
“Yah, aku juga dapat menebak isi kepala mu. Lanjutkan saja” Kelar
tidak memperlihatkan keterkejutan. Hanya wajah menguning datar yang terpapar
cahaya api.
“Apa boleh aku pukul itu, tadi aku boleh memukulnya” celetuk Pigoun
Jack menatap diam. Entah itu adalah benar atau tidak. Mendengar
perkataan Pigoun barusan dapat di simpulkan bahwa memang Pigoun yang memukul
lengan dan betis mayat itu. namun juga ada kemungkinan lain bahwa itu hanya
seseorang yang mirip. Tapi yang Jack tahu pasti adalah Pigoun tidak mungkin
berbohong.
“Jack, kau dengar. Dia yang
mengatakannya sendiri. Sudah ku duga tawa yang di hutan itu bukan tawa
sembarang. Pasti Pigoun sudah melakukan sesuatu” kata Slimin.
“Aku bisa melihatnya” ucapnya membalas perkataan Slimin. “Kelar
bagaimana menurut mu?” Jack yang beralih pada Kelar.
“Aku?” ucapnya yang tampak terkejut. Jack sudah menatap Kelar
dengan jawaban yang meyakinkan. Begitu juga dengan Slimin yang terlihat lebih
semangat dari sebelumnya. Kedua orang itu menunggu jawaban yang keluar dari
mulut Kelar. “Aku kira, kita bisa menyimpulkan itu sekarang, tapi satu hal yang
sudah kita ketahui. Kejadian di hutan itu terjadi siang menjelang sore dan kita
menemukan mayat ini ketika hari sudah gelap. Aku sangat bingung bagaimana
menjelaskan itu semua“ kata Kelar yang penuh keraguan.
“Kau benar, lini masanya terlalu aneh” Slimin tampak menyetujui apa
yang di katakan Kelar.
“Apa aku boleh memukulnya sekarang, tadi aku tidak sempat bertarung.
Mereka membawanya pergi begitu saja” kata Pigoun. Sontak itu membuat ketiga
orang lainnya mengerutkan dahi. Dan membulatkan mata. Jack tersenyum, meskipun
terdengar perkataan sederhana namun itu semua bisa menghubungkan apa yang
sedangkan terjadi. Di bawah rembulan malam. Di atas hamparan baru kerikil. Jack
bisa melihat gambaran yang semakin terusun satu persatu.
“Apa yang kau katakan, bertarung. Dengan siapa? Para budak. Jangan
bercanda kau Pigoun” Slimin tampak kesal.
Jack bisa merasakan kekesalan Slimin. Disana hanya ada mereka dan
para budak. Dan Slimin tidak tahu. Mungkin saja yang di lihat Pigoun itu adalah
salah satu dari para pembunuh.
“Eh, Budak, mana?” bertanya dengan polos. “Dia punya pedang, apa
budak juga punya”.
“Apa maksudmu. Mana ada budak yang memegang pedang” jawab Slimin
yang masih belum menangkap perkataan Pigoun. “Jadi apa yang di lakukan budak
berpedang ini, mengambil kerbau kita” kata Slimin.
“Tidak, tapi tangan yang disana” jawab Pigoun.
“Oh, jadi budak itu memerlukan tangan Serge sekarang. Mungkin dia
anak buah……nya” Slimin mengecilkan suaranya.
Jack dapat melihat Slimin memikirkan perkataan diri sendiri. Slimin
diam dan memandang kearah Jack. Jack tahu apa yang di pikirkan pria berwajah
__ADS_1
tirus itu. Kabut putih yang menghalangi pandangan perlahan menghilang. Tidak
sepenuhnya hilang tapi cukup untuk melihat lebih jauh.
4 orang dengan tatapan serius masih berdiskusi tentang apa yang
terjadi, tentang kematian yang tidak layak. Di depan api yang membara dan di
depan mayat yang sudah tidak memiliki jantung.
“Aku tahu Slimin” Jack menatap Slimin yang memudar. Pria yang
menggebu dalam mendebat Pigoun. Kini didiamkan oleh perkataan yang asal-asalan
ia keluarkan.
“Jika itu memang bagian dari pembunuh ini, semua telah jelas. Serge
juga ikut dalam masalah ini” katanya yang menunduk. “Serge sialan”.
“Jack” kata Kelar yang berhenti dari diamnya. “Boleh aku berbicara”
pintanya kepada Jack.
Kelar meminta dengan penuh harap. Seperti ada hal yang benar-benar
ingin pria bertopi itu sampaikan.
“Tentu saja, bicaralah” Jack mengijinkan.
“Terima kasih, Baik semuanya perhatikan kesini sebentar” kata Kelar
yang meminta perhatian. “kita punya 2
mayat disana. Dan baru saja kita mendengarkan pernyataan tidak lansung dari
Pigoun bahwa ada seseorang yang berkerja untuk Serge. Para mayat ini mereka
memiliki ciri yaitu Tato bulu burung hitam. Dapat aku simpulkan Serge adalah
salah satu dari mereka. Tapi sebetulnya aku tak ingin mengatakan ini. Jujur aku
katakan kita masih jauh dari kebenaran itu. Aku masih belum bisa menyimpulkan
siapa yang benar-benar membunuh mereka. Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah
pun menebar pandangannya kedalam bara yang menyala.
Jack mengerti bagaimana keraguan yang ada di hati Kelar bagaimana
mereka harus menyelesaikan kasus ini. Bagaimana peliknya kasus pembunuhan ini.
Namun Jack yakin semuanya pasti terungkap.
“Aku setuju dengan apa yang di tanyakan Kelar, Jack. Kau tahu
tempat semacam apa ini. Dongeng yang pernah mengguncang dunia. Haha bangsat.
Dan kita duduk di tempat itu” timpal Slimin.
Kisah klasik yang terjadi 20 tahun lalu. Fenomena menghilangnya
semua para tahanan yang ada di dalam gua lembab itu. Bahkan sang jendral yang
di utus unutk menyelidikinya juga merasakan hal yang sama. Terguncang jiwa
hingga membuat sang jendral bermalam dengan mimpi buruk.
“Kita sudah di jalur yang benar Kelar, hanya perlu membuka jalan
sedikit lagi maka semuanya akan terungkap. Percaya saja” ucap Jack melihat
kearah Kelar yang tampak ragu.
Jack benar-benar tidak tahu apa yang mereka hadapi. Namun sebegai
seorang yang menjawab pertanyaan paling akhir Jack hanya bisa berkata dengan
manis. Agar semua yang tenang dan tidak terbebani.
Jauh di hutan yang gelap. Udara membeku di sekitar. Menyayat
seperti silet yang begitu tajam. Seseorang duduk mengerutu seorang diri. “Sial,
sial, sial. Kurang ajar kau Jack. Akan ku balas semuanya. Pasti akan ku balas
kau JACK” ucap nya. Wajahnya mengeram. Matanya menyala menyimpan dendam. Pria
__ADS_1
itu adalah Serge.
“Bos, Bos, kau disana” teriak seseorang dengan pelan.
“Kau sudah datang rupanya. Jadi bagaimana?” tanya Serge.
Pria itu berhenti di balik pohon. Hanya bayangan saja yang
terlihat. “Mereka terlihat sedang mencari sesuatu. Tapi masih belum menemukan
apa apa” kata pria itu.
“Ahahaha. Aku mengerti. Kembalilah sekarang” perintah serge.
“Baik bos” pria itu melagkah pelan. Suara dentingan besi terdengar
dari setiap langkah pria itu. Yang pelahan menghilang dalam malam.
Malam yang sunyi. Langit yang penuh gemintang. Udara yang membeku.
Dan api berkobar di hadapan Jack. Suasana itu membawanya pada masa lalu yang
pernah terjadi. Dalam keboran api itu Jack melihat seorang anak kecil yang
menangis tersedu-sedu. Wajahnya yang mungil itu sedih dan lemus. Hitam terkena
sesuatu. Tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa menangis melihat kobaran api
yang membakar seseorang di depan matanya. Terikat dalam rumah yang kosong dan
lesuh. Berteriak kesakitan. Namun bocah itu hanya menatap dengan linangan air
mata. Kakinya seolah terpaku di tanah. Tidak mampun untuk di angkat. Tubuh
bergetar.
“Apa kau dengar? yang mereka bicarakan tadi” ucap seseorang dengan
rantai di kaki. Obor menyala di tangan kanannya.
“Yah, aku tahu tapi tempat ini sangat menyeramkan” balas seseorang
yang mengekor dari belakangnya. Mereka adalah para budak yang juga ikut dalam
penyidikan Slimin. Bukan sebagai pelaku melainkan sebagai saksi. Kala itu
mereka bedua hanya diam. Karena memang tidak tahu apa-apa. Setelah mendengar
harta karun yang di ketakan budak ikat kepala biru, mereka berdua memutuskan
untuk menulusuri gua itu jauh lebih dalam. Hingga meleawati batas yang harusnya
tidak boleh mereka leawati.
“Harta karun itu akan membuat kita kaya” kata budak yang ada di
depannya. Ia tersenyum. Janggutnya tipisnya juga ikuat bergerak.
“Apa kau tahu tempatnya?” budak yang terlihat muda itu gugup.
Tampak tidak mengerti sama sekali. Melainkan hanya ikut-ikutan saja.
“S-sudah tentu, aku tahu tempatnya” jawabnya dengan gagap.
“Apa kau berbohong?” tanya budak yang lebih muda.
“Aku tidak bohong, percayakan saja padaku” jawab budak berjanggut
tipis. Kali ini ia menjawab dengan lugas. Tanpa ada getaran di perkataannya.
Semakin dalam mereka berjalan. Semakin dingin udara yang berhembus.
Semakin amis dan busuk bau yang tercium. “Busuk sekali disini” katanya sembari
menutup hidung.
“Haaaaaaaaaa” teriak budak yang lebih muda. Wajah remajanya
mengerut seperti orang tua.
“Ada apa?” budak berjanggut bertanya.
“Itu” menunjuk pada dinding yang gelap.
Budak berjanggut itu mendekatkan obor pada apa yang di tunjuk oleh
budak yang muda itu tadi.
__ADS_1