Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang tak diharapkan oleh Harumi. Ingin sekali dia membuat seribu alasan agar tak perlu datang kepertemuan itu. Haruskah ia meminta tolong Jisan agar membawanya pergi dari sini? Jisan sudah pasti mau kalau Harumi yang memintanya.


Harumi meraih ponsel diatas meja riasnya. Mencari nomor kontak Jisan, menghubunginya berkali-kali, tapi tak juga tersambung. Sepertinya Jisan sedang sibuk. Dari kemarin Jisan tidak menghubunginya. Harumi bisa menebak, pasti Jisan malu tentang malam itu. Dia pasti sudah mengingat semuanya.


Sudah hampir siang. Tapi Harumi tak mau keluar dari kamarnya. Dia bahkan melewatkan sarapan paginya. Fikiranya sangat kacau sekali.


Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Harumi kemudian mempersilahkan masuk.


"maaf nona, ada yang datang menjemput nona, katanya disuruh tuan besar. Sudah menunggu dibawah." jelas pelayan itu.


"baiklah, trimakasih. Bilang padanya aku akan mandi terlebih dahulu."


"baik nona"


"bi, apa kak Jun sudah berangkat bekerja?" tanya Harumi lagi. Pelayan yang sudah hampir menutup pintu itupun kembali membuka pintu.


"sudah dari tadi pagi nona. Kalau begitu saya permisi." pelayan itu menutup pintu dan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.


Harumi menghela nafas panjang. Dia akan menghadapi ini semua. Toh selama ini dia bisa melewati semuanya.


Setelah mandi, Harumi berpakaian dan turun kelantai bawah. Seseorang sudah menunggunya didepan rumah siap dengan mobilnya. Supir itu menunduk hormat kepada Harumi, dan membukakan pintu mobil untuk Harumi.


Gadis itupun masuk kedalam mobil dengan perasaan tidak karuan.


Apa kubunuh saja sopir ini kemudian aku kabur?


Sejenak fikiran jahat Harumi muncul. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengibaskan fikiran-fikiran jahat yang sempat mampir diotaknya.


"kita berangkat sekarang nona." kata sopir itu lagi setelah memasang sabuk pengamannya , kemudian mobilpun melaju membawa Harumi ke neraka yang tak diketahui dasarnya.


Sesampainya dihotel milik ayahnya, Sopir menurunkan Harumi tepat didepan pintu masuk. Seseorang segera menyambut Harumi dan mengantarkannya kesebuah ruangan vvip.


Harumi masuk kedalam ruangan itu. Ternyata sudah ada ayah dan Runa disana, juga seorang pria dan wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengan ayah.


Harumi sekilas melirik Runa yang tengah asik dengan ponselnya, penampilannya sangat mewah, sangat berbeda sekali dengannya yang hanya berpakaian sederhana. Terlihat ayah sedang mengobrol dengan tamunya itu.


"maaf aku terlambat ayah." kata Harumi. Ayah hanya melihat dan mengangguk sekilas. Sedangkan Runa menatap dengan penuh kebencian.


"oooo...kamu sudah datang? Kamu pasti Haruna ya,,waaahhhh kalian sangat mirip sekali, aku hampir tidak bisa membedakannya." wanita paruh baya yang berpenampilan tak kalah mewahnya dari Runa, berdiri dan menyambutnya.


"ya jelas saja mirip, namanya juga kembar." pria paruh baya itu menimpali.


"kamu sudah sebesar ini. Ternyata kamu tumbuh dengan sangat baik." wanita paruh baya yang tak dikenal Harumi itupun membelai lembut rambut Harumi.


"halo tante, apa kabar?" Harumi menunduk hormat pada wanita didepannya.


"baik, baik, ayo duduk." ajak wanita itu lagi. Harumipun mengikuti wanita itu duduk disebelah Runa. Terlihat satu kursi lagi yang masih kosong. Kursi yang tepat berada dihadapannya.


Ayah sibuk bercerita tentang bisnis dengan pria dihadapannya. Runa sibuk dengan ponselnya.


'dandanan model apa itu? sudah kubilang jangan memalukan kami.!' sebuah pesan masuk keponsel Harumi. Gadis itu hanya menoleh dan melirik kearah si pengirim pesan.


"bagaimana kabarmu?" tanya wanita didepannya


"baik tante."


"sedang sibuk apa sekarang?"


"saya menulis naskah untuk film tante." jelas Harumi singkat.

__ADS_1


"waaahhh,,,benarkah? Itu keren..!" wanita itu nampak antusian dengan Harumi. Sedangkan Runa hanya mencibirkan bibirnya saat mendengar pujian untuk Harumi.


"sayang, mana anak itu? Kenapa belum sampai juga, coba kau hubungi dia." kata pria paruh baya itu.


"oh,,iya, sebentar ya.." wanita itu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, kemudian menghubungi seseorang. "benarkah,,? Baiklah, cepat ya..." wanita itu kemudian menutup telfonnya.


Tidak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan seseorang untuk masuk kedalam ruangan. Harumi tidak ingin melihatnya. Dia tau itu adalah laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Jadi dia hanya menundukkan kepala melihat kebawah meja.


"maaf saya terlambat." ucap pria itu. "ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dulu."


"kamu ini.! Sudah dibilang jangan terlambat."


"maaaf bu." pria itu kemudian duduk tepat dihadapan Harumi.


Harumi masih saja menundukkan kepalanya. Dia benar-benar enggan melihat bentuk dan rupa pria yang duduk dihadapannya. Dia meremas jari-jarinya sendiri.


Tolonglah! Tolong jangan anda setujui rencana gila ini. Tolong!


"Oo?! Harumi?" pria itu mengenali dirinya.


Spontan Harumi melihat kearah pria yang duduk disebelahnya. Tapi pria itu justru menatap Runa dan terkejut saat melihat Harumi.


"kok ada dua?" pria itu nampak kebingungan. Bergantian menatap Runa dan Harumi.


Tak kalah terkejutnya, Harumi melongo.


"aku Runa. Dia yang Harumi." Runa menjelaskan. Pria itu gantian melihat Harumi.


"Choi Hyun??!" apa-apaan ini? Situasi gila macam apa ini?


"apa? Kalian sudah saling kenal?" si tante juga tak kalah terkejut.


"iya bu, Harumi adalah penulis naskah film yang kumainkan."


"itu bagus, kita bisa melewatkan acara perkenalannya." ayah membuka suara.


Beberapa pelayan masuk menghidangkan makanan yang telah dipesan sebelumnya.


"mari kita makan dulu. Setelah itu kita bicarakan kelanjutannya." kata ayah lagi.


Semua yang ada diruangan itu menyantap makanannya dengan lahap. Bahkan Harumi. Fikirannya sedang berkecamuk. Tidak menyangka pria yang akan dijodohkan dengannya adalah Choi Hyun. Kesan pertama bertemu ia sudah tidak suka dengan pria itu. Dan situasi ini, rasa tidak sukanya jadi bertambah.


Setelah semua menyelesaikan makanan, pelayan masuk dan membersihkan meja, mengganti menu dengan makanan ringan.


"kamu pasti sudah tau tujuan kita berkumpul disini kan nak Hyun?" ayah mulai bicara dengan serius.


"iya om, saya sudah mendengarkannya dari ayah."


"kebetulan kalian sudah saling mengenal satu sama lain. Apa kamu bersedia menikahi Harumi?" tanya ayah lagi.


"saya bersedia om."


Hah?! Apa?! Ada apa dengannya?! Dia sudah gila apa?


Harumi mengernyitkan dahinya. Dia melotot. Matanya sudah seperti mau keluar saja. Gadis itu marah. Sangat marah.


Dasar pria gila.! Umpatnya dalam hati.


"wah,,bagus,,bagus,," ayah Hyun mengangguk. "berarti kita bisa segera melangsungkan pernikahannya."

__ADS_1


"tentu saja." kata ayah.


Sekali lagi, bahkan semua yang hadir tidak menanyakan pendapat Harumi. Gadis itu merasa ia hanya dianggap seperti barang. Sesuatu yang tidak punya perasaan. Tapi Harumi tegar. Dia sudah bertekad akan membatukan hatinya. Jadi ia berusaha keras untuk tegar.


"minggu depan kita laksanakan acaranya." ayah Hyun tak kalah bersemangat.


Apa? Minggu depan? Ada apa dengan mereka semua?


Harumi tetap terlihat tenang, padahal didalam hati ia menjerit sekuatnya. Giginya bergeretak saling menggigit. Tangannya meremas dibawah meja.


"bagaimana Harumi? Apa kamu punya tanggal sendiri?" tanya ibu Hyun.


"tidak. Lakukan saja seperti itu." kata Harumi. "tapi aku punya syarat." Harumi terpaksa mengajukan syarat untuk melindungi dirinya sendiri.


"syarat?" ayah menatap tajam kepada Harumi.


"apa syaratnya?" tanya Ayah Hyun penasaran.


"saya ingin pesta pernikahan diadakan secara sederhana dan tertutup. Saya tidak mau ada media yang tau tentang pernikahan ini. Pokoknya tidak ada yang boleh tau tentang pernikahan ini." kata Harumi tegas.


"Harumi." kata Choi Hyun lirih.


"tolong setujui syarat saya ini."


"baiklah. Semua sudah sepakat." ayah bangkit dari duduknya dan bersalaman serta memeluk ayah Hyun. Calon besannya itu menyambut pelukan ayah.


Ibu Choi Hyun berdiri dari kursinya dan menghampiri Harumi. Memeluk gadis itu dengan hangat.


Habislah kau. Batin Runa.


Setelah kesepakatan bersama, acara makan siang itupun berakhir. Choi Hyun memperhatikan Harumi dengan seksama. Pandangannya tak lepas dari gadis itu. Entah kenapa dia juga menyetujui pernikahan ini.


Sesampainya di luar hotel,ayah dan Runa masuk kedalam mobil yang sama. Begitu juga ayah dan ibu Choi Hyun.


"Hyun, kamu antar Harumi pulang ya." pinta ibunya.


"iya bu."


Setelah mengantarkan ibu dan ayahnya, Choi Hyun kembali menghampiri Harumi.


"aku akan mengantarkanmu."


"tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Harumi menolak dengan halus. Bisa-bisa besok pagi baru sampai rumah, batin Harumi.


Gadis itupun kemudian berjalan meninggalkan Choi Hyun yang masih berdiri didepan hotel. Harumi berhenti disebuah halte bis yang tak jauh dari hotel., menunggu bis. Dia akan pulang naik bis saja daripada bersama Choi Hyun.


Lumayan lama menunggu, tapi bis tak kunjung datang. Tiba-tiba ada seorang pria yang mengendari motor berhenti dihadapannya. Pria itu mengenakan helm dan masker yang hampir menutupi wajahnya. Hanya matanya saja yang terlihat. Sekilas terlihat keren.


Pria itu turun dari motornya, meraih helm yang terikat di jok belakang dan memberikannya pada Harumi. Gadis itu menatap heran.


"siapa anda?" tanya Harumi.


"naiklah, aku akan mengantarmu pulang."


Ah, suara itu, bukankah itu Choi Hyun?


"sudah kubilang tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."


"ada yang ingin kubicarakan denganmu."

__ADS_1


Nada suara Hyun terdengar serius. harumi memutuskan untuk mengikuti pria itu. Dia juga ingin menanyakan sesuatu pada Hyun.


Choi Hyun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dia lebih mahir mengendarai motor ketimbang mobil. Bukan dia tidak bisa, ada sesuatu hal yang membuatnya tak suka menyetir mobil.


__ADS_2