
Pagi ini Clarisa berangkat kerja seperti biasa, suasana hatinya sedikit suram. Kemarin malam dia tidak dapat tidur karena memikirkan kejadian pembunuhan didepan matanya secara live.
Walaupun dia agak lega karena ia dijamin tidak akan dilibatkan dalam kejadian kemarin malam, tapi sebagian jiwanya masih merasakan shock dan takut. Terutama yang menjadi pikiran Clarisa adalah ia takut dihantui oleh semua korban tadi malam. Rasanya kemarin malam keparnoan Clarisa terhadap hantu berada di level tingkat tinggi. Tak sedetikpun ia dapat memejamkan matanya. Alhasil ia berangkat kerja dengan lunglai dan dengan kantung mata yang sangat terlihat jelas dibawah matanya.
Diperjalanan ke caffe, beberapa kali ia tertidur sambil berjalan karena mengantuk, ternyata ia memiliki penyakit walking sleep ketika ia merasa lelah tapi otaknya tetap merasa kalau ia harus menjalani rutinitas seperti biasa. Tidak jarang ia menabrak orang-orang sekitar dan mendapat beberapa makian karena keteledorannya. Dengan tekad yang lumayan kuat dan keinginannya untuk tidur, akhirnya ia sampai di caffe mister Nino.
Sesampainya di caffe, seharusnya Clarisa segera mengganti pakaiannya dengan seragam caffe diruang ganti. Tapi karena ia berada dalam keadaan setengah sadar, ia malah berjalan kearah toilet dan masuk ke toilet cowok.
"YA AMPUN CLARISSA, APA YANG KAU LAKUKAN DI TOILET PRIA," teriak Leo manager caffe mister Nino, begitu melihat Clarissa didalam toilet. Ternyata Leo baru saja menyelesaikan buang hajatnya, dan kaget melihat Clarissa yang masuk toilet cowok dengan mata setengah terpejam, bahkan ia belum sempat menaikkan resleting celananya dengan benar.
"Loh pak bos, pak bos ngapain disini? ini kan ruang ganti untuk cewek. Pak bos ngintip yaa" kata Clarissa masih dengan mata setengah terpejam dan sesekali menguap. "Rissa ngga nyangka kalau pak bos memiliki rahasia terpendam juga," kata Clarisa lagi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"RAHASIA TERPENDAM GUNDULMU, SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU,"teriak Leo yang masih kesusahan menaikkan resleteing celananya karena terburu-buru. "SEKARANG KELUAR CEPAT," teriak Leo lagi.
"Loh, kenapa saya yang keluar? seharusnya pak bos yang keluar,"
Tiba-tiba pintu toilet terbuka dan ternyata Nino yang masuk kedalam toilet. Leo tampak kaget dengan kedatangan Nino, dia tak menyangka jika bos besarnya akan terlibat kejadian memalukan ini.
__ADS_1
"Ada apa ini Leo?" tanya Nino penasaran.
"Mister Nino, em i it itu." Leo tampak gugup menjawab pertanyaan Nino.
Nino melihat Clarissa yang tertidur sambil berdiri menyandar didinding toilet. Nino sempat takjub melihat tingkah Clarissa, baru kali ini dia melihat orang tidur sambil berdiri.
"Clarissa" panggil Nino, namun Clarisa tidak bergeming. Nino berjalan kearah Clarissa, Nino akan mencoba membangunkan Clarissa. Saat Nino menyentuh pundak Clarisa perlahan, dengan tiba-tiba tangan Nino dipegang Clarisa dan dalam waktu singkat Clarisa langsung memelintir tangan Nino kebelakang punggungnya. Nino sedikit kaget, bila ia tidak ingat jika ia dalam penyamaran, mungkin dia akan membalikkan keadaan dengan kembali memelintir tangan Clarissa. Namun, karena ia ingat dengan penyamarannya, ia tidak melakukan apa-apa dan membiarkan tangannya dipelintir Clarissa , bahkan dia memperlihatkan raut wajah kagetnya dan sedikit rasa sakit.
"Ad aduh, Clarissa apa yang kau lakukan," rintih Nino dalam aktingnya. Rintihan Nino tidak berarti apapun bagi Clarisa, karena ia masih dalam keadaan setengah sadar. Semua yang melihat kejadian itu hanya bisa kaget dan terperangah. Ricko lah yang pertama kali bertindak dengan mengguncang bahu Clarissa dan membangunkan Clarisa.
"Clarissa bangun, bangun, HEY." Ricko mencoba dengan sangat keras membangun Clarissa, tapi dia tidak bangun sama sekali. Bahkan tangan Clarissa makin kuat memelintir tangan Nino, dalam hati Nino mengumpat keras atas kejadian yang menimpanya.
Tiba-tiba Clarissa terbangun, otaknya mulai bekerja dengan sadar. Peringatan keras berdentam dikepalanya bahwa musuh cilik yang sangat ditakuti berada disekitarnya, dengan cepat dia melepaskan tangannya yang memelintir tangan Nino dan segera melompat keatas wastafel. matanya bergerak keseluruh arah mencar keberadaan makhluk yang paling ia takuti.
Ricko hamper saja menyemburkan tawanya saat menyaksikan tingkah Clarissa yang ketakutan mendengar kata kecoa, begitu juga dengan Leo dan Nino. Meski Nino terlihat sedang memegang tangannya, pura-pura menahan sakit.
"Mana kecoa, mana?" kata Clarissa takut-takut. Tiba-tiba seakan tersadar akan sesuatu. Dia terdiam sejenak dan berpikir. Matanya memancarkan kebingungan yang sama sekali tidak ia pahami. Ia bingung sebenarnya ada dimana, ia juga bingung dengan keberadaan Ricko, Nino dan Leo, serta didepan pintu ia juga melihat orang-orang melihat kedalam ruangan.
__ADS_1
"Em, ada apa ini? Rissa sekarang ada dimana?" tanya Clarissa bingung. Semua yang mendengar pertanyaan Clarissa hanya bisa melotot ksget dengan tatapan tidak percaya. WTH gadis ini memang … mengesalkan?
"Seharusnya kami yang bertanya Clarissa, apa yang kau lakukan di toilet cowok?" tanya Nino gemas.
Clarisa malah celingak celinguk tidak jelas. Dan respon yang diberikan Clarisaa membuat orang yang mendengar tambah sakit kepala, "Oh, jadi toilet cowok itu kayak gini, wahh," kata Clarissa takjub.
Nino benar-benar tidak percaya dengan tingkah Clarissa yang kelewat ajaib. "Clarissa turun dan ikut keruangan saya," perintah Nino tegas dan berlalu keluar dari toilet. Clarissa mengangguk dan mengikuti Nino.
Clarissa turun dari wastafel dan menatap Ricko dan Leo bergantian. "Chef, pak Bos, sebenarnya ada apa sih?" tanya Clarissa penasaran. "Pak bos kenapa bisa ada disini?" tanya Clarissa.
"Seharusnya saya yang tanya kamu, tau? kamu bilang saya tukang intip, padahal seharusnya saya bilang begitu," kata Leo kesal.
Clarissa menatap Leo dengan instes, Leo sedikit gugup diperhatikan seintens itu oleh Clarissa. "A ap apa?" tanya Leo gugup.
"Saya ngga nyangka kalau bapak punya rahasia terpendam,” kata Clarissa santai sambil berlalu keluar toilet. Ricko menutup mulutnya manahan tawanya yang hampir tersembur keluar lagi mendengar perkataan Clarissa, sedangkan wajah Leo memerah, sangat merah karena manahan amarahnya.
"CLAARIISSAAAAAA."
__ADS_1
.
.