
Samar terlihat sebuah lingkaran dengan tulisan kuno yang tidak di
mengerti si budak berjanggut. “Apa ini?” melihat dengan mata penuh pertanyaan.
Budak yang muda itu terduduk, ia memegang dadanya “Haa, eh haa, eh
haa” budak yang muda itu menarik nafas perlahan. Entah apa yang dilihatnya
membuat budak berjanggut mengerutkan dahi. Sama sekalli tidak mengerti.
“Apa, bicara saja yang jelas. Jangan membuat suasana jadi runyam
begini” katanya dengan keras. Melihat seseorang yang ketakutan itu juga membuat
dirinya juga takut. Memang aura negative juga bisa menular pada orang lain
juga.
“Muuumi” kata budak muda yang terbata-bata. Terlunjuknya mengarah
pada dinding yang memilik tulisan kuno.
Budak berjanggut itu pun membalikkan tubuhnya. Mellihat dengan
teliti. Mengedarkan padangannya pada dinding batu. “Hmm. Aku tidak melihat
apa-apa, jangan mengada-ngada kau ini” ucap pria berjanggut. Di sana ia hanya
melihat lingkaran tulisan kuno. Ia pun membalik tubuhnya menghadap budak muda.
Tiba-tiba saja darah mengalir dari dada budak berjanggut tipis.
Darah juga keluar dari sela bibir. “Apa yang terjadi” katanya kaget. Ia pun
terjatuh ketanah begitu saja. “Apa itu” katanya yang sudah di ujung kehidupan.
“Manusia atau mon-“ ia pun mati disana.
Jack dan yang lainnya masih berdiskusi tentang apa yang sedang
mereka cari tahu kebenarannya. “Ah, aku ingat sesuatu. Apa kalian melihat
seseorang dalam perjalanan kemari” tanya Jack.
“Seseorang, siapa maksudmu?” Slimin alih-alih menjawab ia malah
bertanya balik.
“Aku tidak melihat siapa pun” kata Kelar yang lansung pada jawaban
yang diinginkan Jack.
“Tidak” ucap Pigoun.
Jack mengingat kembali ciri yang ia lihat pada kusir. Seseorang
dengan ciri yang sama dengan budak yang terbaring kaku itu. Sebuah tato bulu
burung hitam. Hanya saja tato yang dimiliki kusir itu bulu hitam yang bertimpa
dua. Berbeda dengan budak yang mati itu yang berlukiskan bulu burung menyilang.
“Seorang kusir” kata Jack lagi.
“Aku juga tidak melihatnya” jawab Slimin. “Apa dia juga ada
kaitannya dengan apa yang terjadi disini?”
“Semua orang memilik kemungkinan yang sama Slimin” kata Jack datar.
“Kita tidak tahu mana yang bisa di percaya, namun lebih baik kita membuka mata
lebar-lebar melihat semuanya dengan teliti. Mengambil setiap kemungkinan yang
bisa kita pakai” Jack berkata layaknya orang tua yang menasehati seorang bocah.
__ADS_1
“Yah, kau benar” balas Slimin yang tampak pasrah saja. Karena tidak
ada balas yang baik selain iya.
Dari arah gua, suara-suara mulai samar terdengar hingga benar-benar
berisik seperti orang ketakutan. “Tolong, selamatkan-“
“Aaaaaaaaaah”
“Monsterrrrr”
Jack yang mendengar itu pun bangkit. “Mungkinkah” katanya. Berpikir
bahwa mungkin saja ini adalah jawaban yang sedang mereka tunggu. “Apa kalian
ikut” Jack menawari kepada yang lain.
“Ikut, ikut” Pigoun tampak senang. Entah apa yang Pigoun pikirkan
namun senyum selalu melebar di bibirnya.
“Apa sih, yang mereka lakukan kali ini. merepotkan sekali” kata
Slimin yang terlihat lesu. “Duluan saja” ia masih menatap kedalam api yang
membara.
Kelar berdiri “Aku mau ketenda dulu” ucap Kelar.
Jack pun pergi begitu saja. Dan Pigoun mengekor padanya. Belum
sempat Jack melangkah lebih jauh. Budak yang bercukuran darah berlari dengan
laju. Lengan budak itu terlihat cobek seperti di cakar oleh sesuatu. Namun Jack
tidak kaget atau melaju langkahnya. Ia masih berjalan santai. “Ada apa?” kata
Jack yang menghentikan larian budak itu. Dilihatnya rantai kaki yang memang
saja.
“Ada, ada monster tuan” ucap dengan suara yang bergetar. Keringat
membasah wajah budak itu.
“Lari sama dengan mati” tanpa aba-aba Pigoun pun menghantam kepala
budak itu dengan tongkat miliknya. Tepat mengenai kepala budak itu. Selangkah
berikutnya budak itu sudah terkapar di tanah dengan tenkorak yang sudah pecah.
Jack hanya menatap saja. Tidak berkomentar apa pun. “Jangan terlalu
serius begitu” kata Jack yang menegur.
“Ahah, apa aku berlebihan?” Pigoun mengaruk kepalanya yang tidak
gatal. Jelas sekali ia merasa bersalah telah melakukn hal itu.
Namun Jack tidak marah sedikit pun. Walau Pigoun tidak melakukannya
budak itu juga pasti mati di tangan Kelar. Seperti budak yang sedang berlari
kearah hutan yang bersembrangan dengan jalan yang akan Jack lalui. Sudah mati
tekulai dengan luka dada yang merobek jantung. Bahkan satu budak pun tidak akan
selamat jika keluar 10 langkah saja dari dalam gua itu.
Sesampai Jack di mulut gua itu dapatlah jelas ia melihat sumber
kekacauan. “Mahluk ini?” Jack menatap heran. Semahkluk aneh yang mengamuk
didalam gua. Terlihat seperti manusia namun dengan pustur tubuh yang lebih
__ADS_1
tinggi, bahkan tubuh Pigoun yang hampir 4 meter itu juga kalah tinggi daru
mahluk aneh yang ada di depan mereka. Berkuku tajam putih sepanjang lengan
manusia normal. Bulat menyatu dengan jari jemarinya. Berkulit coklat, kurus
tinggi. Tidak pasti itu coklat atau bukan. Namun dalam gelap malam itu Jack
hanya melihat samar coklat yang tangkap matanya.
Jack dan Pigoun masih melihat saja mahluk itu mengamuk. Para budak
yang berlarian juga tidak mereka perdulikan. “Mahluk itu boleh kau pukul,
Pigoun” kata Jack yang memberi ijin.
“Aye, aye” dengan wajah girangnya Pigoun melanggak maju. Berlari
dengan cepat menghantam kaki jenjang mahluk itu. “Aduh” kata Pigoun. “Apa ini
batu”.
Jack bisa melihat, bagaimana kerasnya Pigoun memukulnya. Namun
tergesar pun tidak mahluk itu dari tempatnya. Justru hanya melirik dengan bolat
mata satu yang ada di keningnya dan kemudian Pigoun terlempar di sepak oleh
mahluk itu. “Mahluk apa kau ini?” kata Jack.
Mahluk itu beralih mengejar Pigoun. Dari tempukan batu tempat
Pigoun terlempar ia bangkit. Kini wajah girangnya berganti menjadi merah padam.
Urat di kepalanya pun muncul. “Sialan” ucapnya.
Pigoun pun maju lagi, mahluk itu dengan cepat menyambar Pigoun
dengan kukunya yang tajam. Seperti tamparan manusia, telapak tangannya sangat
mirip manusia. Hanya saja kuku putih bulat itu yang terlihat berbeda dengan
jari jemari manusia.
Pigoun yang tak ingin kalah
itu pun menghadang tamparan itu sekuat tenaga. Kuku putih itu bertemu dengan
tongkat Pigoun. Namun kali ini Pigoun yang berhasil membuat mahluk itu
tergeser. Pada kesempatan itu pula Pigoun melompat dan menghantam mahluk aneh
itu di perutnya. Yang membuat mahluk aneh itu menabrak dinding gua.
Jack hanya asik menonton. Berdiri dengan tenang seperti menonton
teater.
“Apa yang terjadi?” suara yang terdengar berat bertanya.
“Masih belum pasti, lihat lah itu” kata Jack yang menunjuk
pertarungan yang sedang ia tonton.
“Ah, iya. Mereka mati semuanya” kata Kelar yang tampak kecewa.
Padahal beberapa waktu lalu ia berharap bisa menggunakan tenaga para budak itu
lebih lama lagi.
“Kau yakin?” Jack memastikan. Memang ada keraguan dalam perkataan
Kelar. Bukan perkataan Kelar yang membuat Jack ragu. Melainkan ragu kepada
dirinya sendiri.
__ADS_1