
Sesampainya ditempat parkir mobil, sekretaris Jang sedang memejamkan matanya di dalam mobil. Hyun mengetuk-ngetuk kaca jendela untuk membangunkan Jang.
"hei.! Bangun! Cepat buka bagasinya.!"
Sekretaris Jang terkejut melihat Hyun yang menempelkan wajahnya ke kaca. Ia segera keluar dan membantu Harumi memasukkan barang-barang belanjaan kedalam bagasi. Setelah itu mereka pulang keapartemen.
Sampai diapartemen, sekretaris Jang membantu membawakan barang-barang sampai kedalam rumah, sedangkan Hyun melenggang dengan tangan kosong. Harumi tidak mempedulikannya. Ia segera mengatur barang-barang kedalam kulkas.
Sekretaris Jang pamit, ia hendak pulang ke rumahnya yang ada dilantai bawah.
Choi Hyun bersandar di sofa didepan tv, menyalakan benda itu sambil meminum segelas air putih.
"prak.!" tiba-tiba gelas yang digenggamnya pecah ditangan kanannya. Darah mengalir deras dan menetes ke lantai. Harumi hendak masuk kedalam kamarnya, ia terkejut saat melihat tangan Hyun yang berlumuran darah.
"ada apa? Kenapa?" tanya Harumi panik menghampiri Hyun yang terlihat marah memandangi tv. Tanpa sadar dia berjalan diatas pecahan kaca. Sontak Hyun menarik kuat lengan Harumi dengan tangan kirinya agar tidak menginjak pecahan kaca.
"apa kau bodoh?!! Apa kau tidak tau banyak pecahan kaca?!!" Hyun membentak Harumi dengan keras. Tentu saja gadis itu terkejut bukan main. Tidak menyangka Hyun akan meninggikan suaranya sedemikian rupa dihadapannya. Hyun nampak benar-benar marah. Tapi apa yang membuatnya sangat marah?
"anu, aku tidak..."
"berhentilah bersikap bodoh dihadapanku.!" Hyun pergi meninggalkan Harumi dan menuju ke bak pencuci piring untuk membasuh darah yang masih terus mengalir. Sementara Harumi masih mematung ditempatnya berdiri.
Harumi tidak mengerti kenapa Hyun marah padanya. Dia melihat Hyun yang tengah kesusahan membersihkan lukanya dengan alkohol. Gadis itu lantas menghampiri Hyun dan membantu membersihkan lukanya.
Hyun meringis kesakitan saat Harumi mengoleskan obat pada luka ditelapak tangannya. Tidak ada yang berbicara sampai gadis itu selesai membalut telapak tangan Hyun dengan perban.
"apa perlu kerumah sakit?" tanya Harumi sambil membereskan obat dan memasukkannya kedalam kotak. "biar kupanggil sekretaris jang." Harumi bangkit berdiri. Padahal dia tidak tau rumah Jang ada dimana.
"tidak usah, aku tidak apa-apa."
"tapi nanti lukamu bisa infeksi."
"aku bilang tidak apa-apa. Ini cuman luka kecil."
"apanya yang luka kecil. Apa tadi kau tidak melihat banyaknya darah yang keluar?"
Hyun tidak menggubris kata-kata Harumi, dia berdiri dan masuk kedalam kamarnya.
"ada apa dengannya?" gumam Harumi kesal.
Harumi mengambil sapu dan kain pel untuk membersihkan pecahan kaca dan darah yang tadi menetes dilantai. Telinganya menangkap berita yang sedang tayang ditv. Masalalu Hyun, wanita itu sedang melakukan wawancara, terlihat dia sedang duduk bersama seorang pria tampan yang juga seorang aktor.
"apa kalian terlibat cinta lokasi?" tanya si reporter.
"apa terlihat seperti itu?" kata wanita itu lagi, menggandeng lengan pria disampingnya, keduanya lalu tersenyum kehadapan kamera.
Harumi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa Hyun begitu marah. Tapi ia bisa menduganya. Yang Tidak dia suka adalah kenapa harus melampiaskan kemarahannya pada Harumi.
Terdengar pintu kamar Hyun terbuka, ia keluar dari kamar dan menghampiri Harumi yang sudah selesai membersihkan pecahan kaca.
__ADS_1
"maafkan aku." kata Hyun lirih. "maaf karna sudah membentakmu."
"tidak apa-apa, aku bisa mengerti." jawab Harumi.
"apa? Apa yang kau mengerti?"
"karna wanita yang ditv tadi kan? Aku tidak tau apa masalahnya, tapi lebih baik kau bertanya langsung padanya. Apa yang kita lihat tidak sepenuhnya benar. Tanyakan dan selesaikan." jiaahh Harumi sedang memberi nasehat. "yasudah, jangan terlalu difikirkan. istirahat saja dulu sana. Nanti bangunlah saat makan malam."
"baiklah." Hyun menjawab singkat kemudian berjalan masuk kedalam kamarnya.
Harumi membuang pecahan kaca kedalam tempat sampah, kemudian dia mengambil beberapa bahan makan didalam kulkas.
Sambil memasak, fikiran Harumi melayang entah kemana-kemana. Tidak menyangka kalau Hyun adalah orang yang setia. Dia bahkan memaafkan wanita itu saat dia mengecewakannya. Harumi jadi merasa tidak enak, seharusnya dia menolak pernikahan ini, tapi dia tidak punya keberanian, sama halnya dengan Hyun.
Makan malam sudah siap dihidangkan, tapi Hyun tak kunjung keluar dari kamarnya. Sedangkan Harumi tidak berani membangunkannya. Dia berkali-kali mondar-mandir didepan kamar Hyun.
Setelah lama mengumpulkan keberanian, akhirnya Harumi memberanikan diri untuk mengetuk kamar itu. Sekali ketuk, tidak ada tanggapan. Dua kali, juga tidak ada tanggapan. Tiga kali, tetap tidak ada tanggapan. Keempat kali juga masih belum ada tanggapan.
Harumi mulai khawatir, dia lalu menempelkan daun telinganya ke pintu, samar-samar dia mendengar rintihan dari dalam kamar. Harumi tambah khawatir, dia mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Dia kemudian masuk dan menemukan Hyun sedang menggigil di dalam selimut diatas tempat tidurnya. Dibawahnya tergeletak sebotol minumam yang sudah tak berisi.
"hei.! Ada apa? Kenapa kau?" Harumi menghampiri ranjang Hyun. Membuka selimutnya dan melihat Hyun yang tengah merintih, keringat mengalir disekujur tubuhnya.
"Hyun-ssi! Sadarlah!" akhirnya nama itu keluar dari mulutnya. Nama yang sangat hati-hati untuk tidak diucapkannya, karna dia tak ingin terikat dengan pemilik nama itu.
Harumi menempelkan telapak tangannya ke dahi Hyun. Panas sekali. Tanpa berfikir panjang, Harumi segera mengambil kompres dan menempelkannya didahi Hyun.
Sedang membersihkan peluh di wajah dan leher Hyun, terdengar suara bel pintu berbunyi, ah dia berharap itu adalah sekretaris Jang yang datang. Cepat-cepat ia berlari dan membuka pintu. Tapi bukan Jang yang datang, melainkan seorang wanita muda yang cantik.
"wah,,kakak ipar tidak mengenalku?"
"siapa?"
"aku Nayeon, sepupu kak Hyun, padahal aku hadir dipernikahanmu."
Harumi mencoba mengingat-ingat, tapi dia tidak ingat. Entahlah, hari itu dia tidak begitu memperhatikan siapa-siapa yang datang.
"mana kak Hyun?"
Oh ya, Harumi baru ingat tentang Hyun.
"dia sedang sakit, tolong bantu aku. Masuklah."
Mereka berduapun masuk dan langsung menuju kekamar Hyun.
"ya ampun kak.! Ada apa denganmu?" Nayeonpun terlihat panik. Gadis itu melihat botol minuman yang masih tergeletak dibawah tempat tidur, Harumi belum sempat membereskannya. "apa ini? Kakak minum? Apa kakak sudah gila?! Kakak mau mati?!" Nayeon tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahi Hyun.
"bukankah lebih baik kita bawa kerumah sakit?" tanya Harumi.
"baiklah, akan kutelfon sekretaris Jang." Nayeon bangkit dan hendak pergi keluar kamar untuk menelfon Jang, tapi tangan Hyun keburu menarik tangan gadis itu dan mencegahnya.
__ADS_1
"aku baik-baik saja, tidak perlu membuat keributan." Hyun berkata dengan suara lirih.
"apanya yang baik-baik saja? Lihat keadaanmu itu kak! Ada apa lagi dengan tanganmu ini? Kenapa diperban?"
"Nayeon.! Aku baik-baik saja, sungguh.! Aku hanya perlu beristirahat sebentar, nanti juga sembuh. Aku mohon, kalian keluar saja, aku mau istirahat."
Kedua gadis itu menuruti kemauan Hyun. Merekapun meninggalkan kamar itu dan membiarkannya beristirahat.
"kakak ipar, apa kalian bertengkar?" tanya Nayeon langsung setelah duduk di kursi meja makan.
"tidak. Kenapa juga kami harus bertengkar?"
"iya juga sih. Jadi sebenarnya apa yang terjadi?"
"aku juga tidak tau, dia seperti itu setelah melihat berita di tv."
"ah,,sudah kuduga, karna itu aku kesini. Wanita itu benar-benar.!"
"Kau juga mengenalnya?"
"tentu saja, dulu kami berteman. Sebelum dia menghianati kak Hyun dan menikahi laki-laki lain."
"menikah? Jadi dia sudah menikah?"
"kak Hyun belum memceritakannya pada kakak ipar ya? Iya sih, lagi pula dia tidak mungkin menceritakannya." Nayeon menjawab pertanyaannya sendiri.
Harumi jadi semakin penasaran seperti apa wanita masa lalu Hyun itu, dia nampak begitu mencintai wanita itu bahkan menunggunya hingga sekarang.
"dasar kak Hyun bodoh, sekalut apa fikirannya sampai-sampai menenggak alkohol."
"dia pernah bilang kalau dia tidak minum alkohol, apa dia tidak kuat mabuk?"
"bukan tidak kuat mabuk kakak ipar, tapi dia alergi alkohol. Dia akan seperti itu kalau habis minum. Aku tidak menyangka, untuk apa dia menyimpan minuman dikamarnya. Dasar gila." Nayeon mengumpati lagi.
"sepertinya dia sangat terpukul. Aku tidak tau apa masalahnya, tapi kuharap Hyun-ssi segera membaik." ah, dia menyebutkan nama itu lagi.
"tentu saja dia sangat terpukul, wanita yang dibenci dan diharapkannya akhirnya kembali. Aku bisa mengerti bagaimana perasaannya." ucap Nayeon menenggak minuman bersoda yang baru diambilnya dari kulkas.
"kakak ipar, tolong sembuhkan hati kak Hyun, ya?"
"aku? Kenapa aku?"
"kan kakak istrinya, walaupun kalian terpaksa menikah, tapi aku yakin kakak ipar adalah orang yang baik,"
"jangan berharap yang berlebihan."
"aarrgggg..! Ingin sekali aku menjambak rambut wanita itu."
"sebenarnya apa yamg terjadi dengan mereka?" tanya Harumi mulai penasaran.
__ADS_1
"mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, sejak sekolah. Hubungan mereka berlanjut sampai masing-masing selesai kuliah. Mereka baik-baik saja bahkan setelah kak Hyun kuliah diluar negeri dan jarang kembali. Entah bagaimana ceritanya, saat itu kak Hyun hendak melamarnya, tapi wanita itu sudah terbang keluar negeri, dan hanya berpamitan lewat e-mail saja. Kak Hyun tidak tinggal diam, diapun langsung menyusul ke luar negeri, dan betapa terkejutnya kak Hyun, ternyata wanita itu sudah menikah, dan bahkan sedang hamil. Kak Hyun sangat terpukul. Sejak saat itu dia mulai berani membawa wanita-wanita kehotel. Padahal di dalam hotel wanita-wanitu hanya menemaninya tidur, mereka bahkan tidak diijinkan menyentuh tubuhnya sedikitpun."
"benarkah?" Harumi terkejut dengan cerita sebenarnya.