Love & Gun

Love & Gun
PART 7


__ADS_3

Ditempat lain, dalam sebuah ruangan yang remang-remang, tampak dua pria khas seorang mafia sedang melakukan transaksi gelap antar mafia. Salah satu dari dua pria tersebut adalah Xanders Petroza, pria yang memiliki tampang yang sangar dengan tubuhnya yang kecil. Tubuh kecil dan kurusnya tidak dapat menyembunyikan guratan kekejaman yang terpancar dari wajahnya. Sedangkan pria yang didepan Xanders adalah Reza takashi aalah satu orang kepercayaan Michael.


"jadi, kenapa kau yang dikirimkan kemari tuan Reza?" Tanya Xanders.


Reza tersenyum mendengar pertanyaan Xanders. "bos saya cukup sibuk, jika hanya mengurus masalah yang berhubungan dengan anda" kata Reza masih dengan megumbarkan senyum manisnya. Diantara anggota Michael, Reza terkenal dengan senyum manisnya, ia tidak pernah menunjukkan ekspresinya selain ekspresi ceria.


"HAHAHAHA, aku tidak menyangka kau punya nyali berkata seperti itu padaku." Xanders menghirup cerutunya dalam-dalam dan menghembuskan asap dari mulutnya.


Reza masih menampilkan senyumnya dan bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


"ya sudahlah terserah saja, toh tuan kalian itu tidak ada apa-apanya dibanding aku" Xanders menyeringai senang kemudian tertawa keras.


"jaga bicara anda tuan Xanders jika tidak ingin cepat mati" dengan nada santainya yang khas.


"HAHAHAHA, kau mengancamku?" Xanders tertawa keras mendengar ancaman Reza. "dengarkan aku pria manis, sebentar lagi gelar Michael yang dibangga-banggakan itu akan hancur. Semua wilayah kekuasaanya akan jadi milikku dan gelar mafia terkuat akan beralih padaku" kata Xanders dengan senyum percaya dirinya sekaligus meremehkan.


"Oh ya? Bagaimana anda dapat meruntuhkan kekuasaan tuan Michael?" Tanya Reza masih dengan senyum yang tak pernah pudar dibibirnya.


"Cih, kau tidak perlu tahu"


"bagaimana jika aku tahu?" Reza tersenyum, namun senyumannya menyimpan banyak arti yang membuat Xanders was was.


Xanders tersentak kaget, sikap santainya berubah waspada. "Apa maksudmu?" Tanyanya menatap tajam Reza.


"Saya bilang, bagaimana bila saya tau rencana yang anda miliki untuk menghancurkan tuan Michael?" Tanya Reza masih dengan senyum manisnnya. walaupun Reza tersenyum manis, namun dimata Xanders senyuman Reza terlihat seperti senyuman kematian.


"Ka kau tidak mungkin" xandera mulai terlihat sedikit panik.


"CARLOS" teriak Xanders memanggil pengawalnya, sedangkan dihadapannya, Reza masih tersenyum dengan tenang.


"CARLOS" teriak Xanders lagi namun tidak ada respon yang ia harapkan.


"CARLOS" Teriaknya lagi yang mulai terlihat gusar.


"Tuan Xanders, sebaiknya anda jangan teriak-teriak ngga jelas. Karena bila temanku dengar, maka tuan akan membuat temanku marah" kata Reza lagi sembari merapikan barang-barang miliknya.


Tiba-tiba Xanders berdiri dari bangkunya. "Apa maksudmu?" Teriak Xanders yang mulai kehilangan ketenangannya.

__ADS_1


"Maksudnya, jika aku mendengar suaramu, kau akan mati" sebuah suara mengagetkan Xanders.


"ah~ Arnino, aku tidak menyangka kau lambat. Kukira kau akan menyelesaikan mereka dalam waktu yang cukup singkat," kata Reza.


"Cih, aku terlalu senang, jadi aku bermain-main dulu dengan mereka. Yah mereka cukup menghibur," ucap Nino dengan seringaian kesenangan dibibirnya.


Xanders melihat kedatangan Nino tampak pucat, saat ini ketakutan menjalar keseluruh tubuhnya. Siapa yang tidak mengenal Nino? Pembunuh berdarah dingin yang tidak menganal belas kasihan. Apalagi terdengar kabar, sebenarnya Nino termasuk kedalam anggota DARK SHADOW, kelompok pembunuh yang paling ditakuti didalam dunia bawah. tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Dark Shadow bahkan siapa saja anggota dari Dark Shadow. Mereka hidup dibalik bayang-bayang dunia bawah, dan tidak pernah menampakkan diri. Kemunculan mereka tidak pernah bisa ditebak, akan tetapi mereka dapat dipastikan akan muncul bila ada yang mengusik salah satu keberadaan mereka. Rumornya anggota Dark Shadow pernah melenyapkan 3 kelompok mafia yang paling kuat yang pernah ada, bahkan tanpa meninggalkan jejak dan sisa sedikitpun, semuanya mati yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran anggota mafia itu. Nino merupakan pembunuh paling terkenal dan paling banyak dicari melakukan pembunuhan tanpa belas kasihan, bukankah itu sudah membuktikan kalau dia termasuk kedalam anggota Dark Shadow? Dan lagi, kenapa Nino bisa ada disini? apakah dia sewaan Michael? Xanders terus bertanya-tanya didalam hatinya.


Brengsek si Michael, seharusnya rencanaku terlaksana dengan baik. Sial. Eh, tapi tunggu dulu, bukankah mereka telah masuk perangkapku? Aku yakin diluar sana Carlos sedang merencanakan penyerangan dengan para sekutu. Batin Xanders berteriak senang, senyum pongahnya terukir kembali


"HAHAHAHA" tawa Xanders menggema.


"Kalian semua akan tamat, aku tidak peduli dengan kedatangan Arnino. Aku tahu kalau kau merupakan pembunuh terkenal yang pernah ada. Tapi kalian semua sudah masuk perangkapku, sebentar lagi semua anak buahku dan sekutuku akan datang dan menghancurkan kalian" ucap Xanders sambil menyeringai senang.


"Anak buahmu?" tanya Nino seakan tidak terpengaruh dengan ucapan Xanders.


"Apkah maksudmu semua orang yang berada diluar, dan dibelakang gedung ini adalah anak buahmu?"


"Kalau memang mereka adalah anak buahmu, mereka semua sudah mati" ucap Nino menyeringai mengerikan.


"AP APA? ITU TIDAK MUNGKIN," teriak Xanders yang kembali panik.


"BRENGSEK KALIAN, ah tapi tunggu dulu. aku masih memiliki senjata untuk membunuh kalian. bukankah sudah kubilang kalau para sekutuku akan datang membantuku?" kata Xanders yang terdengar cemas, karena sudah kehilangan kepercayaan dirinya.


"Hahahaha, ya ampun. Reza sudahlah, lebih baik aku selesaikan sampah ini" kata Nino yang tidak sabar.


"Haahh~, ya ampun, tuan Xanders. Kau belum mengerti juga. Lebih baik saya perjelas saja, bila saya katakan saya mengetahui semua, itu maknanya SEMUANYA. kau kira kenapa kami repot-repot menghancurkan pondok kecilmu? itu semua hanyalah pancingan. yah, walaupun kami dapat bonusnya berupa perjanjian pengkhianatanmu dengan Red Eagle dan Black Rose. Cih, kelompok picisan. baru diberikan nama sedikit sudah ngelunjak. Yah terima saja akibatnya,"ucap Reza masih dengan senyum manisnya.


"Kalian, in ini tidak mungkin. ini tidak mungkin" Xanders mulai bergumam tidak jelas.


"Sebaiknya kau pikir-pikir dulu untuk menghancurkan Bosku, kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Asal kau tahu, seharusnya kamilah yang kau hadapi bukan bos kami. Kalau dia yang turun tangan, keluarga Petroza hanya tinggal nama saja" kata Reza lagi.


"Tap tapi-" Xanders memikirkan kata-kata yang tepat untuk melakukan pembelaan. Dia tidak ingin kalah begitu saja, setidaknya dia harus mempunyai rencana baru. Dia tidak mau mati konyol begitu saja.


Tulilit Tulilit


Suara handphone memecahkan keheningan dalam ruangan itu. "ah, sebentar. aku angkat telepon ini dulu.

__ADS_1


"hallo"


.....


"Clarisa, ada apa dear?"


.....


"meminjam uang? Untuk apa Clarisa?"


Sejenak Nino terdiam mendengar ocehan Clarisa ditelepon sambil menimang pistolnya.


"hm, baiklah Clarisa. Besok aku akan kerumah sakit dan melunasi biaya administrasi pria tersebut" kata mister Nino.


"KYAAAA" Nino menjauhkan teleponnya dari telinganya akibat teriakan Clarisa yang terdengar oleh orang lain.


"iya, iya sudah ya. Saya masih ada kerjaan"


Telepon ditutup, Reza melihat kearah Nino. NIno yang merasa diperhatikan Reza menatap Reza penuh tanya.


"Apa?" tanya Nino seakan-akan tidak melakukan kesalahan. Sedangkan Reza hanya menghela nafasnya kasar, bisa-bisanya dia menerima panggilan pribadi disaat ia bertugas.


"Baiklah, Reza aku ada perlu lebi-"


DOR tembakan dilepaskan oleh Xanders kearah Nino. Namun, karena insting Nino yang cukup kuat dengan cepat ia mampu menghindar tembakan Xanders.


Nino melihat kearah Xanders yang sedang menodongkan pistolnya pada dirinya. Nino menyeringai senang, dia tidak menyangka kalau mainannya akan menyerang dirinya. Tapi, sayang dia tidak bisa bermain-main saat ini, karena Clarisa sedang menunggu bantuannya.


"Kau memang tidak tahu terimakasih, sebaiknya kau mati saja,"kata Nino yang dengan cepat menangkap pergelangan tangan Xanders, tanpa ia sadari pistol yang berada ditangannya sudah terlepas begitu saja. Tak hanya itu, dalam hitungan detik Nino pun mematahkan tangan Xanders. Teriakan Xanders terdengan keras sekali. Tidak cukup sampai disitu setelah mematahkan tangannya dengan kejam dan tanpa perasaan perlahan-lahan Nino mematahkan leher Xanders hingga tak mampu berdiri tegak lagi.


"Haah~ akhirnya selesai juga, aku sudah bosan mendengar ocehannya" kata Reza sambil mengemas barang-barangnya yang tersebar dimeja.


"sudah selesai, aku pulang. kau saja yang melapor pada bos" ucap Nino yang sedang merapikan dirinya yang berantakan.


"Baiklah, sisanya biar anak buahku yang bereskan" kata Reza lagi sambil melangkah keluar bersamaan dengan Nino.


.

__ADS_1


.


__ADS_2