LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 7 Es Yang Mendidih


__ADS_3

Perjalan panjang yang mereka lalui akhirnya selesai. Kereta kuda yang mereka tumpangi singgah di depan gua lembab yang kasar. Udara membeku tidak juga berubah. Semenjak memasuki jalan hutan dingin, suhu tidak berubah. Masih sama saja membeku menusuk kulit.


“Akhirnya sampai juga” ucap Slimin. Tersenyum. Meregangkan tubuhnya. Keluar dari kereta kuda itu.Menatap Langit biru.


Slimin pun langkahkan kaki menuju gua gelap yang memang manjadi tujuan mereka. Di sana puluhan kerbau menepi. Kerbau-kerbau itu mengerakan mulutnya. Menatap kosong kearah utara. Dan rumput muda hijau terletak tepat di bawah muka kerbau-kerbau itu. Sedangkan Pigoun masih sunyi.


Angin dingin tiba-tiba menyayat seluruh tubuh Slimin. Membuatnya beku. Namun dengan cepat kepalanya menagarah asal muasal angin ini. Di lihatnya seseorang yang sedang berdiri tepat di depan mulut gua. Mengusap-usap bilah putih pedang, bukan hanya sekedar mengusap. Melainkan tampak membersihkan pedang. Noda merah membekas di sapu tangan putih yang pria tinggi itu gunakan. Tapi bukan pria itu yang Slimin fokuskan, melainkan gua lembab yang gelap. Menganga seperti mulut buaya yang menyeramkan.


“Kelar, apa kau merasakannya” Slimin bertanya. Menatap pria bertopi hitam lebar.


“Tentu saja” Kelar menatap tajam kearah kegelapan itu.


“Dingin, dingin” Pigoun merangkul tubuh. Tersadar dari lamunan. Melangkah kaki menurun gerobak itu. Berdenyit gerobak itu menahan berat tubuhnya. Ia mendekat kearah kerbau yang menatap kosong.


“Hei, apa ini enak?” Ucap Pigoun. Sebuah kebetulan terjadi, kerbau yang diam itu tiba-tiba saja mengaruk punggungdengan tanduk. Beberapa kali mengelangkan kepala ke belakang.


“Jadi ini tidak enak ya” Pigoun letak kembali rumput yang ada di tangan. Beranggapan kerbau itu menjawab perkataannya.


“Apa yang dilakukan bodoh itu, astaga” ucap Slimin. Melihat pigoun yang berbicara serius dengan seekor kerbau.


“Biarkan saja dia” Kelar tertawa.


“Apa ini enak?” Pigoun bertanya lagi pada kerbau yang ada di sebelah.


“Hoi, Pigoun. Itu tidak enak. Kemarilah” Slimin berteriak memanggil teman gumpal itu. Tidak tega ia melihat tingkah menggelikan Pigoun.Tidak tega ia harus melihat betapa bodoh si gempal itu.


“Jadi itu tidak enak. Lalu apa yang itu enak” jari telunjuk mengarah pada rumput yang lain. Yang sedang di santap para kerbau.


“TIDAK, ITU SEMUA TIDAK ENAK. KESINI SAJA” Slimin mulai kesal. “DASAR BODOH, MANUSIA MACAM YANG MAKAN RUMPUT” sabarnya pecah menjadi bom.

__ADS_1


Slimin abaikan si Gumpal Pigoun. Ia lanjutkan langkah menuju mulut gua. Bercak darah segar masih membasah di tanah. Slimin tersenyum. Senyum kemanangan. Di lihatnya lagi sepasang tangan manusia tergeletak begitu saja di atas tanah berpasir. Slimin makin melebarkan bibir.


“Hentikan senyum bodoh mu itu Slimin” Kelar mulai kesal.


“Eh, ada apa, aku tidak tersenyum” sangkalnya. Padahal wajah itu berkata lain.


Slimin semakin yakin bahwa Jack telah memenggal kepala sesorang. Dan ia akan memenangkan taruhan itu. Hingga mereka tiba pada mayat tanpa kepala.


“Wahahahaha” Slimin tertawa puas.


“Jack, buruk sekali kebiasaanmu” ucap Kelar. Menatap tubuh mayat itu.


“Sudah kubilang dia pasti akan memengkal orang disini” ucap Slimin. “Jack si burung pucat” memperagakan diri bagai pambaca puisi


“Yahahaha. Orang mati, mati” pria gumpal tertawa dari belakang. Dan hijau rumput menyangkut di giginya “apakah itu enak?”


“Tentu tidaklah, plak!!” Satu geplakan mendarat di kepala Pigoun.


“Hehe, dengan senang hati Kelar” pria kurus tertawa. “Hei, Pigoun. Berikan punyaku” ucap Slimin pada pria gumpal. Mereba-raba baju kecil yang ketat di tubuh pria gumpal itu.


“Ini” satu koin perak meluncur dari tangannya.  Sedangkan matanya mangamati pria yang sudah tak berkepala di tanah. “Jadi, tangan siapa yang ada disana” ucapnya menunjuk darah yang berhamburan diatas batu.


“Milik serge” ucap Jack. Ia menyapu pedangnya dengan sapu tangan putih. Melihat dengan penuh khidmat pedang perak yang memantulkan wajah.


“Heh, Serge siapa? Bukankah kau diminta untuk menengerjakan ini seorang diri” Slimin main-mainkan koin yang baru saja ia dapati.


“Bocah yang membuat masalah itu. Yang berlagak akan menjadi seorang pimpinan geng” Kelar tersenyum.


“Aaaah, si penakut itu” menjentikan jarinya. Slimin mengingat kembali. Seseorang yang selalu berlagak pintar disetiap pertemuan. Dan anehnya Boss mereka mengikuti saran-saran yang Serge sampaikan.

__ADS_1


“Coba lihat siapa yang kau penggal ini” Ucap Slimin. Memperhatikan kepala yang terpisah dari tubuh. “Eh, bukannya dia Si pemerkosa itu” kata Slimin.


“Hentikan omong kosong ini. Jadi kenapa kalian terlambat” Jack melirik tajam.


Membuat Slimin sedikit gentar. Pertanyaan itu tidaklah sulit untuk dijawab. Tidaklah sulit memberikan alasan yang masuk akal. Mengenang mereka juga menyelesaikan tugas sampingan. Tapi yang membuat Slimin gentar adalah tatapan dari Jack yang begitu dingin. Ketiga orang itu tahu bagaimana Jack bila mendapat mereka dalam kelalaian. Mata biru itu begitu mengerikan.


“Hei-hei tenanglah, aku punya sesuatu untuk mu” ucap Kelar. “Pigoun” Kelar memanggil,mendengar itu


Pigoun mendekat.


“Hahaha helm, helm” ucap si gempal. Menepuk-nepuk udara dengan tangan. Sebuah karung yang tampak berat itu ia ambil. Menghempaskan karung itu tepat di hadapan Kelar dan Jack.


Jack masih menatap diam. Menatap Kelar dengan penantian penjelasan. Kelar pun memasukan tangannya kedalam karung itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah Helm Besi. Seketika itu mata biru  menyala. Bagai es yang mendidik.Slimin yang tidak mengerti hanya diam dalam heran. Bertanya pada dirinya apa yang istimewa dari rongsokan itu.


“Kastil elang putih, NIKMAR KILIN” ia tersenyum. Namun senyum yang mengerikan. Seperti dendam yang tersimpan. Seperti kemarahan yang siap meledak. Dapat Slimin rasakan amarah yang begitu dalam dari cara Jack menatap. Jack melangkah berat. Maju selangkah. Tangannya sudah siap menebas. Secepat kilat helm itu terbelah menjadi dua bagian.


“Ya, nyawa di bayar nyawa. Dan dendam harus dituntaskan” ucap Kelar. Pria bertopi lebar itu juga menetap serius. Menyaksikan itu membuat Slimin membeku. Pikirannya kosong seperti danau yang kering.


Dari arah depan yang sedikit menjauh dari gua gelap itu. Kerbau-kerbau itu bersuara “Moooaaah, moaaaah” memberontak ingin kabur. Aura yang Jack keluarkan begitu besar. Bagaikan monster yang haus darah.


“Hei, hei. Tenanglah. Tenang” dengan pelan seorang pekerjaberkata, coba menenangkan.


Jack yang terbakar akan amarah itu melirik. Ia mendekat “Berisik sekali” ucapnya. Pria bermasker pucat itu terlihat sangat tidak senang. Emosinya telah mengambil alih dirinya yang tenang.


“Tuan, maafkan aku. Aku akan coba-“ tak sempat katanya selesai. Pedang panjang itu sudah merobek leher. Kerbau itu mencoba lari. Memberontak. Namun sudah dulu kakinya ditebas oleh Jack. Kerbau itu menggeliat diatas tanah yang berpasir. Kerbau itu menitikan air matanya.Hingga membuat Jack sibuk dengan menyalahkan


budak yang coba menenangkan kerbau-kerbau itu.


Jack menatap iba “Ini salahmu, Nikmar” ia hujamkan pedang panjangnya tepat menembus otak kerbau. “Hahahahaha. NIKMAR. KAU AKAN MATI DITANGANKU”

__ADS_1


Jauh dari arah berkabut yang dingin. Dua pasang mata melihat semua pergerakan mereka layaknya kemara pengawas dalam penjara.Sesuatu yang tidak dikenal. Bersembunyi dengan rencana yang terselubung.


__ADS_2