
Kabut putih mulai menyelimuti tempat mereka bermalam. Kelar mulai aktivitasnya. Membawakan tas besar yang ada di gerobak. Mencari tanah paling rata untuk mendirikan tenda. Walau semuanya terlihat rata namun tidak semua tempat bisa didirikan tenda. Banyak lubang kecil dengan air yang menggenang. Hingga membuat Kelar harus memilih lokasi paling Pojok. Di bukanya tas itu, mencuat kain hitam yang lebar. Dengan lihai tangan itu merajut, memaku, mengikat serta menancap. Tenda hitam pun selesai didirikan. Hanya perlu meletakan selimut dan bantal maka sudah benar-benar siap untuk di jadikan kamar tidur.
“Akhirnya selasai” ucap Kelar. Ia menatap tenda itu dengan lamat. Hingga membawa dirinya pada kenangan lama yang kini muncul di benak. Seorang anak kecil yang sedang meruncingkan kayu. Tersenyum dengan riang. Anak kecil ini bermain membuat sebuah tenda kecil untuk dirinya. Namun selalu gagal, dan rubuh. Hingga anak kecil itu di bantu oleh seseorang yang memilik senyum begitu hangat. Ingatan itu membuat Kelar tertegun. Ia mengusap ekor matanya.
Tenda hitam pun sudah siap. Kelar menjauh dari sana. Melangkah, mendekati arah gerobak tempat barang-barang mereka di simpan. Noda darah membekas di tanah. Membeku seperti permen. Ia abaikan saja semua yang bersimbah di tanah.
Pria bertopi itu melanjutkan langkah kaki yang hampir berhenti. Fokus pada apa yang ingin ia ambil. Yaitu sebuah peti hitam. Tidak ada yang tahu apa isinya selain Kelar sendiri. Bahkan untuk Jack dan Slimin saja tidak pernah menyentuh bahkan bertanya apa isi didalam sana. Semua orang yang ada disana menyimpan satu rahasia kecil yang hanya mereka sendiri yang tahu. Begitu pun dengan Kelar yang masih belum melihat wajah asli dari Jack. Dan Slimin yang selalu cerewet, selalu merasa dirinya memiliki harkat yang tinggi.
Setelah sampai, tangannya meraih peti hitam itu. “Maaf membuatmu mengunggu” ucapnya pada sebuah peti. Yang terduduk miring di dalam kereta kuda yang mereka tumpangi tadi. Menemani perjalanan panjang dengan tak berbicara. Kemudian ia meraih peti itu dengan tangan. Tiba-tiba, jauh di seberang kereta itu. Matanya samar melihat bayang dari kabut yang turun. Terlihat seperti orang-orang yang sedang berdiri. Sekelompok bayang yang entah siapa. Diam dan terlihat memperhatikan setiap gerak yang kelar lakukan. “Siapa disana?” katanya dengan keras.
Kelar menatap tajam. Menyipitkan mata supaya makin tajam penglihatannya. Kelar ragu ada orang lain di antara mereka. “Yang mengetahui tempat ini hanya kami dan mereka, tidak mungkin ada orang lain yang tahu lokasi ini. Jika pun ada orang luar tahu tempat ini, itu artinya ada pengkianat di antara mereka” kata Kelar yang berjalan perlahan kearah bayang itu. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Sunyi, hanya angin yang menderu. Semakin dekat ia, angin semakin berhembus kencang. Kabut mulai menebal. Detak jantungnya naik turun melaju seperti larian kuda. Kelar pun, meraba pahanya, mengeluarkan berlati kecil yang terselip disana. Dekat. Semakin dekat. Tangannya pun bergerak, melemparkan belati itu kearah bayang yang ia lihat.
__ADS_1
Belati itu terbang mengudara. Tertencap pada bayang yang ada di belakang kabut. Kelar pun melajukan langkah, hingga ia dapat melihat dengan jelas, itu adalah sebatang pohon yang sudah layu. “Haa” ia melepaskan nafas dalam. “Siapa yang menanam batang kayu disini, tidak berguna” ucapnya. Benar-benar tidak di sangka. Kelar harus merasa waspada pada batang kayu yang sudah layu dan mati. Ia pun kembali pada kereta kuda. Mengambil peti hitam yang memang menjadi tujuannya.
Kelar yang sedang berjalan kearah tenda melihat budak. Membawa kerbau yang sudah tak berkaki dan sebatang kayu besar. “Apa yang di lakukannya” bertanya pada diri sendiri.
Sedangkan Slimin memindah tumpukan kayu-kayu yang kering dari hutan bersama Pigoun. “Pigoun ini, ini, juga ini” katanya yang asal menunjuk saja. Bahkan batang pohon yang terakhir itu belumlah mati. Hanya tumbang dan masih hijau daunnya. Dan Pigoun hanya mengangguk-angguk saja.
“Baiklah prajurit, mari kita kembali ke markas” kata Slimin yang bergaya seperti seorang komandan perang.
Slimin melebarkan senyum. Benar benar menikmati perburuan kayu bakar itu. Padahal sebelum senyum itu terjadi ia sempat mendebat Jack akan tugas itu. “Aku tak menyangka menotong pohon bisa se-asik ini” kata lagi.
Beberapa pohon tumbang. Bahkan lapang seperti pembabatan liar. Slimin menikmati dimana ia bisa menggunakan cambuknya untuk menghancurkan sesuatu. Terlihat pada apa yang ia lakukan bersama Pigoun. Membabat hutan dengan riang. Layaknya bermain di taman hiburan.
__ADS_1
Sebelum kabut menutupi pandang. Slimin pun meminta untuk Pigoun membawa batang kayu itu pergi lebih dulu. Namun ia terlihat masih ingin menari seorang diri disana. “Heh” ucap Slimin yang terkaget. Tepat pada sebatang pohon yang berdiri di hadapan Slimin. Noda merah darah membekas disana. Membasahi sebagian kulit pohoh itu. “Darah, Heh” kata Slimin yang tersenyum. Ia pun mengedarkan pandang ke sekeliling. Matanya mulai menerawang.
“Kayu, kayu, kayu” ucap Pigoun yang berulang-ulang. Hingga suara itu tidak terdengar oleh Slimin lagi.
Slimin mulai waspada, tangan kanannya mulai bergerak kearah pinggang. Siap mengeluarkan senjata yang selalu ia gunakan untuk bertarung. Sebuah cambuk emas yang keras. “Aku tahu kau masih ada disini, keluarlah. Jangan jadi pengecut” ucapnya. Ia pun melihat dengan teliti tiap pohon yang ada disana. Tiap daun yang jatuh dan tiap rintik embun yang membumi. Hingga terlalu lama ia disana. Membuat kabut gunung benar-benar membutakan pandangan matanya. “Yah, sepertinya dia sudah pergi” kata Slimin yang tampak tidak senang. Slimin pergi dari hutan itu.
Walau sebetulnya Slimin tidak tahu apakah ada orang atau tidak disana. Ia hanya berpura keren untuk menantang siapa pun yang hadir. Berpura-pura menipu dirinya yang buta supaya yakin bahwa ia memang orang yang kuat.
Setelah tidak mendengar jawaban apa pun “Dasar penakut, lari saja kalian” ucapnya dengan perccaya diri. Ia pun melangkah menjauh dari sana. Setelah beberapa langkah, ia berhenti. “Jangan-jangan ia akan menusukku dari belakang” ucap Slimin. Ia mengira akan ada yang sedang mengintai. Dan menyerang di saat ia lengah “Disana rupa” cambuknya pun terbang. Membelah batang pohon menjadi dua. “Cih, kabur rupanya dia” ucap Slimin lagi. padahal yang ia pukul itu adalah selambar daun kering yang jatuh. Slimin pun melangkah pergi dari
hutan itu.
__ADS_1
Namun yang luput dari pandangan Slimin adalah mata yang mengintai mereka dari balik hutan yang berkabut. Walau Slimin kurang peka terhadap sesuatu. Namun ia juga bisa merasakan firasat buruk yang akan segera datang.