
Seorang pria yang wajahnya terdapat luka codet melintang miring pada mata kirinya hingga ke pipi bagian atas, tersenyum puas begitu mendengar berita yang disampaikan bawahannya lewat sambungan telpon.
Pria tersebut berdiri didepan kaca yang besarnya hampir se-dinding ruangan. Sambil menyesap wine ditangannya, ia menatap pemandangan kota ditengah malam. Ruangan tersebut berada dilantai paling atas bangunan tinggi. Jadi tak dipungkiri, kalau diluar sana tersaji pemandangan indah yang dihiasi lampu-lampu yang menerangi setiap sudut kota.
"Melihat senyuman kepuasan di wajahmu, aku dapat menebak kalau anak buahmu berhasil menjalankan misi yang kau berikan" sebuah suara pria menyentakkan lamunannya.
Pria dengan luka codet diwajahnya tadi membalikkan badan dan menghadap ke lawan bicaranya. Ditengah ruang tampak seorang pria tampan duduk di sofa dengan tenang dan elegan. Pria tersebut tidak sendiri, disampingnya terdapat seorang wanita cantik yang berbaring berbantalkan paha pria itu.
Ditangan kanan pria tampan itu, ia memegang gelas yang berisikan wine sedangkan tangan kirinya mengusap kepala wanita yang berbaring dipangkuannya perlahan.
"Sejak kapan bawahanku gagal menjalankan misi?" Tanya Pria tampan bercodet dengan senyum sinisnya.
"Hahahaha, kau benar. Karena bila mereka gagal mereka pasti mati" pria tampan tersebut menyesap wine ditangannya sambil merdakan tawanya.
"Toy, please Jangan gerak-gerak" rengek wanita yang dipangkunya.
"I'm sorry, *cara" pria yang dipanggil Toy tersebut mengelus kepala wanita dipangkuannya dengan perlahan. Sebenarnya nama pria itu adalah Troy, Namun karena saat kecil wanita tersebut cadel, jadi ia menyebut nama Troy menjadi Toy dan kebiasaan tersebut terbawa sampai ia dewasa.
"Kau masih tidak mengubah panggilan itu, Ivy? Kau kira, berapa usiamu? Kau sudah tidak cadel lagi" kata seorang pria tampan lainnya yang duduk di sofa single sambil menyesap winenya.
"Berisik, Itu panggilan kesayanganku padanya. Lagian Toy juga tidak masalah. Kenapa jadi kau yang ribut?" wanita yang dipanggil Ivy tadi membuka matanya dan menatap tajam pada lelaki yang mengejeknya tadi.
"Ya ya ya, terserah kau saja. Asal kau berhenti memanggilku dengan nama menjijikkan itu padaku" kata pria itu seraya mengibaskan tangannya.
Ivy jengkel. Ia bangun dari posisi tidurnya dan duduk menghadap laki-laki yang mengejeknya. Laki-laki tersebut duduk disofa yang berhadapan dengan sofa yang ditempati Troy dan Ivy, mengabaikan tatapan jengkel yang dilontarkan Ivy.
"Kenapa Digy? Apa ada yang salah dengan namamu?" Tanya Ivy sambil tersenyum mengejek.
Lelaki tersebut menatap Ivy tajam. "Berhenti memanggil namaku seperti itu. Namaku Rodrigo D'angelo. Panggil aku Rodrigo" kata Rodrigo setengah membentak.
"Jangan membentak Ivy, Digo. Turunkan nada bicaramu." Troy menegur Digo dengan tatapan tajamnya.
"Kau terlalu memanjakannya Troy" kata Rodrigo. "Dan berhentilah memanggil namaku dengan panggilan menjijikan itu. Setidaknya panggil aku Digo" kata Rodrigo lagi pada Ivy.
"Aku tidak mau, Digy" Ivy menolak.
__ADS_1
"Digo, Ivy" Rodrigo membenarkan namanya.
"Digy"
"Digo"
"Digy, digy, digy" Ivy mengucap nama Digo yang salah berulang kali.
"Ah, terserah kau saja" kata Digo menyerah.
Ivy tertawa puas mendengarkan jawaban Digo. Troy yang melihat pertengkaran mereka tertawa kecil. Tatapannya beralih kepada pria bercodet yang melihatnya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Troy pada pria bercodet yang menatap datar tingkah saudara tak sedarahnya.
Pria tampan bercodet itu tersenyum, namun senyuman itu lebih tepat di katakan seringaian dari pada senyuman.
"Kita lihat nanti, aku akan melihat hasil yang mereka dapatkan dan melaksanakan misi berikutnya. Aku yakin mereka akan berpikir ulang untuk menghancurkanku"
"Ck ck ck, Micky dari pada kau sibuk menghancurkan orang, lebih baik kau beristirahat dan bersenang-senanglah" kata Ivy sambil mengambil sodanya di meja.
"Tidak semudah itu, Ivy. Ini masalah kehidupanku yang terusik dan aku tidak suka bila daerah kekuasaanku diganggu" lelaki yang dipanggil Micky membalikkan badannya dan kembali menatap pemandangan indah yang disajikan alam.
“Tidak lucu,” kata Digo kesal.
Troy mengusap kepala Ivy pelan. "sudah Ivy, kau terlalu banyak tertawa, berhentilah menganggu Digo" Troy mengingatkan Ivy, untuk berhenti tertawa. Ia mengingatkan Ivy, karena melihat wajah Digo yang memerah menahan marah dan malu.
"Iya iya, peace Digy" Ivy mengangkat dua jarinya sambil tersenyum cengengesan pada Digo. Digo yang melihat itu hanya membuang muka dari Ivy dan menghabiskan Wine nya dengan sekali teguk.
Ivy menghabiskan Soda nya dengan cepat. "Baiklah, ada suatu kerjaan yang harus Ivy lakukan, Ivy pamit duluan."Ia pun mengecup pipi Troy. Setelah mengecup pipi Troy ia berdiri dan berjalan menuju Michael dan mengecup pipinya.
"Ingat Micky, sekali-kali kau perlu bersenang-senang. Dan satu lagi, bila kau membutuhkanku, aku siap membantu" setelah mengucapkan kata-kata itu ia berlalu pergi.
Michael menghabiskan winenya yang tinggal sedikit dan berjalan mendekati meja dekat sofa. Ia menuangkan lagi wine yang diatas meja ke gelas miliknya.
"berhentilah memanjakan Ivy, Troy. Kau lihat, ia makin kekanakan" Digo berkata sambil meletakkan gelas kosong miliknya dimeja.
__ADS_1
Troy tersenyum menyesap winenya yang tinggal sedikit. "Aku tidak akan berhenti memanjakan Ivy, Digo. Begitu juga dengan little angle. aku senang, mereka berdua berhenti dari bisnis gelap ini."
"Ck kau- "
BRAKK
Pintu yang terbuka keras menghentikan percakapan Digo. Mereka bertiga melihat Ivy yang ngos-ngosan di depan pintu membungkukkan badannya mencoba menetralkan nafasnya yang memburu akibat berlari.
"kenapa kau berlari, cara? Apakah ada yang kau lupakan?" Troy bertanya.
Setelah nafasnya sudah netral kembali. Ivy berjalan mendekati Digo. "I forgot something" ujarnya sambil mengecup pipi Digo. "Aku pergi dulu Digy, Bye" setelah mengucapkan perpisahan, dengan santai dia berjalan keluar.
Tiga pria didalam ruangan hanya bisa saling memandang satu sama lain.
"jadi ia balik lagi sambil lari-lari hanya karena lupa mengecupku dan mengucapkan kata 'Bye'?" Tanya digo tak percaya.
Troy tersenyum kecil dan meletakkan gelasnya yang sudah kosong di meja. Sedangkan Michael hanya diam tidak ingin merespon prilaku Ivy.
"Sudahlah Digo, Ivy hanya ingin menunjukkan bahwa ia menyayangi kita semua dengan tindakan kecilnya. Kurasa tidak ada yang salah, walaupun terlihat berlebihan" kata Troy melihat Digo yang masih terheran-heran.
"Aku heran padamu Digo, kita sudah bersama selama 20 tahun tapi kenapa kau belum hafal tingkah para para gadis kecil itu!? Yang satu manja dan yang satunya terlalu misterius" kali ini Michael yang berbicara.
"Yah, aku hanya- " Digo menggaruk kepalanya pelan. "Ah, sudahlah. aku Pergi saja" Michael berdiri dari duduknya. Ketika ia akan beranjak pergi ia teringat akan sesuatu. " Micky, barang yang kau pesan minggu lalu sudah aku siapkan. Terserah padamu kapan kau akan mengambil benda itu. Bila kau siap untuk mengambil barang itu, hubungi Dave" setelah itu ia beranjak meninggalkan Micky dan Troy.
Troy melihat Micky yang masih tenang menyesap minumannya. "kalau Begitu aku juga permisi. Ada suatu pekerjaan yang menantiku"Troy pun berlalu meninggalkan Michael.
Sebelum Troy keluar, ia membalikkan badannya "Michael, berhati-hatilah dengan Xanders. Aku tidak menyukai-nya"
Michael yang mendapat peringatan Troy hanya menyeringai senang "bila ia licik, maka aku lebih licik."
Troy pun berbalik dan berjalan keluar. Ia tak meragukan perkataan Michael. Bertahun-tahun mereka bersama dan Troy yang paling mengenal setiap prilaku sahabatnya yang telah dianggap saudara.
Didalam ruangan yang ditinggalkan Troy, Michael menyesap wine nya dengan santai. Dikepalanya sudah tersusun rencana untuk menghancurkan xanders sampai tak bersisa. Ia adalah Michael Geraldin, pemimpin mafia yang terkenal akan kekejaman dan keganasannya. Siapapun yang bermain dan mengusik ketenangan Michael, ia patut mendapatkan balasan yang setimpal.
.
__ADS_1
.
.