
Serge benar-benar manusia kejam tak berhati. Ia keluar dari dalam gua setelah puas bermain cambuk-cambukan.Wajah Serge tampak senang. Ia tersenyum lebar layaknya mentari terbit dari timur.
“Yo Jack” menyapa dengan senyum yang masih lekat di wajah. “Pekerjaan yang menyenangkan, bukan? Hah” Serge tertawa puas. Tidak terlihat sedikit pun rasa bersalah di wajah Serge. Tidak sedikit pun rasa penyesalan. Justru senyum puas yang terlihat. Justru helaan nafas lega yang keluar. Kegiatannya tadi Seperti seperti melempar batu keseberang sungai. Tidak berarti apa apa.Begitulah anggota Geng The Bandits.
“Tidak, ini membosankan” Balas Jack singkat. Seseorang yang juga menjadi pengawas. Bermata biru, berkulit pucat, tinggi menjulang di atas Serge, Sepatu kulit hitam, pedang mengantung di pinggangnya. Rambut hitam berponi tebal menutupi kening. Hitam legam kebiruan dan Jas hitam lekat ditubuh.
Sangat berbeda dengan Serge yang dominan warna coklat. Coklat adalah warna kebesaran Geng. Walau berbeda Jack tidak mendapat paksaan untuk menggantikan bajunya. Jack tidak takut berbeda dengan orang lain.
Tidak pernah Jack merasa harus mengikuti aturan yang orang lain buat. Karena Jack hanya mengikuti aturannya sendiri. Dan juga ia mengunakan masker putih. Masker yang berbentuk paruh burung pipit.
Jack berdiri di atas batu-batu kerikil. Buku dan pena menggantung di tangan Jack. Mata biru itu tertuju melihat kedalam kumpulan kertas. Menulis dan mencoret beberapa tulisan yang ada di sana.
Jack adalah rekan dari Serge untuk tugas kali ini. Ini kali kedua mereka bertugas bersama. Namun mulanya Jack berkerja seorang diri. Tiba-tiba saja Serge mengajukan diri untuk membantu. Dan berakhir di sini lah mereka.Meski tidak begitu mengenal satu sama lain Jack cukup yakin Serge memiliki segudang rahasia kotor yang tersimpan rapi.
Jack mengetahui satu hal mengenai Serge. Pria bertindik alis itu tidaklah punya niat untuk berkerja. Semua itu Jack tahu dari apa yang pernah mereka lalui. Serge sering melantunkan perkataan manis hingga membuat dirinya selalu terbebas dari pekerjaan kotor. Namun anehnya beberapa waktu lalu ia mengajukan diri.
Ternyata ajuan diri untuk membantu, ialah kerena Serge ingin bersenang-senang dengan menyiksa para budak. Dapat jelas terdengar tawa dan senyum melebar di wajah Serge. Terlebih lagi raungan dan rintihan budak yang Serge siksa. Semakin lirih semakin lebar tawa itu mengema di gua gelap. Memang Serge adalah mahluk keparat.
“CEPAT-CEPAT” teriak Serge.Wajahnya masih berseri. Jika ada yang di kira menarik perhatian Serge. Jangan berharap akan baik-baik saja. Tentu saja orang itu akan berakhir bagai sebatang pohon yang patah.
Seruan melangkah cepatitu menggema beberapa kali. Tangan terangkat memberi tanda supaya bergerak lebih cepat.
__ADS_1
Pengawas berkalungkan tulang belulang itu berdiri tepat di sebelah Jack. Memendek sejengkal dari Jack. Walau begitu taringnya masih terasa tajam walau bersebelahan dengan Jack. Mereka pun tampak berbasa basi. Membicarakan pekerjaan mereka.
“Dasar manusia kotor” hinaan keluar dari mulut Serge. Ia mengumpat para budak yang bekerja begitu lambat. Padahal jika menurut perhitungan yang mereka lakukan itu semua bisa selesai kemarin. Namun para pekerja paksa ini mengaret satu hari.
Para budak yang bergelangkan rantai masih tetap berjalan tanpa alas kaki. Batu batu kerikil kecil juga lancip. Menusuk kaki kaki yang sudah menjajak berulang kali. Luka juga pada akhrinya. Namun tanpa alas kaki mereka bisa apa. Merengek meminta sepatu. Itu sama saja dengan bunuh diri.
Bertumpuk-tumpuk Peti kayu sudah tersusun rapi. Mengunung seperti tembok yang rendah. Lentara-lentara api menyala, menyepimenerangi gelapnya gua.
Para pengangkut berpeluh keringat. Kaki bergetar dan bibir kering keputihan. Namun Serge tidak perduli dengan lelah itu. Tidak perduli jika mereka meregang nyawa. Hanya perlu melihat peti kayu itu selesai di angkut.Serge hanya ingin sesegera mungkin selesai cepat hari ini.
“ANGKAT KAKI KALIAN, PEMALAS” Serge berteriak lagi. Menghempaskan cambuk baja ketanah.
Semakin lama angkutan selesai semakin gelisah pria berkalungkan tulang. Tangannya tak bisa berhenti bergerak. Langkah bolak balik. Tidak tenang.
Jack tidak mengerti kenapa Serge bertanya seperti itu. Apakah ini kegelisahan Serge. Ia masih terpaku pada lembaran kertas di tangan.
“Aku tidak peduli” jawab Jack. Serak dan berat berbunyidi balik masker putih paruh pipit.
“Oh, jadi kau tidak peduli. Tapi aku yang pedulihahaha” Serge tertawa. Wajah mereka berdua begitu dekat. Hanya berjarak dua jengkal tangan dewasa.
Jack masih acuh. Tidak ia pandangi pria yang menggangu itu. Jack terlihat dingin dangan mata biru membara.
__ADS_1
“Asal kau tahu rumor itu sangat buruk” Serge senyum. “Rumor itu mengatakan bahwa kau tidak pernah bersetubuh dengan wanita. Apa itu benar Jack?” ucap Serge dengan senyum penuh kepuasan. Matanya membuat meminta anggukan kepala dari Jack.
Jack menghentikan aktivitasnya. Mata biru itu melirik. Menatap dingin pria yang ada dihadapannya. Tidak ada rasa apa pun dalam pandangan itu. Hampa bagaikan laut mati. “Simpan saja rasa penasaranmu, Serge. Aku tidak mau kau terluka” membalas dengan tenang.
“Apa? Kau terluka. Yang benar saja” Serge menatap Jack dengan sorot mata menantang.“Kau-”
“Kau mayat sekarang” kata Jack.
Serge melangkah mundur. Bersiap memasuki mode bertempur.Tangannya meraih cambuk yang bergantung di pinggang. “Berani sekali kau Jack” dengan wajah yang senang. “Kau tak tahu siapa aku. Aku Serge Si Bengis. Dan kau hanya pesuruh. Sadar diri kau Jack. Kau tak lebih dari para budak itu” kata Serge dengan penuh hinaan. Wajah yang memperlihatkan senyum. Serge selalu merasa dirinya adalah raja dimana pun ia berada.
“Ah, membosankan sekali” Jack tidak memakan perkataan Serge. Tidak sedikit pun rasa kesal yang membekas di hatinya. Namun Jack merasa Serge sudah tidak berguna lagi. Sudah waktunya untuk menggakhiri
Serge.
“MATI SAJA KAU” kata Serge. Melompat, menggerakan tangan, membiarkan cambuk baja berkerja.
Cambuk itu berhasil menjerta lengan Jack. Buku dan pena terjatuh ke tanah. Jack tidak bergerak sedikit pun.
“Ahaha. Lemah” Serge senang. Merasa dirinya telah menang. “sudah ku katakan kau tidak lebih dari seorang bu-“
Darah mengucur. Sebuah lengan jatuh ke tanah.
__ADS_1
“Eh” mata Serge membulat tidak percaya.
Di mulut gua yang lembab. Perseteruan terjadi. Bukan perbuatan permusuhan. Hanya sebuah perseteruan antara seorang rekan. Ironi memang namun begitulah mereka. Selalu ada hal yang tidak perlu menjadi penyulut bara namun masih saja di lakukan. Namun semuanya akan berakhir dengan hilang satu atau dua hal yang berharga. Entah apa itu namun yang pasti bukanlah sepasang sendal atau seutas tali. Melainkan hal yang jauh lebih berharga.