Love & Gun

Love & Gun
PART 8


__ADS_3

Kisah sebelumnya.


Clarisa menolong seorang lelaki misterius yang tertembak dan mambawa nya kerumah sakit. Saat menunggu laki-laki misterius itu sadar, ia terdtur dibangku rumah sakit.


Bagaimana keadaan laki-laki misterius itu? simak aja kelanjutannya...




Pagi harinya Clarisa terbangun dibangku disamping ranjang pria yang ditolongnya. Matanya mengerjap-ngerjap lucu mencoba menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Ia mengucek matanya dan merenggangkan badannya seperti kucing kecil.



"kau sudah bangun?" tanya Troy yang melihat Clarissa mencoba berjuang menyadarkan diri dari rasa kantuk.



"sudah" kata Clarisa yang masih memejamkan matanya padahal ia sudah bangun. Ia masih ngantuk dan tak berniat untuk membuka matanya.



"bisakah kau membuka matamu, kucing kecil?" Tanya Troy lagi dengan lembut.



Clarisa membuka matanya, ia sempat bingung. Ia berada dimana batinnya bertanya. Tak lama ia melihat seorang pria sedang berbaring diranjang. Ia terlihat sedang berpikir, ia mengingat kembali apa yang terjadi padanya kemarin malam. Tak lama ia ingat kejadian semalam, matanya membulat lucu. Ia pun menatap pria yang berbaring diatas ranjang dengan tatapan kaget dan tak percaya.



"nayawamu sudah terkumpul semua, kucing kecil?" Tanya pria tersbut. Clarisa tidak bisa menjawab, ia pun hanya mengangguk pelan.



"terimakasih kau telah menyelamatkanku, kucing kecil" kata pria tersebut sambil tersenyum.



Clarisa makin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria tersebut tersenyum kepadanya. Pria yang telah membunuh 6 eh 7 orang.



"maafkan sikapku yang kasar padamu kemarin malam, dan lupakanlah kejadian semalam. Kuharap kau tidak menceritakan kejadian semalam kepada orang lain" kata pria itu lagi, namun karena Clarisa masih shock dengan senyuman yang diperolehnya ia tidak merespon ucapan pria itu.



"hallo Nona" panggil pria itu.



"kucing kecil" kata pria itu lagi.



Clarisa tersentak dari rasa shocknya.


"Kucing kecil?" Tanya Clarisa.

__ADS_1



Pria tersebut mengangguk dan tersenyum lagi. "panggilan itu cocok untukmu, kau tak keberatan kan?" Tanya pria itu.



Clarisa jengkel, "tentu saja keberatan, sejak kapan orangtua saya melahirkan kucing? Dan saya bukan kucing" kata Clarisa kesal sambil mengerucutkan bibirnya.



Prai itu tertawa mendengar perkataan Clarisa, "baiklah baiklah, maaf maaf. Kau mungil sekali, aku yakin kau pasti masih SMP kan?" Tanya pria itu lagi.



Clarisa menganga dan bertambah kesal."enak saja SMP, aku sudah lulus SMA dan usiaku sudah 20 tahun" marah Clarisa.



Pria tersebut kaget dan tak percaya, namun ia diam saja.



"apa? tidak percaya?" tanya Clarisa. Ia pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil KTP miliknya.



'lihatkan?. Aku kelahiran '96 tau" kata Clarisa dengan bangganya. Pria tersebut mengambil KTP Clarisa dan membaca KTP yang disodorkan Clarissa tersebut.



"jadi namamu Clarisa Ratna Purnama? Nama yang cantik" kata pria tersebut itu lagi dengan senyumnya yang manis.



Pria tersebut menatap Clarisa lama, kemudian ia mengembalikan KTP Clarisa. Ia menyamankan posisi duduknya diranjang.



"kau ingin tahu namaku?"Tanya Pria itu.



"ya iyalah, kalau tidak Risa ngga bakalan tanya" kata Clarisa jengkel melihat pria dihadapannya yang tersenyum-senyum ngga jelas.



Pria tersebut tertawa, "namaku Troy O'beroy" kata Pria itu.



Clarisa menganggukkan kepalanya, "hmm, namamu Troy" Clarisa terdiam sebentar. Ingin sekali ia menanyakan masalah kemarin malam pada Troy tapi dia sedikit takut. Tapi dari pada mati penasaran, akhirnya ia bertanya juga."em, masalah kemarin malam-"



"tidak usah kau pikirkan, bukankah sudah kubilang untuk melupakannya?" kata Troy memotong pertanyaan Clarisa dengan dingin dan disertai tatapannya yang tajam.


__ADS_1


Clarisa menelan ludahnya dan mengangguk pelan. Dari pada ditembak juga kayak orang-orang kemarin hiiii batinnya bergidik ngeri.


Suasana menjadi hening. Tiba-tiba pintu ruang rawat Troy dibuka, Clarisa tersentak kaget. Namun ia mendesah lega ketika ia melihat dokter yang ingin mengecek keadaan Troy.



"keadaan anda sudah membaik, luka bekas operasi juga terlihat baik-baik saja. Perbanyak istrirahat dan kurangi aktivitas untuk beberpa hari kedepan. Saya cukup takjub dengan ketahanan tubuh anda, yah memang sih peluru yang bersarang di tubuh anda tidak terkena di bagian yang fatal. Kau patut bersyukur tuan" kata dokter tersebut. Troy menggumamkan kata terimakasih pada dokter tersebut.



"ini, resep obat yang harus anda tebus" kata dokter tersebut sembari mnemberikan resep obat pada Clarisa. Clarisa pun menerima resep tersebut, tanpa berniat membaca tulisan dokter yang menurutnya tulisan dokter tersebut seperti cakar ayam. Setelahnya, Dokter tersebut pamit pada Clarisa dan Troy untuk mengecek pasien yang lain.



Sepeninggal dokter tersebut, Clarisa langsung pamit pada Troy untuk menebus obat diapotik. Cukup lama Clarisa menebus obat diapotik, sekembalinya ia dari apotik, ia tidak menemukan Troy, ranjang yang ditempati Troy sudah kosong.



"kemana dia?" Tanya Clarisa. Clarisa berlari keliling rumah sakit mencari keberadaan Troy. Namun, ia tidak menemukan keberadaannya. Akhirnya ia mengambil kesimpulan kalau Troy sudah melarikan diri, ia menghela nafas panjang dan mengikhlaskan semua yang telah dia keluarkan. Ia menatap nanar obat yang berada di tangannya tersebut. Sekarang, apa yang harus ia lakukan pada obat ini? Dengan langkah gontai ia berjalan kebagian administrasi untuk meminta perpanjangan waktu membayar biaya pengobatan Troy. Untung saja kemarin Mister Nino bersedia memnjami-nya uang. Namun, alangkah kagetnya Clarisa, ternyata biaya pengobatannya sudah lunas, malah perawat yang menangani bagian administrasi mengembalikan uang 5 juta yang digunakan untuk membayar uang pengobatan Troy.



Clarisa memekik senang karena uangnya kembali, ia sedikit penasaran bagaimana hal ini bisa terjadi? Saat ia menanyakan hal ini, pihak rumah sakit enggan menjawab pertanyaan Clarissa, Clarissa pun tidak bisa memaksa. Akhirnya, dengan langkah riang ia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit untuk pulang ke rumah.



Dari jauh, terlihat tiga orang pria menatap kepergian Clarisa yang melangkah dengan riang.



"untung saja dia menghubungiku tadi malam, kalau tidak, mungkin ia akan banyak bertanya padamu, Troy. Aku tidak menyangka pria yang ditolongnya adalah dirimu" kata salah satu pria yang memperhatikan Clarisa.



"bagaimana ia bisa berada ditempat kejadian Troy?" Tanya pria yang lain. Troy mengangkat bahunya tanpa berniat menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.



"aku tidak tahu, tiba-tiba ia berlari mendekat ke arah si brengsek itu, tanpa ampun ia pun menendang pria itu hingga pistol yang berada ditangan si brengsek terlepas. Dan tanpa ragu walaupun terlihat gemetaran karena takut, ia mengambil pitol yang terlepas tadi dan mengacungkannya pada si brengsek itu" kata Troy sambil tersenyum. Sambil melihat sekilas lawan bicaranya ia berkata "kau tau, dia gadis kecil yang tangguh. Luar biasa.”



Pria kedua yang bertanya pada Troy tidak suka melihat Troy memuji Clarisa, ia merasa jika Troy tertarik pada Clarisa. "jangan coba-coba untuk mendekatinya" kata pria itu menatap Troy tajam, dan segera berlalu dari hadapan Troy.



Troy sempat kaget mendengar peringatan pria tersebut, "apakah aku tidak salah dengar Nino?" Tanya Troy pada Nino yang berada disampingnya.



"sepertinya tidak" kata Nino menahan senyumnya sambil melihat punggung bosnya yang semakin menjauh.



"well well well, sepertinya ini akan menarik" kata Troy sambil memasang senyum misteriusnya. Ia pun berjalan meninggalkan rumah sakit diikuti oleh Nino di belakangnya.


__ADS_1


.


.


__ADS_2