LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 6 Kelompok dan Kisah


__ADS_3

Kereta kuda dan kereta angkutan menerobos masuk kedalam hutan hijau, rimbun namun sunyi. Hanya pepohonan yang tinggi menjulang di atas kepala. Bahkan jalanan berpasir itu rindang. Dedaunan yang lebat menghalagi sinar matahari masuk kedalam sana. Tidak mengherankan jika udara begitu sejuk. Bagai embun di pagi hari. Juga hutan rimbun itu berkabut. Seolah baru saja sekelebat ditepa hujan.


Jalan berpasir dan bertanah itu menjadi jalan satu-satunya yang mengarah ke gunung beton. Di pagari oleh pohon besar yang berbaris acak-acakkan. Dedaun bergesekan ditepa angin. Jatuh menimbun di jalanan. Bunyi beburungan mengiringi perjalanan mereka. Meski hanya terdengar sebentar dan menghilang. Namun suara itu jelas didengar telinga. Kipakan kuda bersahut-sahutan. Menjajak tanahlembab dan berpasir.


“Slimin, kau terlalu percaya diri. Ini baru dua jam berlalu” Kelar membalas. Wajahnya mengarah keluar jendela.“Tapi aku paham senyum licik mu”


“Jadi kau ikut?” memastikan Kelar ikut dalam permainannya.


“Okey, kenapa tidak” jawab Kelar.


“Hahaha teman ku”


Slimin pun menjulurkan leher kurusnya keluar jendela. Rambut kuningnya bergerak seirama dengan kipakan kuda. “Heii. Pigoun, kau ikut taruhan tidak?” teriaknya pada pria besar yang duduk di gerobak belakang. Pria itu gumpal besar seperti bola karet. Ia menatap pepohonan yang ada di sekelilingnya. Mengunakan baju coklat yang tampak tidak muat ditubuh. Seperti orang dewasa menggunakan pakaian anak kecil. Baju coklat tanpa lengan dan celana pendek selutut. Tidak menggunakan sepatu. Di pergelangan tangan sebuah besi melingkar memenuhi langannya. Ia tampak terksima sampai suara Slimin mengagetkan dirinya.


“Taruhan” Pria besar itu menggaruk-garuk kepala. “Taruhan, taruhan” Ucapnya lagi menampakan gigi. Dan bertepuk tangan. Dia adalah Pigoun.


Pigoun duduk di kereta angkutan. Tubuh gumpal seperti gajah itu tidak muat jika harus masuk kedalam kereta penumpang. Dan berakhir di sanalah Pigoun. Duduk bersama Peti kayu yang bertumpuk tumpuk.


“Yah, sepertinya dia ikut” Slimin tersenyum. “Hahaha” tertawa seperti mendapat mangsa besar.


“Pohon pohon” samar terdengar nyanyian Pigoun.


“Benar juga, pohon” pria berbaju lebar itu teringat. Matanya melihat jauh keluar jendela. Sebatang pohon besar berdiri menantang jauh di dalam hutan. Putih pucat bagai batu karang. “Wuuuaaah, besar sekali” ucap Slimin


terkagum. Matanya menyelidik dari jauh. Melihat sebatang pohon yang tinggi menjulang diantara pohon lainnya. seperti raja yang duduk di singgasana. Seperti pohon beringin di tepi danau. Menjulang yang tumbuh diatas rerumputan.


“Pohon, Pohon, Pohon” ucap Pigounlagi. Menepuk udara beberapa kali.

__ADS_1


“Eh, lagi” mendengar nyanyian Pigoun Slimin pun melihat jauh lagi keluar jendela kereta. Kali ini datang dari hutan sebelah kanan. Siapa sangka jalanan yang mereka lalui menjadi batas di antara pohon tinggi menjulang pucat itu. Dua pohon yang saling beradu seperti Rival yang akan saling membunuh. Dua pohon yang memiliki kuasa di pisahkan oleh jalan yang membelah hutan.


“Kelar apa sudah lihat pohon-pohon ini sebelumnya? Mereka seperti memperebutkan wilayah saja” kata Slimin. Kepala masih melihat jauh keatas langit.


“Yah, aku tahu pohon apa itu” jawab Kelar singkat.


“Dan Aura mencekam ini juga” ucap Slimin yang kini memperhatikan pria bertopi itu. Sepanjang jalan hutan yang mereka lalui itu. Slimin merasa ada yang aneh. Udara dingin. Berkabut di teriknya matahari. Dan sunyi senyap bagai kuburan. Bahkan hewan liar tidak terdengar sedikit pun. Kuda-kuda juga mulai melaju gelisah.


“Itu pohon ketapang. Pohon terkutuk. Seorang wanita perawan tumbalkan untuk menghidupi pohonnya.Bangsat.” kata Kelar.


“Lalu?” Slimin mendengarkan.


“Itu cerita lama. Sudah bertahun-tahun lalu.” Kata Kelar yang tampak tidak ingin bercerita. Namun Slimin sangat ingin tahu cerita itu.


“Kelar, ayolah. Apa yang terjadi selanjutnya?" Pinta Slimin.


“Kalau seperti itu, apa masalahnya?”


“Kau tahu, setiap pengorbanan pasti ada hati yang terluka. Dan hati itu yang membuat segalanya berubah” ucap Kelar tersenyum.


“Apa yang dia lakukan?” Slimin semakin dalam mendengarkan cerita Kelar. “Membawa wanita itu keluar desa” Slimin menebak asal-asalan.


“Tidak, dalam persembahan tahun berikutnya. Seorang pemuda itu berdiri dengan pedang menghadap para tetua desa. Dia membantai seluruh warga desa. Dan mengatakan. Bahwa mereka semualah manusia terkutuk.  Bagai singa lapar ia melahap jantung-jantung setiap penduduk desa itu” Kelar menatap tajam.


“Oh, menjijikan” ucap Slimin. Isi perutnya seolah memberontak ingin tumpah. “Dan bagaimana dengan gadis perawan itu?”


“Ini bagian menariknya. Pemuda itu tersenyum ingin menyelamatkan sang gadis dari penumbalan. Memberikannya uluran tangan. Namun justru sang gadis menusuknya dengan belati di perut. Sebelum akhirnya sang gadis membunuh diri untuk mengorbankan dirinya.” ucap Kelar dengan sendu.

__ADS_1


“Apa, Ahaha.” Slimin tidak mengerti sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi. Namun setidaknya ia tahu bagaimana pohon itu tumbuh. “Tapia ada satu hal yang aku tidak mengerti, harusnya ada satu pohon yang tumbuh. Lalu mengapa ada 2 pohon di hutan ini ” Slimin menatap mengheran.


“Itu masih menjadi pertanyaanku juga” ucap Kelar menatap keluar Jendela.


“Tapi ada satuh hal yang benar-benar mengganggu ku. Bagaimana kau tahu cerita itu” Slimin menatap serius.


Kelar terdiam sesaat. “Ini cerita populer dari tempat asalku” katanya mengalihkan pendangan keluar jendela. “Seperti dongeng pengantar tidur” kata Kelar lagi.


“Begitu seperti dongen pengantar tidur. Aaah, pantas saja ukurannya sangat tidak normal. Benar? Dan aku pernah mendengar pohon ini sangat langka” Slimin coba menggali memori kepala.


“Aaaa, Aku baru ingat” ucap Slimin yang mengingat hari pelelangan di Kota Mawar.


Tiba-tiba saja udara semakin terasa dingin. Membekukan udara yang berhembus. Menusuk tajam seperti jarum di kulit. Slimin merasakan perubahan yang begitu besar. Bulu tangannya terangkat kedinginan. Nafasnya mulai mengembun.


“Yah, kau pasti sudah mulai merasakannya?” Kelar menatap tajam. Matanya menyala dari bawah topi hitam lebar itu.


“Apa maksudmu?” Slimin menelan ludah. Mulai mengoyang-goyangkan kakinya.


“Aura yang ada disekitar sini. Dingin, membeku dan menyeramkan” Ucap Kelar pelan.


Sedangkan Pigoun sudah tidak bersuara. Ia mematung melihat pohon di sekitar. Tatapan kosong, duduk diam di gerobak belakang. Bahkan sunyi seprti tidak ada penumpanng di gerobak belakang.


“Aku yakin, sudah banyak nyawa yang menghilang di dalam sana. Namun mereka tidak tahu hanya senjata


terpilih yang mampu menumbahkan pohon pucat itu” Kelar tersenyum menatap keluar jendela.


Dan tiba-tiba gelak tawa Pigoun terdengar.

__ADS_1


"Apa yang dia tertawakan" kata Slimin. ia pun menoleh keluar. Dilihatnya Pigoun dengan girang melihat langit-langit. "Ah sudahlah"


__ADS_2