Love & Gun

Love & Gun
Chapter 15


__ADS_3

Clarissa benar-benar merasakan capek yang amat sangat hari ini. Bukan hanya karena kejadian pembunuhan yang pernah terjadi secara live dihadapannya, tapi pekerjaan direstoran juga banyak menyita tenaganya. Untungnya malam ini ia pulang sesuai dengan jam pulangnya. Tapi sebelum pulang, seperti biasa akan makan malam di ruang tunggu bagi karyawan. Di ruang tunggu karyawan, Clarissa tidak sendiri. Masih ada beberapa teman seprofesinya yang juga sedang makan malam.


Setelah ia menyelesaikan makan malamnya, ia pun segera pamit pulang dengan teman-temanya. Ia memutuskan untuk tidak lagi melewati jalan potong. Ia tidak bisa jamin kalau kejadian tembak menambak itu tidak terulang kembali. Biarlah ia melewati jalan yang jauh, asalkan ia selamat begitu yang dipikirkan Clarissa.


Jalanan tampak ramai walaupun waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Clarissa berjalan dengan santai sambil memperhatikan deretan toko yang menjual berbagai macam barang. Walau ia kelelahan setengah mati, tapi tidak ada niat sedikitpun untuk mempercepat langkahnya, malah ia berjalan perlahan seolah sedang jalan-jalan di taman bunga. Sepertinya, ia masih ingin menikmati suasana malam hari ini.


Saat ia melewati sebuah toko mainan anak-anak, ia berhenti didepan etalase toko tersebut dan mulai memperhatikan setiap barang yang ada disana. Batinnya tersenyum mengingat kembali masa kecilnya, walaupun lebih banyak menyimpan kesedihan tapi tetap terselip kenangan indah tentang masa kecil bersama kedua orang tuanya.


“EHEM” sebuah suara mengagetkannya. Ia pun mengalihkan tatapannya ke sumber suara. Tepat disampingnya berdiri pria tampan yang ia puja.



Michael baru saja pulang dari kantornya, saat ini ia pulang bersama Dante sebagai sopir. Tidak ada percakapan yang terlibat diantara mereka, ditangannya Michael memegang tab kerja, membaca pergerakan saham dan membaca setiap informasi yang baru saja di kirmkan oleh anak buahnya, sedangkan Dante focus menyetir tanpa sekalipun memalingkan pandangan dari jalan. Lama Michael membaca file-file yang tertera pada tab nya hingga ia merasa sedikit kelelahan. Ia pun meletakkan tab nya dan melayangkan pandangan keluar jendela meresapi suasana malam yang walaupun ramai tapi terasa hening.


Dipikirannya terbayang wanita yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya, wanita mungil dan imut yang menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman dan pesona. Sudah lama ia tidak merasakan tatapan itu, sejak ia mendapatkan luka ini. Luka yang selalu ingat akan kesalahannya dulu. Sampai saat ini, ia masih belum bisa melepaskan rasa bersalah yang bersarang dihatinya. Biarlah luka ini tetap ada di wajahnya sebagai pengingat bagi dirinya untuk tidak mengulangi hal yang sama. Mungkin Kirana dan yang lainnya sudah memafkan perbuatannya, tapi dirinya takkan bisa memafkan diri sendiri semudah itu. Ia menghela nafas berat, kembali ia melihat deretan toko yang tidak menarik ditepi jalan sana, sampai tatapannya fokus pada seorang gadis yang sedang berdiri menatap sejumlah mainan yang dipajang dietalase toko. Seorang gadis yang menyita perhatiannya akhir-akhir. Kenapa dia ada disitu? Bukankah ini sudah malam! Batinnya bertanya-tanya akan keberadaan gadis itu.


Entah kenapa, ia meminta Dante menepikan mobilnya. Ia turun dari mobil dan berjalan mendekati gadis yang masih sibuk menatap deretan mainan yang dipajang di toko itu. Sepertinya wanita itu tidak menyadari kedatangan Maichael karena ia masih saja menatap mainan yang ada didepannya dengan tatapan berbinar senang.


“EHEM” deheman Michael mampu menarik perhatian gadis mungil itu. gadis mungil itu menatap Michael dengan tatapan tidak percaya, mulutnya terbuka entah karena shock atau ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa.


“Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini? Kenapa belum pulang?” tanya Michael menatap wanita yang tak lain tak bukan adalah Clarissa.


“Em- Rissa baru pulang kerja, ini hanya pengen lihat-lihat aja,” kata Clarissa yang menundukan pandangannya karena sedikit gugup berhadapan dengan pria tampannya.


Michael menaikkan alisnya, baru pulang? kesalnya. Ia melihat jam tangannya yang menujukkan waktu tengah malam. Ia menggelengkan kepalanya dan mengingatkan diri untuk menegur Nino agar tidak membiarkan pegawai wanita pulang diatas jam 10 malam. Bagaimanapun ia tidak ingin gadis mungil dihadapannya ini mengulang kejadian buruk bersama Troy dulu.


“Kau pulang denganku,” Michael memberi perintah pada tanpa ingin dibantah.

__ADS_1


“eh, apa?” Clarissa bingung. Tanpa memperdulikan kebingunag Clarissa, Michael manerik tangan Clarissa dan menyeret kedalam mobilnya yang pintunya sudah dibuka oleh Dante.



Suasana di dalam mobil terasa menegangkan, Dante yang focus menyetir, Michael yang kembali berkutat pada tab-nya namun sesekali menatap Clarissa, dan Clarissa sendiri duduk dekat jendela samba sesekali mencuri pandang pada Michael. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat membuka percakapan.


Clarissa sendiri, ditengah sikap malu-malu kucingnya berusaha semaksimal mungkin menata degupan jantungnya yang berdentam keras. Kehadiran Michael yang duduk dekat dengannya, menghilangkan sikap lebay yang dimiliki Clarissa, entah apa alasannya Clarissa sendiri juga tidak tau. Kegiatan curi-curi pandang disela rasa deg-degan yang sulit diatasanya, menghadirkan khalayan indah dalam bayangan Clarissa. Aroma after shave yang menguar dari tubuh Michael menggoda perhatiannya, hingga khalayan yang tercipta di benak Clarissa semakin menajam. Ia merasakan kalau Michael menatap kearahnya dan membuat seluruh tubuhnya gemetar oleh hasrat. Sayang, pikirannya yang polos malah membuat suatu kesimpulan yang tak lazim. Clarissa berpikir kalau dirinya sedang masuk angina hingga membuat dirinya resah dan tidak enak badan. Berkali-kali ia menggosokkan tangan kedua lengan atasnya.


Tindakan Clarissa mengundang perhatian Michael. “Kau kenapa? Sakit?” tanya Michael menatapnya tajam.


Clarissa tersentak, hingga menghentikan kegiatan mengusap lengan atasnya, “ti tidak” jawab Clarissa gugup.


Michael tidak percaya, ia menajamkan matanya. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Clarissa. Sensasi hangat mengalir ditelapak tangan yang menyentuh kening Clarissa, jantungnya mulai berdentam tak wajar. Dengan segera ia menarik tangannya dan mengabaikan hal yang barusan saja terjadi padanya. “Ya, sepertinya kamu tidak sakit," lanjut Michael tanpa berminat melakukan hal yang lebih pada Clarissa dan segera mengalihkan pandangannya pada Clarissa untuk menghentikan detak jantngnya yang berdentam kencang.


Clarissa sendiri merasakan jantungnya semakin berdentam kencang saat tangan Michael menyentuh keningnya. Sepertinya ia tidak hanya masuk angin, ia juga sakit jantung pikirnya. Tanpa sadar Clarissa bergumam,” sepertinya aku beneran sakit.”


“jantung,” kata Clarissa singkat.


“jantung?”


“ya, jantung Rissa sakit. Saat tuan Michael menyentuh kening Rissa, jantung Rissa semakin berdetak kencang, apakah ini tanda-tanda Penyakit jantung?” tanya Clarissa pada Michael dengan tatapan polosnya.


Michael tidak percaya mendengar ucapan Clarissa, ia tau benar apa yang dirasakan gadis mungil dihadapannya ini, tapi kenapa gadis kecil ini tidak mengerti akan dirinya sendiri? Batinnya bertanya-tanya, haruskah ia menjawab pertanyaan Clarissa?


“jantungmu tidak apa-apa,” kata Michael singkat.


“ta-“

__ADS_1


“tidak ada yang salah dengan jantungmu,” potong Michael agar Clraissa tidka bertanya lagi karena ia tidka tahu harus menjelaskan seperti apa. “ini sudah sampai depan kosmu, silahkan turun dan selamat malam,” kata Michael seraya menunjukkan keluar jendela dimana kosan Clarissa berada.


Clarissa tertegun sejenak, ia belum puas dengan jawaban Michael tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena Michael sudah memintanya turun. Ia pun membalas ucapan selamat malam Michael dan segera turun dari mobil mewah Michael. Setelah Clarissa turun, mobil itu pun melaju kencang meninggalkan Clarissa yang masih terpaku dengan kejadian malam ini. Diraba dadanya untuk merasakan detak jantungnya. Nihil, ternyata detak jantungnya hanya tadi saja berdetak kencang. Sepertinya memang tidak sakit jantung pikirnya. Ia pun berjalan kekosnya sambil berdendang kecil, walau ia merasa hal aneh saat berdekatan dengan Michael tapi ia juga merasa senang karena sudah dekat dekat pria tampannya. Malam ini cukup indah dari malam kemarin batin Clarissa.



Di dalam mobil Michael sepeninggal Clarissa, Michael masih berusaha mengabaikan detak jantungnya yang berdentam keras tadi. Ia sadar, jika ia merasakan hal sama yang Clarissa rasakan. Clarissa yang manis dan mungil, apakah ia….


Suara HP membuyarkan lamunan Michael, tanpa melirik caller id yang tertera pada ponselnya ia mengangkat panggilan tersebut. “Hallo”


“Hallo, Mickey”


“Kira, ada apa?”


“tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menggodamu saja,”


Michael menaikkan alisnya bingung. “maksudnya?”


“jantungmu tidak apa-apa, tidak ada yang salah dengan jantungmu. HAHAHAHA”


“Shit,” Michael langsung mematikan panggilan sekaligus mematikan ponselnya. Ada dengan Kira? Kenapa ia suka mengangguku sekarang? Batin Michael tidak senang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2