Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
Pasar


__ADS_3

Setelah selesai membereskan meja makan dan membersihkan kamar, Harumi mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman. Kemudian keluar dari kamarnya. Ia melihat Choi Hyun masih ditempatnya. Sedang menikmati secangkir kopi sambil menonton tv.


"bawa ini." kata Hyun menunjuk sebuah amplop diatas meja.


"apa ini?" Harumi meraih amplop itu, kemudian membukanya. "untuk apa uang ini?" tanyanya lagi.


"gunakan itu untuk berbelanja"


"aku juga punya uang sendiri." Harumi menolak dengan halus. dia fikir Harumi tidak punya uang apa? Gini-gini Harumi juga putri seorang konglomerat. Lagipula penghasilan dari menulis juga tidak sedikit. Dia sebenarnya punya banyak uang, hanya saja dia lebih nyaman berpenampilan sederhana dalam kesehariannya.


"sudah, bawa saja, beli apapun yang kau mau."


"sudah bawa saja.


Ada apa dengan orang ini? Bertindak seolah suami sungguhan. Cih.!


"baiklah, akan kuhabiskan uang ini."


"habiskan saja, kalau kurang nanti kutambahi." kelakar Hyun.


Harumi tidak ingin meladeni Hyun lebih jauh. Diapun memutuskan untuk segera keluar dari rumah itu.


Sesampainya di lantai bawah, sekretaris Jang sudah menunggu Harumi dimobilnya. Saat melihat Harumi Jang segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk Harumi. Tidak lupa ia menunduk hormat pada Harumi.


"silahkan nyonya." kata Jang kemudian


"jangan panggil aku nyonya dong. Panggil saja Harumi."


"maaf, saya tidak bisa melakukannya, karna anda adalah istri tuan muda, maka saya wajib memanggil anda nyonya." jelas Jang panjang lebar.


Ahhh,,, apalagi ini? Satu persatu muncul orang aneh disekitarnya.


"baiklah, terserah kau saja."


"kemana tujuan anda nyonya?" Harumi merasa tidak nyaman dengan panggilan itu.


"kita kepasar tradisional saja"


"pasar tradisional? Anda yakin nyonya?"


"iya, kenapa?"


"kenapa tidak ke supermarket saja nyonya,? Lebih bersih dan nyaman." Jang heran, wanita sekelas Harumi yang notabenenya putri seorang konglomerat lebih memilih pasar tradisional ketimbang supermarket.


"tapi pasar tradisional lebih seru dan menyenangkan." kata Harumi lagi.


Jang mengemudikan mobil menuju kejalan raya, saat sedang fokus mengemudi tiba-tiba Jang sontak menginjak rem, seseorang mencegat mobilnya. harumi terkejut luar biasa. Jantungnya serasa hampir copot. Tangannya gemetar memegang sandaran kursi dihadapannya.


"ada apa?" tanya harumi.


Belum sempat dijawab oleh Jang. Seseorang tiba-tiba membuka pintu mobil disebelah Harumi, kemudian duduk disampingnya. Harumi semakin terkejut.


"ayo jalan Jang.!" katanya kemudian.


"apa? Kenapa kau disini?" tanya Harumi masih tidak mengerti.


Sekretaris Jang masih berusaha mengatur nafasnya. Kemudian dia melajukan mobilnya lagi.


Hyun tak kalah ngos-ngosannya dengan Harumi. Seperti orang yang baru berlari dari lantai 10. Apa mungkin dia benar-benar berlari dari sana?


"tadi bukannya kau akan istirahat seharian? Kenapa tiba-tiba ikut kami?"


"aku bosan dirumah sendirian." kata Hyun.


"tapi bukankah selama ini anda memang dirumah sendiri tuan?" Jang menimpali.


"diam kau! Berisik!" Hyun menendang sandaran kursi yang diduduki Jang. Dia hanya membalas dengan cengiran.


Harumi menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Hyun yang tidak pernah bisa diduga.


Lumayan lama perjalanan karna jalanan sedikit macet. Setelah berjibaku dengan kemacetan akhirnya mobil yang membawa mereka sampai di tempat yang dituju.

__ADS_1


"kenapa kita disini?" tanya Hyun heran saat menyadari lingkungan sekitar.


"ya belanja." jawab Harumi singkat.


"bukannya belanja kesupermarket?" masih heran.


"jadi ikut tidak? Kalau tidak ya sudah aku sendiri saja." Harumi segera turun dari mobil.


"hei.! Tunggu aku.!" Hyun segera keluar dari dalam mobil. Tak lupa ia mengenakan masker dan topi terlebih dahulu. "Jang. Kau tunggu disini saja, tidak usah mengikuti kami."


"kenapa?"


"sudah.! Jangan banyak tanya.!"


Harumi tanpa sadar tersenyum melihat model Hyun yang seperti itu. Hanya matanya saja yang terlihat.


"apa-apaan ini?" batin Harumi.


Hyun tak berani jauh-jauh dari Harumi. Dia terus mengekori Harumi dibelakangnya.


"apa yang ingin kau beli?" tanya Hyun.


"sudah, ikut saja. Ayo.!"


Mata Harumi berbinar saat menemukan penjual kerang yang sangat disukainya. Diapun segera menghampiri penjual itu.


"bi, berapa harganya?" tanya Harumi pada penjual wanita paruh baya itu. Penjual itupun mengatkan harganya. "bibi, memang kerangnya terlihat segar dan cantik, tapi masih lebih cantik bibi. Berilah aku diskon, ya bi?"


"waah,, kau pintar sekali merayu. Baiklah, ambil ini." penjual itu termakan rayuan Harumi. Diapun tersenyum senang setelah mendapatkannya.


"trimakasih bibi."


Kemudian mereka berjalan lagi menyusuri pasar itu, Harumi membeli sayuran yang masih segar tanpa menawarnya terlebih dahulu.


"kenapa kau tidak menawarnya?"


"mana mungkin aku tega menawarnya. Untung yang mereka dapatkan sedikit, kalau kita tawar lagi bisa-bisa mereka rugi." jelas Harumi.


"tapi tadi kau menawar saat membeli kerang."


Hyun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


Barang-barang yang dibawa Harumi lumayan banyak, tangannya hampir penuh. Hyun berinisiatif membawakan sebagian barang-barangnya.


"sini aku bantu bawakan." Hyun memaksa merebut barang belanjaan dari tangan Harumi.


Mendengar itu tentu saja Harumi dengan senang hati memberikannya.


"kau ingin membeli apa?" tanya Harumi.


"entahlah, tidak ada yang menarik."


"kalau begitu ayo kita cari camilan."


Harumi langsung bergi begitu saja, tidak peduli dengan Hyun yang kesulitan mengikutinya.


"hei.! tunggu aku.!" Hyun mempercepat langkah kakinya agar bisa sejajar dengan Harumi.


"aku lapar." Hyun merengek memegangi perutnya dengan satu tangan. Wajar sih, karna mereka sudah berkeliling hampir dua jam.


"mau makan apa?" tanya Harumi.


"apa saja."


"yakin? Bagaimana kalau ayam goreng?"


"setuju.!"


Merekapun kemudian mencari tempat yang menjual ayam goreng. Setelah menemukan tempat yang agak sepi(karna Harumi bersama dengan artis), mereka lalu masuk dan memesan satu porsi ayam goreng original dan seporsi kaki ayam pedas.


Sambil menunggu pesanan datang, merekapun mengobrol ringan. Tiba-tiba Hyun menatap televisi dan tidak berkedip sedikitpun. Di tv sedang menyiarkan berita seorang aktris terkenal, yang baru saja kembali dari luar negeri setelah membintangi film box office luar negeri.

__ADS_1


Aktris itu nampak dikerumuni oleh wartawan saat baru tiba dibandara. Aktris cantik dengan rambut terurai sebahu dan memakai kacamata berwarna hitam. Harumi tidak tau siapa itu, dia tidak mengenalnya.


"kau kenal dengannya?" tanya Harumi mengalihkan pandangan Hyun dari tv. Tapi Hyun tidak segera menjawabnya.


"wanita pertama yang kubawa kehotel."


"apa?! Kenapa berbeda sekali dengan yang difoto?"


Makanan yang mereka pesan telah datang. Dengan segera mereka melahapnya. Nampaknya Hyun benar-benar lapar.


"emm,,boleh aku menanyakan sesuatu?"


"apa?" jawab Hyun sambil melahap paha ayam.


"wanita itu, sudah berapa lama kau menunggunya?"


"sudah lebih dari empat tahun."


"waaaahhhh,, ternyata kau tipe pria yang setia juga ya.."


"bagaimana kau berfikir kalau aku tidak setia?"


"itukan,,kau sendiri yang bilang, kau sering tidur dengan banyak wanita yang berbeda-beda."


"kau tidak akan berfikir seperti itu kalau tau apa yang kulakukan dikamar hotel."


"apa aku sudah gila? Untuk apa aku mengetahuinya? Membayangkannya saja aku tidak mau."


"kenapa tidak mau? Kau sudah mulai cemburu?"


"apa?! Cemburu? Yang benar saja.!"


"kenapa? Akukan suamimu."


"permisi pak, kita baru menikah kemarin tau.! Itu juga bukan atas dasar keinginan kita kan? Aku tidak akan cemburu dengan orang yang tidak kusukai."


"jadi kau tidak menyukaiku? Apa kau membenciku?" apaaaalagi si Hyun ini. Sikapnya aneh sekali.


"Sudahlah.! Ayo kita pergi, sudah cukup belanjanya."


Lagi-lagi Hyun merasa senang sudah berhasil menggoda Harumi.


"kau marah?" kata Hyun sambil mensejajarkan langkahnya dengan Harumi.


"tolong, berhentilah menggodaku. Kau sangat menyebalkan.!" Harumi setengah marah.


Harumi dan Choi Hyun sudah akan kembali ketempat dimana mobil mereka berada. Harumi menghentikan langkahnya saat melihat seorang nenek yang sudah renta tengah menjajakan dagangannya. Tidak ada yang membeli dagangan nenek itu. Harumipun merasa iba dan menghampirinya.


"nek, beri aku semua sayuran ini." ucap Harumi. Si nenek langsung berbinar menatap Harumi.


"benarkah? Semuanya?"


"iya, semuanya."


Hyun menatap Harumi dengan heran. Tidak bisa menebak apa yang difikirkan gadis itu. Perasaan tadi Harumi sudah membeli semua sayuran yang sama seperti yang dijual si nenek. Kenapa dia membelinya lagi.


Harumi membantu nenek mengemas sayuran, setelah selesai Harumi membayar dengan uang yang sengaja dilebihkannya.


"nak, uangnya kelebihan banyak sekali." kata si nenek.


"tidak apa-apa nek, belilah makanan yang enak dan makanlah bersama keluargamu." ucap harumi tersenyum manis.


"ya ampunn,, masih ada gadis baik seperti mu. Hei anak muda.! Jagalah istrimu ini dengan baik, karna kau tidak akan menemukan gadis sepertinya lagi." ucap si nenek kepada Hyun yang heran, bagaimana sinenek tau kalau mereka sepasang suami istri.


Harumi menenteng banyak barang. Sedangkan Hyun hanya membawa sedikit.


"siapa sebenarnya kau?" kata Hyun lirih. ada nada serius diucapannya.


"apa? Kau bilang apa?" Harumi merasa Hyun sedang bicara dengannya.


Ada yang berdesir disudut hati Hyun. Dia mulai tersentuh dengan kebaikan gadis itu. Kebaikannya sama dengan wanita yang pertama kali mengisi hatinya. Wanita yang baru saja kembali dari luar negeri.

__ADS_1


"hei.! Apa kau mau disitu saja?" teriak Harumi setelah melihat Hyun yang masih mematung dibelakangnya.


Hyunpun segera berlari kecil menyusul Harumi yang sudah melenggang jauh didepannya.


__ADS_2