Love & Gun

Love & Gun
PART 3


__ADS_3

Didalam cafe bernuansa Eropa, Seorang wanita cantik terlihat asyik bekerja membersihkan meja sambil bernyanyi. Ia bernyanyi dengan semangat tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Lagu sambalado yang terdengar dari headsheet yang dipasang ditelinganya, menjadikan ia tambah semangat bergoyang. Kegiatannya mendengarkan lagu sambil membersihkan meja menarik perhatian beberapa pengunjung. Setiap yang melihat wanita itu, pasti akan tertawa atau paling tidak geleng-geleng kepala.


Manager cafe yang melihat tingkah gadis itu menepuk kening-nya. Bukan sekali dua kali ia memberikan peringatan pada gadis itu agar tidak bernyanyi dengan keras saat bekerja, tapi berkali-kali. Bayangkan saja, cafenya yang memiliki tema Eropa harus rusak suasananya dengan lagu dangdut yang dinyanyikan gadis itu.


"Risa" panggil Leo pada gadis itu, namun tidak ada respon dari gadis itu.


"Risa" panggil Leo lagi.


"CLARISAA" teriak Leo yang tidak sabar. Namun, Clarisa masih berjoget dan bernyanyi dengan semangat. Beberapa pengunjung tertawa melihat tingkah Clarisa, namun ada juga yang merasa terganggu dan mencibir tingkah Clarisa yang terlihat kampungan.


Seorang wanita -berpakaian sama yang dikenakan Clarisa- berjalan mendekati Clarisa. Ia mengguncangkan tubuh Clarisa. Clarisa merasa terganggu, ia menghentikan goyangannya dan membuka matanya serta melepaskan headshet ditelinganya. Ia melihat temannya menatap dirinya cemas. Ia pun memasang raut wajah bertanya ada apa padanya.


Temannya memberikan kode untuk melihat kesamping, Clarisa bingung melihat tingkah temannya. Ia pun melihat kearah yang dikodekan temannya. Disana ia melihat sang manager menatapnya tajam. Clarissa tertawa cengengesan sambil menggaruk kepalanya dan menggerutu. Ia melihat ke temannya dengan raut wajah "mati aku."


Clarisa menarik nafas panjang dan berjalan perlahan mendekati manager nya sambil komat kamit berdoa untuk keselamatannya.


"Hehehe, pak bos" Clarisa cengengesan. Sedangkan Leo menatap tajam Clarisa, Ia mengulurkan tangannya.


Clarisa mengerti apa yang diminta bosnya. Dengan perlahan ia melepaskan headshet yang melingkar dilehernya dan mengambil mp3 player yang berada disakunya. Ditatap benda kesukaannya yang berada ditangannya, dan dengan seperdelapan hati, ia pun menyerahkan mp3 playernya kepada managernya.


"Benda ini disita selama seminggu" tegas Leo sambil membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Clarisa.


"APA?? Pak bos, yang benar saja. Biasanya juga sampai pulang kerja.” Clarisa tidak terima.


Leo berhenti berjalan dan membalikkan badannya. Ia menghadap Clarisa dan menatap Clarisa kesal.


"Kau perlu hukuman tambahan Risa, sudah berkali-kali kuperingatkan. Ini cafe nuansa Eropa bukan nuansa orkes dangdut. Kau boleh mendengarkan music dangdut-mu di rumah, bukan ditempat kerja. Paham?" Teriak Leo padanya. Clarisa hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya.


"Dan mulai sekarang, kau dilarang menyanyi dangdut" tegas Leo.


"APA?" Teriak Clarisa, "itu tidak mungkin pak bos? My life is dangdut eh dangdut is my life, Eh, yang benar apaan sih? Ah masak bodoh. Pokoknya dangdut adalah hidupku, pak bos. Tidak mungkin saya tidak menyanyi dangdut" Clarisa menatap Leo dengan penuh permohonan.


"Whatever, Risa. pokoknya kamu sudah kuperingatkan. Awas saja kalau aku mendengarmu menyanyi dangdut, kau akan ku hukum" Leo menatap Clarisa tajam.


Clarisa yang mendengar kata "hukum" langsung menciut nyalinya. Awalnya ia ingin membantah Leo jadi tidak berani.


"Sekarang kembali bekerja."


Leo pun pergi meninggalkan Clarisa. Tiba-tiba ia berhenti, "oh iya, Clarisa. Kalau tidak bisa bahasa inggris jangan sok berbahasa inggris. Benarkan dulu bahasamu. Bahasa indonesia saja kamu masih belepotan" kata Leo sambil menggelangkan kepalanya dan berlalu dari hadapan Clarisa.


Mendengar perkataan bosnya Clarisa melotot dan mengumpat pelan pada bosnya.


Teman Clarisa yang menegurnya tadi, tertawa kecil dan berjalan mendekati Clarisa seraya menepuk pundaknya pelan. "Makanya, jangan membantah pak bos. Kamu sudah berkali-kali diingatkan, tapi tetap saja menyanyi dangdut, pake goyang itik lagi"

__ADS_1


"Biarin deh, suka-suka gue dong. Lagian apa salahnya sih nyanyi dangdut, kan asyik." Clarisa menggerutu sambil berjalan medekati meja untuk mengambil pesanan yang diikuti oleh temannya dari belakang.


"Lagian ya Via, kenapa juga pak bos sok sok an make bikin cafe tema eropa. Tema india gitu kek. Pastikan seru, bakal ada musik india tiap hari" kata Clarisa lagi.


Via menatap Clarisa tak percaya. Gila banget kalau cafe ini disetelkan lagu india tiap hari. Via tau, selain penggila dangdut, Clarisa sangat menyukai filem dan musik india. Berbeda dengan dirinya yang penggila Korea. Kalau Via malah berharap kalau Cafe ini bernuansa Korea.


"Yee, dari pada India. Mending Korea deh," kata Via.


Clarisa mencibir, siapa juga yang senang melihat cowok cowok cantik. Clarisa anti Cowok feminim, ia lebih suka dengan cowok macho. Kayak Rhitik roshan gitu, kan keren.


"Mau india kek, korea, jepang. Mending kalian mengantar pesanan ini sebelum pak bos memarahi kalian lagi." Sebuah perintah menginterupsi percakapan mereka. Dibalik meja untuk mengambil pesanan, terlihat seorang pria yang mengenakan seragam layaknya seorang chef sedang membawa nampan yang berisikan pesanan pelanggan.


"Siap, chef Ricko" Clarisa memberi hormat kemudian mengambil nampan yang dipegang Chef Ricko.


Ricko hanya menggelengkan kepalanya. "Dan kau Via, cepat bereskan meja yang kotor disana"perintahnya lagi.


"baik chef" jawab Via dengan senyuman malu-malu. Sudah rahasia umum kalau Via menyukai Ricko. Wajah Ricko yang mirip dengan Song jong ki, aktor korea favoritnya membuat Via menggilai Ricko. Tapi sayang, Ricko sudah memiliki tunangan. Jadi, Via hanya bisa menyimpan perasaannya pada Ricko. Ricko sendiri juga sudah tahu akan perasaan via padanya, hanya saja Ricko menutup mata dan hatinya, karena ia lebih mencintai tunangannya dari pada Via.


Poor Via.



Sore hari adalah waktu ramai-ramainya pengunjung cafe. Terlihat Clarisa, Via dan teman-teman seprofesinya sibuk melayani pelanggan. Mencatat pesanan, memberikan pesanan, dan membersihkan sisa-sisa makanan pengunjung, semua pekerja tampak semangat melakukan pekerjaannya.


Selain nuansa cafe yang sangat cocok dengan anak muda, musik yang diperdengarkan pun tidak terlalu keras dan cukup merilekskan pikiran serta hati para pengunjung yang lelah dengan aktivitas mereka. Belum lagi pelayanannya yang ramah dan cepat tanggap akan keinginan para pelanggan, membuat para pelanggan betah berlama-lama didalam cafe.


Via memberikan kode pada Clarisa untuk mendekati bos mereka. Clarisa yang paham akan maksud Via, segera berjalan menuju Leo yang berdiri di depan pintu Cafe.


"Pak bos, ada apa?" Tanya Clarisa.


Leo mendengar suara Clarisa segera menatap Clarisa. "Risa, sebentar lagi akan ada tamu penting cafe ini. Saya harap kamu bisa menjaga sikapmu, dan jangan menyanyi dangdut" kata Leo memperingati Clarisa.


Clarisa merengut dan mengerucutkan bibirnya. "Memang siapa sih pak bos. Pak bos gini amat sama tamu itu?"


"Aduh Risa, kamu jangan banyak tanya deh. Yang datang pemilik café yang sebenarnya." Leo kesal melihat Clarisa.


"Loh, bukan mister Nino pemilik café ini, Bos? Biasanya mister Nino datang, pak bos ngga gini-gini amat" kata Clarisa lagi.


"Aduh udah deh, ngga usah banyak tanya. kamu kembali sana bekerja. Hush hush hush" usir Leo.


Clarisa makin mengerucutkan bibirnya karena diusir bos-nya. Clarisa tak habis pikir, setahunya pemilik cafe ini adalah Mister Nino. Ia baru tahu kalau mister Nino bukanlah pemilik asli dari cafe ini.


Tak lama kemudian, tampak tiga orang pria masuk ke dalam cafe. Pria-pria yang masuk tadi terlihat tampan dan memesona. Salah seorang diantara pria-pria tampan itu, ada yang menarik perhatian Clarissa, yaitu pria yang memiliki tatapan tajam dengan luka diwajah nya. Pria tersebut tetap terlihat tampan, walaupun terdapat luka codet diwajahnya. Bagi beberapa wanita, mungkin mereka akan jijik dengan luka codet yang terdapat pada wajah pria itu, namun bagi yang memiliki selera pria aneh seperti Clarisa, tak akan menjadikan luka itu penghalang ketampanan pria itu.

__ADS_1


Lihat saja sekarang Clarisa sedang ternganga melihat pria itu. Via yang melihat Clarisa segera menepuk dahinya. Ia yakin, sebentar lagi Clarisa pasti akan di marah lagi.


Merasa ada yang memperhatikannya, pria dengan luka diwajah mencari asal tatapan yang terarah padanya. Dilihatnya seorang wanita mungil yang melihatnya dengan mulut terbuka dan tatapan terpesona.


"ada apa Michael?" Tanya salah seorang temannya. Michael tidak merespon pertanyaan temannya, ia tetap diam menatap Clarissa yang sedang memperhatikan dirinya.


Karena tidak mendapat respon dari Michael, laki-laki yang bertanya pada Michael tadi melihat arah pandang Michael. Dia pun tersenyum saat melihat salah satu pegawainya yang ternganga melihat Michael.


laki-laki yang bertanya itu, bernama Nino. Pengelola cafe tempat Clarissa bekerja. Saat ini Nino tak habis pikir, biasanya wanita yang melihat Michael akan terlihat jijik dan memasang muka palsu untuk mendapat perhatian Michael, tapi tidak dengan gadis mungil itu. Siapapun pasti bisa lihat kalau gadis itu terpesona pada atasannya itu. Ia pun berinisiatif memanggil pegawainya itu.


"Risa" panggilnya, namun tak ada respon.


"Risa" sekali lagi ia memanggil Clarisa, namun masih juga tidak ada respon. Akhirnya ia pun berjalan mendekati Risa. Sedangkan Leo hanya bisa menyembunyikan wajahnya karena malu melihat tingkah Clarissa.


Nino mendekati dan berdiri dihadapan Clarisa. Clarisa yang pemandangan indahnya terhalang oleh badan Nino yang tinggi dan cukup besar, mencoba melihat pria tampan dengan berjinjit-jinjit.


"Mister, minggir dong," katanya yang masih berusaha melihat pria tampannya.


Nino hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya meilhat tingkah Clarisa.


"Clarisa, bila semua pelangganku kau lihat seperti itu, tentu pelangganku akan kabur," kata Nino.


"Ah mister, kan jarang-jarang saya melihat cowok cakep, tampan and macho seperti dia. Jadi, please dong mister minggir, ntar dia kabur lagi," kata Clarisa beralasan.


"Risa, kembali bekerja," kata Nino dengan nada bossy agar Clarissa segera mengalihkan pandangannya dari Michael.


"Yah, mister ngga asyik." Clarisa mengerucutkan bibirnya dan berjalan meninggalkan Nino dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Risa, jalan yang benar. Jangan seperti anak kecil!" Teriak Nino yang gemas melihat tingkah Clarisa. Clarisa yang mendengar teriakan Nino membalikkan badan dan meleletkan lidahnya mengejek Nino. Nino tertawa melihat tingkah Clarisa.


Leo yang melihat Risa mengejek Nino segera melotot pada Clarisa. Namun Clarisa mengabaikan pelototan Leo.


"Tuan Michael, maafkan sikap pegawai kami. Dia memang seperti itu, selalu bertindak semaunya" kata Leo yang meminta maaf pada Michael.


Michael hanya diam menanggapi. Dilihatnya Nino berjalan mendekat kearahnya sambil menahan senyum.


"Baru kali ini aku mendengar wanita yang memujimu dan melihatmu sampai ingin meneteskan air liurnya." Nino berkata sambil terkekeh pelan.


Michael mengabaikan ucapan Nino dan bersikap acuh. Meskipun begitu, tak elak hatinya sedikit tergelitik atas kejadian ini. Ia tak menyangka kalau dirinya terlihat memesona bagi gadis itu.


"Sebaiknya kita keruanganmu," kata michael dengan suara dinginnya.


Nino hanya menggelengkan kepalanya melihat reaksi Michael. Ia pun berjalan menuju ruangannya yang berada dilantai dua diikuti Michael dan asisten Michael. Sedangkan Leo, ia sudah lebih dulu diminta untuk kembali ke posisinya dan menyiapkan apa yang diperintahkan oleh Nino sebelum ia sampai di cafe.

__ADS_1


.


.


__ADS_2