
Ternyata mereka adalah para budak. Wajar saja bila mendapat bentakan. Namun seharusnya tidak ada lagi perbudakan yang diperbolehkan. Tetapi itu tidak berlaku untuk mereka yang sudah dirantai kakinya di mulut gua itu.
Meski sudah tertatih. Sudah berjalan pelan. Sudah menyapu peluh berulang kali. Wajah yang juga sudah memutih. Bibir yang sudah mengering. Kaki yang sudah bergetar. Namun mereka terus di paksa bekerja dengan
giat. Layaknya kuda. Yang berhenti jika hampir meregang nyawa.
Siapa mereka? Mereka hanya manusia yang tidak merdeka. Manusia yang sudah hilang kebebasan di dunia. Bahkan penderitaan mereka tidak pernah di perdulikan. Acuh dan diabaikan. Layaknya sampah yang terbuang di selokan. Hanyut terbawa arus bersama kotoran yang lain. Mereka terbuang dari rasa kemanusian.
“Apa yang kau lakukan budak” ucap sang pengawas. Datang dengan cambuk berduri di tangan.Menghempas mendarat di tubuh budak yang berjalan pelan. Begitulah nasib menjadi budak. Di siksa hanya karena hal sepele. Dan tidak dipuji walau pekerjaanya bagus.
“Baik tuan, aku akan melangkah lebih cepat” ucap budak itu. Melangkah kaki lebih cepat. Belaian cambuk di punggung meninggalkan nodamemerah, membasah darah diserap baju kumal yang bercambur tanah.
Budak itu tidak sendirian. Ratusan Budak lainnya juga mendapatkan hal yang serupa. Jika tidak menurut satu
hadiah buruk menanti dari sang pengawas.
Sejak awal kedatangan mereka 5 hari lalu. Mereka terus melakukan pengankutan. Tanpa henti. Jika pun mendapat waktu istirahat itu adalah waktu dimana menunggu gerobak-gerobak datang dari balik hutan. Para
budak penuh harap supaya kereta pengangkut datang terlambat atau tidak datang sama sekali. Namun hal itu tidak pernah terjadi kerata pengankut selalu datanng silih berganti. Entah itu siang maupun malam.
Di sana, di gua yang lembab. Tidak hanya ada para budak yang bekerja paksa. Namun ada 2 orang yang memantau setiap pekerjaan mereka. Pertama seseorang dengan gaya yang benar-benar berantakan.
“ANGKAT KAKI KALIAN….PEMALAS” teriak pria itu lagi. Menghempas-hempas cambuknya ke tanah.
Pengawas itu bernama Serge. Seorang pria bertubuh besar tinggi. Berambut hitam, bermata coklat, bertindik yang menggantikan rambut alis. Serge mengunakan baju berwarna coklat tanpa lengan, pelindung dada dari besi, pelindung bahu dari besi, perlindung lengan dari besi dan celana pendek yang cocok dengan sepatu kulit berwarna coklat.Serge juga mengunakan kalung dari tulang-tulang.
Di saat budak lain sedang giat bekerja kerena takut. Tiba-tiba seseorang menghentikan langkah kaki. Menghempaskan barang bawaannya ketanah. Memandang kearah langit gua itu. Mengambil nafas panjang.
Sontak hal itu membuat budak yang ada di belakangnnya kaget. “Apa yang kau lakukan?” Budak itu bertanya.
__ADS_1
“Aku lelah sekali” budak di depan menjawab santai. “Heh” ia duduk, tersenyum.“Padahal 1 bulan lalu aku adalah pemburu veteran. Tapi kenapa, KENAPA AKU DISINI!!!!” keras suara itu kaluar dari bibir keringnya. Berkata dengan penuh penekanan.
Meraih batu yang ada di tanah. Mengenggam dengan erat “stingg” suara berbunyi nyaring. Mengema memenuhi ruang.
“Apa yang kau lakukan, hentikan itu” budak yang ada di belakangnya menegur panik. “Aku tahu, sudah 4 kali kau katakan itu. tapi jangan sekarang. kumohon” ucap budak yang di belakangnya. Memampakan wajah pucat pasi.
“Huh, apa yang terjadi”
Setiap mata yang ada disana melihat. Mengarahkan pandangan pada asal denting itu. Mereka terkejut.
“AKU BULARG SANG PEMBURU GELA-“ tak sempat perkatanya selesai. Wajah kumal itu sudah tersapu oleh
cambuk. Budak itu menahan sakit. Gerahamnya mengeras. Menatap penuh kemarahan. “KURANG AJAR” budak itu berteriak.Meregangkan tangan ingin mencekik.
Di Gua yang lembab itu. Seorang budak yang mengaku sebagai pemburu itu mencoba memenangkan diri. Dengan melawan Sang Pengawas.Ia lebarkan tangan ingin meraih leher sang pengawas.
Namun satu hal yang luput dari perkiraan. Serge adalah orang yang kuat. Serge bukanlah orang yang kalah hanya karena kemarahan seorang budak. Tanpa budak itu sadari. Ia melompatkan diri jatuh kedalam mulut
“Tidak tahu diri” ucap Serge. Seketika itu tangan Serge mulai bergerak. Cambuk baja itu juga ikut melayang bersama dengan tangan Serge. Membelit lengan yang sudah melebar itu. Mencengkramnya dengan kuat.
“Apa” ucap Bularg. Terkejut. “Bagaimana bisa?”. Hanya bisa bertanya pada diri yang tidak tahu apa tentang kekuatan lawan. Di kira akan menang hanya kerena amarah yang membumbung. Namun nyatanya ia sama saja.
Budak dengan pakaian yang sudah kumal itu terhampas ketanah. Tidak hanya terhempas, satu sepakan kuat mendarat di dagu. Mengetarkan gigi hingga ubun-ubun. Akibatnya darah mengalir dari ujung bibir. Gigi yang sudah tidak lagi putih tercabut dari tempatnya. Melompat paksa dari dalam mulut. Hingga ia tersungkur bagai kursi kayu yang hilang satu kaki.
“Sadarlah. Budak” ucap serge. Matanya melirik tejam. Membulat seperti algojo yang sudah memutuskan untuk melakukan eksekusi mati.
Serge mengerakkan tangan. Cambuk itu terbang kearah yang Serge inginkan. Mengudara dan mendarat di tubuh seorang budak yang sudah tersungkur. Berkali-kali cambuk itu mendarat di tubuh, kaki, punggung
hingga kepalanya. Sampai sampai budak itu tidak sanggup lagi untuk berdiri. Ia hanya bisa membungkukkan tubuh. Melindungi diri bagaikan seekor kura-kura. Namun sadar punngung itu tidaklah sekeras tempurung kura-kura. Hanya kulit yang tipis dan mudah terluka.
__ADS_1
“Aku sudah bilang, SADARLAH BUDAK!!!!!” ucap Serge. Serge tersenyum. Wajah serge tampak sangat berbahagia. Tertawa dengan gigi yang jelas terlihat. Ia bagaikan seorang pemenang yang sombong pada sebuah
kompetisi.
“Baik Tuan, baik” ucap budak. Suara itu terdengar lirih. “AAHH, Ku mohon hentikan” wajahnya memelas. Dengan suara bergetar. Isakan tangis mulai menganggu suara yang keluar. Budak itu meminta untuk diri di ampuni.
“WAHAHAHA DASAR BUDAK, MATI SAJA KAU”
Serge tidak melihat semua itu. Tidak berbelas kasih sama sekali. Suara lirih itu membuatnya semakin membara semangat. Permohonan ampun itu semakin membuat dirinya lebih berkuasa lagi pada seorang budak. Serge benar-benar menikmati penyiksaan itu.
“T-tolong h-hentikan, m-maafkan aku” rintihan budak itu begitu pilu. Meski pun iba namun siapa yang akan berani maju untuk menantang. Menjadi pahlawan untuk orang lain. Untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri saja mereka tidak sanggup.
“Hah, apa- aku tidak dengar. Katakan lagi” senyum itu semakin melebar.
“A-aaa Aaaa, Aaaaa” budak itu hanya bisa merintih. tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Memohon ampun untuk diri yang sudah berulang kali ia katakan pun tidak pernah terdengar. Begitulah kejam Serge. Manusia yang
tidak memiliki hati.
Sekujur tubuh bagai tumpahan cat merah. Berdarah penuh luka. Membungkuk hingga akhirnya ia terbaring bagai sebatang pohon jatuh. Tidak lagi bisa bergerak dan tidak lagi bisa bersuara.
“KURANG AJAR” kata Serge memaki. Marah hanya kerena cipratan darah menempel di baju. Menganggap itu sebuah penghinaan terhadap dirinya. yang padahal itu semua karena ulah dirinya sendiri. Namun malah menyalahkan orang lain. Dengan sangat kasar tangan memukul mukul budak yang sudah kaku di tanah. Membabi buta memukul budak itu tanpa ampun.
Di dalam gua yang lembab itu. Berhamparan kerikil, bergenangkan air. Para budak hanya bisa menelan kering ludah.Menatap pilu penyiksaan tanpa perasaan dari sang pengawas. Wajah pucat menghias menyatu dengan keringat. Hanya bisa menatap diam layaknya patung yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Namun apa yang bisa mereka bisa lakukan. Mereka hanya bisa melihat namun tidak bisa menjadi pahlawan. Hanya bisa menerima derita yang mendera. Juga ketakutan yang tiada dapat mereka sembunyikan. Berpura kejadian itu bukanlah hal penting. Hirau dan menutup mata. Tahu jika melawan akan benasib sama. Tahu jika mereka adalah manusia yang tidak merdeka.
Meminta keadilan di sana bukanlah hal yang harus di proklamirkan. Jika meminta Sang pengawas untuk berlaku baik maka akan berbalas dengan jawaban yang berbeda. Hanya ikut dalam aturan yang mereka sendiri tahu, itu tidak adil. Namun apa itu adil, kata adil tidak pernah terdengar di telinga mereka. Mereka hanya bisa berkerja demi keselamatan bukan demi kepuasan. Demi bertahan untuk hari esok.
Serge benar-benar manusia kejam tak berhati. Ia keluar dari dalam gua setelah puas bermain cambuk cambukan.Wajah Serge tampak senang. Ia tersenyum lebar layaknya mentari terbit dari timur.
__ADS_1
“Yo Jack” menyapa dengan senyum yang masih lekat di wajah. “Pekerjaan yang menyenangkan, bukan? Hah” Serge tertawa puas. Tidak terlihat sedikit pun rasa bersalah di wajah Serge. Tidak sedikit pun rasa penyesalan. Justru senyum puas yang terlihat. Justru helaan nafas lega yang keluar. Kegiatannya tadi Seperti seperti melempar batu keseberang sungai. Tidak berarti apa apa.Begitulah anggota Geng The Bandits.