Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
Makan Malam Tim


__ADS_3

"Rumi.! Cepat! Kita sudah terlambat.!" teriak Junseok dibawah tangga. Meneriaki adiknya yang belum juga turun. "kenapa dia lama sekali sih, sepeti apa rupanya dandanannya, seperti bisa berdandan saja." Junseok mengomel, Jisan yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Harumi segera turun dengan tergesa-gesa setelah mendengar teriakan kakaknya. Setengah berlari saat menuruni tangga sambil sesekali menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.


"kenapa lama sekali?! Padahal dandananmu biasa saja!" Junseok mengomel setengah meledek. Yang diledek hanya memancungkan bibirnya tanda tidak setuju.


"ayo.!" Jisan menimpali. Karna kalau membiarkan kakak beradik ini lebih lama yang ada malah tambah terlambat mereka nanti.


Harumi memilih duduk dibelakang disamping Junseok. Sedangkan Jisan duduk dikursi depan disebelah pak supir yang waktu itu menjemput Harumi dibandara. Namanya pak Min.


"apa aku terlihat berlebihan?" Harumi memutar tubuhnya untuk menghadap Junseok. Meminta penilaian sang kakak.


"tidak, seperti biasa. aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau kamu berdandan."


"huh! Apa yang kuharapkan darimu kak.!" Harumi mendengus kesal.


"Rumi, kamu itu sekarang yang paling cantik lho.." Jisan yang ada dikursi depan menimpali. "didalam mobil ini maksudnya. Kamu yang paling cantik."


"ya jelas aku yang paling cantik, kalian semua kan pria. malah aneh nanti kalau kak Ji terlihat cantik." Harumi sangat kesal, Jisan dan Junseok sudah kompak kalau masalah mengerjai Harumi.


"kita sudah sampai tuan." kata pak Min, setelah sampai di sebuah restoran dan memarkirkan mobil. pria paruh baya itu kemudian membukakan pintu untuk bosnya, Junseok. Sedangkan Jisan membukakan pintu untuk Harumi.


Suasananya terlihat masih sepi, padahal fikir Harumi mereka sudah terlambat. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir sejajar dengan mobil mereka.


Harumi berjalan dibelakang mengikuti langkah kaki Junseok yang agak tergesa-gesa, dan Jisan yang sudah berjalan paling depan. Menuju kesebuah ruangan private yang ada diujung lorong. Sedangkan pak min menunggu dimobil.


Pelayan yang mengantarkan mereka membukakan pintu sebuah ruangan. Dari luar terlihat sepi, tapi begitu pintu dibuka suara riuh langsung menggelegar. Terlihat semua sedang bercerita, ramai sekali.


"Rumi,!" Seori langsung berdiri dari kursinya dan menghambur kearah Harumi, calon kakak iparnya itu langsung menggandeng tangannya dan mengajaknya duduk di kursi yang masih kosong.


Harumi merasa risih, perasaan semua mata melihat kearahnya. Mukanya hampir saja memerah kalau Jisan tidak cepat menarik kursi yang ada disampingnya kemudian duduk dan menggenggam tangan Harumi yang sudah gemetar dibawah meja. Harumi spontan menoleh menatap Jisan yang dengan manisnya sedang tersenyum kearahnya. Jisan menganggukkan kepala, memberi isyarat kepada gadis yang duduk disampingnya bahwa semua akan baik-baik saja.


"kenapa lama sekali?" tanya Seori. "aku khawatir kamu tidak jadi datang."


"mungkin yang kakak ipar bilang ada benarnya, sekarang aku sedang mencoba, tolong dukung aku kak."


"tentu saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu."


Harumi memberanikan diri mengedarkan pandangannya. Masing-masing bercerita dengan orang yang duduk disebelahnya. Mereka mengitari sebuah meja panjang yang sudah terhidang berbagai jenis makanan diatasnya. Ada daging tentu saja.


Mata Harumi berhenti pada sosok pria tampan, memakai kemeja putih yang digulung sampai lengan, memakai jam tangan yang terlihat mewah, bahkan rambutnya disisir dengan rapi, yang duduk disebelah kakaknya. Pria itu balas menatapnya, tapi yang membuat Harumi tidak suka adalah cara pria itu menatapnya terkesan aneh dan mengejek. Bahkan sesungging senyum sempat terlihat dari bibir pria itu. Harumi merasa pria itu memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Tatapan pria itu sangat membuatnya tidak nyaman.


Berkali-kali Harumi menggeser posisi duduknya. Jisan tidak memperhatikan gadis disebelahnya yang sudah sangat gusar karna tatapan seseorang karna ia sedang asik mengobrol


Ting,,ting,,ting,,terdengar suara gelas dipukul. Sontak semua yang tadinya riuh langsung terdiam dan melihat kearah suara.


Seori meletakan gelas dan sendok yang dipukulnya, "baiklah, saya rasa semua sudah hadir, mari kita mulai saja acaranya. Trimakasih atas kerja keras kalian, tanpa kalian film ini tidak akan selesai. Trimakasih semuanya."

__ADS_1


Wuuuuuuu,,,,,emua yang hadir bertepuk tangan.


"trimakasih juga kepada aktor-aktor yang hebat, dan pemain pendukung yang luar biasa, dan staf yang mengalahkan lelahnya untuk film ini, trimakasih banyak. Oh ya, terimakasih kepada sponsor utama kita, tunanganku tersayang, pimpinan Junswok."


Uuuuuuuuuu,,yang ada diruangan itu langsung bersorak,.


Junseok pun berdiri dari duduknya setelah dipersilahkan oleh tunangannya.


"trimakasih banyak untuk kalian semua, trimakasih atas kerja kerasnya. Choi Hyun, aktingmu benar-benar luar biasa." kata Junseok singkat memberi acungan jempol pada pria disampingnya.


"dan, seperti yang sudah saya janjikan dulu, malam ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa, seseorang yang kita tunggu-tunggu kemunculannya, penulis naskah kita yang luar biasa, perkenalkan, ini Harumi," Seori menunjuk kepada Harumi dan mempersilahkan Harumi untuk memperkenalkan diri.


Gadis itu langsung berdiri setelah namanya disebut. "halo, perkenalkan nama saya Harumi, senang berkenalan dengan kalian." Dia menganggukan kepalanya. Semua yang hadirpun menyambutnya dengan bertepuk tangan.


Mungkin orang-orang ini tidak akan menyadari betapa gemetarnya kaki Harumi, tangannya sudah basah oleh keringat. Diapun duduk kembali dan berusaha tersenyum.


Semua mata kini jelas tertuju kearahnya. Ada beberapa yang terkejut, ada beberapa yang mengerutkan alisnya. Tapi Harumi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria tampan berkemeja putih dihadapannya. Harumi benar-benar tidak suka dengan tatapan pria itu, apalagi saat dia tersenyum tipis, uh! Rasanya Harumi ingin pergi saja dari tempat itu.


"salam kenal, trimakasih sudah datang Harumi, selama ini kami sangat penasaran dengan penulis naskah kami." jawab seorang dari mereka.


Setelah selesai acara sambutan, selebihnya dihabiskan dengan makan-makan, semua hidangan yang sudah tersedia diatas meja langsung dilahap oleh mereka. Jisan sibuk mengambilkan makanan untuk Harumi, mana yang gadis itu suka, dan mana yang tidak dia suka, Jisan tau betul.


Sedangkan pria tampan bernama Choi Hyun yang sedari tadi memperhatikan Harumi yang tentu saja sudah disadari oleh gadis itu, entah apa yang ada difikirannya.


Acara makan malam berlangsung sangat meriah, semua terlihat sangat senang. Hanya Harumi yang merasa risih dan tidak tenang. Ingin makan malam itu segera berakhir.


Jisan mengajak Harumi keluar ruangan, gadis itupun menurut. Mereka duduk dikursi yang ada dibalkon restoran itu. Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan dua cangkir kopi untuk mereka. Tadi Jisan sudah memesan.


"apanya,?" Harumi juga menyeruput kopinya.


"perasaanmu bertemu dengan mereka."


"tidak seburuk yang kukira, awalnya aku sempat gemetar,"


"iya, aku tau, aku melihatnya." Jisan tertawa kecil.


"ha ha ha,,trimakasih kak Ji,"


"kalau kau mau berterimakasih, berarti kau mau menerima perasaanku kan?"


Spontan Harumi menatap pria yang ada disampingnya itu.


"kau benar-benar tidak tau perasaanku, Rumi?"


Tidak.! Bukan Harumi tidak tau perasaan Jisan yang sebenarnya padanya. Dia tau betul kalau pria disampingnya sudah lama menaruh perasaan padanya.


"kak Ji, kakak tau bukan itu maksudku."

__ADS_1


"Rumi, aku akan bersabar, aku akan menunggu sampai kau bisa membuka hatimu untukku."


Gadis itu hanya terdiam dan menghabiskan sisa kopinya yang sudah dingin. Entahlah, gadis itu tidak merasakan apapun saat bersama Jisan, sama seperti saat dia bersama kakaknya.


"hei.! Kenapa kalian malah disini?" tiba-tiba Seori datang dan mengejutkan mereka. "Jisan, semua orang mencarimu, masuklah, biarkan aku yang menemani Rumi."


Jisanpun segera beranjak dari duduknya dan masuk kedalam. Seori melihat raut wajah Jisan yang terlihat kecewa. Gadis itu kemudian duduk disamping Harumi, tepat dikursi yang diduduki oleh Jisan tadi.


"kenapa dia?" tanya Seori menunjuk Jisan dengan wajahnya.


"entahlah" harumi mengangkat bahunya.


"apa, dia mengungkapkan perasaannya lagi?" seori menebak dengan benar. "dan kau menolaknya lagi?"


"kakak ipar, aku tidak mengatakan apapun padanya. Dan aku tidak pernah menolaknya. Aku hanya mendengarkan pengakuannya."


"tapi kamu diam, itu sama saja.!"


"aku belum berfikir untuk memiliki seseorang yang mengisi hatiku kak, aku belum berani. Apalagi orang itu kak Ji. Aku tau sedalam apa perasaannya, tapi aku tidak merasakan apapun, hatiku juga tidak berdebar saat bersamanya, atau saat dia menggenggam tanganku."


"ya, aku tau perasaan itu, aku dan Junseok dulu juga begitu, kau tau kan betapa kakakmu itu tergila-gila padaku. Setelah perjuangan panjangnya akhirnya aku memutusnya menerima perasaannya, walaupun diawal-awal aku belum terlalu menyukainya, tapi lihat sekarang, kami bahkan sudah hampir menikah." jelas Seori panjang lebar, mengingat kenangannya bersama calon suaminya. "hati-hati dengan perasaanmu Rumi, apapun pilihanmu aku tau itu yang terbaik menurutmu, dan aku tidak akan menghakimimu."


Setelah pembicaraan yang panjang itu, dua gadis itu masing-masing terdiam, memikirkan tentang perasaan mereka.


"ah, ya.! Kau tau aktor itu?" Seori memulai pembicaraan. "choi Hyun, dia banyak bertanya tentangmu, barusan aku bertemu dengannya di sana" Seori menunjuk kearah pintu restoran. "kupikir dia menemui kalian, kau tidak bertemu dengannya?"


"tidak, untuk apa dia kesini?. Mungkin dia ada urusannya sendiri. Apa dia memang seperti itu?"


"seperti itu bagaimana? Apa maksudmu?"


"dia menatapku dengan aneh, dia tersenyum seperti mengejekku."


"entahlah, aku kurang memperhatikan."


"kudengar dia punya banyak pacar." eh.! Kenapa membicarakan aktor sinis itu sih?


"darimana kamu mendengarnya,?"


"dari media-media. Dulu, sebelum dia memerankan tokoh ceritaku, aku sempat membaca berita tentang dia."


"dan kamu percaya berita itu?"


"mana kutahu, lagian aku tidak punya urusan dengannya, yang penting akting dan karakternya cocok, aku tidak peduli dengan urusan pribadinya."


Hahahahaha,,kedua gadis itu kemudian tertawa. Entah kenapa harus membahas si aktor sinis itu.


Udara semakin dingin menembus kulit mereka, kedua gadis itu memutuskan untuk kembali kedalam.

__ADS_1


Sampai didalam sebagian orang sudah mabuk berat, ada yang sudah tak sadarkan diri. Hanya beberapa orang saja yang terlihat masih mengobrol


"ayo kita lanjutkan ronde ke dua.!" teriak Junseok yang sudah setengah mabuk. Ronde ke dua maksudnya adalah pergi ketempat karaoke. Mendengar itu yang masih sadar langsung bertepuk tangan tanda setuju.


__ADS_2