
Gadis berambut sebahu dengan tubuh mungil yang tinggi, sedang berjalan dilobi sebuah mall. Dia baru saja selesai pemotretan dan menghabiskan waktu berbelanja.
Disampingnya, seorang pemuda nampak kewalahan menenteng banyak barang ditangannya. Berjalan dengan sedikit tergesa mengimbangi langkah gadis itu.
Mata gadis itu menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang dulu mengisi hari-hari dan hatinya. Walau sosok pria itu mengenakan masker yang hampir menutupi seluruh wajahnya, dia tetap mengenalinya.
"hyun." dia berlari dan langsung memeluk pria itu.
Pria yang dipeluknya hanya berdiri mematung tak bergerak sama sekali.
"aku sangat merindukanmu." ucapnya lagi.
Tiba-tiba Hyun melepaskan diri dari pelukannya dan berlari mengejar seseorang yang sudah berada didalam taksi. Irene termenung melihatnya.
Irene mencoba mengejar Hyun, tapi pria itu tidak menggubrisnya sama sekali. Dia merasakan sikap dingin Hyun padanya. Pria itu bahkan tidak membalas pelukannya seperti dulu.
Disampingnya, berdiri teman lamanya, Nayeon, yang memandangnya dengan wajah jengkel.
"siapa yang Hyun kejar itu?" Irene langsung bertanya tanpa basa basi.
"kau.! Bisa-bisanya kau memeluknya seperti itu?"
"kenapa memangnya? Apa dia pacar baru Hyun?"
"kalau iya kenapa?" jawab Nayeon dengan nada ketus.
"hei..itu tidak mungkin. Aku tau seperti apa Hyun. Dia tidak akan semudah itu melupakanku."
"jangan berbesar hati dulu Irene. Sakit yang dirasakan kak Hyun dalam beberapa tahun terakhir, sudah cukup membuatnya berpaling darimu."
__ADS_1
"tapi Hyun berbeda. Dia orang yang terlalu setia. Maka dari itu aku berani meninggalkannya dulu. Karna aku yakin dia akan menerimaku setiap saat."
"dasar sombong." hardik Nayeon.
"Nayeon, kenapa kau sangat membenciku?"
"kau bertanya karna tidak tau?"
"tapi kau tau posisiku saat itu."
"walaupun begitu, kau sudah menyakiti hati kak Hyun. Padahal kau tau seberapa besar dia menyukaimu."
"iya, aku minta maaf."
"jangan minta maaf kepadaku. Bukan aku yang menyukaimu."
Mobil memasuki kawasan perumahan elit dan berhenti disebuah rumah mewah.
Setelah masuk kedalam rumah, Irene menghempaskan tubuhnya ditempat tidur didalam kamarnya. Sedangkan manajernya membawakan barang-barangnya dan meletakkan disamping tempat tidur.
Sekelebat bayangan Hyun lewat dikepalanya. Betapa dinginnya pria itu sekarang. Dia juga sangat penasaran, siapa yang dikejar Hyun tadi? Kenapa dia terlihat sangat panik.? Tidak seperti dulu. Benarkah Hyun sudah berubah? Seketika kenangan itu muncul. Kenangan bahagianya dia saat bersama Hyun.
**********
Disebuah hotel. Tangan Hyun sedang menggenggam mesra tangannya. Bahkan saat berjalanpun pria itu tidak mau melepaskannya. Hubungan mereka sudah lama terjalin. Hyun sangat ingin menikahi Irene. Tapi gadis itu terus saja berkata ingin mengejar karir dulu. Apalagi dia baru saja memulai debutnya.
Semua mata tertuju kepada mereka. Tapi mereka tidak peduli. Senyum bahagia tersungging dibibir keduanya. Mereka terus menuju keluar hotel. Itu adalah malam yang tidak pernah dilupakan oleh gadis itu.
Malam disaat Hyun melamarnya dengan manis disebuah kamar hotel.
__ADS_1
Irene masih ingat dengan jelas senyum bahagia Hyun saat sedang bersamanya. Kecupan hangatnya, dan sentuhan lembutnya saat membelai rambut panjangnya.
Dan keegoisannya yang telah memilih meninggalkan pria itu demi karir yang sangat diinginkannya. Dia sadar betapa bodohnya dia saat itu. Tapi dia tidak menyesal. Dia yakin, Hyun akan tetap menerimanya berapa lamanyapun dia pergi. Cincin manis itu bahkan masih disimpannya sampai sekarang.
Irene yakin Hyun akan kembali padanya. Sangat yakin.
"melamunkan apa sih?" suara manajernya membangunkannya.
"Hyun."
"oh ya, aku dengar rumor yang sangat aneh."
"apa?"
"kabarnya Hyun sidah menikah."
"apa?! Hei..tidak mungkin. Aku tidak mendengar apapun.
"iya kan? Aneh sekali, rumor itu tidak berdasar. Tidak ada satupun artikel yang memberitakannya."
"tidak mungkin seorang Hyun menikah tanpa ada yang memberitakannya."
Irene tidak tau, bahwa semua artikel yang akan diterbitkan, lebih dulu dihapus oleh ayah Harumi yang menguasai hampir seluruh media. Mereka bahkan mengancam jika berani menerbitkan artikel itu akan membawanya kejalur hukum.
Dilubuk hatinya dia sangat berharap bahwa berita itu tidak benar. Tidak mungkin Hyun akan membuka hatinya untuk wanita lain. Hyun itu pria dengan kesetiaan yang sempurna.
Tapi disisi lain dia juga tidak bisa melupakan perkataan manajernya. Dia takut kalau berita itu benar terjadi.
Setelah beberapa tahun, kini dia pulang dan siap untuk kembali kepada kekasihnya itu. Dia sangat yakin bahwa Hyun akan menerimanya, dia yakin perasaan pria itu belum berubah.
__ADS_1