
Di dalam gua gelap. Di isi dengan lentera sepanjang lorong. Samar
memperlihatkan goresan pada dinding. Tanah hitam berpasir di tempat itu mereka
menemukan 2 mayat. Yang memaksa mereka untuk mencari tahu kebenaran di balik
pembunuhan itu.
“Jadi apa yang kita lakukan?” Slimin membuka hening dengan
pertanyaan yang membuat Jack ragu. Jack tidak bisa menjawab dengan kata tidak
tahu. Jack adalah satu-satu orang yang akan menjawab pertanyaan ketika semua
orang dalam kebingungan. Betigulah seharusnya seorang pemimpin kelompok.
“Kita pecahkan masalah ini bersama, kita temukan pelakunya” kata
Jack yang terlihat berwibawa. “Bawa mayat ini keluar. Kita diskusikan masalah
ini bersama” perkataan Jack barusan merujuk pada seseorang yang ada di luar
gua.
“Apa, tidak. kau bercanda bukan?” Slimin tampak kesal dengan ucapan
Jack barusan. Seperti ada hal yang mengganggu dirinya.
“Kenapa? Dia juga bagian dari kita” Jack membela Pigoun besar yang
entah lagi apa ia di luar sana.
“Dia hanya akan mengacau Jack, jujur aku tidak mengerti isi kepala
Pigoun. Kau tahu itu Jack?” Slimin beralih menatap pria bertopi lebar
“bagaimana menurutmu Kelar?” meminta untuk mendukung apa yang ia ucapkan.
“Kelar?” kata Jack yang juga meminta pendapat darinya.
Kelar diam. Menatap kedua rekannya itu . Menarik nafas dalam “Aku
rasa dia bagian dari tim”.
“Tidak, tidak kelar. Tidak” kata Slimin yang gusar.
“Itu benar. Dia bagian dari TIM. Dan aku rasa kita sudah setuju, Slimin.
Jadi tidak ada diskusi lagi” Jack yang melangkah kaki keluar dengan kemengan .
“Apa yang kau pikirkan Kelar” Slimin masih tidak terima dengan
jawaban Kelar.
“Jika 3 orang tidak mampu untuk memecahkan masalah ini, bisa saja
orang ke 4 adalah jawabannya” Kelar tersenyum.
“Oh Sial, perkataan bagus Kelar. Aku tidak akan membantah itu”
katanya sambil melangkah.
“Ingat salalu Slimin, jangan pernah meremehkan orang lain” ucap
Kelar dengan penuh nasihat.
“Aku ingat, selalu ku ingat, Ayah” ledek Slimin.
Di luar gua yang dingin, berkabut dan bercahaya remang. Tanah hitam
pucat tersentuh sinar bulan. Menerawang di segala tempat. Pucat akan pantulan
bulan yang cukup terang.
Jack duduk memandangi api yang menyala. Mata jauh melihat kedalam
kobaran itu. Terbayang akan masa lalu yang penuh darah dan luk. Jack tersenyum.
__ADS_1
Seseorang yang tidak bisa selamatkan ketika itu.
“Apa kau pikir kau benar?”
Perkataan Slimin yang terdengar agak kesal. Masuk kedalam telinga
Jack mengaburkan memori yang sedang terpikirkan oleh Jack. Slimin tidak
berbicara seorang diri, Slimin terlihat berdebat dengan pria bertopi hitam.
Kelar yang tampak datar hanya berkata sepatah dua patah kata.
“Aku tidak bilang seperti” balas Kelar.
“Tapi wajahmu itu berkata lain. Wajahmu bilang kau benar, aku bisa
melihat itu”
“Oh, kau bisa melihat kebenaran dari wajah sekarang, dan apa
selanjutnya. Kentut? Kau bisa mendengar kebenaran seseorang dari kentut” wajah
Kelar hanya datar. Wajahnya membeku seperti bongkahan es.
“Oh kau-“
“Sudah cukup” kata Jack yang penuh perintah. “Aku tidak mau tahu
apa yang kalian bicarakan, jika itu menyangkut masalah yang sedang kita hadapi
lebih baik kita bicarakan saat ini juga, tapi jika tidak, kalian cukup sampai
disana saja” Jack menatap tajam kearah dua orang yang sedang berdeabat itu.
Keduanya pun bisu, tidak berkata lagi. Wajah pucat yang terpapar
sinar rembulan itu juga menunjukan kepasrahan.
“Duduklah” ucap Jack. Menyorongkan tangan. Jack menarik nafas
dalam. Ia biarkan kedua orang itu untuk tenang. Mendinginkan hati yang sudah
Dalam hening, dalam gelap, hembusan angin dingin menari, kobaran
api meyalak. Desir udara membeku di sekeliling. Jack memberikan sebotol menimun
masing-masing satu untuk mereka.
“Pigoun, kemari” ucap Jack. Meminta pria gempal yang sedang
berguling itu mendekat.
“Hehe baik” balas dari kejauhan.
Jack melirik Slimin yang masih meneguk arak putih manis, Pria
bergigi kelinci itu tampak sudah tenang. Dan Jack beralih melihat Kelar. Di
sana bisa Jack lihat Kelar sangat tenang dan santai. Di rasanya semua sudah
tenang. Jack pun mulai beridiri.
“Biaklah, seperti yang kita sudah ketahui. Di dalam sana kita masih
kurang infomasi tentang pembunuhan ini. Tapi ada satu orang yang belum
mengatakan apapun yang ia lihat atau yang ia tahu, dia adalah Pigoun” ucap Jack
yang membuka diskusi.
“Oh, Dia serius sekarang” Slimin tersenyum.
“Aku kira kita sudah sepakat, Slimin” balas Pria yang berdiri.
Slimin tak berkata, hanya mengerakan kepalanya saja. Isyarat ia
tidak membantah lagi.
__ADS_1
“Pigoun katakan apa yang kau lihat hari ini” Tanya Jack.
Pigoun pun melihat kearah ketiga rekannya dengan bingung, menggaruk
kepalanya dengan telunjuk, melihat langit. Terlihat coba mengingat sesuatu.
“Aku lihah, aa- bintang di langit” ucap Pigoun.
Slimin sudah menggelengkan kepala dan tersenyum remeh. Namun tidak
dengan Jack. Ia ingin melihat kebenaran
dari balik kejadian ini. Ada firasat yang kuat di hati Jack. Firasat itu
mengatakan orang ke-empat dari merekalah yang menjadi kunci kebenaran ini.
Kelar hanya diam membisu. Tak berkata jika tidak di libatkan.
Tampaknya Kelar tahu situasi ini akan sedikit rumit.
Jack menatap Pigoun lamat-lamat. Wajah bulat itu menguning terpapar
cahaya api. Walau Jack tahu ini akan menjadi sulit. “Tidak Pigoun, aku akan
bertanya lagi. Apa yang kau lihat di hutan itu tadi siang?”
“Siang, aa pohon, aku melihat pohon, batu, kereta dan—“ matanya
melirik kearah mayat yang tergelatak. “Boleh aku pukul itu” lanjutnya lagi.
“Rencana bagus Jack, ini sangat membantu” Tidak tahan juga Slimin
mendengarkan Jack dan Pigoun. “Biar aku yang urus ini Jack” katanya meminta
ijin.
“Boleh aku pukul itu” suara Pigoun terdengar girang.
“Tidak, Pigoun. Tidak boleh, kita masih memerlukan mereka seperti
itu” jawab Slimin.
“Eh, kenapa?”
“Kerena kita memerlukan dia utuh seperti itu, jika kau pukul, dia
akan remuk seperti remahan roti, dan- Tunggu?” Slimin terdiam sesaat.
Jack juga menyadari apa yang baru saja Slimin ucapkan. “Remahan
roti” persis seperti apa yang Kelar ucapkan didalam sana. Kaki dan tangan
pria itu remuk bagaikan remahan roti. Menghantamnya dengan sekali pukulan yang
kuat. Mereka semua tahu jika Pigoun mengunakan tongkat besi sebagai senjatanya.
Dan ciri dari kaki dan tangan mayat yang kaku itu sangat cocok dengan ukuran
tongkat Pigoun.
Slimin menatap Jack. Jack mengerti tatapan itu. “Aku tahu,
lanjutkan saja” kata Jack.
“Kelar, ketika kita di jalan hutan. Kita abai akan apa yang Pigoun
tertawakan. Jangan-jangan itu” menatap Kelar dengan sorot penuh selidiki.
“Yah, aku juga dapat menebak isi kepala mu. Lanjutkan saja” Kelar
tidak memperlihatkan keterkejutan. Hanya wajah menguning datar yang terpapar
api.
“Apa boleh aku pukul itu, tadi aku boleh memukulnya”
Semuanya di perjelas oleh perkataan Pigoun sendiri. Bahwa memang
__ADS_1
dirinya yang mematahkan lengan dan kaki mereka yang terbaring disana.