LORONG KEMATIAN

LORONG KEMATIAN
Chapter 10 Awal Mula Kekacuan


__ADS_3

Kelar yang sedang berjalan kearah tenda melihat seorang budak membawa kerbau yang sudah tak berkaki dan sebatang kayu besar. “Apa yang di lakukannya” bertanya pada diri sendiri.


“Itu pasti ulah Jack” tiba-tiba ada suara yang menyahut dari balik kabut. Suara yang terdengar familiar. Pria berambut kuning kriting dan berbaju lebar seperti taplak meja. Slimin.


“Jack? Benar juga, ia tak akan biarkan para budak itu mati kelaparan. Haha orang itu” kata Kelar yang lansung memahami maksud Slimin.


“Itu benar, seperti yang dia katakan. Biarkan mereka mati dalam keadaan kenyang” Slimin melabarkan senyum. “Ahahaha” tertawa.


“Kau tampak senang Slimin” ucap Kelar dengan nada penuh pertanyaan.


“Ada apa?” tanya Kelar setelah melihat wajah tirus itu berseri.


Slimin menatap Kelar “Tidak ada yang istimewa” jawab Slimin diam sesaat. “Ternyata mencari kayu bakar itu tidak buruk” lanjut Slimin.


“Tidak buruk, Hah” Kelar mengadar pandangan pada hutan. “Kau benar” tutup Kelar dengan melanjutkan langkahnya.


Di tenda hitam Slimin sibuk dengan barang bawaannya, memindahkan satu persatu dari gerobak kayu. Kelar juga bagitu, menaruh peti hitam serta tas hitam manaruhnya dengan pelan. Tidak luas namun cukup untuk 4 orang. Berada di pojok kaki gunung yang rata tanahnya.


Tumpukan kayu yang dijadikan dudukan sudah melingkar. Kayu kering yang siap menjadi bara juga sudah bertumpuk di tengahnya. Kelar dengan lihai membuat api dari berbekal kayu kering saja.


“Eh boleh juga” kata Slimin yang memuji. Api pun menyala. Mulai memakan daun kering, ranting kecil dan serpihan kayu yang memang sengaja Kelar buat. Malam pun mengantikan siang, angin sore membawa kabut dari puncak gunung mulai menebal. Menghampar di atas tanah hitam tempat mereka mendirikan kemah. Dan gua gelap menjadi sangat gelap.


Lentera yang mengisi dinding sepi kini di tambah beberapa. Gua itu kini diserbu kabut yang putih. Juga tidak lupa kayu-kayu yang siap di bakar di perintahkan Jack untuk para budak ini gunakan jadi penghangat di malam hari. Para budak ini pun masuk kedalam gua yang gelap. Dan Jack menatap mereka dari luar. Mata biru itu terlihat datar dan dingin.


Hari itu pekerjaan mereka pun selesai. Di tutup dengan kabut yang membawa udara dingin. Peti kayu pun sudah tersusun rapi di atas kerikil yang terhampar. Di atas tanah hitam yang dingin seperti es beku.


“Uh, dingin sekali” ucap Slimin. Menyorongkan telapak tangan menghadap api. “Ini sangat nyaman” katanya setelah beberapa saat mendekatkan diri pada api.

__ADS_1


“Ini minumlah” Kelar melemparkan sebotol minuman. Minuman yang terlihat mahal yang di bungkus oleh botol kaca.


“Apa ini” tanya Slimin. Ia membuka tutupnya. Menyerbak harum aroma apel dan anggur menyatu menyerbu tiap dinding hidup Slimin “woah, aroma ini” katanya, matanya menyala ingin meneguk satu botol sakali habis.


“Arak bangsa selatan” Kelar menjawab kemudian tersenyum. “Arak yang terkenal harum dengan rasa apel dan anggur. Aku percaya kau tidak akan pernah menyesal meminumnya”


“Ini terlihat mahal. Dari mana kau dapatkan ini” ucap Slimin sembari meneguk isinya dengan pelan. “Haaaaaa, uuuuh. Nikmat sekali, ini yang terbaik pernah ku minum” kata Slimin memuji minuman yang baru saja masuk


keronkongan.


“Aku punya kenalan, Seorang saudagar” jawab Kelar.


Setelah meminumnya, Slimin benar-benar merasa hangat musim semi. Mengerayap di perut dan menghilangkan beku yang menyayat kulit. “Ini benar-benar nikmat” ia pun masukan lagi minuman itu kedalam mulutnya.


Selesai dengan minuman itu. Slimin melihat jauh pria berjas hitam “Sedang apa dia di sana?” tanya Slimin yang sedikit ingin tahu. Seorang pria yang duduk di atas batu hitam. Menatap tajam kearah gua yang di penuh asap yang mengepul. Meneguk arak lagi.


“Hehe Jack, Selalu saja begitu misteri” kata Slimin yang sudah merona. Hanya beberapa tegukan saja sudah membuat Slimin hilang kesadaran. Dan terlelap di dekat api yang menyala.


“Sejak terbenam matahari, aku rasa dia sudah seperti itu” kata Kelar. Beberapa saat kemudian Kelar tidak mendengar suara Slimin. “Slimin” tegur Kelar. Namun tidak ada jawaban.


Kemudian ia beranjak dari dalam tenda. Di luar tenda itu ia melihat Slimin yang sudah tertidur. Sedangkan Pigoun masih dengan aktivitasnya. Mencincang kayu yang ia bawa dari hutan. Memukul kayu kayu itu dengan keras hingga menjadi kepingan-kepingan kecil. Tertawa dan tersenyum. Benar-benar menikmati pekerjaannya itu.


Kelar pun mengambil 2 botol minuman dan beberapa potong kayu kering. Ia berjalan mendekati Jack.


“Minum?” kata Kelar dengan suara penawaran. Kelar lembarkan satu botol kaca mendarat dan tepat di tangan Jacka.


“Yah, kenapa tidak” jawab Jack.

__ADS_1


“Apa yang kau pikirkan?” Kelar bertanya seraya menaruh kayu bakar di hadapan mereka berdua. “Kau takut mereka akan mati” kata Kelar yang tersenyum kecil.


“Tidak ada yang perlu di takutkan” jawab Jack datar.


Kelar dapat melihat sesuatu yang tersimpan di mata Jack. Kelar tidak bisa menduga apapun dari sorot mata itu. Masih memandang jauh ke gua gelap.


“Okey” kata Kelar yang selesai menyalakan api. “Ada satu hal yang ingin aku katakana padamu, mereka akan tiba 2 hari lagi” ucap Kelar seraya duduk di sebelah Jack. Tangannya menyekik botol minuman dan meneguknya


perlahan.


Pria bermata biru itu terdiam sesaat. “Terlalu awal. Tapi tidak apa, justru itu bagus” Jawab Jack.


“Ini akan jadi aliansi yang sangat besar” Kelar juga menatap gua.


“Para keparat itu, aku masih tidak yakin. Untuk mengambil alih benteng tidaklah cukup jika hanya mengandalkan kekuatan. Jika ingin mengambilnya maka perlu rencana yang brilian. Jika hanya Kongju dan Baxia. Aku yakin mereka akan mati dalam ambisi mereka saja” ucap Jack.


Kelar tahu betul siapa yang Jack bicarakan itu. Mereka berdua adalah ketua Geng dari masing Geng yang akan beraliansi. “Apa kau belum dengar tentang seseorang yang membelot dari Benteng itu?” Kelar bertanya memastikan.


Jack hanya diam. Yang menandakan Jack tidak tahu siapa yang Kelar maksud.


“Dia adalah mantan seorang kapten dari Benteng Elang Putih, aku dengar dia cukup pintar” ucap Kelar. Jack hanya menatap kosong. Hingga tiba-tiba “Eaaaaaaaaa” satu teriakan terdengar dari dalam gua gelap.


“Apa?” ucap Slimin terkejut. Terbangun dari tidurnya.


Jack yang diam memperhatikan, kini bangkit. Bergegas, terlihat memang menunggu momen seperti ini. Apakah memang teriakan itu yang membuat Jack begitu terpaku sejak terbenam matahari.  Apakah itu alasannya. Kelar benar-benar buta.


Tanpa kata Pria bermata biru itu pun berlari dengan cepat. Langkahnya menuju asal suara yang keluar dari mulut gua. Kelar yang juga mendengar itu juga ikut berlari. Mendekati gua yang gelap tempat peti kayu dan

__ADS_1


para budak di tahan. Sedangkan Pigoun masih berguling-guling di atas tanah. Seperti batang kayu bulat. Bolak-balik di tempat menirukan golekan sebatang pohon di lembah.


__ADS_2