
Nayeon menduga, Harumi sudah mendengar rumor tentang Hyun yang suka berganti-ganti wanita.
"kakak ipar sudah mendengar rumornya ternyata. Pernah ada satu kejadian, salah satu wanita yang dibawanya ke hotel melanggar perjanjian, wanita itu menyentuh bibir kak Hyun, kakak ipar tau apa yang terjadi selanjutnya?"
"apa?" Harumi semakin antusian untuk mendengar kisah lengkapnya.
"dia menghancurkan kehidupan wanita itu. Sampai berkeping-keping, kak Hyun bahkan menghanncurkan keluarganya, sampai wanita itu mengakhiri hidupnya sendiri."
Wah? Benarkah Hyun orang yang kejam seperti itu?
Harumi mendengarkan kisah hidup Hyun namun bukannya membencinya, dia malah merasa iba kepada Hyun. Cinta mengubahnya menjadi semengerikan itu.
"kasihan sekali." ucap Harumi.
"siapa? Wanita yang bunuh diri itu? Iya, aku juga merasa iba dengannya."
"bukan, tapi Hyun-ssi."
"apa?!" Nayeon terheran-heran dengan yang diucapkan Harumi. Bagaimana bisa dia merasa iba setelah mendengar kekejaman Hyun? Sebenarnya Harumi melihat Hyun dari sudut pandang seperti apa?
Didalam kamar, Hyun bisa mendengar semua yang gadis-gadis itu bicarakan. Karna jarak antara dapur dan kamarnya berdekatan, lagipula pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat membuatnya mau tidak mau terpaksa mendengarkan. Dia hampir bangun dan memarahi Nayeon karna menceritakan semuanya kepada Harumi. Tapi dia terkejut setelah mendengar tanggapan Harumi. Ada sesuatu yang berdesir lagi dihatinya.
Hyun berusaha memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Walaupun badannya terasa patah-patah. Dia mendengar langkah kaki memasuki kamarnya, tapi dia tetap meringkuk didalam selimut.
"kak Hyun, aku pulang dulu, istirahatlah."kata Nayeon berpamitan.
Harumi mengantarkan Nayeon sampai kedepan pintu.
"hati-hati dijalan." kata Harumi.
"kakak ipar tidak perlu mengantarku, kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Nayeon memberikan nomor ponselnya kepada Harumi.
Harumi kembali kedalam kamar Hyun, memastikan bahwa pria itu benar-benar tidur. Dia melihat handuk kompres merosot sampai ketelinga Hyun. Harumi bermaksud membetulkannya, tapi kemudian tangan Hyun mencengkeram kuat pergelangan tangannya, membuat Harumi terkejut.
Wah? Kenapa aku ini? Berani sekali menyentuhnya, dia tidak akan menghancurkanku seperti yang dikatakan Nayeon tadi kan? tiba-tiba Harumi merinding ngeri membayangkannya.
"siapa kau ini?" tanya Hyun dengan tatapan Yang aneh.
"apa? Apa maksudnya?"
"berani sekali kau mengasihaniku. Kau fikir kau siapa? Membuatku bingung saja."
"apa maksudmu? Apa yang membuatmu bingung.?" Harumi memberontak ingin melepaskan tangannya dari cengkeraman Hyun. Tapi yang ada justru cengkramannya semakin kuat sampai Harumi mengaduh kesakitan.
Mendengar erangan Harumi, Hyun sontak melepaskan cengkramannya.
"maaf," katanya lagi.
Harumi dibuat bingung dengan sikap Hyun, mungkin seperti inilah dia saat sedang sakit, gumam hati Harumi. Dia memegangi pergelangan tangannya yang terasa nyeri, kemudian keluar dari ruangan itu.
Didalam kamarnya, Harumi tak bisa tidur. Tidak bisa dipungkiri, hatinya sangat mencemaskan Hyun.
Waktu sudah lewat dini hari, Harumi sedang memeriksa e-mailnya disofa ruang tamu. Tiba-tiba terdengar rintihan Hyun dikamarnya. Iapun segera memeriksa pria itu. Mengganti handuk basahnya sengan yang baru. Keringat masih membasahi sekujur tubuhnya. Harumi menempelkan tangannya di kening Hyun. Dia melihat tangan Hyun yang gemetar. Tanpa sadar dia meraih tangan itu dan menggenggamnya, kemudian dia menenangkan Hyun, menepuk-nepuk punggung tangannya sampai pria itu tertidur lagi.
**********
Hyun memicingkan matanya, hari sudah pagi. Matahari sudah menampakkan dirinya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing, luka di telapak tangan kanannya juga terasa sangat nyeri.
"apa ini? Kenapa dia disini?" gumam Hyun terkejut melihat Harumi yang sedang tertidur dengan posisi duduk dilantai dan menggenggam tangannya. Tepatnya Hyunlah yang sedang menggenggam tangan Harumi.
Terdengar bel pintu berbunyi.
"hei.! Bangun.! Tolong bukakan pintu." Hyun menarik tangannya dari tangan Harumi.
Harumi terbangun, sepertinya dia tidak terkejut saat menyadari dirinya ada dikamar Hyun.
Bel berbunyi untuk yang kedua kalinya. Harumi segera membukakan pintu.
__ADS_1
"tante, silahkan masuk." kata Harumi melihat ibunya Hyun sedang berdiri didepan pintunya.
"kok tante? Paggil ibu dong."
"oh, iya, ibu."
"dimana Hyun? Bagaimana keadaannya?" ibu masuk dan meletakkan bubur diatas meja makan.
"masih dikamar bu, baru saja bangun tidur."
Ibu langsung berjalan kekamar Hyun.
"oh ibu? Ibu datang?"
"bagaimana keadaanmu? Sudah baikan? Mau ibu panggilkan dokter?"
"tidak usah bu, aku sudah tidak apa-apa. Mana ayah?"
"kekantor, ibu datang sendiri."
"bagaimana ibu tau aku sakit?"
"Nayeon yang memberitahu ibu. Apa kau tau betapa khawatirnya ibu? Dasar anak nakal.!"
"maaf bu. Aku pasti sudah gila karna membuat ibu khawatir." Hyun memeluk ibunya dengan hangat.
Harumi terharu melihat pemandangan itu dari balik pintu yang terbuka. Mereka terlihat sangat dekat.
"bagaimana istrimu?" Ibu menanyakan sesuatu yang membuat Harumi terkejut.
"bagaimana apanya?"
"bagaimana pendapatmu tentang Harumi? Apa kau memperlakukannya dengan baik?"
"dia yang memperlakukanku dengan baik bu." ibu tersenyum senang.
"sepertinya dia merawatku semalaman."
"dia gadis yang baik. Jangan kau buat dia menderita ya, dia sudah cukup menangis sejak kecil."
"bu, sepertinya aku mulai menyukainya. Bagaimana ini? Apa itu terlalu cepat?"
"ya itu bagus. Berhentilah menunggu wanita bodoh itu, sudah cukup kau menyakiti dirimu sendiri nak. Ibu dengar dia sudah kembali."
"tolong jangan bicarakan dia bu, aku tidak ingin Harumi mendengarnya."
Harumi masuk membawa semangkuk bubur diatas nampan.
"ibu bawakan bubur, makanlah perlahan, ibu pulang dulu, ada hal yang harus ibu kerjakan. Oh iya, kalian pindah saja kerumah utama, Hyun kan sudah berhenti beakting, jadi bisa membantu ayah mengurus perusahaan. Kami akan pensiun dan pindah ke london. Sayang kalau dirumah itu hanya ada pelayan.
"kenapa buru-buru bu?" tanya Harumi.
"Rumi, ibu titip putra ibu ya,, dia memang keras kepala, tapi dia baik hati dan setia."
Entah apa maksud ibu bicara seperti itu kepada Harumi.
Harumi meletakkan bubur diatas meja disebelah tempat tidur. Kemudian mengantarkan ibu sampai kedepan pintu.
"ibu pergi dulu ya"
"hati-hati dijalan bu."
Harumi masuk kembali kedalam rumah, melongok ke kamar Hyun. Dia fikir Hyun sedang menyantap bubur, ternyata tidak. Harumi lantas masuk kedalam kamar Hyun dan meraih mangkuk bubur. Kemudian menyuapi Hyun.
"aku tidak berselera makan." ucap Hyun menolak.
"kau harus makan. Apa kau tidak lihat ibu khawatir?"
__ADS_1
Akhirnya Hyun mau membuka mulutnya. Harumi menyuapi Hyun sampai habis.
"trimakasih sudah merawatku semalaman."
"tidak apa-apa, siapa lagi yang akan merawatmu? Istirahatlah lagi. Aku akan bersih-bersih rumah, kalu perlu sesuatu panggil saja aku."
"Rumi-ssi. Harumi.!" Hyun menyebut nama Rumi dengan aneh. Harumi bahkan masih berada dikamarnya. "aku sudah tidak apa-apa. Aku mau mandi dulu."
Harumi keluar dari kamar Hyun. Mengambil beberapa roti, dan memakannya. Duduk termenung di meja makan. Terngiang kata-kata Hyun tadi. Bahwa dia mulai menyukai Harumi. Harumi segera menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin itu terjadi, dia belum siap. Bagaimana bisa Hyun menyukainya dalam beberapa hari? Itu tidak masuk akal.
Harumi bermaksud duduk disofa dan menonton tv. Tiba-tiba ada benda tajam yang menghujam telapak kakinya.
"aah.!" harumi berteriak tanpa sadar. Sisa pecahan kaca sudah menancap di kakinya. Harumi berjinjit-jintit menahan sakit. Ternyata masih ada sisa kaca yang belum tersapu.
Harumi duduk di sofa dengan hati-hati, perlahan-lahan mencabut serpihan kaca yang menancap dikakinya. Darah segar mengalir darisana. Harumi mengernyitkan keningnya menahan rasanperih.
"apa!? Kenapa!?" Hyun berlari tergopoh-gopoh kearah Harumi.
"aaaaaaaa!!!!!" Harumi balik berteriak dan menutup matanya. "apa yang kau lakukan?"
"apa?" Hyun bertanya heran.
"bagaimana kau bisa keluar dengan keadaan seperti itu?!" kata Harumi masih menutupi wajahnya. Dia merasakan wajahnya panas dan memerah. Ahh,,kasihan matanya yang masih suci. ðŸ¤
Hyun baru menyadari kesalahan apa yang sudah dia lakukan. Dengan gerakan secepat kilat Hyun menutupi 'si kecil' dengan kedua tangannya. Lalu segera berlari masuk kedalam kamar.
Malunya bukan main. Apalagimasih ada busa disebagian tubuhnya.
"dasar gila kau Hyun.!" memaki dirinya sendiri. "ah.! Memalukan sekali."
Harumi masih termenung di sofa, seketika rasa sakit dikakinya hilang. Dia tidak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi. Sementara darah terus menetes dari telapak kakinya.
Dalam keadaan malu, Hyun keluar kamar dengan sudah mengenakan pakaian lengkap. Sementara wajah Harumi masih terlihat sedikit memerah.
Gadis itu tengah membersihkan darah di kakinya,. Serpihan kaca sudah terambil, tapi kenapa masih nyeri? Sepertinya masih ada serpihan yang lebih kecil yang belum terambil.
Harumi membungkukkan badannya ingin melihat lebih dekat telapak kakinya, tapi tidak sampai. Hyun tertawa melihat posisi Harumi yang seperti siput.
"cih.! Kenapa keluar seperti itu? Mengagetkanku saja." serang Harumi
"kau. Kenapa berteriak seperti itu? Aku juga terkejut tau.!" balas Hyun. "ada apa?" Hyun mendekati Harumi.
"ada serpihan kaca dikakiku, aku tidak bisa menjangkaunya."
Hyun kemudian duduk diujung sofa dan meraih kaki Harumi.
"apa yang kau lakukan.?"
"sudah. Diam.!" Hyun dengan hati-hati membersihkan dan mencari serpihan itu. "ini dia!" Hyun terlihat senang setelah menemukannya. Dengan hati-hati pula dia mengambil benda itu. Harumi meringis kecil.
Hyun pergi untuk mengambil kotak obat, dan kembali dan segera membalut luka ditelapak kaki Harumi.
"maaf, karna aku kakimu terluka."
"tidak apa-apa, seharusnya aku membersihkannya dengan baik semalam."
"kau sudah sarapan?"
"sudah, sarapan roti tadi."
"masih lapar? Mau kupesankan sesuatu?"
"tidak, aku sudah kenyang. Bagaimana denganmu? Sudah merasa enak?"
"aku sudah tidak apa-apa."
Mereka berdua kemudian saling tatap dan tertawa bersamaan. Entah,, kira-kira apa yang mereka fikirkan?
__ADS_1