
Selesai makan malam, para kru yang masih semangat melanjutkan ronde kedua disebuah karaoke tak jauh dari restoran. Mereka berjalan beriringan, Junseok berjalan disamping Seori, Harumi dibelakangnya bersama Jisan, dan Choi Hyun berjalan paling belakang dengan sekretraris Jang. Ekor mata Hyun benar-benar tak bisa lepas dari Harumi. Gadis itu membuatnya mati penasaran.
Setelah masuk kedalam ruangan karaoke yang lumayan luas, udaranya pengap berbau minuman berakohol. Harumi memicingkan kepalanya karna tidak tahan dengan bau alkohol yang menyeruak masuk kedalam hidungnya.
Sementara yang lain asik dan menikmati lagu-lagu yang dibawakan rekan-rekan mereka, Harumi merasa kepalanya sudah mau pecah. Tidak tahan dengan suasana yang ada didalam, Harumi berdiri dan ingin kekamar mandi, membasuh mukanya dengan air akan sedikit menyegarkannya. Dia sudah tidak peduli dengan tatapan Pria bernama Choi Hyun itu.
Harumi melirik Jisan yang tengah asik mendengarkan lagu-lagu, bahkan dia beberapa kali sudah ikut bernyanyi dengan mereka. Gadis itu menarik narik lengan baju Jisan. Jisan mendekatkan telinganya ke wajah Harumi, sepertinya Gadis itu ingin menyampaikan sesuatu.
"kak Ji, aku mau kekamar mandi du ya." Harumi berteriak meskipun telinga Jisan sudah hampir menempel di mulutnya. Jisan hanya mengangguk dan kemudian Harumi pergi meninggalkan ruangan.
Kamar mandi terletak dibagian luar gedung, Harumi harus memutar untuk kesana. Setelah membasuh mukanya beberapa kali Harumi merasa sedikit segar. Dia berniat mampir ke toserba yang ada didepan gedung karaoke yang sempat dilihatnya tadi sesebelum dia masuk kekamar mandi.
Harumi menyeberang jalan dengan santai, karna sudah hampir tengah malam dan tidak ada kendaraan yang lewat.
Seorang karyawan toserba menyapa Harumi dengan ramah, pria yang masih sangat muda itu mempersilahkan Harumi. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian berjalan menuju rak dimana mie instan berada. Ya, gadis itu selalu tau dimana makanan kesukaannya itu berada.
Setelah menimbang-nimbang mana mie instan yang ingin dia makan, Harumi mengambil mie instan yang nampak pedas dengan bungkus merah menyala. Berjalan menuju tempat air panas dan menyeduhnya.
Gadis itu kemudian duduk disebuah kursi yang memang disediakan disana. Menghadap dinding yang terbuat dari kaca sehingga dia leluasa melihat keluar.
Sambil menunggu mie instannya matang, Harumi meraih ponsel dari dalam tasnya. Mengecek pesan yang kebanyakan hanya pesan spam. Gadis itu terkejut saat seseorang telah berdiri disampingnya.
"permisi.." sontak Harumi menoleh kearah suara. Dia bahkan tidak menyadari kapan Choi Hyun masuk.
"hai, boleh aku duduk disini?" Hyun mencoba tersenyum ramah sambil menunjuk kursi kosong yang ada disebelah Harumi.
"tentu saja." jawab Harumi menganggukan kepala. Memangnya itu punyaku apa? Batin Harumi.
"trimakasih." Hyun menarik kursi itu kemudian mendudukinya. "salam kenal." katanya lagi mengulurkan tangan kepada Harumi.
"salam kenal juga." gadis itu meraih uluran tangan Choi Hyun.
"kau tau aku kan?" tanya Hyun dengan bahasa yang sangat sopan.
"ya, tentu saja aku tau." Harumi memilih tidak terlalu memperdulikan pria yang duduk disampingnya.
"kenapa disini?" tanya Hyun lagi.
"disana terlalu pengap, aku hampir tidak bisa bernafas. Kamu sendiri kenapa kesini?"
"untuk mengikutimu," kata Hyun spontan.
Apa ini? Kenapa pria ini? Aneh.
Harumi melanjutkan menyeruput mie pedasnya. Begitu juga Hyun yang memilih meminum jus yang baru dibelinya.
Suasana yang sangat canggung. Masing-masing terdiam dan sibuk dengan fikirannya masing-masing.
"trimakasih, sudah menulis naskah yang sangat luar biasa." Hyun memulai pembicaraan.
"oh, ya." Harumi menoleh sebentar sebelum melanjutkan menyantap mie.
__ADS_1
"aku banyak mendengar tentangmu,"
"aku? Dari siapa?"
"kak Junseok. Kami lumayan dekat."
Memangnya sedekat apa kalian sampai bercerita tentangku? Ah. Dasar kak Junseok.!
Harumi sudah selesai menyantap mienya. Mukanya memerah karna rasanya sangat pedas. Tanpa disadari gadis itu, Hyun tersenyum tipis. Pria itu kemudian menyodorkan sebungkus susu kepada Harumi. Entah kapan dia mengambil barang itu. Harumi menerimanya dengan menganggukan kepala.
Untuk beberapa saat tidak ada yang mengeluarkan suara. Harumi tengah asyik menghabiskan mienya. Sedangkan Choi Hyun menatap bayangan Harumi dari pantulan kaca yang terlihat samar.
"wah,,turun salju.!" kata Hyun tiba-tiba.
Harumi menoleh kearah Hyun lalu memalingkan mukanya keluar jendela.
"wah,,,indah sekali." gumamnya.
"apa kau pernah dengar cerita,?" tanya Hyun.
"cerita apa?" jawab Harumi cuek. Dia sudah menghabiskan makanannya.
"saat kau melihat salju pertama turun dengan seseorang, kau akan jatuh cinta padanya."
Harymi tertawa kecil mendengar penjelasan Hyun yang dianggapnya tidak masuk akal.
"lantas, kalau sedang bersama pria apa kau juga akan jatuh cinta padanya?" harumi membayangkannya saja sudah ngeri. Entah kenapa dia tidak menyukai pria disampingnya itu.
Ponsel Harumi bergetar, telfon dari Junseok. Memberitahu bahwa sudah larut malam dan mereka berencana akan segera pulang.
Hyun bangkit mengikuti Harumi berjalan keluar dari dalam minimarket. Sangat tidak nyaman. Harumi merasa sebal sendiri.
"ooooh..ini dia wanita yang selalu menolakku.!" kata Jisan yang sudah lunglai di topang Junseok, menunjuk kearah Harumi. "kenapa kau tidak pernah melihatku sebagai laki-laki? Hah.!?"
Semabuk itu Jisan sampai tak sadar dengan ucapannya sendiri.
"Rumi, apa kau bisa pulang naik taksi saja? Lihat ini? Mereka sangat merepotkan." kata Junseok. Menunjuk Seori yang juga sudah mabuk bergelayut di bahu kiri Junseok.
"iya kak, antar saja mereka pulang dengan selamat. Agar mereka bisa malu besok saat mengingatnya."
"sebentar kupesankan taksi."
"biar aku yang mengantar Harumi Hyung." tiba-tiba Hyun menawarkan diri. Harumi terbelalak mendengarnya.
"tidak perlu,! aku bisa pulang sendiri naik taksi." cepat-cepat Harumi menimpali.
"oh,,benarkah,? Aku akan sangat berterimakasih. Aku titip dia ya." Hyun mengangguk dan membantu Junseok memaasukkan Seori dan Jisan kedalam mobil.
"jang, kau pulang naik taksi saja, berikan kunci mobilnya padaku." bisik Hyun memaksa kepada sekretarisnya yang hanya menanggapi dengan menaikkan alisnya sebelah.
"tapi kan tuan...."
__ADS_1
"sudah, berikan saja kuncinya padaku." potong Hyun. Dan dengan terpaksa memberikan kunci mobil pada tuannya itu.
Setelah semuanya pergi tinggallah Hyun dan Harumi yang merasa canggung dan tidak suka. Pria itu lantas membukakan pintu mobil untuk Harumi dan mempersilahkannya masuk. Harumi ingin menolak, tapi ia tidak punya pilihan. Apalagi Junseok sudah menitipkannya pada pria itu. Harumi tidak ingin menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu.
Hyun mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan. Sampai-sampai Harumi merasa besok pagi baru mereka akan sampai dirumah. Harumi berkali-kali menatap kesal kearah Hyun yang cuek. Pria itu nampak serius sekali memperhatikan jalan. Sangking pelannya, bahkan Harumi berfikir Hyun tidak menginjak gasnya.
"mmm...bisa tidak mengemudikan mobil?" Harumi benar-benar sudah tidak sabar.
"oh.. Maaf, sudah lama aku tidak mengemudikan mobil." alasan Hyun seperti dibuat-buat. Memangnya berapa lama sampai dia lupa menginjak pedal gasnya. Ingin sekali rasanya Harumi menggantikan Hyun mengemudikan mobilnya, tapi apalah daya Harumi juga tidak mahir mengemudikannya.
Akhirnya dia hanya bisa pasrah. Hyun yang duduk disebelahnya merasa tidak enak, akhirnya dia memutuskan untuk memanggil sopir pengganti. Setelah menunggu beberapa menit, sopir pengganti itupun datang. Yang ternyata adalah seorang wanita.
Choi Hyun menyerahkan kemudi kepada sopir itu, kemudian mengajak Harumi untuk pindah duduk dibelakang. Sambil berkali-kali minta maaf. Rasanya dia tidak enak sendiri.
Kalau tidak bisa mengemudi kenapa sok-sokan memgantarku pulang segala sih.! Gumam Harumi sebal.
Kesannya pada aktor tampan itu semakin tidak suka. Harumi bukan tipe wanita yang akan terpesona dengan wajah tampan seorang artis. Kalau tidak suka ya tidak suka. Titik.
Mobil melaju dijalanan yang sudah hampir sepi. Sopir cantik itu berkali-kali mencuri pandang kepada Hyun lewat kaca spion.
"maaf, bukankah anda aktor Choi Hyun.?" sopir itu memberanikan diri untuk bertanya.
"iya benar, kenapa?"
"wah,,daebak.!" sopir itu tertawa girang sambil menutupi mulutnya dengan tangan. "boleh saya minta tanda tangan? Saya penggemar anda."
Choi Hyun pun memberikan tanda tangan di sebuah kertas yang disodorkan sopir itu.
"mau foto bersama?" Hyun menawari.
"bolehkah?"
"tentu saja boleh." sopir itu menepikan mobilnya sebentar dan berhenti. Mengeluarkan ponselnya dan berselfie bersama Hyun.
Choi Hyun melirik Harumi yang sudah terpejam. Padahal Harumi tidak tidur. Dia tidak ingin ikut campir urusan aktor dan penggemarnya itu. Ia hanya ingin segera sampai kerumah dan istirahat.
Mobil kembali melaju, tidak lama kemudian mereka sampai didepan rumah Junseok.
Choi Hyun mengikuti Harumi turun dari mobil. Dan meminta maaf untuk kesekian kalinya.
"tidak apa-apa. Trimakasih banyak sudah mengantarkanku." Harumi berbasa basi sebelum masuk kedalam rumah. Gadis itu bahkan tidak menoleh saat mobil yang membawa Hyun mulai pergi menjauh.
Dirumah sepi, tidak nampak batang hidung Junseok. Mungkin dia menginap dirumah Seori. Fikir Harumi. Gadis itupun langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Setelah masuk, Harumi segera menuju ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air hangat dan segera merendam dirinya. Setelah itu dia tertidur dengan nyenyaknya.
**********
"aaarrggg.!!! Memalukan.!"
Hyun mengumpati dirinya sendiri dihadapan cermin kamar mandinya. Dia merasa sudah gagal menjadi keren dihadapan Harumi. Ia justru membuat gadis itu kesal. Walaupun dia tidak menunjukanya. Ia merasa sangat malu.
__ADS_1
"dasar bodoh.!" mengumpati dirinya sekali lagi, lantas pergi tidur.