
Harumi merasa sangat lelah, setelah kepulangan Jisan dia berencana untuk menginap saja dirumah atap. Ide yang sudah bermunculan dari tadi jadi tertunda karna kedatangan Jisan. Dan dia berencana melanjutkan menulis malam ini. Lagipula hari sudah hampir malam.
Harumi kemudian merebahkan tubuhnya diatas sofa. Rasa kantuk mulai datang. Dia akan istirahat sebentar sebelum melanjutkan menulis.
Otak Harumi melai berkelana. Sekelebat bayangan cabul berseliweran. Teringat kejadian beberapa hari yang lalu yang membuat mata Harumi terbelalak.
Harumi sedang terbaring disofa dan memejamkan mata saat Hyun datang menghampirinya. Pria itu membelai pipi Harumi yang kemerahan menahan malu. Kemudian turun kearea bibirnya, sentuhannya terasa lembut sekali. Hyun mendekatkan wajahnya kewajah Harumi, jarak mereka hanya beberapa centi saja.
Harumi meremas ujung bajunya. Entah dia mengharapkan apa sambil terpejam seperti itu. Hyun membisikkan sesuatu.
"kau, berani sekali melihat 'si kecil' ku. Apa kau menginginkannya? Akan kuberikan jika kau menginginkannya." ucap Hyun berbisik ditelinga Harumi. Membuat Harumi merasa geli.
"salahmu sendiri, kau yang menunjukannya, bukan aku yang meminta." jawab Harumi kemudian.
"hei.! Kau.!" tiba-tiba Hyun berteriak kepada Harumi,membuat gadis itu terkejut.
"bruk.!" Harumi terjatuh dari sofa. Dia terkejut luar biasa. Beberapa panggilan tak terjawab diponselnya, nonor baru. Dia enggan mengangkatnya. Getar ponsel itu membuatnya terbangun.
"sial.! Mengagetkan saja. Siapa sih yang menelfon?"
Harumi teringat dengan mimpinya.
"astaga.! Ada apa dengan otakku sampai memimpikan itu? Ya ampunnn,, memalukan. Ooohh,,otakku yang malang." Harumi mengusap-usap kepalanya sendiri.
**********
Choi Hyun panik bukan main, dia lalu meraih ponselnya yang diletakkan disofa, mencari nama Harumi dikontak ponsel yang ternyata tidak ada. Selama ini dia belum meminta nonor ponsel Harumi.
"sial.! Bodoh.!" dia memaki dirinya sendiri.
Hyun kemudian menghubungi sekretaris Jang. Tidak lama kemudian Jang datang dengan terengah-engah.
"cepat hubungi Junseok atau siapapun dan minta nonor ponsel Harumi.! Cepat.!"
Sekretaris Jang juga tak kalah panik setelah Hyun menceritakannya. Dia kemudian menghubungi Junseok. Setelah mendapatkan nomor ponsel Harumi, Hyun dengan paniknya langsung menghubungi Harumi. Beberapa kali dihubungi tapi Harumi tidak menjawabnya. Membuat Hyun merasa gila dan frustasi.
Hyun berinisiatif untuk menghubungi Jisan, barangkali dia tau keberadaan Harumi. Benar saja, setelah Hyun menceritakan tentang teror itu Jisan langsung memberitahu dimana Harumi berada.
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang Hyun segera melesat dengan motornya. Sementara sekretaris Jang mengikuti dengan mobil.
Hyun memacu motornya dengan sangat kencang. Bayangan Harumi berkali-kali muncul dibenaknya. Dalam hati dia memohon agar tidak terjadi apa-apa dengan Harumi. Sepertinya Hyun mulai menyelipkan nama Harumi disudut hatinya.
Sesampainya di alamat yang diberikan Jisan, Hyun langsung berlari menuju rumah atap yang ada dilantai atas bangunan bertingkat tiga itu. Dia mnggedor-gedor pintunya dengan sangat keras.
"Rumi.! Harumi.! Kau ada didalam? Harumi.!" dor,,dor,,dor,, Hyun terus menggedor pintu dengan paniknya.
Harumi muncul dari balik pintu sambil mengusap matanya. Gadis itu terkejut melihat Hyun yang sedang berdiri dihadapannya. Dia tambah terkejut saat Hyun memeluknya dengan tiba-tiba.
"syukurlah kau baik-baik saja." ucap Hyun dengan masih memeluk Harumi. Dia tidak peduli Harumi memberontak ingin melepaskan diri.
"apa-apaan ini?! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan.!" kata Harumi berusaha melepaskan diri dari pelukan Hyun.
"kenapa kau tidak mengangkat telfonmu?! Kau tau betapa khawatirnya aku?! Kau mau membuatku gila?!" kata Hyun lagi.
"apa maksudmu? Jadi kau yang menelfonku tadi? Aku tidak pernah mengangkat telfon dari nomor yang tidak dikenal. Ada apa ini sebenarnya? Bagaimana kau bisa tau tempat ini?" tanya Harumi.
"Jisan yang memberitahuku. Sekarang ayo kita pulang." kata Hyun menarik pergelangan tangan Harumi.
"tunggu dulu, sebenarnya ada apa? Kenapa kau panik seperti itu?" Harumi menepis tangan Hyun.
Harumi tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Hyun.
Sekretaris Jang yang baru saja tiba cuma terbengong melihat Hyun yang menggenggam tangan Harumi pergi meninggalkan tempat itu.
Disudut lain, Jisan memperhatikan dari dalam mobilnya. Dia lega karna Harumi baik-baik saja. Juga sakit melihat Hyun yang menggenggam tangan Harumi.
Hyun melajukan motornya dengan perlahan. Pria itu bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya dari Harumi. Dia menyetir hanya dengan satu tangan.
Dibelakang, Harumi memeluk dan membiarkan saja tangan Hyun menggenggamnya. Ada perasaan hangat dihatinya. Dia sangat penasaran kenapa Hyun bersikap seperti itu. Gadis itu bisa merasakan tangan Hyun yang sedikit gemetar.
Bahkan setelah sampai di apartemen, Hyun tidak melepaskan tangannya. Tentu saja itu membuat orang-prang yang berpapasan dengannya heran. Mereka mengenali Hyun karna dia tidak mengenakan maskernya.
Hyun terus menarik dan menggenggam tangan Harumi dengan erat. Gadis itu bahkan harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah kaki Hyun yang lebar.
Sesampainya didalam rumah, Hyun kembali memeluk Harumi dengan hangat. Kali ini Harumi diam saja. Dia tidak memberontak sama sekali. Dan membiarkan Hyun melampiaskan kekhawatirannya.
__ADS_1
Hyun menarik nafas dalam. Dia merasa sudah lega sekarang setelah melihat Harumi baik-baik saja.
"ada apa sebenarnya?" tanya Harumi pelan.
Choi Hyun kemudian menunjukkan kotak itu kepada Harumi, yang tentu saja sangat terkejut.
"karna inikah kau menghawatirkanku? siapa yang mengirim ini?" tanya Harumi lagi.
"tidak tau, sepertinya itu fansku."
"bagaimana mereka tau tentang pernikahan kita.?"
"aku juga tidak tau. Aku tidak menyangka mereka mengetahuinya secepat ini. Tenang saja, aku akan melaporkannya ke polisi."
"tidak usah, itu tidak perlu."
"Rumi.!" ini pertama kalinya Hyun menyebut namanya dan terdengar merdu.
"tidak usah diperpanjang, mereka tidak mungkin berani menyakitiku. Buktinya aku baik-baik saja kan?"
"bagaimana kalau mereka nekat?"
"Hyun-ssi. Aku baik-baik saja, sungguh.!"
Hyun menghembuskan nafas, pasrah dengan keinginan Harumi. Pria itu memandang lekat istrinya. Dia benar-benar khawatir.
"sudah kubilang jangan khawatir." kata Harumi seperti tau apa yang difikirkan Hyun.
Sepertinya Harumi sudah mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit. Dia sudah bisa menerima bahwa dia kini berstatus sebagai istri Hyun. Dia tidak mungkin menutup hatinya selamanya. Hatinya yang sudah membatu, perlahan dicairkan oleh Hyun.
"mulai sekarang, kau tidak boleh pergi tanpa izinku. Kemanapun kau ingin pergi, kau harus bilang dulu padaku. Dan jika aku menelfonmu, kau harus langsung menangangkatnya."
"apa? Bukanya kita sudah berjanji untuk tidak saling ikut campur urusan masing-masing?" Protes Harumi. Dia tidak terima bahwa Hyun mengingkari janjinya. "tolong, jangan swperri ini."
"tidak. Mulai sekarang aku akan mengingkari janjiku, kau juga boleh mengingkari janji itu. Aku tidak memaksamu untuk menepatinya. Bukan, aku tidak akan menepatinya lagi."
"apa yang kau lakukan?! Ada apa denganmu?!" Harumi meninggikan suaranya.
__ADS_1
"karna aku mulai menyukaimu.!"