
Hari-hari berlalu seperti biasa. Rutinitas yang dijalani Clarissa tidak banyak berubah. Hanya saja aktivitas rutinnya bertambah satu lagi sejak ia bertemu dengan Michael, yaitu menanti kedatangan Michael di café.
Sejak pertemuan terakhirnya dengan Michael, Clarissa tidak pernah lagi bertemu dengan Michael. Lama tak berjumpa dengan Michael, membuat ia semakin merindukan sosok Michael. Walau ia tidak begitu memahami apa yang ia rasakan saat ini, Clarissa tidak pernah berusaha mencoba untuk mengabaikan apa yang ia rasakan saat ini. Baginya, apa yang dirasakannya saat ini sebaiknya tetap dinikmati walau ia tak tau bagaimana seharusnya menghadapi rasa ini.
Lama ia menanti kedatangan Michael, tapi tak satu hari pun ia melihat batang hidung Michael. Rindu yang menderanya sudah tidak mampu ia tahan lagi, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada Nino kapan Michael akan datang ke cafe lagi. Sepertinya Clarissa sudah sangat jatuh dalam pesona Michael, tidak bertemu dengan Michael membuat Clarissa jadi uring-uringan tak karuan.
“Heh, chibi ngelamunin apa?” tanya Via yang sudah lama gemes dengan tingkah Clarissa yang sering menggerutu tidak jelas di tengah lamunannya.
“Kapan ya Tuan Michael datang lagi?” tanpa sadar Clarissa mengucapkan lamunannya dengan keras.
Via yang mendengar perkataan Clarissa geleng-geleng kepala. Sepertinya sahabatnya yang satu ini benar-benar sudah jatuh cinta pada Tuan Michael. Ia heran, kenapa Clarissa bisa menyukai Michael. Dilihat dari sudut pandang manapun, Michael bukanlah pria yang bisa di jadikan pasangan untuk ukuran seorang Clarissa. Siapapun yang melihat Michael pasti hanya akan merasa terintimidasi dengan aura gelap yang ada disekeliling pria itu. Tapi Clarissa malah menganggap aura gelap yang menyelimuti Michael adalah hal yang menambah pesona Michael. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama sekaligus cinta itu tak memandang rupa?
“Ya ampun chibi-chan, berhentilah melamunkan tuan Michael yang jelas-jelas tidak akan tertarik padamu,” kata Via mencoba menyadarkan Clarissa.
“Ih Via, kok gitu sih!” Clarissa cemberut mendengar perkataan Via yang menurut hatinya adalah hal yang benar.
“Lah emangnya perkataannku salah dimana?” tanya Via kesal.
Clarissa malah semakin kesal mendengar perkataam Via, ia pun beranjak dari tempanya dan segera berlalu meninggalkan Via. Via sendiri hanya bisa memandang kepergian Clarissa dengan gelengan kepala.
“Kenapa lagi dia?” tanya Ricko yang tiba-tiba muncul dari belakang Via.
Via kaget dengan kehadiran Ricko yang tiba-tiba, hatinya berdegup kencang merasakan kehadiran Ricko yang cukup dekat.
__ADS_1
“eh, chef Ricko. Bi biasa lah, si chibi eh Rissa galau karena tuan Michael tidak pernah kesini lagi,” kata Via yang sedikit gugup menjawab pertanyaan Ricko.
Ricko menganggukkan kepalanya, “hm, sepertinya ia benar-benar jatuh cinta pada Michael. Tidak pernah aku melihat ia sampai seperti itu.” Ricko melihat Via yang selalu gugup jika berhadapan dengannya. “apakah kamu menyadari sesuatu?” tanya Ricko tiba-tiba.
Via yang dari tadi menundukkan langsung mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaan Ricko. “menyadari apa?” taya Via penasaran.
“Sudah beeberpa hari ini aku tidak mendengar Clarissa menyanyikan lagu favoritenya.”
Seakan tersadar dari fakta yang didengarnya, Via langsung memutar memorynya beberapa hari terakhir ini. Benar juga apa yang dikatakan Chef Ricko. Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Clarissa berjoget dan bernyanyi dangdut.
“kamu benar chef,” kata Via yang telah hilang rasa gugupnya. “ini buruk,” lanjutnya lagi.
Ricko menaikkan alisnya mendengar perkataan Via, “apa yang buruk?” tanya Ricko bingung.
“kenapa kau terlihat khawatir?” tanya Ricko.
“tentu saja. Clarissa bukanlah wanita yang cocok untuk mendampingi tuan Michael. Aku tidak ingin ia merasa patah hati pada cinta pertamanya,” kata Via
Ricko tidak suka mendengar perkataan Via, “dari mana kau tau jika Clarissa tidak cocok untuk tuan Michael?” tanya Ricko yang tidak menyembunyikan kekesalannya.
Via agak kaget mendengar pertanyaan Ricko yang terdengar kesal. Via bingung menjawab pertanyaan Ricko, ia hanya tidak ingin sahabatnya terluka karena penolakan Michael. Untuk gadis polos seukuran Clarissa, tidak sulit membuatnya merasakan sakit karena patah hati. Tapi di sisi lain ia juga tidak bisa menghentikan perasaan cinta, sekaligus ia juga tidak bisa mengendalikan kepada siapa seseorang jatuh cinta. Contohnya ada pada dirinya sendiri.
Ricko yang menyadari kalau Via tidak bisa menjawab pertanyaannya hanya menatap Via menunggu apa yang akan dikatakan Via.
__ADS_1
“hanya dengan melihatnya saja, kita sudah tau kalau Clarissa tidak bisa disandingkan dengan tuan Michael,” kata Via pelan.
“dan dari mana kau tau akan hal itu?” tanya Ricko lagi sambil menyilangkan tangannya ke depan dada.
“pokoknya aku tau,” kata Via yang mulai terlihat kesal karena di pojokkan.
“sudahlah Via, jangan ganggu Clarissa biarkan ia menentukan pilihannya sendiri. ia sudah besar, bukan anak kecil lagi,” kata Ricko seraya berbalik meninggalkan Via yang sedikit sedih mendengar perkataan Ricko.
Sebenarnya perkataan Ricko ada benarnya, namun ia masih tidak setuju jika Clarissa terlalu mengharapkan Michael. Ia tidak ingin jika Clarissa menjadi sama sepertinya, terluka karena cinta, cinta pertamanya.
.
.
.
*****Hai teman-teman pembaca Love & Gun, tak terasa sebentar lagi sampai di chapter 20.
Agar kisah ini tetap berjalan dengan lancar, mohon dukungan nya.
Silahkan beri komentar ya...
Terimakasih 😘*****
__ADS_1