LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 12 kesaksian


__ADS_3

 “Katakan


padaku siapa yang melakukannya?” Slimin bertanya. Lansung pada apa yang ingin


ia ketahui. Slimin sedang berdiri menghadap 10 orang budak.


Seorang budak dengan luka dahi angkat bicara “Tuan, saya tidak


melihat kejadian itu. Di sini terlalu gelap untuk melihatnya dan kerjadian itu


berlalu begitu saja” salah seorang budak memberi jawaban. Pakaian yang sudah


kumal itu terpaksa di pakainya. Walau bagi Slimin itu bukanlah jawaban


melainkan kesaksian yang tidak perlu di utarakan.


“Apa dari kalian ada yang tahu, jika tidak-“


“Tuan” tak sempat perkataan Slimin selesai. Seorang budak


memotongnya. “saya hanya samar melihat, ah maafkan aku” katanya yang sadar


telah lancang. Budak itu menggunakan ikat kepala biru. Terlihat berbeda dengan


para budak lain. Kuat Slimin menahan kesal.


 “Lanjutkan” katanya dengan


lesu.


“Mereka, sejak siang tadi saling bebisik tuan, bahkan saling


menyalahkan satu sama lain. Aku tidak mendengar dengan jelas. Namun yang saya


dengar mereka mengatakan harta karun atau sesuatu yang bisa membuat kaya” ucap


budak itu dengan serius. Bahkan para budak lain juga memasang telinga untuk


ceritanya itu.


“Mereka?” ucap Slimin. Ada yang aneh dari kata mereka ini. Slimin


dapat kesimpulan awal bahwa pelakunya lebih dari satu orang. Seperti yang Kelar


terangkan di awal tadi.


“Yah, mereka, mereka adalah satu kelompok dengan jumlah 6 orang, ku


dengar mereka tertangkap ketika merampok para bangsawan dari kerajaan Mawar”


ceritanya lagi.


“Iya, Kemudian” Slimin coba mengingat kembali apa yang telah


terjadi selama berburu para budak. Tidak pernah Slimin merasa menangkap


perampok dengan jumlah 6 orang. Ia selalu menangkap perampok dengan jumlah


lebih dari 10 orang. Terlebih lagi ini berurusan dengan Kerajaan Mawar “Apa


maksudnya ini?” guman Slimin.


“Hingga sore tadi mereka sempat bertangkar hebat. Seseorang yang


terlihat berbeda memimpin mereka. Dan belum pernah aku melihat budak seperti


itu, begitu kuat. Wajah keras dengan pertempuran, aura terlihat seperti seorang


bangsawan” kata budak itu.


“Jadi yang bertengkar tadi adalah mereka” budak yang lain bertanya


memastikan.

__ADS_1


“Itu benar. Semenjak sore tadi salah satu dari mereka bertingkah


aneh. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi namun salah seorang dari mereka


menggeliat di tanah, menggigil. Dan mereka pun membawanya ke dalam gua sana


tuan. Hingga teriakan itu terjadi. Dan tuan-tuan datang kemari” cerita budak


ikat kepala biru.


“Haaa, hanya itu saja” kata Slimin yang tampak tidak puas. Apa yang


budak itu ceritakan sama sekali tidak memuaskan dahaga ingin tahu Slimin.


Memang sudah terpikirkan olehnya akan begini jadi. Slimin pun beranjak ingin


pergi dari sana. Tiba-tiba saja budak ikat kepala biru angkat bicara lagi.


“Bagaimana kau tahu kelau mereka berkelompok?” tanya Slimin dengan


sorot penuh selidik.


“Salah satu dari mereka yang bercerita tuan, semua yang aku


katakana ini salah seorang dari mereka yang mengatakannya. Aku juga tidak tahu


apa cerita itu benar atau tidak pada awalnya, namun setelah melihat apa yang


terjadi aku jadi yakin dengan apa yang ia ceritakan” jawab budak itu tanpa


keraguan.


“Begitu rupanya” kata Slimin. Ia tidak  melihat kebohongan di mata budak ikat kepala


biru. “Baik, ada yang lain” Slimin pun mengedar pandangan. Dilihatnya budak


yang mematung pada dinding. Tatapannya kosong.


Namun tidak sampai setinggi Slimin.


“Ada apa dengan dia?” Slimin bertanya. Sorot mata Slimin masih


melihat dengan teliti budak yang diam itu. Wajah budak itu terlihat kaku dan bengong.


Sangat berbeda dengan apa yang pernah ia lihat sebelum-sebelumnya. Yang


biasanya orang akan menggigil ketakutan namun budak yang di belakang itu diam


mematung.


“Tidak tahu tuan, saya juga melihat dia sudah seperti itu sejak


tuan-tuan datang. Matanya hanya bisa menatap kearah dinding itu dan diam


seperti patung” jelas budak bertubuh besar.


Slimin pun mendekati budak yang diam itu. “Oi, apa yang kau lihat


tadi katakan padaku?” kata Slimin tanpa rasa empati.


Budak itu masih diam. Bahkan bola matanya tidak menghiraukan Slimin


yang mendekatinya. “Apa kau tuli” kata Slimin lagi. namun masih saja bisu.


Slimin pun menarik jari tulunjuknya ke belakang. Dan disentilnya kening budak


yang diam itu. Akan tetapi itu juga percuma saja.


“Ya, sudahlah” kata Slimin yang menyerah untuk dapat mendenngar apa


yang terjadi dari mulut budak itu. Ia pun melihat dengan seksama budak itu.


“bunuh atau tidak” batinnya berdebat. Slimin merasa ia telah dihinakan dalam

__ADS_1


bisunya budak itu. Namun jika ia membunuh yang satu ini aka nada hal yang tidak


akan mereka tahu lebih lanjut mengenai pembunuhan yang sedang mereka selidik.


Apa lagi jika Jack tahu apa yang ia lakukan ini hanya karena alasan pribadi,


akan membuat dirinya bermasalah saja. “Kau selamat kawan” katanya lagi. Kini Slimin


telah mengurungkan niat untuk membunuh budak yang bisu itu.


“Baiklah semuanya. Sebelum aku marah. Katakan apa yang kalian lihat


sejak memasuki gua ini” Slimin tersenyum. Namun bukan senyum ramah. Melainkan


senyum yang menandakan peringatan. “Aku akan berhitung sampai 5, jika tidak ada


yang bisa menambahkan maka kalian akan tahu akibatnya” katanya mengancam.


“1”


“2…..3….” Slimin melirik mulai bersiap. “4-“


Seorang budak dengan wajah yang berpeluh bicara “Tuan,” peluh itu


mengumpul bagai embun di alis tebalnya. Yang siap jatuh kapan saja.


“Yah, benar. Mari kita dengar apa yang akan kau katakan” Slimin


tersenyum ramah. “Bicaralah”.


Budak alis tebal menelan ludah “S-saya tidak tahu” ucap budak itu


tergagap. “Saya tidak tahu apa yang akan saya katakana ini berguna atau tidak.


Tapi tolong jangan sakiti kami” katanya yang meminta pengampunan.


“Haha, kita tidak sedang melakukan negosiasi disini. Aku yang


bertanya dan kalian wajib menjawab. Tapi aku sedang tidak ingin marah hari ini,


jadi semua itu tergantung apa yang kau ucapkan nanti” Slimin menatap budak alis


tebal serius.


Budak itu menelan ludah lagi. “Siang tadi, aku melihat salah satu


budak berbicara dengan rekan tuan. Walau tidak tahu apa yang pasti sebetulnya


terjadi akan tetapi mereka terlihat akrab. Mereka membicarakan tentang


kekayaan” ucap budak itu.


“Rekan? Rekanku yang mana, jangan berbohong kau disini, aku saja


sampai sore ini. dan kau bilang rekanku berbicara dengan budak layaknya teman”


Slimin merasakan panas didadanya. Jengkel juga ia mendengar perkataan budak


ini. “Apa kau sudah bosan hidup” kata Slimin lagi.


“Maafkan aku tuan” ia menutup wajahnya dengan tangan “tapi aku


mengatakan yang sebenarnya. Rekan tuan yang mengunkan cambuk itu, dan


berkalungkan tulang” katanya dalam ketakutan.


“Ah, hahaha” Slimin tertawa “pantas saja aku tidak tahu itu” ucap


Slimin yang sudah menyadari siapa yang dimaksud budak satu ini. Tidak lain


adalah serge


“Oh, dan satu lagi tuan…….”

__ADS_1


__ADS_2