Love & Gun

Love & Gun
PART 6


__ADS_3

Saat Clarisa berada di tengah gang, Ia mendengar ada keributan didepan. Karena penasaran, ia segera mendekat pada keributan tersebut. Semakin mendekat, keributan itu semakin jelas terdengar. Ketika semakin dekat dengan keributan itu, matanya membulat lebar dan ia sedikit terkejut.


Oh my god!!


kenapa ada tawuran ditengah malam gini? batinnya. Ternyata didepan sana sedang terjadi perkelahian. Karena panik dan takut, ia pun mencari tempat yang bisa dijadikannya untuk bersembunyi. Didekatnya, Ia melihat tiang listrik yang dapat ia jadikan tempat sembunyi. Segera saja ia berlari dan bersembunyi di tiang listrik tersebut.


Dibalik tempat persembunyiannya, ia melihat seorang pria berkelahi dengan kurang lebih 6 orang laki-laki bersenjata tajam. Dilihat dari cara mereka bertarung, pria yang dikeroyok itu cukup tangguh melawan mereka. Karena tidak sedikit pun pria tersebut merasa terdesak. Ilmu beladirinya cukup luwes dan seolah-olah bertarung dengan 6 orang pria adalah hal yang baiasa saja.


Pertarungan terus berlangsung seru. Clarisa sampai terkagum-kagum melihat gaya bertarung pria yang dikeroyok tersebut, padahal sebelumnya dia ketakutan setengah hidup. Tapi sekarang, dia malah menikmati perkelahian tersebut, seolah sedang menonton film action secara live. Tiga laki-laki penyerangnya sudah tumbang, tersisa tiga laki-laki lagi yang harus ia tumbangkan.


Clarisa semakin terkagum melihat pertarungan dihadapannya. Saat ia sedang menikmati jalannya pertarungan itu, tiba-tiba pandangannya terjatuh pada pengendara sepeda motor yang baru saja sampai ditempat kejadian. Penumpang yang menaiki sepeda motor tersebut langsung ikut bergabung dan bertarung melawan pria yang dikeroyok tersebut, sedangkan yang membawa sepeda motor terlihat sibuk menyiapkan sesuatu.


Clarisa menyipitkan matanya ingin memperjelas apa yang akan dilakukan pria yang berada diatas sepeda motor tersebut.


Clarisa kaget, ia melihat Lelaki yang berada diatas motor tersebut mengeluarkan sebuah pistol dan pistol tersebut diarahkan kepada pria yang sedang bertarung melawan 4 orang yang tersisa. Denga cepat dan tanpa sadar, Clarisa berlari mendekati pria yang sedang menodongkan pistol tersebut dan berteriak memperingatkan pria yang dijadikan sasaran tembak, namun Clarisa terlambat.


DOR


Peluru telah dilepaskan, Clarisa berhenti berlari dan terlihat shock. Ia menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. pria yang menjadi sasaran tembakan tadi terduduk memegang pundaknya yang terkena tembakan. Melihat pria yang tertembak itu lengah, pria yang membawa pistol tadi segera mengokang pistolnya kembali untuk melepaskan peluru yang kedua.


Clarisa yang tersadar akan apa yang dilakukan oleh si penembak, dengan cepat ia segera berlari mendekat ke pria tersebut dan menendang pria tersebut hingga pria yang membawa pistol tadi terjatuh. Pistol yang terlepas dari tangannya segera direbut oleh Clarisa.


"BRENGSEK" maki pria yang ditendang Clarisa.


Clarisa langsung menodongkan pistol yang dipegangnya kepada pria yang terjatuh tadi.


"JANGAN BERGERAK, ATAU AKU AKAN MENEMBAK" teriak Clarisa dengan sedikit gemetar.


Dalam hatinya Clarisa sibuk membaca doa apa saja yang diingatnya agar ia bisa selamat dari kejadian mengerikan ini.


Pertarungan yang berlangsung beberapa saat lalu, sempat terhenti saat Clarisa berteriak untuk memberi peringatan kepada pria yang dikeroyok tadi. Dengan perlahan dan sambil tetap menodong pistol kepada kumpulan pria yang mengeroyok pria seorang diri, ia berjalan mendekati pria yang terkena tembakan.


"ka kamu baik-baik saja?" Tanya Clarisa takut-takut pada pria yang terkena tembakan tersebut.

__ADS_1


"Brengsek, mereka semua harus mati" kata pria tersebut mengabaikan pertanyaan Clarisa. Dengan sangat cepat dan tanpa diduga Clarisa, pria yang tertembak tadi segera merebut pistol Clarisa dan menembak semua pria yang mengeroyoknya tadi tanpa ampun. Clarisa menutup mata, dan menutup telinga dengan tangannya, karena pria tadi menembak semua musuhnya tepat disamping Clarisa.


"Oy, sampai kapan kau akan menutup mata?" Tanya pria yang merebut pistolnya tadi.


Clarisa membuka matanya perlahan, ia terbelalak kaget melihat pemandangan dihadapannya. Dilihatnya mayat-mayat bergelimpangan dihadapannya dengan darah yang mengalir dari tubuh mayat tersebut. Ia bergidik ngeri, rasa takut yang dirasakannya semakin menjadi. Ia belum pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini sebelumnya.


"ap- ap apakah me me mereka sem semua mati?" Tanya Clarisa terbata-bata.


"menurutmu?" Tanya pria itu kesal.


"omegod, omegod, omegod, ini pembunuhan, pembunuhan, ini pasti miimpi ya mimpi. Hahaha ngga mungkin kan adegan tembak-tembakan begini beneran ada. Ah, ini pasti karena aku kebanyakan nonton filem india" Clarisa terlihat panik.


"terserah dirimu mau menganggap ini nyata atau tidak, yang pasti kita harus segera pergi dari sini, biar sisanya anak buahku yang akan mengurusnya" kata pria itu lagi.


Clarisa tidak bisa menerima kejadian ini begitu saja, dilihatnya pria yang telah ditolongnya.


"kau ini siapa? Kenapa kau bisa dikeroyok oleh mereka? Kenapa mereka ingin membunuhmu?" Tanya Clarisa bertubi-tubi.


"bukan urusanmu, ayo pergi" ujar pria itu dingin tanpa menjawab satupun pertanyaan Clarisa.


BRUUKK


saat ia ingin memarahi pria tersebut, tiba-tiba saja pria tersebut tumbang. Pria itu pingsan, melihat hal itu, Clarisa panik. Ia segera berlari mendekati pria yang tergeletak di tanah itu.


"hey, hey, bangun" Clarisa mencoba membangunkan pria itu. Clarisa teringat bahwa pria ini tadi terkena tembakan. Clarisa bingung, apakah pria ini mati? Wah, bisa gawat kalau pria ini mati batinnya.


Clarisa mendekatkan kepalanya ke dada orang tersebut, ia masih bisa mendengar detak jntung pria itu. Clarisa pun berdiri dan mencoba untuk mengangkat pria tersebut. Tidak mungkin ia meninggalkan pria yang telah ditolongnya begitu saja. Dengan usaha yang keras, Clarisa memapah pria tersebut sampai keujung jalan.


Ditepi jalan ia menghentikan taksi yang lewat. Beruntung malam ini di jalan tersebut ada taksi yang lewat, biasanya tengah malam seperti ini tidak ada taksi yang lewat. Clarisapun membawa pria tersebut kerumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Clarisa berteriak-teriak memanggil suster agar segera menangi pria tersebut. Perawat yang berada dirumah sakit tersebut segera menangani pria yang dibawa oleh Clarisa.


Clarisa menunggu pria yang sedang ditangani oleh dokter itu. Saat ia menunggu dokter yang memeriksa pria itu, tiba-tiba ia dipanggil perawat. Ternyata perawat tersebut meminta Clarisa untuk segera melengkapi administrasi biaya pengobatan pria tersebut. Clarisa mengangguk dan segera menuju ke bagian administrasi rumah sakit.


Di bagian adiministrasi rumah sakit, Clarisa sempat ditanyakan keterangan pasien. Namun, Clarisa tidak tahu apapun tentang pasien tersebut, ia mengaku, bahwa ia menemukan pria tersebut dijalan dan sudah dalam keadaan terluka. Tak mungkin ia mengungkapkan kejadian yang sebenarnya kepada pihak rumah sakit, karena ia juga terlibat dalam kejadian tembak-menembak tadi. Setelahnya, pihak rumah sakit meminta Clarisa untuk melunasi biaya pengobatan pria tersebut. Setelah di total biayanya mencapat 50 juta lebih. Clarisa melotot kaget.

__ADS_1


"Suster, kenapa biayanya mahal sekali?" Tanya Clarisa tak percaya.


"iya mbak, soalnya pria tersebut harus dioperasi untuk mengangkat peluru yang ada di punggungnya. Biaya operasinya cukup mahal mbak" kata suster bagian administrasi tersebut yang memberikan penjelasan.


Clarisa bingung, dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu. Uang yang ada ditabungannya hanya ada 5 juta saja. Untuk sementara, ia minta kepada pihak rumah sakit agar dapat membayar seadanya dulu. Pihak rumah sakit menerima dan memberikan tenggang waktu sampai esok hari. Clarisa pun menyetujuinya. Setelah itu ia pergi ke ATM terdekat dan mengambil semua tabungannya, ia pun menggunakan tabungannya tersebut untuk biaya pengobatan pria tersebut.


Dalam perjalanan kembali ke bagian administrasi, ia berpikir, darimana ia bisa mendapatkan pinjaman untuk membayar pengobatan pria yang ditolongnya itu. Tak lama ia memutuskan untuk meminjam uang pada mister Nino. Dengan cepat ia menghubungi mister Nino.


Panggilan pertama tidak mendapatkan jawaban, panggilan kedua juga tidak mendapatkan jawaban. Ia berpikir, apakah mister Nino sedang sibuk ya? Ia mencoba panggilan yang ketiga kalinya, dan untung saja diangkat.


"hallo"sapa suara diseberang telepon.


"hallo, mister Nino" kata Clarisa kelewat senang.


"Clarisa, ada apa dear?"


"mister, Bolehkah Clarisa meminjam uang?"


"meminjam uang? Untuk apa Clarisa?"


Clarisa menceritakan apa yang terjadi pada mister Nino, minus acara penyerangan dan tembak tembakan. Ia tidak ingin mister Nino terlibat dengan kejadian semalam.


"hm, baiklah Clarisa. Besok aku akan kerumah sakit dan melunasi biaya administrasi pria tersebut" kata mister Nino.


"KYAAA, terima kasih mister Nino. I LOVE YOU PULL" teriak Clarisa senang.


"iya, iya sudah ya. Saya masih ada kerjaan"


"baik mister, bye"


Clarisa mengakhiri teleponnya. Kemudian ia bergegas berjalan menuju bagian administrasi rumah sakit. Setelah ia menyelesaikan biaya administrasi, ia segera menuju ke ruang operasi dan menunggu hasil operasi pria tersebut. Cukup lama ia menunggu hingga dokter yang mengoperasi pria tersebut keluar dari ruang oprasi dan mengabarinya kalau operasinya berhasil dan peluru yang bersarang dipunggungnya telah berhasil diangkat. Keberuntungan lainnya, peluru yang bersarang dipunggung pria tersbut tidak sampai mengenai organ vitalnya. Jadi pria tersebut dapat pulih lebih cepat. Clarisa tersenyum lega mendengar penuturan dokter tersebut dan mengucapka banyak terima kasih pada dokter tersebut.


Saat ini, Clarisa berada di ruang rawat inap. Ia duduk dikursi disamping pria yang telah ditolongnya tadi. Clarisa menatap pria tersebut dengan intens, wajahnya tampan tapi tidak macho seperti pria tampannya. Mengingat pria tampannya dia jadi senyum-senyum sendiri. Karena kelelahan, Clarisa pun tertidur di bangku yang didudukinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2