
“Katakan
padaku siapa yang melakukannya?” Slimin bertanya. Lansung pada apa yang ingin
ia ketahui. Slimin sedang berdiri menghadap 10 orang budak.
Seorang budak dengan luka dahi angkat bicara “Tuan, saya tidak
melihat kejadian itu. Di sini terlalu gelap untuk melihatnya dan kerjadian itu
berlalu begitu saja” salah seorang budak memberi jawaban. Pakaian yang sudah
kumal itu terpaksa di pakainya. Walau bagi Slimin itu bukanlah jawaban
melainkan kesaksian yang tidak perlu di utarakan.
“Apa dari kalian ada yang tahu, jika tidak-“
“Tuan” tak sempat perkataan Slimin selesai. Seorang budak
memotongnya. “saya hanya samar melihat, ah maafkan aku” katanya yang sadar
telah lancang. Budak itu menggunakan ikat kepala biru. Terlihat berbeda dengan
para budak lain. Kuat Slimin menahan kesal.
“Lanjutkan” katanya dengan
lesu.
“Mereka, sejak siang tadi saling bebisik tuan, bahkan saling
menyalahkan satu sama lain. Aku tidak mendengar dengan jelas. Namun yang saya
dengar mereka mengatakan harta karun atau sesuatu yang bisa membuat kaya” ucap
budak itu dengan serius. Bahkan para budak lain juga memasang telinga untuk
ceritanya itu.
“Mereka?” ucap Slimin. Ada yang aneh dari kata mereka ini. Slimin
dapat kesimpulan awal bahwa pelakunya lebih dari satu orang. Seperti yang Kelar
terangkan di awal tadi.
“Yah, mereka, mereka adalah satu kelompok dengan jumlah 6 orang, ku
dengar mereka tertangkap ketika merampok para bangsawan dari kerajaan Mawar”
ceritanya lagi.
“Iya, Kemudian” Slimin coba mengingat kembali apa yang telah
terjadi selama berburu para budak. Tidak pernah Slimin merasa menangkap
perampok dengan jumlah 6 orang. Ia selalu menangkap perampok dengan jumlah
lebih dari 10 orang. Terlebih lagi ini berurusan dengan Kerajaan Mawar “Apa
maksudnya ini?” guman Slimin.
“Hingga sore tadi mereka sempat bertangkar hebat. Seseorang yang
terlihat berbeda memimpin mereka. Dan belum pernah aku melihat budak seperti
itu, begitu kuat. Wajah keras dengan pertempuran, aura terlihat seperti seorang
bangsawan” kata budak itu.
“Jadi yang bertengkar tadi adalah mereka” budak yang lain bertanya
memastikan.
__ADS_1
“Itu benar. Semenjak sore tadi salah satu dari mereka bertingkah
aneh. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi namun salah seorang dari mereka
menggeliat di tanah, menggigil. Dan mereka pun membawanya ke dalam gua sana
tuan. Hingga teriakan itu terjadi. Dan tuan-tuan datang kemari” cerita budak
ikat kepala biru.
“Haaa, hanya itu saja” kata Slimin yang tampak tidak puas. Apa yang
budak itu ceritakan sama sekali tidak memuaskan dahaga ingin tahu Slimin.
Memang sudah terpikirkan olehnya akan begini jadi. Slimin pun beranjak ingin
pergi dari sana. Tiba-tiba saja budak ikat kepala biru angkat bicara lagi.
“Bagaimana kau tahu kelau mereka berkelompok?” tanya Slimin dengan
sorot penuh selidik.
“Salah satu dari mereka yang bercerita tuan, semua yang aku
katakana ini salah seorang dari mereka yang mengatakannya. Aku juga tidak tahu
apa cerita itu benar atau tidak pada awalnya, namun setelah melihat apa yang
terjadi aku jadi yakin dengan apa yang ia ceritakan” jawab budak itu tanpa
keraguan.
“Begitu rupanya” kata Slimin. Ia tidak melihat kebohongan di mata budak ikat kepala
biru. “Baik, ada yang lain” Slimin pun mengedar pandangan. Dilihatnya budak
yang mematung pada dinding. Tatapannya kosong.
Namun tidak sampai setinggi Slimin.
“Ada apa dengan dia?” Slimin bertanya. Sorot mata Slimin masih
melihat dengan teliti budak yang diam itu. Wajah budak itu terlihat kaku dan bengong.
Sangat berbeda dengan apa yang pernah ia lihat sebelum-sebelumnya. Yang
biasanya orang akan menggigil ketakutan namun budak yang di belakang itu diam
mematung.
“Tidak tahu tuan, saya juga melihat dia sudah seperti itu sejak
tuan-tuan datang. Matanya hanya bisa menatap kearah dinding itu dan diam
seperti patung” jelas budak bertubuh besar.
Slimin pun mendekati budak yang diam itu. “Oi, apa yang kau lihat
tadi katakan padaku?” kata Slimin tanpa rasa empati.
Budak itu masih diam. Bahkan bola matanya tidak menghiraukan Slimin
yang mendekatinya. “Apa kau tuli” kata Slimin lagi. namun masih saja bisu.
Slimin pun menarik jari tulunjuknya ke belakang. Dan disentilnya kening budak
yang diam itu. Akan tetapi itu juga percuma saja.
“Ya, sudahlah” kata Slimin yang menyerah untuk dapat mendenngar apa
yang terjadi dari mulut budak itu. Ia pun melihat dengan seksama budak itu.
“bunuh atau tidak” batinnya berdebat. Slimin merasa ia telah dihinakan dalam
__ADS_1
bisunya budak itu. Namun jika ia membunuh yang satu ini aka nada hal yang tidak
akan mereka tahu lebih lanjut mengenai pembunuhan yang sedang mereka selidik.
Apa lagi jika Jack tahu apa yang ia lakukan ini hanya karena alasan pribadi,
akan membuat dirinya bermasalah saja. “Kau selamat kawan” katanya lagi. Kini Slimin
telah mengurungkan niat untuk membunuh budak yang bisu itu.
“Baiklah semuanya. Sebelum aku marah. Katakan apa yang kalian lihat
sejak memasuki gua ini” Slimin tersenyum. Namun bukan senyum ramah. Melainkan
senyum yang menandakan peringatan. “Aku akan berhitung sampai 5, jika tidak ada
yang bisa menambahkan maka kalian akan tahu akibatnya” katanya mengancam.
“1”
“2…..3….” Slimin melirik mulai bersiap. “4-“
Seorang budak dengan wajah yang berpeluh bicara “Tuan,” peluh itu
mengumpul bagai embun di alis tebalnya. Yang siap jatuh kapan saja.
“Yah, benar. Mari kita dengar apa yang akan kau katakan” Slimin
tersenyum ramah. “Bicaralah”.
Budak alis tebal menelan ludah “S-saya tidak tahu” ucap budak itu
tergagap. “Saya tidak tahu apa yang akan saya katakana ini berguna atau tidak.
Tapi tolong jangan sakiti kami” katanya yang meminta pengampunan.
“Haha, kita tidak sedang melakukan negosiasi disini. Aku yang
bertanya dan kalian wajib menjawab. Tapi aku sedang tidak ingin marah hari ini,
jadi semua itu tergantung apa yang kau ucapkan nanti” Slimin menatap budak alis
tebal serius.
Budak itu menelan ludah lagi. “Siang tadi, aku melihat salah satu
budak berbicara dengan rekan tuan. Walau tidak tahu apa yang pasti sebetulnya
terjadi akan tetapi mereka terlihat akrab. Mereka membicarakan tentang
kekayaan” ucap budak itu.
“Rekan? Rekanku yang mana, jangan berbohong kau disini, aku saja
sampai sore ini. dan kau bilang rekanku berbicara dengan budak layaknya teman”
Slimin merasakan panas didadanya. Jengkel juga ia mendengar perkataan budak
ini. “Apa kau sudah bosan hidup” kata Slimin lagi.
“Maafkan aku tuan” ia menutup wajahnya dengan tangan “tapi aku
mengatakan yang sebenarnya. Rekan tuan yang mengunkan cambuk itu, dan
berkalungkan tulang” katanya dalam ketakutan.
“Ah, hahaha” Slimin tertawa “pantas saja aku tidak tahu itu” ucap
Slimin yang sudah menyadari siapa yang dimaksud budak satu ini. Tidak lain
adalah serge
“Oh, dan satu lagi tuan…….”
__ADS_1