LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 15 Kepingan Yang Lain


__ADS_3

“Yah, aku juga dapat menebak isi kepala mu. Lanjutkan saja” Kelar


tidak memperlihatkan keterkejutan. Hanya wajah menguning datar yang terpapar


cahaya api.


“Apa boleh aku pukul itu, tadi aku boleh memukulnya” celetuk Pigoun


Jack menatap diam. Entah itu adalah benar atau tidak. Mendengar


perkataan Pigoun barusan dapat di simpulkan bahwa memang Pigoun yang memukul


lengan dan betis mayat itu. namun juga ada kemungkinan lain bahwa itu hanya


seseorang yang mirip. Tapi yang Jack tahu pasti adalah Pigoun tidak mungkin


berbohong.


“Jack, kau dengar. Dia yang


mengatakannya sendiri. Sudah ku duga tawa yang di hutan itu bukan tawa


sembarang. Pasti Pigoun sudah melakukan sesuatu” kata Slimin.


“Aku bisa melihatnya” ucapnya membalas perkataan Slimin. “Kelar


bagaimana menurut mu?” Jack yang beralih pada Kelar.


“Aku?” ucapnya yang tampak terkejut. Jack sudah menatap Kelar


dengan jawaban yang meyakinkan. Begitu juga dengan Slimin yang terlihat lebih


semangat dari sebelumnya. Kedua orang itu menunggu jawaban yang keluar dari


mulut Kelar. “Aku kira, kita bisa menyimpulkan itu sekarang, tapi satu hal yang


sudah kita ketahui. Kejadian di hutan itu terjadi siang menjelang sore dan kita


menemukan mayat ini ketika hari sudah gelap. Aku sangat bingung bagaimana


menjelaskan itu semua“ kata Kelar yang penuh keraguan.


“Kau benar, lini masanya terlalu aneh” Slimin tampak menyetujui apa


yang di katakan Kelar.


“Apa aku boleh memukulnya sekarang, tadi aku tidak sempat bertarung.


Mereka membawanya pergi begitu saja” kata Pigoun. Sontak itu membuat ketiga


orang lainnya mengerutkan dahi. Dan membulatkan mata. Jack tersenyum, meskipun


terdengar perkataan sederhana namun itu semua bisa menghubungkan apa yang


sedangkan terjadi. Di bawah rembulan malam. Di atas hamparan baru kerikil. Jack


bisa melihat gambaran yang semakin terusun satu persatu.


“Apa yang kau katakan, bertarung. Dengan siapa? Para budak. Jangan


bercanda kau Pigoun” Slimin tampak kesal.


Jack bisa merasakan kekesalan Slimin. Disana hanya ada mereka dan


para budak. Dan Slimin tidak tahu. Mungkin saja yang di lihat Pigoun itu adalah


salah satu dari para pembunuh.


“Eh, Budak, mana?” bertanya dengan polos. “Dia punya pedang, apa


budak juga punya”.


“Apa maksudmu. Mana ada budak yang memegang pedang” jawab Slimin


yang masih belum menangkap perkataan Pigoun. “Jadi apa yang di lakukan budak


berpedang ini, mengambil kerbau kita” kata Slimin.


“Tidak, tapi tangan yang disana” jawab Pigoun.


“Oh, jadi budak itu memerlukan tangan Serge sekarang. Mungkin dia


anak buah……nya” Slimin mengecilkan suaranya.


Jack dapat melihat Slimin memikirkan perkataan diri sendiri. Slimin


diam dan memandang kearah Jack. Jack tahu apa yang di pikirkan pria berwajah

__ADS_1


tirus itu. Kabut putih yang menghalangi pandangan perlahan menghilang. Tidak


sepenuhnya hilang tapi cukup untuk melihat lebih jauh.


4 orang dengan tatapan serius masih berdiskusi tentang apa yang


terjadi, tentang kematian yang tidak layak. Di depan api yang membara dan di


depan mayat yang sudah tidak memiliki jantung.


“Aku tahu Slimin” Jack menatap Slimin yang memudar. Pria yang


menggebu dalam mendebat Pigoun. Kini didiamkan oleh perkataan yang asal-asalan


ia keluarkan.


“Jika itu memang bagian dari pembunuh ini, semua telah jelas. Serge


juga ikut dalam masalah ini” katanya yang menunduk. “Serge sialan”.


“Jack” kata Kelar yang berhenti dari diamnya. “Boleh aku berbicara”


pintanya kepada Jack.


Kelar meminta dengan penuh harap. Seperti ada hal yang benar-benar


ingin pria bertopi itu sampaikan.


“Tentu saja, bicaralah” Jack mengijinkan.


“Terima kasih, Baik semuanya perhatikan kesini sebentar” kata Kelar


yang meminta perhatian.  “kita punya 2


mayat disana. Dan baru saja kita mendengarkan pernyataan tidak lansung dari


Pigoun bahwa ada seseorang yang berkerja untuk Serge. Para mayat ini mereka


memiliki ciri yaitu Tato bulu burung hitam. Dapat aku simpulkan Serge adalah


salah satu dari mereka. Tapi sebetulnya aku tak ingin mengatakan ini. Jujur aku


katakan kita masih jauh dari kebenaran itu. Aku masih belum bisa menyimpulkan


siapa yang benar-benar membunuh mereka. Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah


pun menebar pandangannya kedalam bara yang menyala.


Jack mengerti bagaimana keraguan yang ada di hati Kelar bagaimana


mereka harus menyelesaikan kasus ini. Bagaimana peliknya kasus pembunuhan ini.


Namun Jack yakin semuanya pasti terungkap.


“Aku setuju dengan apa yang di tanyakan Kelar, Jack. Kau tahu


tempat semacam apa ini. Dongeng yang pernah mengguncang dunia. Haha bangsat.


Dan kita duduk di tempat itu” timpal Slimin.


Kisah klasik yang terjadi 20 tahun lalu. Fenomena menghilangnya


semua para tahanan yang ada di dalam gua lembab itu. Bahkan sang jendral yang


di utus unutk menyelidikinya juga merasakan hal yang sama. Terguncang jiwa


hingga membuat sang jendral bermalam dengan mimpi buruk.


“Kita sudah di jalur yang benar Kelar, hanya perlu membuka jalan


sedikit lagi maka semuanya akan terungkap. Percaya saja” ucap Jack melihat


kearah Kelar yang tampak ragu.


Jack benar-benar tidak tahu apa yang mereka hadapi. Namun sebegai


seorang yang menjawab pertanyaan paling akhir Jack hanya bisa berkata dengan


manis. Agar semua yang tenang dan tidak terbebani.


Jauh di hutan yang gelap. Udara membeku di sekitar. Menyayat


seperti silet yang begitu tajam. Seseorang duduk mengerutu seorang diri. “Sial,


sial, sial. Kurang ajar kau Jack. Akan ku balas semuanya. Pasti akan ku balas


kau JACK” ucap nya. Wajahnya mengeram. Matanya menyala menyimpan dendam. Pria

__ADS_1


itu adalah Serge.


“Bos, Bos, kau disana” teriak seseorang dengan pelan.


“Kau sudah datang rupanya. Jadi bagaimana?” tanya Serge.


Pria itu berhenti di balik pohon. Hanya bayangan saja yang


terlihat. “Mereka terlihat sedang mencari sesuatu. Tapi masih belum menemukan


apa apa” kata pria itu.


“Ahahaha. Aku mengerti. Kembalilah sekarang” perintah serge.


“Baik bos” pria itu melagkah pelan. Suara dentingan besi terdengar


dari setiap langkah pria itu. Yang pelahan menghilang dalam malam.


Malam yang sunyi. Langit yang penuh gemintang. Udara yang membeku.


Dan api berkobar di hadapan Jack. Suasana itu membawanya pada masa lalu yang


pernah terjadi. Dalam keboran api itu Jack melihat seorang anak kecil yang


menangis tersedu-sedu. Wajahnya yang mungil itu sedih dan lemus. Hitam terkena


sesuatu. Tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa menangis melihat kobaran api


yang membakar seseorang di depan matanya. Terikat dalam rumah yang kosong dan


lesuh. Berteriak kesakitan. Namun bocah itu hanya menatap dengan linangan air


mata. Kakinya seolah terpaku di tanah. Tidak mampun untuk di angkat. Tubuh


bergetar.


“Apa kau dengar? yang mereka bicarakan tadi” ucap seseorang dengan


rantai di kaki. Obor menyala di tangan kanannya.


“Yah, aku tahu tapi tempat ini sangat menyeramkan” balas seseorang


yang mengekor dari belakangnya. Mereka adalah para budak yang juga ikut dalam


penyidikan Slimin. Bukan sebagai pelaku melainkan sebagai saksi. Kala itu


mereka bedua hanya diam. Karena memang tidak tahu apa-apa. Setelah mendengar


harta karun yang di ketakan budak ikat kepala biru, mereka berdua memutuskan


untuk menulusuri gua itu jauh lebih dalam. Hingga meleawati batas yang harusnya


tidak boleh mereka leawati.


“Harta karun itu akan membuat kita kaya” kata budak yang ada di


depannya. Ia tersenyum. Janggutnya tipisnya juga ikuat bergerak.


“Apa kau tahu tempatnya?” budak yang terlihat muda itu gugup.


Tampak tidak mengerti sama sekali. Melainkan hanya ikut-ikutan saja.


“S-sudah tentu, aku tahu tempatnya” jawabnya dengan gagap.


“Apa kau berbohong?” tanya budak yang lebih muda.


“Aku tidak bohong, percayakan saja padaku” jawab budak berjanggut


tipis. Kali ini ia menjawab dengan lugas. Tanpa ada getaran di perkataannya.


Semakin dalam mereka berjalan. Semakin dingin udara yang berhembus.


Semakin amis dan busuk bau yang tercium. “Busuk sekali disini” katanya sembari


menutup hidung.


“Haaaaaaaaaa” teriak budak yang lebih muda. Wajah remajanya


mengerut seperti orang tua.


“Ada apa?” budak berjanggut bertanya.


“Itu” menunjuk pada dinding yang gelap.


Budak berjanggut itu mendekatkan obor pada apa yang di tunjuk oleh


budak yang muda itu tadi.

__ADS_1


__ADS_2