
“Nino, katakan padaku kenapa Kay bisa ada disini?” tanya Michael menatap tajam Nino.
Nino menundukkan kepalanya, ia takut sekaligus bingung harus memberikan jawaban apa pada bosnya.
Belum sempat Nino menjawab pertanyaan Michael, pintu ruangan itu terbuka menampakkan Troy yang masuk dengan santai ke dalam ruangan.
“Aku yang meminta Kay kerja disini, Mickey,” kata Troy seraya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Suasana menjadi canggung, Nino yang berada diantara Michael dan Troy tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin segera menyingkir dari ruangan tersebut, tapi situasinya tidak mendukung. Satu-satunya jalan adalah meminta pertolongan Dante. Tapi sayangnya, Dante bahkan tidak melirik dirinya sama sekali.
“katakan alasanmu Troy.” Michael menatap Troy tajam.
Troy tersenyum membalas tatapan Michael, “ini permintaan Kira,” jawab Troy santai.
“kenapa Kira-“
“jangan bertanya jika kau sudah tahu jawabannya Mickey,” Troy memotong ucapan Michael. “Kita semua tahu, sejak pertemuan itu, gadis itu tidak bisa dikatakan aman. Orang-orang bodoh itu akan mencari tahu keberadaan gadis itu, mengingat gadis itu akan menjadi kelemahanmu.”
Michael menggertakkan giginya kesal karena apa yang diucapkan Troy ada benarnya. Semua ini salahnya, jika saja ia tidak tertarik pada gadis itu, hal ini pasti tidak akan terjadi.
“percuma kau menyesalinya Mickey. Tugasmu sekarang hanya melindungi sesuatu yang harus kau lindungi. Aku tidak bisa membantumu jika kau tidak ingin di bantu, tapi ingat saja perkataanku, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari.”
Setelah menasehati Michael, Troy bangun dari duduknya, berniat meninggalkan ruangan tersebut. Sebelum ia membuka pintu, Troy membalikkan badannya seraya berkata, “dan satu lagi Mickey, Kay akan tetap bekerja disini dengan atau tanpa persetujuan darimu. Jika kau tidak berniat melindungi gadis itu, maka aku yang akan melindungi gadis itu, karena gadis itu pernah melindungi dan menyelematkanku.” Troy membuka pintu dan berlalu dari ruangan tersebut.
Michael menatap kepergian Troy dengan kesal. Suasana diruangan tersebut semakin kelam karena aura kemarahan Michael.
“Nino, mulai saat ini kau ku perintahkan untuk menjaga gadis itu.” Perintah Michael mengejutkan Nino, namun Nino menganggukkan kepalanya tanpa membantah perintah Michael.
Michael menarik nafas panjang mencoba menenangi dirinya yang hampir lepas kendali. Entah kenapa dia merasa, sejak bertemu dengan gadis kecil itu dia sudah tidak menjadi dirinya sendiri.
Bayangan gadis kecil itu selalu saja berlarian dalam pikirannya, ia merasa senang berada di dekat gadis kecil itu tapi disisi lain ia juga cemas karena tidak sepantasnya ia jatuh cinta, cukup saudara-saudaranya yang ia butuhkan dan ia tidak butuh cinta yang lain untuk hidupnya.
“Bos”
“Bos”
Panggilan Dante menyadarkan Michael dari lamunannya.
“ada apa?”
“maaf bos, baru saja Reza baru saja menelpon saya, ia mengatakan semua rencana telah dipersiapkan. Selanjutnya tinggal menunggu perintah dari Anda, Bos.”
__ADS_1
Michael tersenyum senang, setidaknya saat ini ada hal yang dapat ia kerjakan untuk mengalihkan pikirannya dari adis kecil itu. “bagus, sekarang saatnya kita berangkat ke pelelangan itu.” Michael beranjak dari tempat duduknya berlalu meninggalkan Nino yang menatap bosnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Hari ini, Clarissa mendapat jatah libur dari Bosnya, baik di caffee ataupun di restoran. Ia berencana menghabiskan waktu dirumahnya dengan membersihkan rumahnya yang telah lama terabaikan karena kesibukannya bekerja.
Harusnya begitu, tapi ternyata rencana nya harus ia batalkan karena mendapatkan pesan dari Via yang memintanya untuk ikut menemaninya bertemu dengan kakaknya yang ingin diperkenalkan kepadanya.
Mulanya Clarissa menolak karena ia punya rencana sendiri hari ini, tapi karena Via memaksa akhirnya ia menerima juga permintaan Via. Dan disinilah ia berada sekarang, di salah satu restoran sederhana menanti kedatangan Via dan kakaknya.
“duh, Via lama banget sih? Risa uda bosen nunggunya,” gerutu Clarissa yang sudah lama menanti kedatangan Via. “coba mp3 playernya ngga di sita pak Leo, pasti ngga bakalan bosen nunggu Via. Bisa nunggu sambil dengerin lagu india.”
“Chibi-chan.” panggilan Via menyentakkan Clarissa dari lamunannya. “uda lama nunggunya?” tanya Via tersenyum melihat Clarissa yang cemberut.
“uda lama banget,” keluh Clarissa.
Via tertawa kecil melihat sahabat imutnya yang cemberut, “maaf deh, tadi mobil yang kami tumpangi bermasalah, jadi kami harus mencari kendaraan pengganti,” ujar Via sembari duduk di di depan Clarissa di ikuti oleh laki-laki yang sedari tadi bersamanya. “sebagai gantinya, kali ini aku yang traktir deh,” lanjutnya.
“Via kan yang undang Risa kesini, jadi memang Via yang harus bayar makanan Risa,” sahut Clarissa.
“dasar, ngga mau rugi,” cibir Via melihat Clarissa yang cengengesan.
Laki-laki yang datang bersama Via tertawa kecil melihat tingkah imut Clarissa. Clarissa penasaran, dengan laki-laki ini. Ia pun melempar sinyal pada Via untuk memperkenalkan laki-laki itu padanya. Namun sayangnya, Via tidak memperhatikan sinyal yang diberikan padanya karena ia sibuk memeriksa daftar menu makanan restoran.
“hn,”sahut Via tanpa mengalihkan pandangannya pada daftar menu.
“Via,” panggilnya lagi.
“hn, apa chibi-chan~”
Clarissa gondok karena Via masih betah melihat daftar menu makanan. Karena kesal, ia pun merebut daftar makanan yang sedang dibaca Via. “ih Via nih, kan Rissa uda manggil dari tadi, kok hn hn doang sih.”
“Duh, sahabatku yang imut ngambek nih ye...” sahut Via dengan tampang tidak bersalah sambil mencubit pipi Clarissa. Clarissa tambah kesel dengan tingkah Via yang seenaknya mencubit pipinya. Ia memberontak agar bisa lepas dari cubitan Via, setelah Via melepaskan cubitannya ia menggosok kedua pipinya sambil mengeluh kesakitan.
“btw Via, ini kakak kamu kah?” tanya Clarissa yang bertanya langsung karena Via tidak memperkenalkan kakaknya.
Via menepuk keningnya, “oh ya ampun, sampai lupa. Chibi-chan, kenalkan ini kakak sepupuku Samuel Adinata.”
“Hallo,” sapa Clarissa sembari mengulurkan tangannya.
“Hai, Rissa. Via sudah banyak cerita tentang kamu,” ujar Samuel tersnyum manis dengan Clarissa. “Saya tidak nyangka kalau kamu beneran semungil ini, saya kira tadi ada anak kecil yang nunggu mamanya di restoran,” sambungnya lagi menggoda Clarissa.
__ADS_1
Clarissa cemberut di panggil anak kecil, “ugh.. Via, Rissa mau pulang aja,” ujarnya cemberut.
“loh kok pulang?” tanya Via bingung.
Clarissa membuang pandangannya tak berniat menjawab pertanyaan Via. Ia kesal karena Via tak peka, padahal ia baru saja diejek oleh kakak sepupunya.
Samuel tertawa melihat tingkah menggemaskan Clarissa, “duh duh, maaf deh Rissa, saya kan Cuma bercanda. Jangan pulang ya, kan kita baru datang, masak sudah pulang sih?” pujuk Samuel.
Sebenarnya Clarissa masih ngambek, tapi ia tidak bisa terus ngambek karena pelayan sudah datang untuk mengambil pesanan mereka.
“sudah sudah, kita pesan makan dulu, baru setelah itu kita pulang,” sahut Via menengahi perseteruan Clarissa dan Via.
Clarissa pun mulai memesan makanan diikuti oleh Via dan sepupunya. Setelah memesan makanan, mereka berbincang sejenak sambil menunggu makanan datang.
Percakapan didominasi oleh Clarissa dan Via, sedangkan Samuel hanya mendengarkan saja. Percekapan para gadis tidak terlalu menarik perhatian Samuel, jadi ia hanya diam dan tak berniat untuk masuk ke dalam percakapan mereka meski terkadang mereka akan mengajaknya berbicara juga. Ia hanya sesekali bergabung ke dalam percakapan jika menurutnya perlu.
Sampai pada perbincangan tentang pria yang disukai oleh Clarissa, Samuel mulai tertarik dan mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang keluar dari bibir Clarissa.
“sepertinya kamu benar-benar menyukai tuan Michael ya!?” tanya Samuel disela omongan Clarissa tentang Michael.
Clarissa menganggukkan kepalanya dengan semangat menjawab pertanyaan Samuel. Samuel tersenyum melihat Clarissa yang menganggukkan kepalanya berulang kali.
“hm~ dari omongan mu, tuan Michael ini sempurna sekali ya?” tanya Samuel lagi sambil memegang dagunya. Clarissa menganggukkan kepalanya lagi sambil menampilkan senyum lebarnya. “kalau seandainya tuan Michaelmu bukan orang baik dan tidak seperti yang kamu pikirkan, gimana?” tanya Samuel lagi masih dengan senyumnya, Cuma kali ini senyuman Samuel terkesan misterius tidak seperti senyuman pertamanya.
Mendapatkan pertanyaan yang aneh, Clarissa melihat kearah Samuel bingung. Apa maksud dari pertanyaan Samuel? Apa Samuel mengenal Michael? Kenapa ia bertanya seolah-olah ia sudah mengenal Michael? Clarissa mengernyitkan alisnya dan menatap Samuel dengan penuh penilaian. Ia ingin bertanya pada Samuel apa maksud dari pertanyaannya, namun tidak jadi karena makanan mereka keburu datang. Mereka pun menghentikan pembicaraan mereka dan mulai menyantap makanan yang disajikan.
Disudut restoran sederhana itu, ada seorang laki-laki yang mengamati meja yang ditempati Clarissa dan teman-temannya. Laki-laki tersebut ternyata sudah mengikuti Clarissa sedari tadi. Ia tampak menyamarkan dirinya dengan berpura-pura membaca Koran sambil menikmati coffenya. Ditelinganya terpasang earphone Bluetooth yang membuatnya dapat berkomunikasi dengan lawan bicaranya tanpa menarik perhatian orang lain.
Saat ia mengangkat minumannya untuk diminum, ia berbisik pelan, “target terlihat bersama sahabatnya dan satu laki-laki yang tak dikenal,” kata pria itu pada orang disebrang panggilan yang dilakukan nya.
“selidiki laki-laki itu,” sahut suara di seberang telepon.
“baik,” jawabnya sambil mengambil laptop dari tasnya dan mulai berseluncur ke dunia IT mencari informasi tentang laki-laki yang berada didekat Clarissa.
.
.
.
**Terimakasih teman-teman sudah membaca karya ini, terimakasih juga atas dukungan kalian semua.
__ADS_1
Tetap dukung terus cerita ini ya, karena saya ingin segera merangkai adegan actionnya*** ><.
Adios... :****