
Pria bertubuh sempurna itu mempercepat langkahnya, menutupi wajahnya dengan kacamata hitam, masker dan topi keluar dari area bandara. Sekretarisnya berjalan dibelakanganya, ada beberapa orang dari pihak keamanan bandara yang berjalan mengiringinya.
Dikejauhan terlihat para fansnya sudah berkumpul menyambut kepulangannya. Membawa beberapa poster dengan tulisan dan foto dirinya. Pihak keamanan langsung membuat barikade agar aktor tampan itu bisa leluasa berjalan.
Para penggemar itu terus berteriak dan berusaha untuk bisa sekedar menyentuh sang idola. Yang tentu saja langsung ditepis oleh pihak keamanan.
Setelah berhasil melewati kerumunan para penggemarnya, Choi hyun menghempaskan diri di kursi mobilnya. Melepas masker, kacamata, dan topinya. Nampak kelelahan tersirat dari raut wajahnya.
"setelah ini mau kemana tuan?" tanya sekretaris Jang. "jadwal anda kosong sampai lusa, hanya nanti malam ada makan malam bersama tim produksi."
"kita pulang saja dulu, aku lelah ingin istirahat." Hyun menyandarkan dirinya.
"baik tuan."
Setelahnya mobilpun melaju memecah kemacetan jalanan ibukota.
"tuan, tuan besar menyuruh tuan untuk datang." akhirnya Jang memberanikan diri untuk bicara.
"ah, dasar kau.!" Hyun menendang kursi yang diduduki sekretaris Jang.
Sekretaris Jang melirik dari kaca spion, tuannya itu kesal.
"kita kesana."
"baik tuan.
Sopir melajukan mobil dengan hati-hati, takut tuannya kesal lagi. Selang beberapa lama mobil yang membawa Hyun tiba dirumah ayahnya, rumah yang sangat besar dan megah. Memasuki gerbang depan, beberapa penjaga mengangguk hormat kepada Hyun.
Hyun turun dari mobilnya setelah dibukakan pintu oleh sekretaris Jang. Pak Kang, kepala pelayan langsung menghampiri Hyun dan mempersilahkannya masuk. Pria paruh baya itu menuntun Hyun menuju keruang kerja ayahnya. Mengetuk pintu dan membukanya untuk Hyun.
Didalam ternyata sudah ada ibu yang dengan senyum hangatnya langsung menyambut putra satu-satunya itu. Memeluknya dengan erat. Begitu pula ayahnya.
"bagaimana perjalananmu?" tanya ayah.
"baik ayah, ada apa ayah menyuruhku kesini?" tanya Hyun langsung ke intinya.
Kepala pelayan masuk membawa nampan berisi buah dan minuman. Meletakkan diatas meja kemudian berlalu pergi.
"kau ini.! Apa tidak rindu dengan kami?" raut muka ibu pura-pura ngambek.
"ibu, aku baru pergi tiga hari yang lalu. Itupun tidak jauh."
"walaupun cuma sehari, tidak, bahkan kalau cuma sejam kami sudah merindukanmu." kata ibu lagi.
Ayah yang mendengar itupun tertawa kecil.
"kau, pindah saja kesini. Untuk apa tinggal diapartemen? Rumah ini lebih dari cukup untuk kita."
"ayah, aku akan pindah nanti kalau aku sudah berhenti dari dunia aktor."
"kau ini, dari dulu selalu berjanji seperti itu. Tapi kapan kau akan berhenti?" ibu menimpali.
"kalian bersabarlah sedikit lagi."
"Hyun, ayah sudah tua, kamu juga sudah lebih dari mampu untuk memimpin perusahaan."
"dan juga sudah lebih dari mampu untuk menikah." ibu menimpali lagi.
Ah ibu, seingin itukan ibu punya menantu? Selalu saja itu yang dibahas.
"segeralah berhenti, ayah fikir sudah saatnya." kali ini intonasi ayah lebih tegas. "besok lusa ayah akan memperkenalkanmu dengan salah seorang anak teman ayah. Pergilah berkencan. Diberita kamu punya banyak pacar, tapi tidak ada yang kamu kenalkan kepada kami."
"ayah!."
__ADS_1
"kali ini turuti kata-kata ayahmu Hyun. Ibu juga berharap kamu segera menikah. Dengan siapapun ibu tidak masalah, kalau kamu mau dengan anak teman ayahmu kami akan sangat senang."
Jadi ini perjodohan apa bagaimana sih?
"baiklah, lusa, siang, aku akan datang." Hyun malas berdebat dengan kedua orangtuanya, toh dia bakalan tetap kalah. "aku pulang dulu bu, ayah, nanti beritahu saja tempat dan waktunya, aku janji akan datang." sekali lagi Hyun menegaskan kepada kedua orangtuanya.
Ibu mengantarkan anak kesayangannya itu sampai didepan rumah, memperhatikan Hyun berjalan dan masuk kedalam mobilnya. Sekretaris Jang mengangguk hormat sebelum diapun masuk kedalam mobil.
Sampai diapartemennya Hyun langsung mandi dan bergolek diatas tempat tidurnya. Tadinya dia lelah dan ingin segera istirahat. Tapi teringat kembali kata-kata ayah dan ibunya. Apalagi tentang calon istri.
Sekretaris Jang masuk dan meletakkan beberapa makanan ringan kesukaan Hyun diatas meja disamping tempat tidurnya.
"jang, apa kau tau siapa yang akan dijodohkan denganku?"
"tidak tuan. Apa tuan besar menjodohkan tuan?" sekretaris Jang melirik Hyun yang tengah bersandar di tempat tidur. "waahh,, aku penasaran sekali."
"diam kau! Berisik! Keluar sana!"
Sekretaris Jang langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Hyun yang sedang memikirkan tentang calon istri.
Satu jam, dua jam, tiga jam. Tapi kantuk tak juga datang, bahkan rasa lelah yang tadi dirasakanpun menghilang.
Aktor tampan itu bangkit dari ranjangnya, meraih topi dan masker kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Sekretaris Jang terkejut saat mendengar pintu kamar Hyun terbuka.
"mau kemana tuan?"
"ayo kita kekantor, aku ingin bertemu direktur."
"sekarang? Bukanya tuan lelah dan ingin beristirahat tadi?" Jang langsung mengikuti Hyun, pria itu bahkan tidak menjawab pertanyaannya.
Sekretaris Jang mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Sebenarnya dia juga lelah dan ingin beristirahat. Hampir setengah jam perjalanan dan mereka sampai ditempat yang dituju.
Begitu Hyun keluar dari dalam mobil, sudah ada saja penggemar yang sedang menunggunya. Entah darimana mereka tau kalau ia akan datang. Penggemarnya segera mengerubunginya, mengabadikan setiap momen dengan kamera ponsel mereka masing-masing.
Apa itu? Kenapa dia hanya diam disitu sementara orang-orang disekelingnya sudah berlarian mengerumuniku. Aneh sekali.
Sekretaris Jang segera membukakan jalan agar Hyun bisa melewati kerumunan itu, dan usahanya berhasil. Akhirnya mereka bisa masuk kedalam gedung.
Mereka langsung menuju ke lift, begitu pintu lift terbuka sekretaris Jang segera memencet tombol 5, merekapun menuju ke lantai lima.
Lift yang membawa mereka sudah sampai dilantai lima, begitu pintu lift terbuka mereka langsung di sambut oleh dua orang sekretaris wanita yang langsung membukakan pintu ruangan direktur.
"oh, kaliah sudah datang? Silahkan duduk," kata direktur muda itu. "apa kamu tidak lelah,? seharusnya kamu istirahat dulu."
"tidak hyung, ada yang ingin aku sampaikan. Soal yang waktu itu pernah kubilang." Choi Hyun langsung bicara ke intinya.
"jadi apa keputusanmu?"
"aku tidak akan memperpanjang kontrak."
"Kenapa? Karirmu sedang bagus-bagusnya."
"orangtuaku rewel sekali, ayah ingin aku segera mengurusi kantor, ibu ingin aku segera menikah." Hyun menyeruput kopinya.
"hahahahaha,,mereka tidak salah, memang sudah saatnya kau menikah, mau kukenalkan dengan seseorang?"
"kenalkan aku dengan salah satu adikmu" air muka Choi Hyun berubah serius.
"benar kau mau?"
"ceritakan tentang penulis itu Hyung, Harumi." Choi Hyun sangat antusias.
"kenapa kamu tertarik sekali dengannya?"
__ADS_1
"entahlah, aku sula ceritanya."
"hari ini dia kembali, nanti malam kemungkinan dia akan datang."
"benarkah?!" Choi Hyun tidak bisa menyembunyikan kegirangannya.
"dasar kau ini.!" Junseok juga tersenyum lebar melihat kelakuan Hyun.
*****
Choi Hyun berdandan se elegan mungkin, mengenakan kemeja putih, rambut disisirnya dengan rapi. Pria tampan itu sangat antusias ingin bertemu dengan si penulis naskah yang tidak pernah ditemuinya. Dia sudah benyak mendengar tentang gadis itu dari Junseok yang adalah kakaknya. Sekretaris Jang hanya geleng-geleng kepala melihat tuan mudanya yang bertingkah seperti itu.
"cepat sedikit kau menyetirnya Jang. Kita bisa terlambat."
"tuan, saya rasa kita akan sampai disana lebih dulu daripada yang lain."
"diam kau.!" wajah Hyun tersipu,
Entah kenapa Hyun sangat penasaran dengan gadis itu. Naskah yang ditulisnya sangat menarik. Juga kisah hidupnya, Junseok sudah banyak bercerita tentang adiknya itu.
Sesampainya di restoran, benar saja baru ada mereka yang tiba disana. tapi tidak lama kemudian satu persatu kru mulai datang. Mereka saling menyapa satu sama lain.
Hyun melihat produser Seori sedang berbincang dengan pelayan restoran. Memilih beberapa menu yang akan disajikan di acara nanti.
"nuna.!" Hyun memanggil Seori sambil berlari mendekatinya.
"wah,,kau sudah datang?"
"mana hyung?" menanyakan Junseok.
"belum datang, mungkin sebentar lagi."
"apa Harumi juga akan datang,?" Hyun bertanya tanpa ditutup-tutupi.
"ooooooo,,,sepertinya kau sangat penasaran. Dia berjanji akan datang. Kita lihat saja nanti. Tapi kalau dia tidak datang, kau jangan kecewa ya,,"
"aku harap dia datang." Hyun bergumam yang hanya dirinya sendiri yang mendengar.
Mereka berdua berjalan masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar. Beberapa meja yang siap dengan kursinya ditata sedemikian rupa, Didalam sudah ada beberapa orang kru yang sedang mengobrol.
Tak berapa lama, Junseok masuk. Dibelakangnya mengikuti seorang gadis yang wajahnya biasa saja, memakai baju warna navi, dan tas slempang dibahu kirinya. Rambutnya digerai agak panjang hampir sampai pinggang. Terselip sebuah pita rambut yang tampak manis bertengger dirambut hitam itu. Badanya sedikit berisi, dan tingginya hampir sama dengan Seori.
Mata Hyun langsung tertuju pada gadis itu. Wajahnya yang memerah membuat Hyun tersenyum tanpa sadar. Pria tampan itu memperhatikan terus menerus.
Inikah harumi itu? Apa ini? Wajahnya biasa saja, penampilannya juga biasa saja. Lihat pipi itu, kenapa merona begitu? Sikapnya aneh sekali.
Choi Hyun tak ingin melepaskan pemandangan itu, beberapa kali dia tersenyum tipis karna melihat tingkah gadis itu yang sepertinya kurang nyaman. Bahkan kaki gadis itu gemetar saat memperkenalkan dirinya.
Tidak ada yang sadar betapa Choi Hyun ingin sekali menghampiri gadis itu, pria itu mengerutkan alisnya saat melihat Jisan tiba-tiba menggenggam tangan Harumi, dan tersenyum.
Sedekat itukah mereka?
Saat yang lain sedang menikmati makan malam mereka, Hyun tetap tidak melepaskan lirikannya. Bahkan ekor matanya mengikuti saat Harumi bangkit dan berjalan keluar dari ruangan yang disusul Jisan.
Perlahan Hyunpun ikut berdiri dan keluar dari ruangan itu, niatnya ingin kekamar mandi saat dilihatnya Jisan dan Harumi sedang duduk diteras restoran.
Hyun bermaksud menghampiri mereka dan ingin berkenalan secara resmi dengan Harumi, tapi langkah kaki Hyun berhenti saat mendengar percakapan mereka. Jisan sedang mengungkapkan perasaannya.
Merasa ini bukan waktu yang tepat, Choi Hyun memutuskan untuk kembali kedalam. Dan dia terkejut saat melihat Seori sudah ada dibelakangnya.
"kenapa?" tanya Seori.
"tidak apa-apa Nuna. Aku kedalam dulu." tingkah Hyun seperti orang yang sedang ketahuan mencuri.
__ADS_1