
Melihat Pigoun yang tidak kunjung bangkit seperti awal-awal tadi.
Kelar pun berpikir Pigoun sudah benar benar di habisi “Apa dia mati?” ucap
Kelar khawatir. “Sudah ku bilang melompat” Kelar pun menurunkan peti hitam yang
ada di punggungnya. Bersiap akan melawan mahluk aneh itu.
“Apa yang kau lakukan” kata Jack. Menatap Kelar dengan sorot penuh
tanda tanya.
Aktivitasnya pun terhenti. Menatap balik pria bermasker putih.
Dapat ia lihat sorot mata biru menyala menatapnya dengan tajam. “Aku akan
membunuh mahluk itu” katanya yang tergesa-gesa.
Jack tanpa kata lagi, ia mengganggam lengan Kelar yang sedang sibuk
itu. Kelar dapat merasakan sentuhan itu meminta dirinya untuk undurkan niat,
atau bahkan terlebih terlihat mamaksa dirinya untuk tidak ikut campur. Ia pun
berhenti, marapikan peti hitam itu kembali. “Baiklah” kata Kelar. Sorot mata
yang memintanya untuk berhenti itu pun memudar. “Aku tidak mengerti Jack,
kurasa kau berhutang penjelasan” ucapnya sembari meletakan peti hitam di
punggung.
“Percaya saja padanya” kata Jack. “Dia hanya perlu waktu sebentar
lagi”
Kelar masih tidak tahu apa yang diharapkan dari seseorang yang
sudah babak belur. Dan lagi meski sudah terluka Pigoun tidak memperlihatkan
rasa putus asa awal tadi namun sejak ia masih belum bangkit dari serangan
terakhir itu membuat Kelar sedikit ragu membiarkan Pigoun bertarung seorang
diri. “Dia akan mati jika begini” ucap Kelar
“Dia akan bangkit” kata Jack. Tanpa keraguan.
Mahluk aneh itu pun menusuk dengan kuku tajam mengarah ke bebatuan tempat
Pigoun terkubur. Ia membabat berkali kali tanpa jeda sedikit pun. Jari-jemari
yang tajam bagai tombak itu naik turun dengan sangat cepat. Batu batu yang ada
sekitaran tempatnya menusuk berterbangan. Seperti tukang kebung yang sedang
membabat tananh dengan cangkul. Senyum lebar terukir di wajah mahluk bermata
satu. Mengerang aneh seperti tertawa namun bukan tawa layaknya manusia
melainkan terdengar seperti air yang mendidik di telinga Kelar.
Hingga mahluk itu menghentikan serangan. “Apa yang dilakukannya?”
ucap Kelar keheranan. Kelar melihat lagi dengan jelas apa yang terjadi. Masih
samar namun bisa ia lihat. Bukan mahluk itu menghentikan serangannya, melainkan
ada sesuatu yang memaksa mahluk itu berhenti. Jari jemari bulat putih itu
tertahan didalam tanah tempat Pigoun terkubur.
Pigoun perlahan terlihat bangkit. Tangan kanannya erat menggenggam
kuku tajam itu. kemudian ditariknya dengan kuat hingga membuat mahluk aneh itu
terdorong ke depan. Tanpa aba-aba satu pukulan keras menghantam wajah mahluk
aneh itu. Kepalnay bertemu dengn tongkat yang di tangan kiri. Membuatnya terhempas
__ADS_1
ketanah. Suara hemparan itu sampai mengetarkan gua yang gelap. Berbunyi seperti
ledakan yang kuat.
“Tidak buruk” kata Kelar lagi.
Pigoun melompat, menggunakan grativitasi untuk menambah beban
pukulannya dari udara. Dengan sangat cepat ia sudah tepat berada di atas kepala
mahluk aneh. Ia mengenggam erat tongkatnya, menarik nafas dalam dan satu detik
kemudian. Ia memukulnya dengan kuat.
Tepat pada mata tunggal yang ada pada bagian atas mahluk itu. Tanah-tanah
sekitar pun retak dan hancur. Bekeping-keping menjadi batu-batu kecil. Bergetar
dan bergemuruh seperti guntur.
“Tidak ku sangka dia masih punya kekuatan sebanyak itu” kata Kelar.
Ia tersenyum. Tidak pernah Kelar merasa malu pada diri sendiri. Namun kali ini
ia harus mengakui kalau dirinya telah meremehkan Pigoun. Kelar menarik kembali
pikiran yang sempat ia menghuni di kepala. Melihat Pigoun yang mampu membalas atau
bahkan akan mengalahkan mahluk itu, ia menjadi lebih tenang dan lega.
Keraguannya hilang. “Tapi satu hal yang masih aku belum mengerti kenapa dia
tidak mengelak serangan dari mahluk itu, kenapa harus repot-repot menerimanya”
ucap Kelar dengan nada penuh tanda tanya.
“Jika tidak begitu, kemampuan yang ia miliki tidak akan bangkit”
jawab Jack, “lihatlah sekarang ini”
Pigoun yang mereka lihat sekarang jauh berbeda dengan Pigoun yang
terasa lebih kuat. Kelar juga bisa merasakan batapa berbahayanya Pigoun bila
harus menjadi lawanya.
Mahluk itu pun bangkit sembari mengeluarkan suara seperti letupan
gunung berapi. Berteriak ia dengan keras. Cukup membuat Kelar dan Jack menutup
telinga, Namun tidak dengan Pigoun. Wajah mahkluk itu memperlihatkan ketidak
senangan. Menatap Pigoun dengan mata yang menyala. Kelar sempat mengira mata
itu akan pecah seperti kaca. Namun tidak terlihat luka yang cukup serius, hanya
goresan kecil yang membekas di lingkaran pupil mata mahluk itu.
Mahluk itu berdiri, terlihat jelas bagaimana perbedaan ukuran
antara Pigoun dengan mahluk itu. Walau begitu Pigoun tidak gentar sedikit pun.
Justru ia terlihat senang dan tersenyum. Ukuran bukanlah menjadi alasan untuk
kalah. Itulah yang tersirat di tatapan matanya.
Mahkuk itu meregangkan tangan bersiap untuk menyerang dengan
kukunya yang tajam. Satu detik kemudia kuku tajam itu mengarah pada Pigoun.
“Mari kita lihat” ucap Kelar ragu. Terbesik di kepalanya mungkin
saja Pigoun tadi hanya kebetulan bisa menahan serangan mahluk itu. Walau pun
sudah tahu aura yang menyelimuti Pigoun terlalu besar.
Ada yang aneh menurutnya dari Pigoun yang ada di depan matanya.
Tidak terlihat ada pergerakan ingin menyerang atau bertanah. Pria gempal itu
__ADS_1
hanya santai menatap tajam kearah mahluk yang ada didepannya. Sedangkan mahluk
itu sudah bersiap meregangkan tangan dan ingin menyerang dengan tamparan keras
lagi. Mahluk aneh itu menampar bersamaan dengan suara yang mengelegar. Tampak
jelas sekali ia ingin menghabisi Pigoun dengan tamparan kuku tajamnya.
Pigoun dengan santai menahan serang itu dengan satu tangan kirinya.
Dan serangan lain di tahan dengan tangan kanannya. Melihat hal tersebut membuat
mahluk aneh itu terlihat gagap. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Berulang kali ia melakukan serangan menampar dan manusuk dengan kuku, namun
yang terjadi tidak seperti pertama kali ia memukul Pigoun. Mahluk aneh itu pun
mengubah pola serangannya. Menggunkan kaki jenjang untuk melakukan sepakan
Horinzontal.
Kelar menatap dengan penuh harap supaya Pigoun tidak terlempar
seperti tadi. “Ini luar biasa” ucap Kelar. Tidak ia menyangka Pigoun punya
kemampuan yang begitu hebat.bahkan sepakan itu terlihat tidak ada artinya lagi.
Sepakan yang mahluk itu lancarkan sama sekali tidak beguna. Pigoun hanya
menggunakan satu tangan untuk menahan sepakan itu.
“Sekarang aku yang pukul” ucap Pigoun yang perlahan mendekat kearah
mahluk aneh itu. Dengan aura yang begitu besar menyelimuti tubuh Pigoun. Bahkan
bertambah berkali kali lipat. Membuat bulu di sekujur tubuh Kelar terangkat. “Apa
yang dia lakukan” ucap Kelar yang terkaget dengan perubuhan yang di alami oleh
Pigoun.
Jack yang hanya menjadi penonton pun bersuara “Itu adalah kemampuan
Pigoun yang sebenarnya” kata Jack.
Walau tidak mengerti sepenuhnya apa yang menyebabkan Pigoun bisa
bertambah kuat berkali-kali lipat dalam beberapa menit saja membuatnya bertanya
tanya, mungkinkah kekuatan Pigoun adalah semakin lama bertarung semakin
meningkatkannya pula kekuatan tempur di miliki oleh Pigoun. Kelar tidak
memiliki Referensi sama sekali akan kekuatan yang dimiliki oleh Pigoun.
Pigoun pun melompat. Mengambil ancang-ancang untuk memukul dengan
kuat. Walau secara fisik Pigoun jauh lebih kecil, namun yang Kelar lihat Pigoun
tidaklah kecil. Bahkan terlihat jauh lebih besar dari mahluk yang ada di depan
mereka itu.
Satu serangan itu di hadang oleh kedua tangan mahluk asing itu.
Dengan cepat kedua tangan yang mahluk itu sudah menutupi seluruh bagian
kepalanya. Walau begitu itu, tangan mahaluk itu juga tidak mampu menahan
pukulan tongkat yang Pigoun lakukan. Tangannya remuk bagai meja yang sudah
rapuh. Tertembus menimpa wajahnya yang tersembunyi. Yang membuat mahluk itu
mental ketanah. Suara bagai gempa pun terdengar. Mahluk itu terkapar bagai
batang kayu. Membuat gua yang gelap penuh dengan debu-debu yang berterbangan.
Dan retaknya tanah sampai pada tempat Kelar berpijak.
__ADS_1
“Luar biasa” ucap Kelar dengan penuh kekaguman.