Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
Pernikahan


__ADS_3

Hari ini, hari pernikahan yang tidak pernah diharapkan oleh Harumi, maupun Choi Hyun. Gadis itu menatap sendu pantulan dirinya didepan cermin. Penata rias sedang sibuk merias wajahnya. Tidak terlihat sedikitpun kebahagiaan disana. Dia seperti raga yang kosong.


Begitu juga dengan Choi Hyun yang berada dikamar terpisah. Sama sekali tidak semangat saat mengenakan tuxedo warna putih yang terlihat sempurna ditubuhnya.


Pernikahan diadakan di hotel milik ayah Harumi. Acaranya benar-benar private. Hanya beberapa orang yang hadir, yang tentu saja sudah bisa dipastikan tidak akan membocorkan tentang pernikahan ini.


Sebuah pesan masuk di ponsel Harumi.


'Rumi, maafkan aku, aku tidak bisa hadir dipernikahanmu. Aku tidak sanggup melihatmu menikah dengan orang lain.' pesan dari Jisan.


Harumi membaca pesan itu tanpa ekspresi. Penata rias melirik ponsel Harumi sekilas, kemudian melanjutkan merias Harumi.


Tok,,tok,,tok,,terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Harumi sudah selesai dirias. Mengenakan gaun putih yang terlihat sangat cocok ditubuhnya.


Junseok masuk kedalam kamar dengan Seori. Mereka menghampiri Harumi yang nampak tidak peduli dengan kehadiran mereka. Seori mendekati Harumi, menggenggam tangannya dengan lembut. Sementara Junseok hanya memperhatikan dari samping.


"kau tidak apa-apa Rumi?" tanya Seori.


"aku baik-baik saja." tanpa mengalihkan pendangannya dari cermin.


Junseok menitikkan airmata melihat adiknya itu bahkan tidak bergeming. Dia merasa gagal menjadi kakak, gagal melindungi Harumi.


"aku baik-baik saja kak, kakak tidak usah cemas." rupanya Harumi menyadari perasaan kakaknya. Junseok dan Seori memeluk gadis malang itu.


**********


"kau sudah siap Hyun?" tanya ibunya.


"sudah bu."


"wah,,kau sangat tampan, bahkan mengalahkan ayahmu saat menikahi ibu dulu."


Ayah Hyun mendekat dan menepuk-nepuk bahu putranya itu.


"trimakasih, nak. Aku sangat bangga padamu." Hyunpun kemudian memeluk ayahnya dengan erat.


"baik-baiklah nanti dengan istrimu, jangan kau sakiti dia. Jadikan dia sebagai istrimu yang sangat berharga."


"iya ayah."


Tok, tok, tok, terdengar pintu diketuk dari luar. Seorang gadis cantik masuk dan membawa bunga ditangannya lalu memberikannya pada Hyun.


"wah,,kau tampan sekali. Walau memang kau sudah tampan dari dulu, tapi hari ini kakak benar-benar tampan. Selamat atas pernikahanmu kak." kata gadis itu.


"Nayeon.! Kau datang."


"iya paman. Ayah dan ibu ada diaula."


Nayeon adalah sepupu Hyun dari pihak ibu. Umurnya dua tahun lebih muda dari Hyun. Dia sangat berbakat dalam mengelola perusahaan dan membantu ayah Hyun diperusahaanya.


"aku tidak menyangka, akhirnya kau menikah juga kak." kata Nayeon.


"Nayeon, kami keluar dulu ya, mau menemui para tamu undangan." kata ibu Hyun.


"iya bibi, aku akan menemani kak Hyun disini" kedua orangtua Hyun meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"apa kakak mengundangnya?"


Hyun sontak menoleh kearah Nayeon. Dia seperti tahu siapa yang dimaksud Nayeon. Bisa dibilang Nayeon adalah orang yang paling tau tentang Hyun, luar, dalam.


Pria itu berdiri dijendela dan menatap keluar. Dari kamarnya yang ada dilantai yang tinggi, dia bisa melihat hamparan kota dengan leluasa. Menyimpan tangannya didalam saku celananya. Pose yang sempurna.


"kakak tidak memberitahunya kan?" tanya gadis itu lagi.


"tidak, tidak mungkin aku memberitahunya bahwa aku akan menikah."


"kakak masih menunggunya?"


"tentu saja."


"kak, lupakan saja dia, ini sudah hampir empat tahun kak. Lagipula kakak sudah akan menikah sekarang. Dia bahkan tidak pernah memberimu kabar setelah pergi begitu saja."


"diam kau. Berisik.!" hardik Hyun. Dia masih memandang keluar jendela.


"rasa-rasanya aku kasihan dengan kakak ipar."


"keluar.!"


Seorang staf hotel memberitahu Hyun bahwa acaranya akan segera dimulai.


**********


Acara pernikahan berlangsung dengan semestinya. Karna tamu undangan tidak banyak, jadi suasananya tidak terlalu berisik. Jisan dan Runa tidak tampak batang hidungnya.


Semua yang hadir memberikan selamat kepada Harumi dan Hyun. Keduanya menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan.


Ayah, sudah puaskah ayah? Sudah setimpalkah dengan kesalahanku? Atau masih belum cukup? Setelah ini apalagi yang akan ayah lakukan padaku? Babak baru penderitaanku baru saja dimulai. Aku menikah dengan pria yang tidak kukenal. Aku hanya sebatas tau pria itu. Ayah, apa sedikit saja kau tidak iba melihatku? Tidak pernahkah ayah menganggapku sebagai anak yang berharga? Sefatal apa salahku sampai ayah tega memberikanku kepada pria asing ini?!


Setelah sesi foto keluarga, satu persatu tamu undanganpun telah meninggalkan lokasi acara. Kini hanya menyisakan dua keluarga yang sudah menjadi besan itu.


Acara telah sepenuhnya selesai. Kini Hyun dan Harumi telah resmi menjadi sepasang suami istri. Merekapun telah berganti pakaian dengan yang lebih santai.


Hyun dan Harumi mengantarkan para orangtua sampai kelobi hotel.


"ayah, untuk sementara kami akan tinggal diapartemen saja." kata Hyun kepada orangtuanya.


"lho kenapa? Tidak langsung pulang kerumah saja?"


"tidak bu, akan lebih nyaman kalau kami tinggal diapartemen." Harumi menimpali.


"baiklah kalau kalian inginnya begitu. Baik-baiklah kalian ya." kata ibu Hyun. "kami pulang dulu."


Ayah Harumi tidak mengucapkan sepatah katapun pada Harumi. Dan langsung meninggalkan hotel.


Tersisa mereka berdua yang saling menatap satu sama lain.


"Aku akan mengambil barang-barangku," kata Harumi membuka suara.


"baiklah, kita bertemu disini 10 menit lagi."


Dan keduanyapun berjalan menuju kamar mereka masing-masing yang sebenarnya berada dilantai yang sama.

__ADS_1


10 menit kemudian Harumi telah selesai mengepaki barang-barangnya dan kemudian turun kelobi.


Choi Hyun sudah berada di dalam mobil, sedangkan sekretaris Jang berdiri didepan pintu mobil.


Begitu melihat Harumi sekretaris Jang langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Harumi masuk.


Harumi duduk dikursi belakang, sedangkan Hyun duduk disebelah pengemudi. Sebenarnya Jang heran dengan situasi ini. Tapi memilih diam daripada bertanya.


Hari sudah hampir senja. Jang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang bersuara. Bahkan sampai diapartemen.


Harumi mengikuti Hyun turun dari mobil, berjalan kearah lift, Jang mengantarkan mereka sampai kedepan pintu apartemen sambil membawakan barang-barang Harumi.


Setelah sampai didepan apartemen Hyun mempersilahkan Harumi untuk masuk.


Apartemennya sangat luas. hyun menunjukkan kamar yang akan ditempati Harumi. Bersebelahan dengan kamarnya.


"ini kamarmu." kata Hyun membukakan pintu kamar.


"trimakasih." jawab Harumi singkat kemudian masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya.


Kamar itu juga lumayan luas, ada lemari pakaian yang panjang disudut kamar. Harumi membuka lemari itu dan menaruh pakaiannya disana. Kemudian berjalan menuju kamar mandi yang juga berada dikamar itu. Menyalakan air dan mengisi bathtub dengan air hangat.


Harumi berendam didalam Bathtub, dan setelah merasa segar iapun kemudian membilas tubuhnya. Berganti pakaian dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Harumi merasa haus, ia keluar dari kamar dan berjalan menuju kedapur yang tadi sempat diberitahu oleh Hyun. Ia mengambil gelas yang ada diatas meja dan mengisinya dengan air minum lalu menenggaknya hinga habis tak bersisa.


Terdengar pintu kamar Hyun terbuka. Pria itu berjalan keluar dari kamarnya dan sudah berganti pakaian.


"aku mau keluar. Mungkin tidak akan pulang malam ini."


Harumi hanya mengangguk menanggapi Hyun. Ia memperhatikan punggung Hyun yang berjalan menuju pintu.


Ch.! Dia bahkan tidak berganti pakaian.


Setelah kepergian Hyun, Harumi merebahkan tubuhnya diatas sofa. Dalam hati ia berterimakasih kepada Hyun karna meninggalkannya sendiri dirumah ini. Tapi lama-lama Harumi bergidik ngeri, dirumah sebesar ini hanya ada dirinya seorang saja.


Harumi kemudian menyalakan televisi, tidak ada acara yang menarik. Iapun berjalan menuju balkon dengan membiarkan tv tetap menyala.


Balkon yang lumayan luas juga, Harumi bisa melihat hampir seluruh pemandangan kota yang berkerlap-kerlip. Ada sebuah meja kecil beserta dua buah kursi dibagian pojok balkon. Nampak indah dan romantis. Kemudian ia mendekati tepi yang berpagar dan melongok kebawah, jantung Harumi berdesir saat tau dia ada diketinggian. Buru-buru ia memundurkan langkahnya.


Wah,,! Gila! Tinggi sekali.!


Harumi berteriak dalam hati. Dia baru tau kalau itu ada dilantai paling atas. Dia tau karna tidak ada bangunan lagi diatasnya.


Setelah puas melihat-lihat pemandangan dari balkon, Harumi masuk kembali kedalam rumah. Kali ini dia berkeliling di bagian dapur, membuka satu persatu laci dan melihat ada apa didalamnya. Meneliti setiap bagiannya. Kemudian ia membuka lemari pendingin yang sangat besar, sama sekali tidak ada bahan makanan disana. Yang ada hanya beberapa butir telur, dua botol susu, dan beberapa botol air mineral.


Untuk apa punya kulkas sebesar ini kalau tidak ada apapun didalamnya. Batin Harumi.


Puas melihat-lihat dapur, Harumi berjalan kesebuah ruangan dengan dinding kaca disekelilingnya. Ia dapat melihat didalamnya penuh dengan alat olahraga. Peralatannya sangat lengkap. Tapi ia tidak masuk kesana.


Gadis itu merasa lapar, dia memang belum makan dari tadi siang. Suasana hatinya sangat kalut sehingga ia tidak memikirkan perutnya yang keroncongan. Sekarang baru terasa laparnya.


Harumi mengambil dua butir telur dari dalam kulkas, menyalakan kompor dan meletakkan penggorengan diatasnya. Ia berencana mengganjal perut laparnya dengan telur ceplok saja.


Setelah matang, Harumi menindahkannya kepiring, menghangatkan segelas susu dan membawanya ke sofa diruang tv. Ia menyantapnya dengan lahap.

__ADS_1


Kini perutnya sudah tidak keroncongan lagi, setelah mengahabiskan telur dan susu, mata Harumi mulai terasa berat, iapun kemudian tertidur diatas sofa dengan tv yang masih menyala.


__ADS_2