Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
1. Harumi


__ADS_3

Cuaca cerah, langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Harumi menatap jauh keluar jendela pesawat. Penumpang lain sudah tertidur lelap tapi Harumi tak kunjung bisa memejamkan matanya. Terbayang wajah sedih neneknya karna harus melepas cucunya untuk pergi jauh.


"jaga dirimu baik-baik, hati-hati disana ya." begitu pesan neneknya.


"aku akan baik-baik saja nek, jangan terlalu mengkhawatirkan aku ya, nenek juga jaga kesehatan selama aku pergi. Aku akan jaga diriku disana." ucap Harumi meyakinkan nenek karna raut muka nenek nampak sangat khawatir. "aku benar-benar akan menjaga diriku, lagipula ini bukan kali pertama aku pulang kan nek." memeluk hangat nenek. Nenekpun membelai rambut lurus Harumi.


Gadis itu terus terbayang wajah khawatir nenek, perlahan Harumi menghela nafas panjang, menutup jendela yang ada disampingnya, memperbaiki posisi duduknya, dia nampak sangat gelisah. Dilihatnya jam ditangan, tengah malam, batinnya.


Salah seorang pramugari ternyata memperhatikan kegelisahan Harumi, pramugari itupun segera menghampiri harumi.


"apa ada yang membuat anda kurang nyaman nona?" tanya pramugari itu dengan senyum ramahnya.


"tidak, tidak ada," jawan Harumi


"apa anda membutuhkan sesuatu?"


"emmmm,,apa disini disediakan mie?" Harumi bertanya malu-malu.


"tentu saja nona, saya permisi sebentar" pramugari itu berlalu meeninggalkan Harumi, sesaat kemudian si pramugari kembali dengan membawa menu ditangannya.


Harumi sibuk memilih menu, tidak hanya mie, banyak juga pilihan makanan lainnya. Harumi kemudian memilih salah satu menu mie yang gambarnya sangat menggoda. Sementara si pramugari memperhatikan disampingnya.


"baiklah nona, saya akan segera menyiapkanya." pramugari itupun segera pergi untuk menyiapkan pesanan Harumi.


Kembali mengedarkan pandangan kesekelilingnya, hanya dia yang masih terjaga. Kelas bisnis yang sangat nyaman, tapi tidak bagi Harumi. Hatinya gundah teringat wajah renta nenek.


Makanan yang dipesan Harumipun tiba. Langsung disantapnya dengan lahap. Sebenarnya dia tidak lapar. Bagi harumi makan mie adalah obat terbaik saat dia gelisah khawatir, saat hatinya tak tenang. Memang dia pecinta segala jenis mie. Mie apapun itu.


Apa ayah akan senang melihatku?


Sekilas terbersit tentang ayahnya. Walaupun kali ini ayahnyalah yang menyuruhnya pulang, tapi hati Harumi tetap tidak tenang. Mengingat selama ini ayah tidak begitu menyukainya.


Sejak kecil Harumi tinggal bersama nenek dari pihak ibunya di indonesia. Sedangkan ayah dan ibunya tinggal di korea. Harumi jarang sekali pulang. Kalu tidak ada keperluan yang benar-benar mendesak.


Kali ini ayah tidak menjelaskan kenapa menyuruh Harumi pulang. Gadis itu hanya meng-iyakan semua yang dikatakan ayahnya tanpa bertanya alasannya. Aura wibawa ayahnya benar-benar membuat Harumi takut. Dia bahkan tidak pernah membantah sekalipun.


Perjalanan masih panjang, masih butuh beberapa jam lagi baru pesawat akan mendarat, dan Harumi benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Guling sana, guling sini, membaca buku yang dibawanya, bosan. Kemudian membuka laptopnya, mencoba mencari ide untuk tulisannya. Tapi ide itu tak kunjung muncul.


Lagi Harumi mendesah sebal. Fikirannya benar-benar berkecamuk. Menyapu pandangan di sekitar tempat duduknya.


"ayah, aku rindu ayah, aku rindu ibu, aku rindu kakak," gumamnya lirih.


Terbayang kembali peristiwa 17 tahun yang lalu, saat itu Harumi masih berumur belum genap delapan tahun. Saat ayah memaksa Harumi untuk tinggal bersama nenek. Entah apa alasannya, bahkan sampai sekarang Harumi masih belum mengerti kenapa ayahnya tega membuangnya.

__ADS_1


Sejak saat itu kebencian ayah pada Harumi semakin menjadi, bahkan Ayah seperti tidak menganggap Harumi adalah putrinya.


Harumi bersyukur masih ada nenek yang menyayanginya sepenuh hati.


"sabar, suatu hari nanti saat ayahmu sudah siap dia akan menceritakan semuanya dan menerimamu dengan tangan tetbuka." begitu ucap nenek menguatkan.


"masih belum bisa tidur nona?" sipramugari yang tadi mendekat.


"iya, mataku seperti tidak mau terpejam padahal aku sangat mengantuk."


"nona sepertinya sangat gelisah," sambil menyodorkan segelas air putih untuk Harumi.


"trimakasih"


"baru pertama kesini nona?" tanya pramugari itu ramah.


"tidak, sudah beberapa kali. Saya sedikit mabuk udara." Harumi menjelaskan.


"anda perlu obat, akan saya ambilkan sebentar."


"tidak perlu, trimakasih, saya akan baik-baik saja setelah istirahat sebentar"


"baiklah,kalau begitu saya permisi." pramugari itupun berjalan menuju ruangannya.


Dia tidak tau sepasang mata wanita yang sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya. Wanita itu bersiri dan menghampiri Harumi,


"maaf kak, apa saya bisa duduk disini?" tanya wanita itu menunjuk kursi di sebelah Harumi yang kosong.


"o,,ya,, silahkan" Harumipun langsung kembali duduk dari bersandarnya.


"saya takut ketinggian, jadi saya juga tidak bisa tidur." jelas gadis itu tanpa diminta


Harumi membenarkan selimut untuk menutupi kakinya yang dingin. Dia hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi gadis itu. Gadis itu menjelaskan bahwa namanya adalah Debi, perjalanan kali ini untuk melihat konser yang sudah ditunggunya selama dua tahun. Idolanya akan tampil dikonser itu.


Wahhh,,demi melihat konser dia sampai rela terbang walaupun takut ketinggian. Apa sih hebatnya menonton konser? Harumi hanya membatin.


Debi terus saja mengoceh seperti mereka sudah kenal lama saja. Ya walaupun Harumi tau itu untuk mengusir rasa takutnya. Dia hanya sesekali menjawab, selebihnya cuma mengangguk, dan itu sangat tidak nyaman baginya.


Harumi gadis introvert, penyendiri, tidak suka bergaul, pendiam tidak suka banyak bicara, tidak terlalu suka keramaian. Temanya bahkan bisa dihitung dengan jari. Karna itu dia lebih suka menuangkan fikirannya dalam bentuk buku dan naskah untuk film dan drama. Itupun dia hanya mengerjakannya dibalik layar tanpa diketahui siapapun.


Ayahnya adalah seorang pengusaha yang lumayan disegani, perusahaannya banyak, tapi itu tidak membuat Harumi menjadi anak yang dimanja akan kekayaan orangtuanya. Dia bahkan diasuh oleh neneknya. Sedangkan ibunya adalah seorang diplomat yang sukses. Tapi semenjak menikah ibunya memutuskan untuk berhenti dan fokus membantu suaminya.


Dikeluarganya hanya ibu dan kakak laki-lakinyalah yang menerimanya dengan tangan terbuka layaknya sebuah keluarga.

__ADS_1


Ah,,Debi masih belum berhenti bicara. Gadis itu bahkan tidak peka dengan ketidaknyamanan yang sengaja ditunjukkan Harumi.


Harumi kembali membuka penutup jendela, diluar masih sangat gelap. Sementara disampingnya Debi terus saja bercerita yang entah apa, bahkan Harumi tidak sepenuhnya mendengarkan.


"kak, apa kakak tidur?" Harumi sengaja tidak menggubrisnya. Dia pura-pura memejamkan matanya. Malas menanggapi. "ch! Kenapa dia malah tidur mendengar ceritaku sih."


Cerita-cerita Debi seperti dongeng pengantar tidur. Perlahan rasa kantuk kembali datang. Dan akhirnya Harumipun terlelap.


Harumi terbangun, terkejut mendengarkan pemberitahuan lewat pengeras suara. Dia diberitahu bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Harumi merapikan beberapa barang yang tadi sempat dikeluarkan dari dalam tasnya. Sempat menoleh kearah samping mencari sosok Debi tapi gadis itu sudah tidak ada.


Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna. Harumi mengantri untuk keluar. Dia melihat pramugari yang ramah semalam. Menganggukan kepala dan memgucapkan terimakasih.


Diluar sudah agak terang. Temaram cahaya matahari sudah hampir muncul. Ah, mataharipun sudah bangun. Gumam Harumi.


Terus berjalan menuju bagian imigrasi, tidak lupa Harumi menghidupkan ponselnya. Begitu ponsel menyala langsung saja beberapa pesan masuk, bahkan ada pesan suara juga. Dari kakaknya Jung Seok.


"kau sudah sampai?" terdengar suara renyah kakaknya. "kalau sudah sampai segera hubungi aku, kukirim supir untuk menjemputmu."


Harumi tesenyum senang. Tapi urusan di kantor imigrasi belum selesai karna dia harus mengantri.


Setelah mengantri cukup lama akhirnya Harumipun selesai mengurus semuanya. Berjalan keluar dari bandara. Harumi tidak membawa banyak barang, hanya tas punggung yang isinya laptop dan beberapa barang penting. Dia bahkan tidak membawa pakaian karna disini juga banyak pakaiannya.


Keluar dari pintu Harumi dikejutkan dengan teriakan beberapa orang, nampak orang-orang itu berkerumun dan sibuk memotret. Sampai seseorang berlari dan menabraknya dari arah belakang. Hampir saja harumi terjatuh. Untung dia punya reflek yang bagus.


Ih.! Siapa sih itu? Artis apa? Sampai segitu hebohnya.


Harumi menatap tidak senang karna jalanya jadi terganggu. Mencoba memecah kerumunan, setelah berusaha keras akhirnya dia terbebas juga dari gelombang manusia itu.


Diluar ternyata supir yang diutus kakaknya sudah menunggu. Supir itu mengangguk sopan saat melihat Harumi.


"selamat datang nona, biar saya bawakan barang-barang nona" supir itu menawarkan diri


"tidak perlu pak, terimakasih, saya bisa membawanya sendiri." harumi menolak secara halus.


Harumi mengikuti langkah pak supir menuju tempat parkir dimana mobil berada. Supir itu membukakan pintu dan mempersilahkan Harumi untuk masuk.


"pak, saya mau tidur, kalau sudah sampai di rumah tolong bangunkan saya."


"baik nona, nona mau kerumah siapa?"


"kita pulang kerumah kakak saja ya,"


"baik,kalau sudah sampai saya akan bangunkan nona. Silahkan istirahat dengan nyaman.

__ADS_1


Kemudian mobilpun melaju dengan kecepatan sedang. Dan harumi terlelap dikursi belakang.


__ADS_2