
Harumi tidak bisa tidur semalaman. Memikirkan kata-kata Hyun yang tidak pernah diduganya. Bagaimana dia bisa menyukainya? Bagaimana dengan wanita itu? Bukankah Hyun sedang menunggunya? Gadis itu jadi teringat kisah cinta Hyun yang menyedihkan.
Pintu kamar Harumi diketuk.
""Rumi.! Apa kau sudah tidur?" ternyata Hyun juga tidak bisa tidur.
"aku belum tidur." Harumi membuka pintu kamarnya. Hyun sedang berdiri disana. "ada apa?"
"aku tidak bisa tidur." kata Hyun lagi.
"lantas?"
"emmmm...soal kata-kataku tadi. Tolong jangan hiraukan. Aku sedang panik tadi." Hyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"bagaimana aku tidak menghiraukannya? Aku terlanjur mendengarnya."
Kau sering mendengar hal seperti itu dari Jisan."
"tapi kau bukan jisan." kata Harumi. "tunggu, darimana kau tau itu.?"
"oh..aku kebetulan mendengarnya. Apa kita akan bicara seperti ini?" tanya Hyun. Mereka masih saling berdiri dipintu kamar Harumi.
Keduanya lantas duduk dimeja makan didapur. Mereka saling pandang. Hyun nampak grogi.
"ayo kita jangan seperti ini." kata Harumi kemudian. "Bukankah ada seseorang yang kau tunggu?"
Hyun terdiam. Jujur saat ini perasaannya sedang bingung. Dihatinya sudah terisi seseorang. Tapi sekarang perlahan nama Harumi mulai muncul disudut hatinya. Dia masih menunggu wanita itu. Tapi Harumi yang mengisi hari-harinya.
"sejak kapan?" tanya Harumi lagi.
"hm?"
"sejak kapan kau menyukaiku?"
"entahlah. Aku mulai menghawatirkanmu, mulai menyukai masakanmu, menyukai perhatianmu. Dan aku mulai menyukai memandang wajahmu diam-diam. Aku mulai terbiasa mecarimu saat kau tidak ada dirumah. Aku penasaran kau sedang apa? Dimana? Dengan siapa?"
"Hyun-ssi. Aku .."
"Rumi. Aku tidak tau kenapa aku bisa menyukaimu. Aku sudah mencari-cari alasannya tapi aku tidak menemukannya. Aku ingin menjadi suamimu yang sesungguhnya."
Hyun pasti sudah gila karna dia mengakui semua itu. Harumi tidak bisa berkata apa-apa. Ada kesungguhan dimata Hyun. Dan ada sedikit kehangatan dihati Harumi.
Harumi meremas tangannya dibawah meja. Entah, rasanya sangat berbeda dengan saat Jisan yang mengungkapkannya. Hatinya berdesir saat menatap mata Hyun.
Perlahan airmata mulai menetes dari mata Harumi.
__ADS_1
"kau kenapa?" tanya Hyun yang kebingungan.
"apa aku pantas mendapatkannya?"
"kau sangat pantas Rumi."
"aku tidak tau. Bukan seperti ini tujuan ayah menikahkan kita."
"apa maksudmu?"
"apa kau tau? Runalah yang seharusnya menjadi istrimu. Awalnya kau dijodohkan dengannya. Tapi Runa menolaknya dan menaksaku menggantikannya. Dia bahkan mengamcamku. Dia ingin aku menderita setelah menikah denganmu. Itu adalah tujuannya."
Hyun mendengarkan Harumi dengan seksama. Dia tidak menyangka saudara kembar Harumi bersikap seperti itu.
"tapi dia saudarimu." kata Hyun tidak percaya.
"dia tidak pernah menganggapku seperti itu. Sejak 20 tahun yang lalu."
"apa yang terjadi?"
"aku tidak begitu ingat. Saat itu aku berumur 8 tahun. Aku, Runa dan ibu sedang berjalan pulang dari taman. Aku dan Runa selalu bermain disepanjang jalan. Ibu sudah memperingatkan kami agar tidak bercanda, tapi kami mengabaikannya. Kemudian aku terjatuh tepat didepan mobil yang sedang melintas. Aku masih ingat dengan jelas teriakan ibu wantu itu. Ibu langsung menarikku ketepi jalan. Tapi ibu tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Ibu pergi karnaku. Ayah sangat terpukul dengan kejadian itu. Aku tau ayah sangat mencintai ibu. Dan aku membuat ibu pergi. Setelah itu ayah mulai memperlakukanku berbeda, lambat laun dia mulai membenciku, dia mulai tidak menganggapku ada. Aku merasa bersalah telah merenggut kebahagiaan keluargaku."
Hyun berdiri dari kursinya. Berjalan menghampiri Harumi yang masih terisak. Membenamkan wajah gadis itu didadanya. Membelai lembut rambutnya.
"itu bukan kesalahanmu Rumi. Ibumu tidak akan menyalahkanmu."
Perlahan Hyun mendekatkan wajahnya kewajah Harumi. Menatap lekat istrinya itu. Dan perlahan menempelkan bibirnya di bibir Harumi. Gadis itu diam saja. Hyun mengulum bibir mungil Harumi dengan lembut. Harumi memejamkan matanya. Menikmati setiap momennya.
**********
Choi Hyun asik memandangi wajah sembab Harumi yang tengah tertidur. Dia menangis cukup lama semalam. Pria itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Memandangnya lagi dalam-dalam.
Perlahan Harumi membuka mata. Silau karna cahaya matahari masuk dari celah-celah jendela. Ternyata sudah pagi, batin Harumi.
Dia menangkap sosok pria tengah memandanginya dengan bertelanjang dada tengah duduk disamping ranjang. Lalu gadis itu mengedarkan pandangannya. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.
"apa aku tidur disini?" tanyanya.
"hm,,hm,," Hyun menjawab dengan anggukan.
"kenapa kau bertelanjang dada?"
"menurutmu kenapa?" Hyun tersenyum jahil.
"astaga.! Jangan-jangan?" Jarumi panil dan langsung mengintip kedalam selimutnya, dia ingin memastikan sesuatu. Harumi merasa lega setelah melihat pakaiannya masih utuh menempel ditubuhny.
__ADS_1
"hahaha,,apa yang kau fikirkan? Dasar mesum." Hyun menyentil kening Harumi.
"tidak, lagipula kenapa kau memandangiku dengan bertelanjang dada begitu? Membuatku berfikir yang tidak-tidak." bela Harumi.
"aku baru selesai mandi. Cepat bangun dan cuci mukamu, akan kusiapkan sarapan." Ucap Hyun lalu masuk keruang ganti dan keluar lagi setelah berpakaian lengkap.
Harumi mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan perhatian Hyun yang tiba-tiba. Diapun keluar dari kamar Hyun dan masuk kekamarnya sendiri. Dia hanya membersihkan mukanya saja. Tidak berniat untuk mandi.
Setelah selesai mencuci muka, Harumi yang masih terus menguap berjalan ke dapur. Dia duduk dimeja makan dan memperhatikan Hyun yang sedang menyiapkan sarapan.
Dia memperhatikan punggung Hyun yang bidang. Terlihat seksi.
Hyun menaruh sepiring omelet diatas meja. Harumi memandangi bergantian antara Hyun dan makan itu.
Apa ini? Katanya dia mau membuatkanku sarapan.
"jangan memandangnya dengan tatapan mengejek begitu. Walaupun cuma seperti itu tapi rasanya enak. Gini-gini aku juga bisa masak." jelas Hyun tidak terima sekaligus membanggakan diri. "makanlah perlahan"
Harumi mengambil makanan itu dan memasukkannya kedalam mulutnya.
"hmmm,,,,enak." katanya lagi.
"sudah kubilang aku pandai memasak." sekali lagi membanggakan dirinya.
"tapi kenapa saat pertama aku tiba disini sama sekali tidak makanan didalam kulkas?"
"benarkah? Mungkin itu karna aku tidak suka makan sendirian. Aku lebih suka makan diluar karna tidak ada yang menemaniku makan."
"o..begitu.."
"hari ini apa rencanamu?" tanya Hyun
"tidak tau, aku sedang malas melakukan apapun. Aku akan bermalasan saja dirumah atapku. Ah.! Seharusnya itu jadi tempat pelarianku darimu. Sekarang kau sudah mengetahuinya. Jadi tidak bisa disebut tempat pelarian lagi."
"apa? Tempat pelarian? Kenapa kau ingin berlari dariku?"
"hehehe,," Harumi hanya tertawa simpul sambil menaruh piring ditempat pencuci piring.
Hyun menghampiri Harumi di bak pencuci piring. "jelaskan dulu, kenapa kau ingin berlari dariku?" dia langsung membalikkan badan Harumi dan mendekatkan wajahnya.
"tidak apa-apa, hanya untuk berjaga-jaga kalau kau mengusirku." kata Harumi tergagap karna wajah Hyun begitu dekat. Hyunpun langsung menarik pinggul Harumi dan mendekatkannya sampai menempel dengan tubuhnya. Harumi bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibagian selangkang Hyun. Tiba-tiba wajah Harumi berubah merah padam.
Muah.!
Hyun mengecup singkat bibir Harumi. Gadis itu sontak membelalakkan matanya.
__ADS_1
"mulai sekarang, jangan pernah berfikir untuk berlari dariku. Atau kau akan menanggung akibatnya." kata Hyun sambil membelai wajah Harumi lalu meninggalkannya.
Kata-kata Hyun terdengar mesra tapi juga terdengar mengancam. Harumi hanya memandangi punggung Hyun yang berjalan menjauh darinya.