
Didalam ruangan mister Nino, tampak Nino dan Clarissa duduk berhadapan dimeja kerja Nino. Nino menatap Clarissa yang masih belum mau bicara dan tampak sedang menahan kantuknya. Padahal sebelum ke ruangan Nino, ia sempat membasuh mukanya untuk menghilangkan kantuknya, tapi sepertinya apa yang ia lakukan tidak berefek terhadap kantuknya.
Nino menatap Clarissa datar, dalam hatinya bertanya-tanya kenapa wanita ini selalu saja berbuat masalah, tapi anehnya Nino tidak pernah bisa memarahi wanita mungil ini, entah tingkahnya yang lucu atau memang wajah Clarissa yang kelewat imut dan lucu?
Nino tampak menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan, ia terluhat sedikit frustasi.
"Clarissa, sekarang saya mau tanya. Kenapa kamu bisa berada di dalam toilet pria?" tanya Nino.
"Rissa tidak tahu mister Nino. Tadi pagi Rissa berangkat seperti biasa, dan segera menuju ruang ganti. Tapi entah kenapa tiba-tiba Rissa sudah berada di toilet cowok," kata Clarissa yang tampak bingung dengan perbuatannya sendiri.
"Apakah kau cukup tidur tadi malam? kau terlihat ngantuk sekali.” Nino menatap Clarissa. Bukan tanpa alasan Nino bertanya seperti itu, Ia ingin tahu apakah Clarissa akan menceritakan kejadian yang menimpa Troy pada dirinya.
Clarissa kaget mendapat pertanyaan dari mister Nino. "i iya mister, Rissa tidur nyenyak kok tadi malam, tidur cepat juga hehe." Clarissa nyengir menelan rasa gugupnya.
Nino tersenyum mendengar jawaban Clarissa, ternyata dugaannya benar. Sepertinya wanita mungil dihadapannya ini tidak akan menceritakan kejadian kemarin malam. Hatinya tertawa geli, timbul niatnya menggoda Clarissa.
"Oh ya? bukankah kemarin malam sekitar pukul 1 dini hari kamu menghubungiku dan meminta bantuan berupa pinjaman uang?” tanya Nino mulai melancarkan aksi godaannya.
Clarissa tambah gugup, berkali-kali ia merutuki keteledorannya. "O oh iya, Rissa lupa. tadi malam Rissa ingin membantu orang yang kesusahan, o orang itu membutuhkan uang un un untuk, em untuk" Clarissa tampak bingung menjawab kelanjutan ucapannya.
"untuk?" Nino tersenyum melihat kegelisahan Clarissa.
__ADS_1
"untuk, em untuk, ah iya, biaya pengobatan orang sakit. ya orang sakit. Bukankah kemarin Rissa sudah cerita sedikit?" Clarissa tertawa hambar.
Dalam ia mengumpat dan berulang kali meminta maaf kepada Nino atas kebohongannya, ia tidak suka berbohong tapi kejadian semalam harus ia tutup rapat-rapat. Sebenarnya Clarissa adalah pembohong yang buruk. Kapanpun dia berbohong pasti akan ketahuan dengan mudah.
Nino pura-pura menghembuskan nafas beratnya. "Kau bohong Clarissa, kenapa?" tanya Nino menatap Clarissa tajam. Clarissa tersentak kaget mendengar ucapan Nino. Hatinya mulai diliputi rasa bersalah akan kebohongannya. Dia ingin menceritakan kejadian yang sesungguhnya mengenai kejadian tadi malam, tapi ia tidak ingin Nino mengetahui kejadian buruk yang dialaminya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Ia bersalah sekaligus takut, entah takut karena ketahuan berbohong atau takut karena sudah dianca untuk merahasiakn kejadian semalam, ia sendiri juga tidak tau.
"Maafkan saya mister Nino, saya tidak bisa cerita." Akhirnya Clarissa nangis juga. Nino panik mendengar tangisan Clarissa, ia tidak menyangka jika Clarissa akan menangis. Padahal ia hanya bermaksud menggoda Clarissa, apakah Clarissa akan mebeberkan kejadian semalam atau tidak!?
"Wa waduh, Clarissa jangan nangis." Nino panik, bagaimana cara menghentikan tangisan Clarissa. Ia tidak suka melihat wanita nangis tepat dihadapannya. Baginya, wanita menangis itu merepotkan, selain mereka akan terlihat jelek, tangisan mereka itu sangat mengganggu.
"Sudah sudah Clarissa jangan nangis," kata Nino mencoba membujuk Clarissa.
CEKLEK
"Tuan Troy," kata Nino kaget begitu melihat Troy masuk kedalam ruangannya. Tidak hanya Troy, tetapi ada Michael, Digo, dan Ivy yang datang.
Clarissa menghentikan tangisnya, dia merasa familiar dengan suara yang baru saja didengarnya. Clarissa pun mengangkat kepalanya dan melihat keberadaan Troy dan Michael beserta orang-orang yang tidak dikenalinya. Hanya sesaat ia melirik kearah Troy, karena saat ini tatapannya tertuju kepada pria tampannya. Selalu begitu, ia mudah jatuh kedalam pesona Michael.
"Ah~ kucing kecil, tidak kusangka aku akan menemuimu disini." Ucapan Troy membuyarkan keterpesonaan Clarissa. Alarm diotaknya bekerja, kenapa Troy bisa ada disini? batinnya bertanya-tanya.
"Eh eh kamu-"
__ADS_1
"Dimana rasa sopanmu anak kecil? kau memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan 'kamu'?" Tanya Digo yang menatap Clarissa tajam.
Clarissa sedikit takut mendengar pertanyaan Digo. Ketika ia melihat kearah Digo ia semakin tidak berkutik sedikitpun, sampai-sampai ia tidak berani bersuara. Digo terlihat seperti raksasa di depan sana, meski Digo memiliki tinggi yang hampir sama dengan Troy dan Michael, ia tidak pernah menganggap Michael atau Troy sebagai monster. Berbeda dengan Digo, ia malah terlihat seperti monster rakasasa bagi Clarissa, apalagi Digo terlihat menyeramkan dengan tatapan yang menunjukkan ketidaksukaan padanya. Troy terkekeh melihat ketakutan diwajah Clarissa.
"sudah lah Digo, seharusnya kau tidak berkata seperti itu," kata Troy membela Clarissa yang membuatnya sedikit lega.
"cih, kau selalu begitu pada wanita," kata Digo kesal. Dengan langkah kesal, ia menuju sofa dan duduk disana, diikuti Michael dan Ivy. Sedangkan Troy menghampiri Clarissa.
"Kucing kecil?" Troy membuyarkan lamunan Clarissa. Matanya mengerjap lucu. Troy selalu gemas melihat Clarisaa yang seperti itu, dia makin terlihat imut. Bukan rahasia lagi bila Troy menyukai sesuatu yang berbau kawaii.
"Clarissa, bukan kucing kecil." Clarissa kesal dipanggil kucing kecil oleh Troy.
Troy tersenyum mendengar ucapan Clarissa. "Tapi aku suka memanggilmu kucing kecil," kata Troy masih dengan senyum manisnya. Clarissa makin mengerucutkan bibirnya.
"Jangan menggodanya Troy," seru sebuah suara yang mengalihkan pandangan Clarissa dari Troy.
Troy makin tersenyum lebar, "kenapa?" tanya Troy dengan wajah polosnya. Ia tidak menyangka kalau Michael akan bereaksi seperti itu, padahal Troy hanya menggoda Clarissa saja, sekaligus ingin melihat reaksi sahabatnya yang terlihat sedikit ~emm... cemburu?
Michael tidak menjawab, ia membuang pandangannya keluar jendela. Digo tampak bingung dengan Michael yang tiba-tiba terlihat seperti membela wanita mungil itu. Sedangkan Ivy berbinar senang melihat apa yang dilakukan Michael. Jarang ia bisa melihat sisi Michael yang seperti ini, bahkan pada dirinya ataupun Kirana ia tidak pernah bersikap begitu.
.
__ADS_1
.