Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
2. Rumah


__ADS_3

Mobil yang membawa Harumi sudah memasuki halaman rumah yang lukas, berhenti tepat didepan pintu masuk. Pak supir mencoba membangunkan Harumi.


"nona, kita sudah sampai" supir berkata dengan suara yang lirih, yang dibangunkan bahkan tidak bergeming. "nona!" dipanggilmya lagi, tetap tidak terbangun.


Pak supir menoleh kearah seorang pria yang berjalan mendekati mobil.


"biarkan saya saja yang bangunkan pak." ucap pria itu. "bapak masuk saja."


Supirpun mengangguk dan pergi.


Pria tinggi yang tampan itu mendekat ke kursi belakang, memperhatikan gadis yang nyenyak terlelap dihadapannya. Diperhatikanya dari ujung kepala hingga kaki. Pria itu tertawa tanpa suara saat dilihatnya kaki mulus Harumi sudah tanpa sepatu. Sepatunya tergeletak dibawah kursi disebelahnya.


"wah, kalau air liurnya keluar ini pasti pemandangan yang sempurna." bergumam sambil tersenyum membayangkan. "dasar Harumi. Baiklah tidak ada yang berubah." katanya lagi.


Harumi merasa sesak nafasnya tidak bisa bernafas, merasakan hidungnya seperti disumbat oleh sesuatu yang memaksanya membuka mata. "apa ini!" nafasnya terengah sambil menampis tangan yang membekap hidungnya.


"bangun! Sudah sampai, berapa lama kau mau tidur disitu." ucap pria itu lagi.


"kak Ji.!" Harumi langsung menghambur memeluk pria didepannya. "wah,,wah,,padahal kakak disini tapi tidak menjemputku. Sungguh tega.!" Memasang wajah pura-pura cemberut.


"maaf, aku tidak tau kau datang, Junseok baru saja memberitahuku." mengacak rambit Harumi yang memang sudah berantakan. "ayo masuk, dia pasti sudah menunggumu."


Hendak turun dari mobil, namun Harumi sibuk mencari sepatu yang sudah tidak menempel dikakinya. Matanya mengedar di seluruh mobil mencari sepatunya. Sepatu itu sudah terselip diantara jok pengemudi. Harumi segera memgambil dan mengenakannya, sementara pria tampan disampingnya hanya tersenyum memperhatikan.


"hei.! Kau sudah sampai?." datang seorang pria lagi yang langsung memeluk erat tubuh lelah Harumi. "bagaimana perjalanannya?" tanyanya lagi.


"kakak, lepaskan dulu pelukanmu, tulangku bisa hancur" kelakar harumi. "seperti biasa,melelahkan." jawab Harumi stelah kakaknya melepaskan pelukanya.


"bagaimana bisa kau tidak berubah sama sekali?" junseok membolak balikan tubuh adiknya.


"berubah seperti apa lagi.?"


"ya, lebih cantik misalnya" Ji san menimpali dengan tawa mengejek.


"kalau aku jadi lebih cantik nanti apa kak Ji akan menyukaiku?"


Bodoh! Batin Ji san.


"buahahahahaha,,!" Harumi tidak bisa menahan tawanya.


"hei,! Ayo masuk, sarapan pagi sudah siap." kata seorang wanita berambut sebahu datang menghampiri. "kenapa malah ngobrol disini".


"kakak ipar.!" kali ini Harumi yang langsung menghambur kepelukan Oh Seori. Yang tidak lain adalah tunangan kakaknya.


"ayo masuk, kita sarapan dulu." menarik tangan Harumi menuju meja makan. Dua pria itupun langsung mengikuti dibelakang.


Dimeja makan sudah tersedia berbagai macam makanan yang langsung membuat rasa kantuk Harumi melayang. Mengambil tempat duduk di samping kanan kakaknya, sedangkan Ji san duduk tepat di samping Harumi.


Sepanjang makan, Jisan banyak sekali mencuri pandang Harumi. Sudah lama mereka tidak bertemu. Terakhir tiga tahun lalu saat itu Harumi pulang karna rindu dengan ibunya.


Jisan dan Harumi sudah lama saling mengenal. Jisan dan Junseok adalah teman kecil, bahkan sekarang Jisan merangkap menjadi sekretaris Junseok.


"kapan kamu akan pulang kerumah ayah?" deg. Jantung harumi berdegup tak terkendali. Entah kenapa setiap nama ayah disebut Harumi selalu tak bisa mengendalikan diri.


"besok saja kak, aku mau istirahat dulu, aku lelah sekali."


Junseok melihat sekilas bibir adiknya bergetar. Sungguh, dia tak tega melihatnya. "baiklah, istirahatlah dulu. Besok kuantar kau kesana."


Mendengar perkataan kakaknya Harumi sedikit tenang. Setidaknya dia punya perlindungan kalau-kalau nanti ayahnya mengamuk. Junseok sudah pasti akan membelanya.

__ADS_1


"ayah.." getir lirih menyebut nama ayah dihatinya.


"oh ya film kita sudah selesai, nanti malam akan ada makan malam bersama tim produksi dan para pemain, kau bisa datang kan?" Oh Seori mengalihkan pembicaraan, dia melihat adik iparnya itu tidak nyaman.


"kalau aku tidak ikut tidak apa-apa kan? Kakak ipar kan tau aku tidak suka keramaian." kata Harumi sambil menyuapkan roti selai kemulutnya.


"apa kau yakin tidak mau ikut bergabung bersama kami? Aku fikir ini sudah saatnya kau menunjukkan dirimu," Oh Seori merayu.


"benar, banyak sekali yang ingin bertemu denganmu, mereka sangat penasaran. Hampir setiap hari mereka bertanya tentangmu, siapa penulis scrip yang luar biasa itu?" Jun Seok ikut menimpali dengan mimik wajah sedikit mengejek. "ayolah,,siapa tau nanti ada yang mau jadi pacarmu."


"kakak.! Jangan menggodaku.!" Harumi memasang wajah kesal. Yang lain hanya tergelak tertawa.


Setelah selesai sarapan, Junseok pergi berangkat untuk bekerja, sekalian mengantar calon istrinya pulang.


"kak Ji, kenapa tidak pergi?" Harumi menatap heran Jisan yang malah duduk diruang tamu dan menyalakan televisi.


"hari ini aku libur, aku berencana menemanimu seharian." Junseok berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


"aku tidak butuh ditemani, kan aku tidak akan pergi kemana-kemana. Bukanya kak Ji banyak kerjaan?" Harumipun menghempaskan dirinya kesofa, memeluk bantal kecil dan ikut duduk menonton tv.


"apa kamu tidak merindukan aku?" Jisan menoleh dengan wajah serius menatap Harumi, yang hanya menaikkan sebelah alisnya. "padalah aku sangat merindukanmu"


"kak Ji jangan berlebihan begitu, nanti kalau kakak benar-benar jatuh cinta padaku bagaimana?" giliran Harumi memasang wajah serius


Dasar bodoh, kau sudah membuatku jatuh cinta sejak dulu.


"menurutku ini saat yang tepat untuk menunjukkan dirimu, benar kata Seori, banyak sekali yang penasaran denganmu."


"aku tidak punya keberanian untuk bertemu dengan mereka kak, aku merasa tidak percaya diri. Kakak kan tau kalau modelku begini."


"hei,, jaman sekarang sudah tidak ada yang akan memandang seseorang karna fisik, penampilan sudah tidak penting lagi. Kalau soal wajahmu yang jarang berdandan itu, nanti kutenani kau ke salon," sesungging senyum menghiasi bibir mungil Jisan.


"masalahanya itu kamu, bukan mereka. Kalau kamu tidak mendengarkan apa yang mereka gunjingkan, itu tidak akan menyakitimu. Biarkan saja mereka mau memandangmu bagaimana, toh kamu tidak pernah menyusahkan mereka. Nikmati hidupmu sendiri Harumi." waah,, Jisan sudah seperti orang bijak saja.


Ternyata penjelasan panjang lebar dari Jisan sedikit banyak mampu menggoyahkan hati Harumi. Sebenarnya dia juga ingin bergaul dengan banyak orang tapi dia benar-benar tidak berani memutuskan. Dia tau itu tidak semudah seperti apa yang dikatakan Jisan. Kali ini mungkin sudah saatnya dia mencoba.


"kak Ji, apa benar tidak apa-apa,?" nada bicara Harumi terdengar cemas.


"ya. Semua akan baik-baik saja. Cepat istirahat, nanti kubelikan kau gaun yang cantik."


*****


Mobil yang membawa Jisan dan Harumi sudah melaju dijalanan ibukota yang lumayan macet, karna tepat saat jam pulang kantor. Sementara itu Harumi asik merengek, merayu Jisan supaya tak perlu membelikanya baju. Tapi pria yang sedang mengemudikan mobil itu tak menggubris rengekan Harumi.


Tak berapa lama, mobil sampai disebuah toko dengan merk ternama. Jisan segera turun dan langsung membukakan pintu mobil untuk Harumi. Ah,,manis sekali sikap Jisan.


Seorang pegawai langsung berlari menghampiri mereka, berbincang sebentar dengan Jisan yang memang sudah langganan di toko itu.


"sudah saya siapkan seperti yang sekretaris Ji pesan tadi." jelas pegawai wanita itu.


Jisan hanya mengangangguk dan mengajak Harumi untuk mengikutinya masuk kesebuah ruangan vip.


Dua orang pegawai wanita mendorong troli berisi pakaian-pakaian dan meletakkan dihadapan Harumi dan Jisan yang sudah duduk di sofa.


Harumi bingung memilih pakaian yang berjajar rapi dihadapannya. Semua itu benar-benar bukan seleranya. Dilihatnya gaun-gaun cantik itu, bawahan pendek, dan itu sama sekali bukan gayanya. Terlalu seksi menurutnya. Dia tidak suka pakaian yang terbuka.


"kak Ji, tidak usah membelikanku pakaian ya,,tidak ada yang sesuai seleraku." Harumi berbisik kepada Jisan.


"tolong bawa atasan yang tertutup, dan celana yang panjang." jelas Jisan kepada salah seorang pegawai wanita itu.

__ADS_1


Padahal kamu akan terlihat sangat cantik kalau memakai ini. Batin Jisan.


Seorang pegawai kembali dengan membawa beberapa pakaian yang diinginkan Harumi. Dia mencoba satu persatu pakaian itu. Dan memutuskan memilih baju berwarna navi dan celana hitam yang menurutnya pas dikulitnya.


"sudah dapat yang pas?" tanya Jisan.


"sudah kak, ayo.!"


Jisan segera berjalan menuju kasir dan membayar pakaian Harumi. Setelah itu merekapun beranjak meninggalkan toko tersebut.


"kak Ji, ayo kita ke taman yang didekat sungai itu," entah kenapa tiba-tiba Harumi ingin mengunjungi taman yang dulu sering ia kunjungi.


"sepertinya tidak akan sempat Rumi. Lain kali saja ya kita kesana." jelas Jisan, lagian memang waktu sudah sore dan sebentar lagi makan malam tim.


"baiklah," Harumi masuk kedalam mobil, Jisan membukakan pintu mobil untuknya.


"kita mampir ke kantor sebentar ya,,aku mau mengambil sesuatu disana."


Mana mungkin Harumi menolak, toh dia kan cuma menumpang. Hihi.


Tidak jauh jarak antara butik dan kantor Junseok. Hanya ditempuh dalam beberapa menit saja.


"kak Ji, turunkan aku di taman depan kantor ya," kata Harumi saat mobil sudah memasuki halaman kantor.


"kenapa tidak ikut masuk,? Junseok pasti senang kamu datang."


"tidak. Ayah, juga pasti ada didalam kan? Turunkan saja aku ditaman." pintanya lagi.


"baiklah." Jisan menepikan mobilnya untuk menurunkan Harumi, sementara dia langsung menuju ke tempat parkir yang ada di basement.


Harumi memandangi gedung bertingkat delapan itu, menebak dimana letak kantor kakak dan ayahnya, kalau kantor Jisan sudah pasti dekat dengan kantor kakaknya karna Jisan adalah sekretaris kakaknya.


Lamunan Harumi dibuyarkan oleh teriakan sekelompok remaja wanita yang sedang mengerumuni seseorang. Pasti selebritis, batin Harumi. Maklumlah, perusahaan ayahnya ini juga menaungi beberapa selebritis.


Harumi merasa sangat terganggu, apalagi beberapa orang yang tadinya sedang bersantai di bangku-bangku taman ikut merangsek bergabung dengan kerumunan itu. Hanya dia yang tidak heboh.


Orang-orang itu sibuk memotret dan berteriak. Sekilas Harumi bertemu tatap dengan selebritis pria itu. Mungkin, karna pria itu memakai kacamata hitam, tapi wajahnya menghadap kearah Harumi.


"ayo.!" teriak Jisan sudah berada di hadapan Harumi dengan mobilnya.


Gadis itu berlari kecil menghampiri Jisan. Dan sudah tidak mempedulikan kerumunan orang-orang yang heboh tadi.


"kenapa cepat sekali kak?" tanya Harumi saat sudah duduk didalam mobil.


"aku merasa malah kelamaan." keduanyapun tertawa kecil.


Mobil melaju perlahan dijalanan, Harumi lebih banyak diam, mengedarkan pandangannya ke berbagai tempat.


"kau baik-baik saja?" Jisan melihat kegelisahan Harumi.


"kelihatan ya?"


"hm hm,, apa kau menghawatirkan makan malamnya? Atau menghawatirkan ayahmu?"


Harumi langsung menoleh, Jisan seperti bisa mendengar fikiranya. Dia memang sedang memikirkan ayah, sosok yang sangat ia rindukan sebenarnya. Tapi rasa rindu itu tertutupi dengan apik oleh ketakutanya.


Ayah, aku sangat rindu rumah, dan ayah.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2