
Di sebuah ruangan besar dengan dinding menjulang tinggi, tampak beberapa pria dengan setelan jas rapi duduk di masing-masing kursi yang tersedia pada meja oblong table berukuran besar. Ruangan yang yang terang dengan tinggi watt lampu yang terpasang tidak mampu menghilangkan aura mencekam yang memnuhi ruangan tersebut. Semua penghuni ruangan tersebut saling mengintimidasi satu sama lain, terutama yang duduk di setiap kursi yang tersedia. Masing-masing dari mereka di temani oleh tangan kanannya masing-masing, seolah menunjukkan diri mereka adalah yang terkuat dan terbaik.
“Kau menghabisi Petroza begitu saja?” tanya seorang pria yang memiliki tampang seram dengan rahang keras dan tatapan mata yang tajam.
Michael mengangkat alisnya seolah pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan karena jawaban dari pertanyaan itu sudah jelas. “tentu saja tuan Alex, kenapa tuan Michael harus menyayangi musuh yang ingin menghancurkannya?” Reza yang mendampingi Michael menjawab pertanyaan lelaki bertampang seram bernama Alex dengan senyuman poker face khasnya.
“tsk.” Alex tampak tidak senang dengan jawaban Reza. Sebenarnya ia hanya tidak suka jika Michael tidak menjawab pertanyaannya. Padahal mereka sudah lama melakukan pertemuan seperti ini dan semua orang yang berada di ruangan tersebut sudah tau ciri khas Michael. Michael tidka akan pernah mau menjawab pertanyaan yang menurut dirinya tidak penting, namun jika pertanyaan tidak penting seperti yang ditanyakan Alex tadi keluar, maka yang akan menjawabnya adalah Reza, sedangkan Dante yang berada disisi kanan Michael tetap tenang dan diam sama seperti bos-nya. Ia tidak akan berbicara bila bukan Michael yang mengajaknya berbicara.
“seharusnya kau cukup memberi peringatan saja, Michael,” kata orang lain lagi dengan wajah tampan yang terlihat menipu dengan seringnya seringaian kejam hadir dari bibirnya.
“tidak ada kata peringatan dalam kamus tuan Michael, tuan Edward” kata Reza lagi.
“Oh Reza, berhentilah menjawab setiap pertanyaan yang terlontar untuk Michael,” kata pria gendut yang jengah melihat setiap pertanyaan yang ditujukan untuk Michael akan dijawab oleh Reza.
“maafkan saya, tuan Garold. Saya tidak bermaksud menyinggung tuan-tuan semua, tapi memang ini sudah menjadi tugas saya. Jika tuan saya tidak berniat bicara maka saya yang menggantikannya bicara,” kata Reza tanpa takut dengan nada santainya. Michael tersenyum miring mendengar jawaban Reza. Ia memang sudah tau watak Reza, walaupun ia selalu memasang senyum palsu di wajahnya, kadang ia tidak sabar jika menyangkut dirinya yang malas bertindak untuk hal-hal kecil. Menurut Michael, hal kecil tidak perlu diurus karena hal ini hanya akan membuatnya repot. Namun, bagi Reza hal-hal kecil juga harus di urus karena hal kecil bisa saja menjadi hal yang besar. Michael tidak membenarkan juga tidak menyalahkan ucapan Reza, karena itu ia selalu memberi kebebasan Reza berbicara atas namanya. Michael juga tau kalau Reza tidak akan berani melangkah atau berbicara terlalu jauh tanpa sepengetahuan dan tanpa seizinnya, karena itu ia tidak pernah khawatir denga setiap jawaban yang dilontarkan Reza. Entah ini kebetulan atau tidak, dengan hafalnya sikap dan prilaku Michael semua jawaban yang di jawab oleh Reza memang sesuai dengan jawaban yang seharusnya dilontarkan oleh Michael.
Alex mengibas tangannya tidak ingin mendengar jawaban Reza lagi, ia pun memilih menyudahi percakapan yang selalu saja disinggung ini dengan membicarakan masalah lain. “kalau begitu, bagaimana dengan pembagian wilayah yang terabaikan karena hancurnya Petroza dan antek-anteknya?” tanya Alex.
“Aku tidak menginginkannya,” jawab Michael singkat padat dan jelas.
Beberapa orang yang hadir disitu menaikkan alisnya, “kenapa?” tanya Simon yang merupakan pemimpin mafia yang sangat jarang berbicara.
“tidak ada hal khusus, aku hanya tidak menginginkannya” kata Michael lagi.
“kau tahu, jika kau berkata seperti itu. Kau seperti terlihat bosan dengan kehidupan dan duniamu saat ini,” kata Garold, pria gendut yangberusia paling tua diantara semua penghuni di ruangan tersebut.
Michael mengedikkan bahu mendengar perkataan Garold. Sempat ia bertanya pada dirinya sendiri, benarkah ia sudah bosan dengan kehidupannya saat ini? Ia sendiri juga tidak tahu, yang jelas ia sudah tidak memiliki minat untuk meneruskan semua kegiatan yang sudah dijalani selama belasan tahun.
Troy dan Digo yang sedari tadi diam dan tidak berminat untuk mencampuri segala yang ada di pertemuan hari ini, jadi tampak tertarik ketika mendengar perkataan Garold. Digo yang tidak percaya akan perkataan Garold malah bertanya pada Micchael, “benarkah itu Michael?” tanya Digo, namun Michael mangabaikan pertanyaan Digo.
__ADS_1
“apakah ini karena wanita itu?” tanya Digo yang membuat semua orang yang berada di ruangan itu tersentak kaget, bahkan Michael dan Troy. Troy tampak menggeram kesal pada Digo karena tidak bisa mengendalikan mulutnya.
Para pemimpimpin yang mendengar pertanyaan Digo, terlihat menyeringai senang. Digo adalah sahabat dekat Michael, sudah pasti berita baru ini bukan sekedar berita. Ini seperti menggali lubang mereka sendiri, piker para pemimpin mafia.
“tutup mulutmu Digo,” perintah Troy kesal, sedangkan Michael menajamkan matanya pada Digo. Seharusnya Digo sudah tahu, maslaah ini seharusnya hanya dibicarakan dengan sesama mereka dan tidak seharusnya disinggung di pertemuan seperti ini.
“well well well, jadi benar kau sudah bosan karena kehadiran seorang wanita?” Alex menyeringai senang. “ aku tidak menyangka kau selemah itu terhadap perempuan Michael, sepanjang pengetahuanku kau memang tidak memiliki minat dengan seorang wanita, sekarang aku penasaran wanita seperti apa yang telah membuatmu seperti ini,” kata Alex lagi yang membuat Michael terpancing emosi.
“tutup mulutmu, bajingan.” Michael bangun dari kursinya seraya melemparkan gelas yang sedari tadi dipegangnya pada Alex. Sedangkan Alex menangkis gelas yang dilemparkan Michael, namun si tangan kanan Alex bergerak cepat dengan mendodongkan senjata pada Michael. Melihat tangan kanan Alex mengeluarkan senjata, semua orang jadi tergerak atas insting masing-masing dan bersikap waspadasatu sama lain. Tidak hanya si tangan kanan Alex yang menodongkan senjata, Dante dan Reza juga tak tinggal diam, mereka menodongkan senjata pada Alex tepat saat si tangan kanan Alex bergerak untuk menodongkan senjata pada Michael.
Suasana ruangan semakin terasa mencekam, tidak ada satupun yang bergerak mengingat situasi yang terjadi semakin menegangkan.
“wah wah wah, baru kali ini aku melihat kemarahan Michael,” kata Garold seolah mencoba untuk mencairkan suasana.
“Tidak perlu kau campuri urusan pribadiku.” Michael berkata tajam dan tersirat ancaman di setiap kata yang diucapkannya.
Michael kehilangan mood-nya, ia pun langsung pergi meinggalkan ruangan pertemuan para mafia itu, diikuti oleh Reza dan Dante. Troy tampak menghela nafas dalam melihat tingkah saudaranya itu, dalam hatinya ia mengutuk mulut Digo yang selalu saja membuat masalah. Seharusnya, sebelum pertemuan tadi terlaksana ia mengingatkan Digo untuk tidak menyinggung apapun tentang wanita yang mearik perhatian Michael. Digo menatap kepergian Michael dengan pandangan bertanya, namun ia tidak berani bertanya karena ia merasa kalau msalah ini di picu oleh dirinya.
“Lebih baik pertemuan ini kita akhiri sampai sini, untuk saat ini silahkan siapapun yang mau menggunakan wilayah Petroza pakai saja. Namun seperti Michael, aku juga tidak pernah berminat menggunakan wilayah Petroza. Wialayah itu sudah terlalu kotor, aku tidak mau mengotori tanganku untuk mengurusi hal itu. Lagi pula tidak ada keuntungan besar yang akan kudapatkan dari wilayah itu bahkan ketika wilayah itu sudah bersih,” kata Troy santai, kemudian ia pun bangun dari kursinya, membungkuk sebagai tanda hormat kepada yang lain dan segera berlalu dari ruangan itu. Sedangkan Digo tanpa berkata apapun dan tanpa penghormatan yang dilakukan Troy, ia juga mengikuti Troy yang sudah berlalu dengan tangan kanannya.
Suara nada dering ponsel menganggangu lamunan Troy. Dilihatnya caller id si penelpon, ternyata Kira yang menelpon, ia yakin pasti ada sangkut pautnya dengan maslaah tadi.
“Hai little angel!”
“aku menghubungi Michael dari tadi, tapi tidak bisa,”
“aku tidak tahu akan hal itu, dear. Ada apa?”
__ADS_1
“sepertinya memang sebaiknya aku menghungimu Troy. Aku melihat sesuatu yang buruk, mulai sekarang kerahkan orang terbaikmu untuk mengawasi wanita itu. Akan ku minta orangku untuk berada disisi wanita itu terus,”
“seburuk itu sampai kau mengerahkan orangmu?”
“aku tidak akan melakukan tindakan berlebihan jika menyangkut saudaraku, kau sudah tau hal itu Troy”
“ya, aku tahu. Maafkan aku”
“begitu saja, rahasiakan hal ini dari Michael. Aku yakin ia akan bersikap bodoh dengan mengabaikan masalah ini”
“aku juga berpikir begitu. Sampai kapan kau berada di Surabaya Little angel?”
“aku tidak tahu, aku sedang bekerja. Sudah ya kumatikan telponnya. Bye”
“Bye”
Panggilan terputus. Troy menarik nafas panjang, tidak ia sangka kalau masalah seperti ini akan terjadi, apalagi pada Michael. Ia kira, hanya ia yang mendapat masalah dengan berurusan pada wanita. Tapi siapa sangka, ternyata Michael juga akan mendapat masalah karena wanita. Ia semakin khawatir pada Michael dan juga pada wanita mungil yang telah menarik perhatian saudaranya itu.
“Tuan Troy, adakah sesuatu yang bisa saya bantu?” tanya Kay tangan kanan Troy yang tidak pernah terlihat mendampingi dirinya.
“Kay, mulai sekarang kau tugaskan untuk mengwasi wanita yang pernah menyelematkanku. Jangan pernah melepaskan pengawasanmu darinya. Bicarakan hal ini dengan Nino, aku yakin ia pasti akan melakukan hal yang sama walau tanpa perintah Michael.” Troy menatap Kay seolah memberi peringatan tegas padanya.
“baik tuan,”
.
.
.
__ADS_1