LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 15 Orang Ke Empat


__ADS_3

Di dalam gua gelap. Di isi dengan lentera sepanjang lorong. Samar


memperlihatkan goresan pada dinding. Tanah hitam berpasir di tempat itu mereka


menemukan 2 mayat. Yang memaksa mereka untuk mencari tahu kebenaran di balik


pembunuhan itu.


“Jadi apa yang kita lakukan?” Slimin membuka hening dengan


pertanyaan yang membuat Jack ragu. Jack tidak bisa menjawab dengan kata tidak


tahu. Jack adalah satu-satu orang yang akan menjawab pertanyaan ketika semua


orang dalam kebingungan. Betigulah seharusnya seorang pemimpin kelompok.


“Kita pecahkan masalah ini bersama, kita temukan pelakunya” kata


Jack yang terlihat berwibawa. “Bawa mayat ini keluar. Kita diskusikan masalah


ini bersama” perkataan Jack barusan merujuk pada seseorang yang ada di luar


gua.


“Apa, tidak. kau bercanda bukan?” Slimin tampak kesal dengan ucapan


Jack barusan. Seperti ada hal yang mengganggu dirinya.


“Kenapa? Dia juga bagian dari kita” Jack membela Pigoun besar yang


entah lagi apa ia di luar sana.


“Dia hanya akan mengacau Jack, jujur aku tidak mengerti isi kepala


Pigoun. Kau tahu itu Jack?” Slimin beralih menatap pria bertopi lebar


“bagaimana menurutmu Kelar?” meminta untuk mendukung apa yang ia ucapkan.


“Kelar?” kata Jack yang juga meminta pendapat darinya.


Kelar diam. Menatap kedua rekannya itu . Menarik nafas dalam “Aku


rasa dia bagian dari tim”.


“Tidak, tidak kelar. Tidak” kata Slimin yang gusar.


“Itu benar. Dia bagian dari TIM. Dan aku rasa kita sudah setuju, Slimin.


Jadi tidak ada diskusi lagi” Jack yang melangkah kaki keluar dengan kemengan .


“Apa yang kau pikirkan Kelar” Slimin masih tidak terima dengan


jawaban Kelar.


“Jika 3 orang tidak mampu untuk memecahkan masalah ini, bisa saja


orang ke 4 adalah jawabannya” Kelar tersenyum.


“Oh Sial, perkataan bagus Kelar. Aku tidak akan membantah itu”


katanya sambil melangkah.


“Ingat salalu Slimin, jangan pernah meremehkan orang lain” ucap


Kelar dengan penuh nasihat.


“Aku ingat, selalu ku ingat, Ayah” ledek Slimin.


Di luar gua yang dingin, berkabut dan bercahaya remang. Tanah hitam


pucat tersentuh sinar bulan. Menerawang di segala tempat. Pucat akan pantulan


bulan yang cukup terang.


Jack duduk memandangi api yang menyala. Mata jauh melihat kedalam


kobaran itu. Terbayang akan masa lalu yang penuh darah dan luk. Jack tersenyum.

__ADS_1


Seseorang yang tidak bisa selamatkan ketika itu.


“Apa kau pikir kau benar?”


Perkataan Slimin yang terdengar agak kesal. Masuk kedalam telinga


Jack mengaburkan memori yang sedang terpikirkan oleh Jack. Slimin tidak


berbicara seorang diri, Slimin terlihat berdebat dengan pria bertopi hitam.


Kelar yang tampak datar hanya berkata sepatah dua patah kata.


“Aku tidak bilang seperti” balas Kelar.


“Tapi wajahmu itu berkata lain. Wajahmu bilang kau benar, aku bisa


melihat itu”


“Oh, kau bisa melihat kebenaran dari wajah sekarang, dan apa


selanjutnya. Kentut? Kau bisa mendengar kebenaran seseorang dari kentut” wajah


Kelar hanya datar. Wajahnya membeku seperti bongkahan es.


“Oh kau-“


“Sudah cukup” kata Jack yang penuh perintah. “Aku tidak mau tahu


apa yang kalian bicarakan, jika itu menyangkut masalah yang sedang kita hadapi


lebih baik kita bicarakan saat ini juga, tapi jika tidak, kalian cukup sampai


disana saja” Jack menatap tajam kearah dua orang yang sedang berdeabat itu.


Keduanya pun bisu, tidak berkata lagi. Wajah pucat yang terpapar


sinar rembulan itu juga menunjukan kepasrahan.


“Duduklah” ucap Jack. Menyorongkan tangan. Jack menarik nafas


dalam. Ia biarkan kedua orang itu untuk tenang. Mendinginkan hati yang sudah


Dalam hening, dalam gelap, hembusan angin dingin menari, kobaran


api meyalak. Desir udara membeku di sekeliling. Jack memberikan sebotol menimun


masing-masing satu untuk mereka.


“Pigoun, kemari” ucap Jack. Meminta pria gempal yang sedang


berguling itu mendekat.


“Hehe baik” balas dari kejauhan.


Jack melirik Slimin yang masih meneguk arak putih manis, Pria


bergigi kelinci itu tampak sudah tenang. Dan Jack beralih melihat Kelar. Di


sana bisa Jack lihat Kelar sangat tenang dan santai. Di rasanya semua sudah


tenang. Jack pun mulai beridiri.


“Biaklah, seperti yang kita sudah ketahui. Di dalam sana kita masih


kurang infomasi tentang pembunuhan ini. Tapi ada satu orang yang belum


mengatakan apapun yang ia lihat atau yang ia tahu, dia adalah Pigoun” ucap Jack


yang membuka diskusi.


“Oh, Dia serius sekarang” Slimin tersenyum.


“Aku kira kita sudah sepakat, Slimin” balas Pria yang berdiri.


Slimin tak berkata, hanya mengerakan kepalanya saja. Isyarat ia


tidak membantah lagi.

__ADS_1


“Pigoun katakan apa yang kau lihat hari ini” Tanya Jack.


Pigoun pun melihat kearah ketiga rekannya dengan bingung, menggaruk


kepalanya dengan telunjuk, melihat langit. Terlihat coba mengingat sesuatu.


“Aku lihah, aa- bintang di langit” ucap Pigoun.


Slimin sudah menggelengkan kepala dan tersenyum remeh. Namun tidak


dengan Jack. Ia  ingin melihat kebenaran


dari balik kejadian ini. Ada firasat yang kuat di hati Jack. Firasat itu


mengatakan orang ke-empat dari merekalah yang menjadi kunci kebenaran ini.


Kelar hanya diam membisu. Tak berkata jika tidak di libatkan.


Tampaknya Kelar tahu situasi ini akan sedikit rumit.


Jack menatap Pigoun lamat-lamat. Wajah bulat itu menguning terpapar


cahaya api. Walau Jack tahu ini akan menjadi sulit. “Tidak Pigoun, aku akan


bertanya lagi. Apa yang kau lihat di hutan itu tadi siang?”


“Siang, aa pohon, aku melihat pohon, batu, kereta dan—“ matanya


melirik kearah mayat yang tergelatak. “Boleh aku pukul itu” lanjutnya lagi.


“Rencana bagus Jack, ini sangat membantu” Tidak tahan juga Slimin


mendengarkan Jack dan Pigoun. “Biar aku yang urus ini Jack” katanya meminta


ijin.


“Boleh aku pukul itu” suara Pigoun terdengar girang.


“Tidak, Pigoun. Tidak boleh, kita masih memerlukan mereka seperti


itu” jawab Slimin.


“Eh, kenapa?”


“Kerena kita memerlukan dia utuh seperti itu, jika kau pukul, dia


akan remuk seperti remahan roti, dan- Tunggu?” Slimin terdiam sesaat.


Jack juga menyadari apa yang baru saja Slimin ucapkan. “Remahan


roti” persis seperti apa yang Kelar ucapkan didalam sana. Kaki dan tangan


pria itu remuk bagaikan remahan roti. Menghantamnya dengan sekali pukulan yang


kuat. Mereka semua tahu jika Pigoun mengunakan tongkat besi sebagai senjatanya.


Dan ciri dari kaki dan tangan mayat yang kaku itu sangat cocok dengan ukuran


tongkat Pigoun.


Slimin menatap Jack. Jack mengerti tatapan itu. “Aku tahu,


lanjutkan saja” kata Jack.


“Kelar, ketika kita di jalan hutan. Kita abai akan apa yang Pigoun


tertawakan. Jangan-jangan itu” menatap Kelar dengan sorot penuh selidiki.


“Yah, aku juga dapat menebak isi kepala mu. Lanjutkan saja” Kelar


tidak memperlihatkan keterkejutan. Hanya wajah menguning datar yang terpapar


api.


“Apa boleh aku pukul itu, tadi aku boleh memukulnya”


Semuanya di perjelas oleh perkataan Pigoun sendiri. Bahwa memang

__ADS_1


dirinya yang mematahkan lengan dan kaki mereka yang terbaring disana.


__ADS_2