
Dari arah mayat berada, Jack masih melihat sekitaran. Matanya tidak pernah luput dari hal yang di anggapnya aneh. Mulai dari mayat yang kaku terbaring mengering. Sampai pada rintik air jatuh dari langit-langit gua gelap.
Semuanya tertangkap oleh mata dan terlinga Jack.
Jack tersenyum. Seperti mendapatkan hal yang menantang dirinya. Mayat itu benar-benar aneh. Dan Jack mulai bersemangat. Isi kepalanya mulai tersusun rapi akan semua kemungkinan yang terjadi.
Manusia mati tanpa kepala itu dan jantung juga menghilang sungguh kematian yang tidak wajar. Bukan kematian yang menjadikan mayat itu aneh, melainkan dada berlubang dan kepala yang hilang, itulah yang menjadi pertanyaan di benak Jack saat ini.
Rintik air terus menitik bagai detik yang berlalu begitu saja. Gua gelap tempat mayat itu berada lambab, kaku di tanah berpasir hitam, bangkai seorang manusia yang mengeluarkan bau tak sedap kini mulai memenuhi hidung. Jack mengitari mayat itu. Melihat dengan mata birunya, mencium dari balik masker putih. Jack mendekatkan wajah, juga obor menyala di tangan kanan. Seksama ia melihat mayat yang sudah kaku. Walau tidak terang namun obor di tangannya cukup bagi Jack untuk melihat sang mayat.
“Bagaimana apa kau mengetahui sesuatu?” Kelar bertanya. Kelar pria bertopi lebar itu akhirnya bersuara. Mata juga meminta jawaban atas apa yang terjadi. Namun Jack tidak punya jawaban apa pun.
“Masih belum, hanya rintik air dan seonggok daging tak bernyawa disini. Ini tidak sulit, hanya saja perlu waktu untuk mengetahui semua yang terjadi” kata Jack dengan datar. Suara serak dan berat itu menggema di lorong gelap yang dingin. “Apa kau tahu pria ini?”
“Ingatanku tidak terlalu bagus, terlebih lagi sangat sulit mengetahui jika hanya tubuhnya saja. Aku rasa, aku tidak tahu siapa dia” Jawab Kelar.
Jack bisa menilai. Perkataan itu jujur apa adanya. Benar juga apa yang di katakana kelar, siapa yang bisa mengenal orang lain jika tak memiliki kepala. Jack juga demikian, tak pernah ia meresa dirinya yang menjadikan mayat itu seorang pesuruh bagi Geng The Bandits.
Meskipun yang di hadapan mereka adalah mayat, namun aura yang keluar dari mayat itu begitu hitam dan pekat. Jack melebarkan senyum “hidup yang buruk” kata Jack sembari melihat tubuh pucat yang habis darah itu. “Maaf tuan, sepertinya kau harus pergi mandi” tangan Jack mulai beraksi. “Kelar, tolong pagangkan obor ini sebentar” belati kecil mulai menumbus baju kumal yang masih menempel pada budak itu.
“Jack, kau serius” tanya Kelar yang terlihat tidak percaya.
__ADS_1
Jack pun menghentikan aktivitas merobek baju mayat itu. “Apa yang kau pikirkan Kelar, jika ingin tahu, kita harus seteliti mungkin” kata Jack yang melanjutkan merobek. Tidak ada keraguan dalam ucapannya barusan. Semua itu adalah memang yang ia kehendaki.
Kini sang mayat hanya menyisakan kantong celana yang menutupi burung kecil yang tersembunyi di dalamnya. Satu mayat itu memperlihatkan tato bulu burung hitam bersilang di atas dada kanannya. “Dapat kau, 1 keping telah di temukan” Jack tersenyum. “Mari kita temukan kepingan yang lain” ucapnya
penuh semangat.
“Apa itu, tato, bulu burung hitam. Jangan-jangan itu berhubungan dengan Benteng Elang Putih” Kelar juga mulai menerka-nerka seperti Slimin.
“Entahlah, jalannya masih berkabut sekarang. Tapi satu hal yang pasti, kita dapat satu kepingan yang berharga dan kau tahu, semuanya bermula dari satu” Jack tersenyum.
“Ya, kau benar” Kelar hanya membenarkan perkataan Jack.
Kelar juga mendekatkan wajahnya pada sang mayat. Di pantaunya dengan jelas setiap sudut mayat itu. “Coba lihat, irisan pada batang lehernya begitu rapi dan terukur. Aku sudah lama tidak melihat potongan sebagus ini. Bukan orang biasa yang melakukannya” kata Kelar.
Jack tahu Kelar sangat ahli dalam menggunakan pisau kecil. Yang hampir seperti pisau untuk membedah tubuh manusia yang di pegang Dokter. Salah satu keahlian Kelar.
“Aku sangat yakin yang melakukannya adalah seorang ahli” Kelar terlihat percaya dengan apa yang ia katakan.
“Jantungnya?”
“Mari kita lihat dulu, sulit mengetahui bagai bisa manusia melakukannya, dadanya terlihat tidak di lukai oleh pedang atau benda tajam semacamnya. Melainkan terlihat seperti tusukan yang kuat dan tajam” terang Kelar.
__ADS_1
“Binatang buas” kata Jack yang menebak.
“Tidak, lebih kecil dari itu. seperti kuku manusia, lihat bekas tusukan ini” Kelar menunjukan luka dada itu. “Empat cabikan di atas dan satu di bawah” Kelar menasukan jari-jemarinya sendiri. “Jadi, ini ulah manusia, tapi
manusia macam apa dia” kata Kelar yang tersenyum.
“Dan lengan dan kaki?”
Kelar mengerakan lengan dan kaki yang sudah patah itu, seperti pelepah kelapa yang lunglai “Aku tidak yakin, tapi ini semacam terkena benturan keras. Seperti sebuah tongkat besi yang menghancurkannya. Dan lagi dilihat dari cara patahnya ini. Itu seperti di hantam dalam satu pukulan. Tangannya juga begitu” Kelar diam sejenak. Beranjak dari duduknya. “Ini benar-benar aneh, tidak satu pun luka yang mereka terima terlihat sama. ketiga Cidera itu terlihat tidak serasi” Kelar menggelengkan kepalanya. “Dan kau benar pria itu tidak mati malam ini, melainkan ketika matahari sedang bersinar”.
“Dan bagaimana dengan Tatonya, ada sesuatu yang kau tahu” tanya Jack. Jack memberikan begitu banyak ruanng untuk Kelar mengutarakan apa yang ada di kepala pria bertopi itu. Sengaja Jack melakukannya, jika tidak maka dirinya tidak akan mendapat referensi lain selain asumsi dirinya.
“Itu bulu burung hitam, tapi tidak jelas burung apa yang ada disana. Hitam pekat, bisa saja itu gagak atau memang itu Elang” Kelar memperhatikan kembali pada tubuh pria itu. “Jika ini berhubungan dengan Benteng Elang putih. Artinya kita sedang di awasi” Kelar bangkit.
“Baiklah semuanya sudah jelas sekarang bagaimana ia bisa terbunuh. Tapi siapa dan untuk apa masih tersembunyi. Tidak apa. 2 keping sudah di tangan kita” kata Jack yang melebarkan senyum.
Jack merasa dirinya di tantang oleh Alam untuk memainkan peran itu. Meski pun ada seseorang yang melakukan pembunuhan ini layaknya sebuah permainan. Jack dengan senang hati akan ikut di dalamnya. “Jika pun ini di lakukan seseorang, aku yakin dia pasti akan menampakan dirinya”
Orang ketiga yang meninggal tempat kejadian itu kembali. Dengan wajah berseri ia melangkah. “Apa kalian sudah mendapatkan sesuatu” ia tersenyum layaknya pemenang.
“Jawabannya iya dan tidak” sergah Kelar.
__ADS_1