Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
Bertemu Jisan


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak kejadian memalukan itu. Hari ini Harumi berencana untuk pergi kerumah atapnya dan memebereskan beberapa barang yang sudah dipesannya kemarin. Dia sudah berangkat saat Hyun bahkan belum bangun tidur.


Sesampainya dirumah atapnya, Harumi segera membereskan barang-barangnya. Didalamnya hanya ada sebuah sofa panjang, meja dan kursi untuk ia bekerja. Dapur mini dan beberapa peralatan memasak.


Lelah setelah beberes, Harumi melemparkan tubuhnya kesofa. Mengecek ponsel dan e-mail yang masuk. Beberapa rumah produksi mendesaknya untuk bekerja sama menggarap film terbaru. Dia membaca semuanya. Tidak ada yang menarik. Akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan menulis naskah yang sedang berjalan.


Harumi membuka laptopnya dan mulai menulis. Serius sekali sampai dia tidak menyadari kalau hari sudah beranjak sore dan perutnya sudah mulai lapar.


Tidak lama kemudian seorang mengetuk pintu rumahnya, mungkin itu adalah kurir makanan yang tadi dipesan Harumi. Diapun segera membuka pintu.


"kak Ji.!" Harumi tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya saat tau siapa yang datang.


Dengan senyum lebar Jisan memamerkan bungkusan makanan yang dibawanya.


"lama tidak jumpa ya?"


"tega sekali baru datang.!" Harumi memasang wajah cemberut


"maaf, aku sangat sibuk belakangan ini. Boleh masuk tidak?"


"ah. Ya. Hehe,, masuklah."


Mereka berdua masuk, Harumi segera membuka bingkisan yang dibawa oleh Jisan. Ayam goreng pedas. Sesuai selera Harumi.


"ah, kak Ji. Paling tau apa yang sedang kufikirkan." puji Harumi. "bagaimana kakak tau aku disini?"


"apa yang tidak kutau darimu?"


"wahhh,, mengerikan sekali. Apa jangan-jangan kakak memasang GPS di bajuku? Atau sepatuku? Atau jangan-jangan didalam otakku?"


"dasar gila.! Sepertinya kau terlalu banyak menghayal."


Tidak lama kemudian datang kurir makanan membawakan mie yang dipesan Harumi tadi. Sayangnya cuma satu mangkuk.


"kak Ji tidak bilang sih kalau mau datang, jadi aku cuma pesan satu."


"tidak apa, makanlah, aku sudah makan tadi."


"okelah, aku makan dulu." Harumipun menyeruput mienya dan tidak bicara sampai habis.


"lahap sekali makannya, seperti sudah beberapa hari tidak makan saja." protes Jisan.


"ah..aku kelaparan." katanya lagi sambil meneguk segelas air putih. "kak Ji sibuk apa sih? Oh ya, bagaimana kabar Kak Jun?"


"kau ini.!" Jisan menjitak kening Harumi.


"au.!!" Harumi mengusap keningnya.


"tega sekali kau belum menghubunginya."


"aku sibuk dirumah, aku bahkan tidak punya waktu untuk mengecek ponselku."


"ch.!"


"aku baru bisa jalan. Kakiku terluka saat dirumah."


"apa?! Kau terluka?! Mana?!" Jisan langsung membolak-balikkan tubuh Harumi.


Harumi menunjukkan telapak kakinya, ada bekas luka kecil yang sudah mengering.

__ADS_1


"sudah tidak apa-apa, sudah sembuh."


"eiii.. Dasar.!"


"hahahahaha"


Mereka tertawa bersama, kemudian mengobrol panjang lebar. Sampai Harumi tidak jadi melanjutkan naskahnya.


**********


Choi Hyun bangun dan segera masuk kekamar mandi. Setelah mandi dia keluar dari kamarnya dan tidak menemukan Harumi.


"dimana dia?" tanyanya seorang diri.


Kemudian dia berjalan menuju ke dapur. Sudah tersedia makanan disana. Harumi yang menyiapkannya tadi sebelum pergi.


Diapun segera duduk dan menyantap sarapannya.


Sekretaris Jang datang dan memberitahu jadwalnya hari ini.


"hari ini ada pemotretan dan syuting iklan tuan. Setelah itu tuan diminta kekantor, tuan Junseok ingin membahas tentang kontrak." Jang menjelaskan.


"kita kekantor dulu,."


"baik."


"Dan ini, ada paket, sepertinya dari penggemar, tapi tidak ada nama pengirimnya."


"taruh disitu dulu, dibuka nanti saja."


Merekapun kemudian berangkat ke kantor agensi mereka.


"oh. Kau sudah datang? Duduklah" sambut Junseok.


"iya, Hyung."


"waaahhh,,siapa yang menyangka seorang Hyun akan menjadi adik iparku? Bahkan kalian mendahuluiku menikah."


"itulah..aku juga tidak menyangka."


"bagaimana?"


"apanya?"


"adikku. Apa dia menyulitkanmu?"


"tidak, dia memperlakukanku dengan baik."


"tidak mungkin. Aku tau seperti apa dia. Pasti dia selalu punya cara untuk menghindarimu kan?"


"hmmmm,,,tidak juga. Kami selalu bertemu dirumah dan mengobrol."


"mengobrol? Rumi?"


"iya."


"wah,,ada apa dengannya?" Junseok meyakinkan diri sendiri bahwa yang dikatakan Hyun benar adanya.


"Hyung, seperti yang kukatakan waktu itu, aku tidak akan memperpanjang kontrak. Ahh..aku sudah bosan mendengar omelan ayah."

__ADS_1


"iyalah. Memang sudah waktunya kau membantu ayahmu. Aku saja kasihan dengan paman. Masak kau tidak?"


"trimakasih Hyung sudah merawatku selama ini."


"sama-sama. Kau harus membalasku dengan memperlakukan adikku dengan baik, oke?"


"hahahaha,," mereka tertawa.


Hyun dan sekretaris Jang keluar dari ruangan Junseok. Mereka berpapasan dengan Jisan. Mereka saling mengangguk ramah.


"Hyun.! Ayo kutraktir kau kopi." ajak Jisan. Hyun tau bahwa Jisan ingin berbicara dengannya. Diapun meng iyakan ajakan Jisan.


Mereka lalu turun ke lantai satu dimana terdapat cafe perusahaan. Setelah memesan minuman, mereka duduk berhadapan disebuah kursi yang berada dipojok. Sementara sekretaris Jang menunggu di luar.


"Hyun. Rumi, aku menyukainya." kata Jisan memainkan gelas kopinya.


Deg.! Ada rasa nyeri disudut hati Hyun. Entah kenapa, padahal dia tau hal itu.


"kenapa kau memberitahuku hal itu? Bukankah seharusnya kau mengungkapkan langsung kepadanya."


"sudah, berkali-kali malah. Tapi dia selalu menolakku dengan banyak alasan." kata Jisan lagi sambil menyeruput minumannya. "aku ingin meminta bantuantu."


"bantuan apa Hyung? Katakan saja."


"Harumi, jaga dan lindungi dia dengan baik. Karna aku tidak bisa melakukannya."


"apa maksudmu?"


"Hyun, dia gadis yang malang. Gadis yang dibenci oleh ayah dan saudara kembarnya. Hanya Junseok yang menganggapnya keluarga. Haruna, berhati-hatilah dengannya. Dia sangat membenci Rumi. Keluarga yang seharusnya melindunginya malah sering mencelakainya."


"kenapa bisa begitu Hyung?"


"nanti ada saatnya dia akan menceritakannya padamu. Aku tidak punya kapasitas untuk memberitahumu semuanya. Aku hanya akan menegaskan, Jaga dia. Kalau kau sampai membuatnya menangis, aku akan menghabisimu.!" kata Jisan mengancam.


"mana mungkin Hyung, tidak ada alasan bagiku untuk membuatnya menangis. Dia bahkan tidak menyukaiku."


"iya, aku tau itu. Hyun, dia gadis yang sangat baik, sangking baiknya dia rela ayah dan saudarinya menghancurkan hidupnya. Dia bahkan tidak pernah melawan. Dia menganggap semua perlakuan itu memang pantas untuknya, jadi dia menerimanya begitu saja. Aku tidak bisa menolongnya, bahkan Junseok tidak bisa menolongnya. Aku meminta bantuanmu karna sekarang dia terikat sebuah pernikahan denganmu. Aku mohon, bantu dia."


Hyun mendengarkan kisah Harumi dengan hati yang bergetar. Ya, semua orang punya kisah pilunya masing-masing. Dan seperti apa kisah pilu Harumi? Hyun jadi ingin tau lebih banyak.


"dan satu lagi, dia benci keramaian, dia benci bertemu dengan banyak orang. Perhatikan para penggemarmu. Aku sangat tau kau punya banyak penggemar fanatik. Jangan sampai mereka mengetahui pernikahan kalian, aku khawatir itu akan melukai Harumi. Kau tau kan betapa mengerikan penggemar fanatik itu.?"


"aku tau Hyung, aku akan berusaha sebaik mungkin." Hyun tidak tau harus berkata apa. Dia hanya bisa berjanji kepada Jisan.


Direlung hatinya, dia iri dengan Jisan yang sangat dekat dengan Harumi. Sedangkan dengan dirinya, gadis itu seperti memberikan batas yang tidak boleh dilewatinya. Junseok memang sering mencitakan tentang Jarumi, tapi tak pernah menceritakan tentang kisah Harumi yang menyedihkan itu.


Harumi, aku ingin tau lebih banyak tentangmu.


Setelah pembicaraan itu, Hyun pamit karna masih ada jadwal yang harus dia selesaikan, sementara Jisan kembali kekantornya yang berada dilantai atas.


Hari sudah sore saat Hyun selesai syuting iklan dan beranjak pulang. Disepanjang perjalanan dia tidak bisa berhenti memikirkan tentang Harumi dan kisahnya.


Sesampainya dirumah, Hyun langsung mandi dan rebahan disofa sambil menonton tv. Harumi belum pulang, padahal hari sudah hampir malam. Hyun mencoba untuk mengusir kekhawatirannya dengan memainkan ponselnya.


Hyun melihat kotak yang tadi diletakkan Jang diatas meja makan. Lalu diapun menghampiri kotak itu dan bermaksud membukanya. Dia terkejut bukaan main.


Kotak itu berisi beberapa lembar foto yang sudah disayat-sayat. Hyun semakin terkejut saat menyadari bahwa difoto itu adalah Harumi yang sedang mengenakan gaun pernikahan.


Dibagian paling bawah foto itu, terdapat sebuah surat dengan tulisan berwarna merah.

__ADS_1


'BERANI SEKALI KAU MENGHIANATI KESETIAAN KAMI.! CERAIKAN DIA ATAU KAMI AKAN MENCELAKAINYA.!'


__ADS_2