LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 8 Sang Pemimpin


__ADS_3

Jack duduk seorang diri antara dinginnya udara yang menusuk kulit. Mata birunya memandangi gua yang terbuka lebar itu. Gua yang akan menjadi tempat bermalam para budak. Sedangkan para budak masih sibuk dengan menghidupkan lentera api. Menaruhnya pelan di lorong dinding. “Sudah waktunya” Kata Jack yang beranjak dari duduknya. Ia alihkan pandangan kearah langit. Dapat Jack lihat langit biru berubah menjadi awan kelabu. Mengawang di udara seperti siap akan menangis.


“Baik semuanya, dengarkan ini” kata Jack yang meminta perhatian kepada 3 orang datang terlambat tadi. Mereka adala Slimin, Kelar dan Pigoun. Ketiga orang itu pun menghentikan Aktivitas pengangkutan muatan. Merapat memenuhi panggilan dari Jack. Mata mereka terpaku pada Jack.


“Ada apa?” tanya Slimin. Wajahnya memperlihatkan lelah. Bulu mata lentik sudah layu menjuntai di atas mata. Manguap dan mengusap mata dengan punggung tangan.


“Kita punya pekerjaan disini” ucap Jack dengan serius. Ia melirik kearah mereka bertiga. Menatap mata mereka satu persatu. “Baik, dengarkan ini. Kita akan berbagi tugas supaya pekerjaan ini lebih mudah” katanya lagi. “Aku


yang akan membagi tugas itu”


“Wow, tunggu sebentar, aku juga sedang mengerjakan sesuatu Jack” balas Slimin yang tampak ingin dibebani oleh tugas itu.  “Dan kenapa kau yang harus membaginya?” Slimin bertanya dengan sorot penuh selidik.


“Tugas, tugas, tugas. Apa tugas itu memukul?” ucap Pigoun dengan riang. Tidak memperlihatkan penolakan sama sekali.


Kelar hanya diam dan mendengarkan. Pria bertopi itu selalu sunyi jika ada yang sedang berdebat.


“Baik. Maaf, kenapa tidak kita putuskan saja sekarang” kata Jack serius. Dan matanya tajam melihat arah Slimin, tidak berkedip sedikit pun. “Siapa yang pantas memimpin?” kata Jack yang menantang Slimin. “Kita mulai darimu


Slimin. Katakan pendapatmu?”


“Oh, sial. Aku tidak bisa berpikir sekarang” kata Slimin denga suara lemah.


Jelas jawaban gagap yang tidak layak itu membuat Jack merasa menang. Jack berpikir siapa lagi jika bukan dirinya yang akan memimpin kelompok ini.


“Aku tidak suka memberi perintah” jawab Kelar setelah mendapat lirikan dari Jack.


“Pigoun?” kata Jack pada orang terakhir meminta jawaban. Dan kemungkinan besar lebih tidak bisa Slimin terima jika Pigoun yang akan menjadi pemimpin mereka.


“Eh, apa aku boleh pukul mereka” kata Pigoun yang tidak ada kaitannya sama sekali.

__ADS_1


“Tidak Pi” Jack tersenyum dari balik maskernya. “Jadi, bagaimana menurutmu Slimin. Sudah selasai” kata Jack yang melebarkan senyum di balik maskernya.


Slimin terdiam tak berkata. Sepertinya Slimin memang tidak punya kesmpatan untuk menang dalam debat itu. Jack benar-benar membuat Slimin tak berkutik.


Di atas tanah hitam dan hamparan kerikil. Jack memenangi debat dengan sangat telak. Tidak terlihat seperti debat bagi Jack. Namun seperti kejelasan posisi mereka semua.


“Baik, aku melakukannya karena keinginan diriku. Bukan perintah darimu” jawab Slimin dengan tegas.


Jack tahu Slimin tidak mau menjadi bawahan seseorang. Slimin adalah pria merdeka yang hidup bebas di dunia ini. Harga dirinya terlalu tinggi jika menjadi seorang bawahan.


Jack juga sudah menghitung kemungkinan itu dari pria berwajah tirus. “Yah, tidak ada yang memberi perintah disini, kita hanya saling membagi perkerjaan saja” kata Jack. “Slimin dan Pigoun cari kayu bakar di hutan, Kelar


persiapkan kemah dan aku akan mengawas para budak”


“Aku suka memasang tenda” jawab Kelar.


“Aku suka bermain pohon” Jawab Pigoun dengan girang.


“Semuanya sudah jelas, dan mari bekerja” kata Jack.


Di atas tanah yang menghitam termakan waktu. Dingin yang sanggup membekukan udara. Berjatuhan menjadi bulir es kecil yang lembut. Ke empat orang ini berpisah sesuai dengan apa yang Jack katakana. Slimin dan Pigoun melangkah kearah hutan. Kelar mengambil tas besar yang berisikan perlangkapan untuk mendirikan kemah. Belum sepenuhnya petang namun kabut sudah membubuh dari atas pergunungan. Turun bagai air bandang yang membanjiri.


Jack kembali pada aktivitas. Duduk di atas batu yang kasar. Mata birunya melihat kedalam gua yang di penuhi budak yang meringkuh. Terlihat lelah, duduk, terbaring dengan nafas yang sengal-sengal. Bibir kering dengan


wajah yang membiru.


Jack tahu, udara akan menjadi mimipi buruk bagi para budak itu. Akan menjadi pasau kecil yang menyayat dengan dingin di kala malam telah larut. Mungkin saja beberapa di antara budak itu akan mati terkena hipotermia. Mati kedinginan. “Haruskah” kata Jack. Perkataannya itu merujuk pada keinginan yang akan ia lakukan. Ada dorongan dalam hatinya untuk memberikan bantuan kepada budak itu. Padahal mereka hanyalah orang yang sama sekali tidak Jack kenal.


Jack pun bangkit dan menjauh dari sana. Ia langkahkan kaki menuju kereta kuda. Mengambil beberapa lentara dan obor. Memberikannya kepada para budak yang mulai kedingin. “Tenaga kalian masih di perlukan untuk besok” kata Jack. Yang berpura tidak iba. Padahal itu belas kasih yang ia tunjukan tanpa berkata manis.

__ADS_1


Dapat Jack lihat, wajah yang sudah membiru itu tersenyum. Bibir mereka pecah berkata dengan pelan. “Terima kasih tuan” terdengar lemah dan tak berdaya. Jack merasa dirinya telah berbuat sesuatu yang benar.


Namun apa yang Jack lakukan tidak sampai disana. Ada perasaan yang mendorong Jack untuk berbuat lebih. “Hoi kalian, ikuti aku” Kata Jack yang menunjuk beberapa orang yang tampak lebih segar dari para budak yang lain.


“K-kemana tuan” tanyanya gagap seraya mengangkat tubuhnya.


Jack bisa melihat raut wajah yang ketakutan. Berkeringat dan bergetar. “Ikuti saja aku” kata Jack datar. Mungkin saja karena perkara tadi sore. Jack merasa ia benar melakukan itu. Membunuh seseorang yang tidak lagi bisa diandalkan. Membuang seseorang yang tidak mau lagi berusaha. Dan ia melakukan itu semua demi para budak yang lain. Agar tidak mengikuti seseorang yang tidak disiplin. Supaya perkerja yang lain tidak terhambat dalam berkerja. Agar mereka bisa lebih cepat dalam bekerja dan istirahat. Jack dan beberapa budak pun melangkah pergi. Berjalan melewati tahan hitam. Melewati lubang lumbur di tanah.


“Santai saja” kata Jack yang berusaha membuat para budak itu sedikit santai. Namun yang terjadi malam sebaliknya. Kedua budak itu diam semakin bisu. Jack juga dapat merasakan aura ketakutan yang mereka keluarkan. Setelah sampai. “Bawa ini” kata Jack yang menunjukan sebuah tong berisi air. Tong yang di angkut para budak tadi siang sebelum peti Kayu datang. Yang mereka dapati si sekitaran gunung.


“Siap tuan” para budak itu benar-benar patuh pada apa yang Jack katakan. Benar, layaknya seorang pesuruh sejati.


“Dan juga, kau. Lihat kerbau disana” Jack menunjuk kearah kerbau yang sudah mati. Kepalanya sobek dan kakinya sudah putus. “Bawa juga itu. Makanlah” perintah Jack.


Wajah budak itu pun berseri. “Terima kasih-terima kasih” katanya yang mengangguk, terlihat benar-benar tulus mengucapkannya.


“Yah, aku terima itu” kata Jack yang tersenyum remeh. Para budak itu pun dengan semangat melengkok pergi menuju gua yang gelap. Meski tempat yang mereka diami itu begitu mengerikan dan mencekam, tapi ketakutan itu hilang ditimbun makanan.


Jack hanya tersenyum. Dan duduk kembali pada tempat semula. Di atas batu kasar hitam. Tidak lama Jack duduk disana. Matanya bisa melihat dengan jelas kobaran api menyala dari dalam gua, terang dan menguning.


Jack tidak tahu hal yang ia lakukan akan berhasil atau tidak. Matanya masih serius melihat kedalam gua yang gelap. Masih mewanti wanti hal yang akan terjadi selanjutnya. Sesuatu yang menurutnya masih menjadi keanehan di dalam gua itu. Semua yang ia lakukan bukan karena rasa belas kasih semata. Melainkan ada sesuatu yang ingin ia lihat dan pastikan.


Asap mulai mengepul dari dalam gua. Menyatu dengan dinginnya kabut yang mengelimut. Gelak tawa mulai terdengar dari sana. Jack tidak mengira mereka bisa tertawa di dalam sana. Ada kejanggalan yang menyelinap di kepala Jack. Jack harusnya sudah menyaksikan sebuah perkelahian di antara budak itu. Namun tidak ada tanda-tanda keributan yang mereka perbuat. Hanya tawa dan suara yang tidak jelas di dengar Jack. “Jadi kalian memiliki persatuan rupanya” kata Jack yang melirik kepada kumpulan budak yang sedang menikmati kerbau guling.


Namun dari gelap yang membayang di gua itu dapat Jack rasakan tatapan tajam mengarah padanya. Tatapan yang sulit Jack pahami. Apakah itu sebuah ancaman atau sebuah pertemanan. Dan Jack pun menyadari pria itu bukanlah budak yang sembarangan.


“He, menarik. Aku bukan menunggumu kawan” guman Jack. Ia  menunggu sesuatu yang lain. “Baiklah, mari


kita lihat. Sejauh mana kau bisa melihat dengan mata seperti itu” kata Jack.

__ADS_1


__ADS_2