Love & Gun

Love & Gun
PART 4


__ADS_3

Michael menikmati pemandangan kota yang tersajikan dari jendela di salah satu café miliknya. Café yang ia serahkan pada Nino.


"Bagaimana perkembangan café ini Nino?" Tanya Michael.


"As you see bos. Semakin ramai dan menarik perhatian bagi pelanggan baru" Nino mengambil minuman dari kulkas kecil yang tersedia diruangan itu.


Michael menatap Nino datar.


"Nino, malam ini kau akan bergabung dengan Reza"


Nino mengernyitkan alisnya, tak lama dia menyeringai yang menyebabkan wajahnya terlihat mengerikan. Ia tahu, pekerjaan yang akan diberikan bosnya pasti sangat mengasyikkan. Selama ini, bosnya selalu tau apa yang dia inginkan. Bila ia mendapatkan tugas, ia tidak mau menerima tugas yang ringan, apalagi tugas yang diperintahkan tidak mengotori tangannya akan darah.


Dalam team Michael, Nino terkenal dengan pembunuh berdarah dingin, ia tak segan-segan menghabisi lawannya tanpa ampun. Parahnya, bila sudah berada dalam tugas ia tidak mengenal belas kasih, baik pria ataupun wanita pasti mati. Karakter baik dan penuh kasih yang melekat padanya saat ini hanyalah kamuflase agar ia dapat berbaur dengan masyarakat sekitar. Siapa sangka mister Nino yang terkenal akan kebaikannya adalah seorang pembunuh berdarah dingin?


Selama ini, hanya dialah yang mendapat tugas yang paling berat didalam dunia hitam sebagai bawahan Michael. Dia merupakan salah satu orang kepercayaan Michael. Bila asistennya yang bernama Dante adalah tangan kanannya dan Reza adalah tangan kirinya, maka Nino adalah bayangan Michael.


Sudah 1 tahun lebih Nino menganggur dan hanya diminta mengurus pekerjaan yang membosankan, yaitu mengelola café ini. Selama ini Nino mencoba bersabar karena dirinya belum mendapatkan tugas yang berarti dari bosnya selain mengelola café dan kali ini, dia senang sekali dengan perintah baru dari boss nya.


"Dengan senang hati bos, saya harap tugas kali ini menyenangkan" seringaian jahat tercetak diwajah tampan Nino.


"Tentu saja, kau akan senang bila tahu lawan mainmu" Michael menatap Nino santai "Xanders petroza" Michael menyebutkan sebuah nama yang semakin membuat Nino senang.


"Ini akan semakin menyenangkan" kata Nino lagi. Perlahan ia meminum soda yang diambilnya tadi.


Xanders petroza merupakan salah satu pemimpin mafia yang berasal dari Italy. Kehebatan dan keganasannya sudah terkenal dalam dunia hitam, Ia termasuk orang baru dalam memimpin kelompok mafia miliknya. Sangat disayangkan sekali, ia tidak tahu seberapa besar kekuatan kelompok mafia yang dipimpin Michael, sehingga ia berani menantang Michael.


Michael sudah terjun kedalam dunia hitam selama kurang lebih 17 tahun. Kelompok mafia yang dipimpin Michael adalah mafia yang paling ditakuti. Tak banyak kelompok mafia yang berani mengusik Michael, karena mereka tau bila Michael marah, ia akan menghabisi musuhnya tanpa sisa sedikitpun. Laksana singa yang tertidur lelap, bila ada yang menganggu ketenangannya, ia tak segan-segan untuk melenyapkannya.


Selama ini, kelompok mafia yang dipimpin Michael tidak pernah bersinggungan dengan Xanders atau pun mafia lainnya, karena Michael tau batas-batas wilayah yang boleh dan tidak boleh ia lewati. Namun kali ini, ia merasa geram karena sudah dua kali anggota Xanders berani mengusik dan memasuki wilayah Michael. Tak hanya itu, Xanders berani mengkhianati serta menantang nya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mengintrupsi pembicaraan mereka. Nino berjalan kearah pintu dan membukanya. Didepan pintu terlihat Clarisa yang membawa nampan berisikan makanan yang dipesan Nino sebelumnya.


"Mister Nino, Risa diminta mengantarkan pesanan mister Nino" Clarisa memperlihatkan senyumam lebarnya pada Nino.

__ADS_1


Nino menaikkan sebelah alisnya dan menatap Clarisa lekat sambil melipat kedua tangannya didadanya. "Kau diperintahkan Leo atau menawarkan diri untuk mengantar pesanan ini" kata Nino sarkastik.


Clarisa cengengesan sambil mesem-mesem. "Hehehe, mister Nino tau aja."


Nino menggelengkan kepalanya dan mempersilahkan Clarisa masuk. Clarisa terlihat senang ketika dipersilahkan masuk. Tentu saja ia senang karena ia akan melihat pria tampannya.


Dengan semangat ia meletakkan nampannya di meja dan mengatur makanan yang di bawanya di meja. Setelah ia selesai dengan tugasnya. Ia pun segera berdiri dan melihat ke sekeliling ruang mencari pria tampannya.


Ia melihat pria tampannya sedang berdiri didekat jendela. Gaya Michael yang menatap keluar jendela sambil memegang minuman ditangannya semakin menambahkan aura ketampanan Michael. Tak ayal lagi, Clarisa yang mendekap nampan yang kosong dan kembali terpesona melihat Michael.


Nino yang sudah tahu akan reaksi Clarisa menghela nafas berat. Sebaiknya ia cepat meminta Clarisa keluar ruangan, karena Ia tak ingin Michael terganggu akan kehadiran Clarisa.


"Risa, bila tugasmu sudah selesai. Kau bisa meninggalkan ruangan" kata Nino dengan nada tegasnya. Tapi sayang perintah Nino diabaikan Clarisa. Nino gemas melihat Clarisa yang masih diam berdiri dan terpesona dengan Michael.


Michael merasakan kehadiran Clarisa, ia berbalik dan menatap Clarisa. Batinnya masih bertanya-tanya, apa yang menyebabkan Clarisa tertarik padanya. Padahal setiap wanita yang memandang wajahnya, pasti akan merasa takut sekaligus jijik.


Nino merasa sedikit kesal dengan Clarisa, ia pun segera menarik Clarisa agar keluar dari ruangan. Namun, dengan cepat Michael menghentikan Nino. "Biarkan Nino".Nino menghentikan tarikannya pada Clarisa.


Michael mendekat kearah Clarisa dan berdiri didepan Clarisa. Jantung Clarisa berdetak sangat cepat. Tatapan Michael padanya membuat wajahnya memerah, namun ia masih tetap menatap Michael dengan tatapan pesonanya. Wow, tinggi banget batin Clarissa yang mendongakkan kepalanya agar bisa membalas tatapan Michael. Dengan tinggi Clarissa yang hanya 150cm, membuat Clarissa terlihat seperti anak-anak dihadapan Michael yang tingginya 187cm.


"Makhluk tuhan paling seksi" jawab Clarisa tanpa sadar karena ia masih diambang pesona Michael.


Michael tersenyum lembut mendengar jawaban Clarisa.


Nino yang melihat senyuman Clarisa jadi kaget, begitu juga dengan Dante. Setahu mereka hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat senyum lembut Michael dan mereka tidak termasuk kedalam orang-orang tertentu tersebut.


"Kau menarik." Michael semakin mendekatkan dirinya pada Clarisa. Clarisa gugup saat Michael semakin mendekatinya.


"Jadi, dapat kusimpulkan kalau kau terpesona padaku" kata Michael. Clarisa masih diam ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun.


Michael berbisik ditelinga Clarisa, "karena kau telah jatuh dalam pesonaku, apakah kau berkenan menghangatkan ranjangku?" Tanya Michael.


Clarisa yang tidak mengerti perkataan Michael menaikkan alisnya. Reaksi Clarisa sangat lucu menurut Michael. Wajahnya yang sedikit chubby terlihat semakin menggemaskan.


"Menghangatkan ranjang? Untuk apa?" Tanya Clarisa tak mengerti.

__ADS_1


Nino yang mendengar pertanyaan Clarisa tersentak kaget. Gadis ini benar-benar polos. Ia berharap bos nya tidak bersungguh-sungguh dengan perkataannya.


Michael tertawa mendengar pertanyaan Clarisa. Ia tidak tau kalau Clarisa sepolos itu.


"Kau tidak mengerti? Akan aku jelaskan. Kau kuizinkan untuk tidur dengan ku" Michael berkata dengan senyum miring-nya.


Bagi Clarissa yang polos, perempuan dan laki-laki –yang tidak memiliki kaitan darah- boleh tidur bersama jika sudah menikah, kecuali dalam kasus-kasus tertentu, takut tidur sendirian misalnya. Clarissa memiliki sepupu angkat yang selalu memintanya tidur bersama karena takut tidur sendirian. Dan asumsi Clarissa sangat sederhana, tuan Michael ini takut tidur sendirian, walau hatinya merasa hal itu tidak mungkin. Ngga mungkin kan Michael yang terlihat macho dan gagah berani seperti itu, takut tidur sendirian. Tapi kalau dipikirkan kembali, semua bisa saja terjadi bukan?


"Oh begitu. Wah, saya tidak menyangka pria semacho tuan takut tidur sendirian. Ah, kemachoan tuan hilang 0,1% dimata saya. Tapi tenang saja, masih ada 99,9% kemachoan dan ketampanan tuan yang tersisa, jadi saya masih bisa terpesona pada tuan" kata Clarisa sambil memperlihatkan senyuman polosnya.


"Hahahaha" Nino tertawa mendengar respon Clarisa, sedangkan Michael menganga tidak percaya akan perkataan yang keluar dari bibir Clarisa. Ia berulang kali membuka dan menutup mulutnya kembali ingin berbicara dan membantah perkataan Clarisa, namun ia bingung merangkai kata agar Clarisa mengerti, akhirnya ia jadi terlihat bingung. Dante sendiri sedang menahan tawanya melihat Michael dan Clarisa.


Clarisa melihat Nino dengan tatapan anehnya "mister Nino kenapa tertawa?" Tanyanya bingung.


Nino semakin tertawa dengan keras. Baru kali ini ia melihat bosnya tak berkutik didepan lawan bicaranya.


"Hentikan tawamu Nino" perintah Michael. Nino meredakan tawanya, walau tidak sepenuhnya, karena raut wajahnya masih memperlihatkan ekspresi geli.


"Risa, bukan itu yang dimaksud Michael. Maksud Michael kau melayani Michael dalam artian 'bercinta' atau tidur bersama layaknya pasangan suami istri," kata Nino yang menjelaskan apa yang dimaksud Michael.


Lama Clarisa meresapi perkataan Nino. Hingga akhirnya ia paham apa yang dimaksud Nino. Ia kaget dan merasa malu. Ia pun jadi kesal. Clarisa menatap tajam Michael. "Aku terpesona padamu, bukan berarti aku akan menyerahkan diriku padamu. Dasar lelaki emm-" Clarisa bingung mencari cacian yang tepat untuk Michael. "Dasar lelaki buaya darat" kata Clarisa dan memukul Michael dengan nampan yang dibawanya kedadanya,


dengan cepat Michael menangkap nampan yang dipukulkan Clarisa ke dadanya dan memegangnya erat. Clarisa berusaha menarik nampan tersebut, namun tidak bisa karena Michael semakin memperkuat pegangannya.


Clarisa tambah kesal, ia pun berusaha makin keras mengambil nampan yang dipegang Michael. Karena tak juga mendapatkan nampan tersebut, Clarisa berang. Secara tiba-tiba ia menggigit tangan Michael dengan keras.


Michael yang terkejut mendapat serangan Clarisa segera melepaskan nampan yang dipegangnya. Dengan cepat nampan tersebut di ambil Clarisa dan berlari meninggalkan ruangan. Sebelum ia keluar dari ruangan ia menatap Michael "rasakan, buaya darat" Clarisa meleletkan lidahnya dan keluar dari ruangan dengan menutup pintu dengan keras.


Michael tampak mengebaskan tangannya, seolah dapat menghilangkan rasa sakit akibat gigitan Clarisa. Sebenarnya gigitannya tidak begitu sakit, hanya saja ia kaget. Baru kali ini ada yang berani mengigitnya dan mengejeknya seperti tadi. Dia tersenyum dan hatinya merasa geli, tanpa ia sadari, ia mencium tangannya di tempat gigitan Clarisa.


"Gadis yang menarik" gumamnya pelan.



__ADS_1


__ADS_2