Love & Gun

Love & Gun
PART 5


__ADS_3

"Dasar lelaki buaya darat" umpat Clarisa yang terdengar oleh Via dan Ricko yang berada di meja penerima pesanan. Clarisa dan Ricko saling berpandangan, mereka merasa aneh akan sikap Clarisa yang tiba-tiba saja menggerutu tidak jelas. Padahal sebelumnya, ia berteriak kegirangan karena akan bertemu dengan pria tampannya.


Via mendekati Clarisa dan menanyakan permasalahan Clarisa.


"Kenapa chibi? Bukankah seharusnya kau senang sudah berjumpa dengan pria tampanmu? Tapi kenapa aku malah melihat wajah cemberutmu?" panggilan chibi yang ditujukan padanya semakin membuat Clarisa kesal.


"kau tau Via, aku kesel dengan pria itu" Clarisa berjalan dan duduk dikursi istirahat khusus pegawai, Via pun duduk disamping Clarisa.


"memangnya apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Via.


Clarisa menatap Via sebal, kemudian ia membisiki Via apa yang dilakukan pria itu hingga membuatnya kesal. Mendengar bisikan Clarisa, mata Via membulat lebar.


"APA? Gila!" seru Via kaget, "ya sudah, kalau gitu lupakan saja dia, cari pria lain" kata Via Sambil tersenyum lebar.


"tidak bisa, aku sudah Fall Love dengan dia" kata Clarisa mendramatisir keadaan.


Via mencibir, "Fall Love? Apaan tuh? Maksudmu Falling in love, chibi-chan" Via menjawil dagu Clarisa.


"iya, itu maksudku. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama, kau tahu sendirikan selama ini aku belum pernah jatuh cinta pada pria" kata Clarisa lagi.


Via mengernyitkan alisnya," darimana kau yakin kalau kau jatuh cinta dengannya?" tanya Via penasaran.


Clarisa menaikkan kedua bahunya, tanda tidak tahu. Dia hanya merasa ada tarikan yang kuat dari pria itu, hingga membuatnya penasaran dan sekaligus terpesona dengan wujudnya yang indah.

__ADS_1


Selama ini Clarisa bertanya-tanya, kenapa ia belum merasakan cinta diusianya yang sudah berkepala dua? Tidak hanya itu, selama ini tidak ada seorang pria yang mengutarakan perasaan padanya, atau setidaknya tertarik pada dirinya. Tak menemukan jawaban, ia pun berinisiatif bertanya pada Via.


"Via, kok tidak ada lelaki yang suka padaku ya? Bahkan pak bos saja alergi padaku.” Clarissa menatap Via penuh tanya.


Mendengar pertanyaan Clarisa, Via tersenyum geli.


"Itu karena kau penggila dangdut yang lebay, Ris. Laki-laki tidak akan ada yang mau, bila melihat tingkahmu yang aneh suka joget-joget ngga jelas didepan pelanggan." Via nyengir lebar menjawab pertanyaan Clarissa, sedangkan Clarissa malah manyun.


"aduh Via ku sayang, tingkahku ini bukan aneh, tapi unik. Mana ada gadis seimut dan seunik diriku" Clarisa membanggakan dirinya menampilkan senyum lebarnya.


"Bla bla bla terserah kau saja. Jadi apa yang akan kau lakukan pada pria tampanmu itu?" Tanya Via mengubah pembicaraan.


"aku tidak tahu, lihat nanti deh,” sahut Clarissa malas.”Sudah ah, Rissa mau kerja lagi, sebentar lagi shift Rissa selesai. Rissa ingin segera pulang, nanti malam Rissa harus kerja lagi di restoran" Clarisa bangun dari duduknya dan meninggalkan Via yang masih menatapnya lekat.


 


Gadis berbadan mungil itu bernama Clarisa Ratna purnama, hobynya mendengar music dangdut dan minum susu. Tinggi badan nya hanya 150cm, wajahnya imut-imut seperti anak SMP padahal usianya sudah 20 tahun. Keinginan terbesarnya, ia ingin memiliki toko roti sendiri, bukan karena ia pandai membuat roti, tapi selain minum susu ia sangat suka makan makan roti. Tapi sayang, keinginannya belum bisa terkabul karena ia masih memiliki hutang yang harus ia lunasi.


Clarisa hidup sebatang kara dirumah peninggalan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Clarisa sudah meninggal sejak ia berusia 10 tahun karena kecelakaan lalu lintas. Kedua orang tua Clarisa adalah anak tunggal, sehingga Clarisa tidak memiliki saudara. Sejak kematian kedua orang tuanya, Clarisa dirawat oleh pasangan suami istri –tetangga samping rumahnya- yang tidak memiliki anak. Saat kedua orang tua Clarisa meninggal tetangganya pun sepakat untuk mengadopsi Clarisa.


Tapi sayang, saat Clarisa menginjak kelas 3 SMP, ibu angkatnya meninggal karena sakit. Saat ibu angkatnya masih dirawat dirumah sakit, ayah angkatnya berusaha sebaik mungkin untuk mencari dana guna pengobatan ibu angkatnya. Namun, walaupun uang sudah diperoleh dengan meminjam uang ke sanak saudara ayah angkatnya, tapi uang tersebut tidak bisa menyelamatkan ibu angkatnya. Operasi yang dilakukan dokter tidak membuat ibu angkatnya lebih baik, karena penyakit yang diderita oleh ibu angkatnya sudah terlampau parah. Setelah kematian ibu angkatnya, beberapa bulan kemudian ayah angkatnya ikut menyusul ibu angkatnya. Ayah angkatnya meninggal karena kecelakaan ditempat kerja. Alhasil, sekarang Clarisa hidup sebatang kara dengan memiliki utang di yang harus ia bayar ke saudara ibu angkatnya. Saudara-saudara ibu angkat Clarisa tidak menyukai Clarisa kerana mereka menganggap Clarisa adalah anak pembawa sial. Mereka menganggap karena kesialan Clarisa, kedua orang tua angkatnya meninggal dunia.


Clarisa hanya tamat SMA, setelah lulus SMA ia bekerja di dua tempat yaitu di Café dan di restoran. Kedua tempat tersebut milik mister Nino. Mister Ninolah yang membayar semua utang Clarisa pada saudara ibu angkatnya saat ia melihat Clarisa diusir dari rumah orang tua angkatnya. Nasib baik, Clarisa masih memiliki rumah peninggalan orang tuanya, sehingga Clarisa bisa tinggal dirumah peninggalan orang tuanya. Awalnya, Clarisa menolak bantuan mister Nino, namun karena mister Nino memaksa akhirnya Clarisa menerima bantuan mister Nino. Mister Nino menawarkan Clarisa untuk bekerja di cafenya dengan potong gaji 25% tiap bulannya. Akhirnya ia dapat sedikit merasa lega. Setidaknya ia tidak memiliki beban hutang dalam hidupnya.

__ADS_1


Clarisa bekerja di restoran hanya untuk menambah penghasilan saja. Setelah dirasa uangnya cukup, ia berencana untuk melanjutkan kuliahnya. Walaupun ia sudah ditinggal lama oleh kedua orang tuanya. Pesan yang disampaikan kedua orang tuanya sekaligus orang tua angkatnya selalu dia ingat, mereka ingin Clarisa menempuh pendidikan yang tinggi agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Ia berencana untuk kuliah dijurusan manajemen, karena bila mengambil jurusan itu, ia dapat membangun toko Roti impiannya.


Clarisa bekerja di restoran mewah yang bernuansa Italy. Dia bekerja sebagai pelayan pengantar pesanan. Ia sudah bekerja selama 6 bulan di restoran tersebut. Pekerjaannya selalu mendapatkan pujian dari managernya. Berbeda saat ia bekerja di café mister Nino, di restoran ini Clarisa selalu menjaga imejnya, ia tidak pernah berjoget dan menari dangdut. Hal ini membuat Leo tidak habis pikir.


Leo pernah memperhatikan Clarisa yang sedang bekerja di restoran, ia sempat ternganga ketika melihat Clarisa yang serius bekerja dan terlihat profesional. Ia tak menyangka kalau Clarisa terlihat sangat berbeda ketika bekerja di cafenya dan di restoran. Karena itulah, Leo selalu geram bila melihat Clarisa menyanyi dan berjoget dangdut di café. Tak seperti di restoran tersebut, Clarisa selalu membuatnya malu ketika sedang bekerja di café.


Hari ini, di restoran tempat Clarisa bekerja sedang mengadakan acara pesta, sehingga mau tak mau ia harus lembur. Bagi Clarisa lembur itu tidak buruk, karena gaji yang akan diperolehnya jadi bertambah. Walau ia harus pulang lewat tengah malam, ia tetap senang-senang saja, demi gaji lemburnya yang menurutnya lumayan bisa menambah uang jajan.


Setiap pulang kerja, Clarisa pulang berjalan kaki. Jarak dari tempat kerja Clarisa ke rumahnya tidak terlalu jauh, bila ia melewati jalan potong. Hanya saja, jalan potong yang dimaksud cukup gelap dan sepi. Karena itulah ia jarang mengambil jalan potong itu dan lebih memilih jalan memutar yang cukup jauh.


Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Clarisa akan mengambil jalan potong. Entah kenapa, ia tergerak untuk mengambil jalan potong, padahal biasanya jika malam sudah larut, ia lebih memilih jalan memutra yang cukup jauh tetapi masih terlihat ramai.


Saat ini, jalan potong yang dilalui Clarisa terasa agak gelap. Lampu jalan yang ada dijalan tersebut tidak ada yang nyala sama sekali, hanya cahaya bulan lah yang menjadi penerang jalan Clarisa.


Saat Clarisa berada di tengah gang, Ia mendengar ada keributan didepan. Ia pun segera berlari mendekat untuk melihat apa yang terjadi disana.


Oh my god!!!


kenapa ada tawuran tengah malam gini??


.


.

__ADS_1


__ADS_2