikuk. Walau


bukan dirinya yang terhampas namun wajahnya seolah berkata bahwa ia juga ikut


merasakan sakit. “Dia tidak boleh bertindak seceroboh itu” ucap Kelar. Pigoun


tidak hanya besar, Pigoun juga tahan banting seperti paku baja. Sekeras apapun


di pukul oleh palu, sekeras itu pula ia akan menusuk masuk.


“Pigoun bukan seseorang yang kalah hanya dalam satu pukulan. Perlu


ratusan atau bahkan ribuan kali untuk benar benar membuatnya tumbang tak


berdaya” kata Jack yang memuji Pigoun.


Kelar juga dapat melihat semua itu. Bagaimana Pigoun bangkit dalam


sekejap setelah tubuhnya mental terpukul oleh mahluk asing itu. “Kau benar,


tapi-“ Kelar setuju dengan apa yang Jack katakan. “Jika seperti itu terus


berlansung, aku tidak yakin Pigoun akan mampu bertahan lama” ucap Kelar. Ia


sedikit ragu dengan apa yang Jack katakan. Bukan ragu akan perkataan Jack.


Melainkan ragu karena melihat pertarungan yang tampak seimbang. “Baiklah Pigoun


apa yang akan kau lakukan?” gumannya.


Pigoun yang baru saja bangkit harus menerima tamparan dari mahluk

__ADS_1


asing itu lagi. Kelar bisa melihat semua itu, bahkan di mata Kelar serangan itu


tidaklah sulit untuk di hindari bahkan sebetulnya Pigoun tidak perlu


repot-repot harus mennahan tamparan itu. Cukup dengan melompat beberapa langkah


kebelakang atau kesemping pasti sudah bisa mengelak dari tamparan mahluk asing.


Namun hal itu tidak dilakukan oleh Pigoun. “Apa yang dia lakukan, jangan


buang-buang tenagamu untuk menahannya” Kelar tampak kesal dengan cara Pigoun


mengatasi serangan mahluk asing itu.


Pigoun pun memilih menguatkan genggaman pada tongkatnya untuk


menahan tamparan mahluk itu. Pigoun memang mampu menahan serangan mahluk itu,


namun pada serangan yang kedua, pada saat mahluk asing itu menggunakan


tangannya yang satu lagi membuat Pigoun tak bisa bergerak. Hanya bisa pasrah


memberikan rusuknya menjadi sasaran empuk. Dan Pigoun pun terlempar lagi.


Melesat dengan cepar bagai peluru kertapel. Membuat tubuhnya berkali-kali


menghantam dinding. Pigoun dalam sekejap bangkit lagi, dan begitu seterusnya.


“Apa yang dia lakukan. Mengapa tidak mengelak saja” kata Kelar yang


tidak mengerti dengan apa yang Pigoun lakukan. Baru kali ini ia melihat Pigoun


bertarung begitu ceroboh. Jika ia mengingat kembali pada pertarung-pertarungan


yang pernah mereka hadapi semuanya telihat sepele jika di bandingkan dengan apa


yang ada di depan matanya.


Hingga pada serengan yang sekian kalinya, mahluk asing itu


melakukan serangan yang berbeda. Yaitu ia mengunakan kaki yang berdurinya untuk


menyepak secara horizontal hingga menyapu seluruh area atas tanah. Jika yang


seperti itu jelas serangan itu sangat sulit untuk dihindari. Dan jalan


satu-satunya adalah menahan dengan sekuat tenaga. Pigoun yang memang sejak tadi


menahan setiap serangan yang dilakukan oleh mahluk itu puh mengambil kuda-kuda.


Ia bersiap menerima serangan musuhnya. “Majulah” katanya dengan mata yang


menyala.


Serangan sapuan Horizontal pun ditahan oleh Pigoun namun hanya satu


detik. Dan detik selanjutnya ia sudah melesat terhempas dan bahkan terbenam


pada dinding gua. Variasi serangan yang berbeda itu benar-benar terlihat


menghancurkan Pigoun.  Membuat Kelar


cukup kaget dengan apa yang baru saja ia lihat. Bahkan sapuan menggunakan kaki


itu tampak berbahaya “Melompatlah” teriak Kelar. Kelar mengkhawatirkan Pigoun.


Namun yang terjadi justru Pigoun memasang kuda-kuda bersiap dengan


sepakan yang akan menghantam dirinya. Satu detik kemudian kaki mahluk itu pun


melayang. Dengan sekuat tenaga Pigoun menahan sepakan itu. Kekhawatiran Kelar


terjadi. “Melompatlah” Kelar berteriak.


Pigoun terlempar lagi menabrak dinding gua itu. batu-batu


berjatuhan meninbum pria bertubuh besar itu. Serangan itu benar-benar


membuatnya terlempar jauh, bahkan bisa di anggap sebagai serangan pamungkas


yang mengalahkan Pigoun. Kali ini Pigoun tidak terlihat bangkit.


Mahluk aneh itu pun terlihat senang. Mulutnya menampakan gigi tajam


seperti gerjaji. Bersuara aneh di dalam gua gelap. Dengan kakinya yang jenjang


itu, perlahan mendekati arah Pigoun yang terlempar. Terlihat masih belum puas

__ADS_1


dengan serangan yang baru saja ia lakukan.


__ADS_2