LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 17 Mahluk Asing


__ADS_3

Samar terlihat sebuah lingkaran dengan tulisan kuno yang tidak di


mengerti si budak berjanggut. “Apa ini?” melihat dengan mata penuh pertanyaan.


Budak yang muda itu terduduk, ia memegang dadanya “Haa, eh haa, eh


haa” budak yang muda itu menarik nafas perlahan. Entah apa yang dilihatnya


membuat budak berjanggut mengerutkan dahi. Sama sekalli tidak mengerti.


“Apa, bicara saja yang jelas. Jangan membuat suasana jadi runyam


begini” katanya dengan keras. Melihat seseorang yang ketakutan itu juga membuat


dirinya juga takut. Memang aura negative juga bisa menular pada orang lain


juga.


“Muuumi” kata budak muda yang terbata-bata. Terlunjuknya mengarah


pada dinding yang memilik tulisan kuno.


Budak berjanggut itu pun membalikkan tubuhnya. Mellihat dengan


teliti. Mengedarkan padangannya pada dinding batu. “Hmm. Aku tidak melihat


apa-apa, jangan mengada-ngada kau ini” ucap pria berjanggut. Di sana ia hanya


melihat lingkaran tulisan kuno. Ia pun membalik tubuhnya menghadap budak muda.


Tiba-tiba saja darah mengalir dari dada budak berjanggut tipis.


Darah juga keluar dari sela bibir. “Apa yang terjadi” katanya kaget. Ia pun


terjatuh ketanah begitu saja. “Apa itu” katanya yang sudah di ujung kehidupan.


“Manusia atau mon-“ ia pun mati disana.


Jack dan yang lainnya masih berdiskusi tentang apa yang sedang


mereka cari tahu kebenarannya. “Ah, aku ingat sesuatu. Apa kalian melihat


seseorang dalam perjalanan kemari” tanya Jack.


“Seseorang, siapa maksudmu?” Slimin alih-alih menjawab ia malah


bertanya balik.


“Aku tidak melihat siapa pun” kata Kelar yang lansung pada jawaban


yang diinginkan Jack.


“Tidak” ucap Pigoun.


Jack mengingat kembali ciri yang ia lihat pada kusir. Seseorang


dengan ciri yang sama dengan budak yang terbaring kaku itu. Sebuah tato bulu


burung hitam. Hanya saja tato yang dimiliki kusir itu bulu hitam yang bertimpa


dua. Berbeda dengan budak yang mati itu yang berlukiskan bulu burung menyilang.


“Seorang kusir” kata Jack lagi.


“Aku juga tidak melihatnya” jawab Slimin. “Apa dia juga ada


kaitannya dengan apa yang terjadi disini?”


“Semua orang memilik kemungkinan yang sama Slimin” kata Jack datar.


“Kita tidak tahu mana yang bisa di percaya, namun lebih baik kita membuka mata


lebar-lebar melihat semuanya dengan teliti. Mengambil setiap kemungkinan yang


bisa kita pakai” Jack berkata layaknya orang tua yang menasehati seorang bocah.

__ADS_1


“Yah, kau benar” balas Slimin yang tampak pasrah saja. Karena tidak


ada balas yang baik selain iya.


Dari arah gua, suara-suara mulai samar terdengar hingga benar-benar


berisik seperti orang ketakutan. “Tolong, selamatkan-“


“Aaaaaaaaaah”


“Monsterrrrr”


Jack yang mendengar itu pun bangkit. “Mungkinkah” katanya. Berpikir


bahwa mungkin saja ini adalah jawaban yang sedang mereka tunggu. “Apa kalian


ikut” Jack menawari kepada yang lain.


“Ikut, ikut” Pigoun tampak senang. Entah apa yang Pigoun pikirkan


namun senyum selalu melebar di bibirnya.


“Apa sih, yang mereka lakukan kali ini. merepotkan sekali” kata


Slimin yang terlihat lesu. “Duluan saja” ia masih menatap kedalam api yang


membara.


Kelar berdiri “Aku mau ketenda dulu” ucap Kelar.


Jack pun pergi begitu saja. Dan Pigoun mengekor padanya. Belum


sempat Jack melangkah lebih jauh. Budak yang bercukuran darah berlari dengan


laju. Lengan budak itu terlihat cobek seperti di cakar oleh sesuatu. Namun Jack


tidak kaget atau melaju langkahnya. Ia masih berjalan santai. “Ada apa?” kata


Jack yang menghentikan larian budak itu. Dilihatnya rantai kaki yang memang


saja.


“Ada, ada monster tuan” ucap dengan suara yang bergetar. Keringat


membasah wajah budak itu.


“Lari sama dengan mati” tanpa aba-aba Pigoun pun menghantam kepala


budak itu dengan tongkat miliknya. Tepat mengenai kepala budak itu. Selangkah


berikutnya budak itu sudah terkapar di tanah dengan tenkorak yang sudah pecah.


Jack hanya menatap saja. Tidak berkomentar apa pun. “Jangan terlalu


serius begitu” kata Jack yang menegur.


“Ahah, apa aku berlebihan?” Pigoun mengaruk kepalanya yang tidak


gatal. Jelas sekali ia merasa bersalah telah melakukn hal itu.


Namun Jack tidak marah sedikit pun. Walau Pigoun tidak melakukannya


budak itu juga pasti mati di tangan Kelar. Seperti budak yang sedang berlari


kearah hutan yang bersembrangan dengan jalan yang akan Jack lalui. Sudah mati


tekulai dengan luka dada yang merobek jantung. Bahkan satu budak pun tidak akan


selamat jika keluar 10 langkah saja dari dalam gua itu.


Sesampai Jack di mulut gua itu dapatlah jelas ia melihat sumber


kekacauan. “Mahluk ini?” Jack menatap heran. Semahkluk aneh yang mengamuk


didalam gua. Terlihat seperti manusia namun dengan pustur tubuh yang lebih

__ADS_1


tinggi, bahkan tubuh Pigoun yang hampir 4 meter itu juga kalah tinggi daru


mahluk aneh yang ada di depan mereka. Berkuku tajam putih sepanjang lengan


manusia normal. Bulat menyatu dengan jari jemarinya. Berkulit coklat, kurus


tinggi. Tidak pasti itu coklat atau bukan. Namun dalam gelap malam itu Jack


hanya melihat samar coklat yang tangkap matanya.


Jack dan Pigoun masih melihat saja mahluk itu mengamuk. Para budak


yang berlarian juga tidak mereka perdulikan. “Mahluk itu boleh kau pukul,


Pigoun” kata Jack yang memberi ijin.


“Aye, aye” dengan wajah girangnya Pigoun melanggak maju. Berlari


dengan cepat menghantam kaki jenjang mahluk itu. “Aduh” kata Pigoun. “Apa ini


batu”.


Jack bisa melihat, bagaimana kerasnya Pigoun memukulnya. Namun


tergesar pun tidak mahluk itu dari tempatnya. Justru hanya melirik dengan bolat


mata satu yang ada di keningnya dan kemudian Pigoun terlempar di sepak oleh


mahluk itu. “Mahluk apa kau ini?” kata Jack.


Mahluk itu beralih mengejar Pigoun. Dari tempukan batu tempat


Pigoun terlempar ia bangkit. Kini wajah girangnya berganti menjadi merah padam.


Urat di kepalanya pun muncul. “Sialan” ucapnya.


Pigoun pun maju lagi, mahluk itu dengan cepat menyambar Pigoun


dengan kukunya yang tajam. Seperti tamparan manusia, telapak tangannya sangat


mirip manusia. Hanya saja kuku putih bulat itu yang terlihat berbeda dengan


jari jemari manusia.


Pigoun yang tak ingin kalah


itu pun menghadang tamparan itu sekuat tenaga. Kuku putih itu bertemu dengan


tongkat Pigoun. Namun kali ini Pigoun yang berhasil membuat mahluk itu


tergeser. Pada kesempatan itu pula Pigoun melompat dan menghantam mahluk aneh


itu di perutnya. Yang membuat mahluk aneh itu menabrak dinding gua.


Jack hanya asik menonton. Berdiri dengan tenang seperti menonton


teater.


“Apa yang terjadi?” suara yang terdengar berat bertanya.


“Masih belum pasti, lihat lah itu” kata Jack yang menunjuk


pertarungan yang sedang ia tonton.


“Ah, iya. Mereka mati semuanya” kata Kelar yang tampak kecewa.


Padahal beberapa waktu lalu ia berharap bisa menggunakan tenaga para budak itu


lebih lama lagi.


“Kau yakin?” Jack memastikan. Memang ada keraguan dalam perkataan


Kelar. Bukan perkataan Kelar yang membuat Jack ragu. Melainkan ragu kepada


dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2