
Tidak seperti biasanya saat dibonceng motor oleh Hyun, kali ini Harumi mendekap suaminya itu dengan sangat erat. Dia sudah tidak malu-malu lagi. Dia sudah memastikan seperti apa perasaan Hyun yang sebenarnya padanya.
Dekapan itu membuat Hyun tersenyum sepanjang jalan. Rasa bahagia itu kembali mengisi sudut-sudut hati Hyun. Pria itu tidak menyangka akan semudah itu jatuh cinta pada Harumi. Gadis itu memberikan kenyamanan yang dulu pernah dirasakannya.
Sepanjang jalan Harumi terus memeluk suaminya tanpa melepaskan sedikitpun. Membuat Hyun melajukan motornya dengan perlahan. Dia ingin lama sampai dirumah. Dia masih belum ingin mengakhiri momen itu.
"kau tidak lapar? Sayang?"
Apa? Aku tidak salah dengar kan? Dia baru saja memanggilku sayang? Uuuuhhhh,,,hati..kenapa kau berdetak begitu cepat.
Harumi merasakan pipinya memanas. Untung saja Hyun tidak melihatnya. Dia pasti akan malu kalau Hyun melihat wajahnya yang memerah.
"a,a,,a aku lapar."
"ada sesuatu yang kau inginkan?"
"mi pedas." jawab Harumi.
"lagi?"
Sore hari begini agak sedikit susah mencari tempat makan yang tidak banyak pengunjungnya. Mengingat keadaan Hyun yang seorang aktor. Harumi tidak mau ada kebisingan.
Harumi menunjukkan jalan kerestoran nenek. Restoran itu akan ramai saat malam tiba. Jadi saat sore begini tidak banyak pelanggannya.
Hyun memarkirkan motornya, Harumi turun dari motor dan mengajak Hyun masuk kedalam restoran.
"kak Rumi.!" gadis remaja manis yang selalu menyambutnya saat dia datang. Mendengar itu nenek langsung keluar dari dalam dapur.
"selamat datang." sambut gadis itu kepada Hyun.
"masuklah." Jarumi mempersilahkan Hyun masuk.
"dia bersamamu kak?"
"iya." jawab Harumi.
"siapa itu? tumben, biasanya dengan kak Jisan."
Mendengar itu Hyun langsung cemberut dibalik maskernya. Tentu saja Harumi tidak tau itu.
"bawakan yang biasa ya.." Harumi memilih tempat duduk yang ada dipojok ruangan. Hyun duduk dihadapannya.
"siapa mereka? Keluargamu?" tanya Hyun.
__ADS_1
"ya, seperti itulah, mereka sudah seperti keluarga bagiku."
"aku tidak melihat mereka dipernikahan kita."
"aku memang tidak mengundang mereka."
Hyun melihat kesekeliling ruangan. Hanya ada mereka berdua didalam restoran yang sudah nampak tua itu. Lantas diapun melepaskan masker yang dari tadi menutupi wajahnya. Harumi memperhatikan wajah tampan dihadapannya sambil menopang dagunya.
"apa? Ada apa diwajahku.?"
"eh,,tidak ada apa-apa."
Makanan yang mereka pesan datang. Gadis manis itu yang membawakannya. Awalnya gadis itu tidak memperhatikan. Setelah meletakkan makananan dihadapan Hyun, gadis itupun berteriak karna terkejut.
"aaaaaaaa.!!?"
Nenek tergopoh-gopoh mendekati meja mereka.
"kenapa kau berteriak seperti itu?" kata nenek.
"nek...nek..." gadis itu tidak mampu berkata-kata. Jari telunjuknya menunjuk Hyun dan memasang wajah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"hai.." sapa Hyun ramah.
"halo, perkenalkan, saya Choi Hyun, suami Harumi."
Apa yang baru saja diucapkan Hyun semakin membuat ketiga wanita itu membelalakkan mata.
"apa? Suami?!"
"Hyun-ssi..."
"kenapa? Kau bilang mereka keluargamu."
"iya memang, tapi...."
"jadi kabar itu benar? Kalau kak Rumi sudah menikah? Tega sekali kakak tidak mengabari kami." gadis itu memasang wajah cemberut. Sementara nenek hanya memperhatikan dengan tersenyum.
"hei. Sudah, jangan ganggu kakakmu. Biarkan mereka menikmati makanannya." kata nenek.
Gadis itupun pergi meninggalkan Harumi dan Hyun. Mereka menyantap mie itu.
Baru setengah mangkuk yang dilahapnya, tapi Hyun sudah menyerah. Dia tidak tahan dengan pedasnya. Sementara Harumi masih asyik menghabiskan mie pedas itu.
__ADS_1
Hyun tertawa kecil saat memperhatikan wajah Harumi yang mulai memerah.
"kenapa tertawa?" tanya Harumi.
"wajah merahmu itu, lucu sekali. Aku jadi teringan waktu kita makan malam tim dulu, wajahmu juga memerah seperti itu saat makan mie instan. Kau suka sekali pedas ya?"
"tidak semua, tapi makanan pedas yang paling aku suka adalah mie."
Hyun sudah menghabiskan dua gelas susu untuk menetralisir rasa pedasnya.
"kau. Jangan pernah menghilang lagi dariku." tiba-tiba nada bicara Hyun terdengar serius.
"menghilang? Aku?"
"kau tau betapa paniknya aku tadi? Kenapa kau matikan ponselmu? Aku hampir gila mencarimu kesana kemari."
"aku tidak berfikir kau akan repot mencariku. Aku bahkan tidak berfikir kau akan mencariku."
Hyun hanya menatap dalam istrinya itu. Dia sangat penasaran, kenapa Harumi tidak menanyakan Irene sama sekali. Tapi dia memilih untuk tidak menanyakannya, dia tidak ingin melukai perasaan istrinya.
"sepertinya kau sering kesini dengan Jisan." ada nada kecemburuan disana.
"sangat sering. Kak Ji adalah satu-satunya temanku. Kami sudah dekat sejak kecil." terang Harumi.
"mulai sekarang, jangan terlalu dekat dengannya lagi. Aku tidak suka. Ajak aku kemanapun kau mau. Jangan ajak dia."
"kenapa?"
"sudah, jangan membantah. Aku suamimu sekarang." Hyun mulai bernada tegas.
"aku sudah mengenalnya, bahkan jauh sebelum kita menikah. Tunggu,, jangan bilang kau cemburu dengan Jisan.?" Harumi menebak dengan benar.
"sepertinya aku harus menghukummu, karna kau selalu saja membantah suamimu." Hyun mencoba menutupi rasa cemburunya.
Setelah mereka selesai makan, Harumipun berpamitan kepada nenek dan cucunya. Tentu saja setelah mengambil beberapa foto dengan mereka.
Ditengah perjalanan, hujan yang sangat deras turun. Hyun menawari Harumi agar mereka berteduh. Tapi Harumi menolaknya. Katanya romantis hujan-hujanan berdua diatas motor. Pria itupun kembali tersenyum senang dibalik maskernya. Harumi benar-benar tidak bisa ditebak, dibalik ketegarannya dia juga tau kata romantis ternyata.
Mendengar itu, Hyun sengaja melambatkan motornya. Pria itu menggenggam tangan istrinya yang melingkar dipinggangnya dengan lembut. Cinta itu kembali berdetak dihatinya. Kini sudah jelas, nama Harumi sudah mengisi seluruh hatinya. Dia sangat berterima kasih kepada ayah dan ibunya karna sudah memilihkan gadis yang tepat untuknya.
Kini dia merasa, waktu beberapa tahun belakangan ini terbuang percuma hanya karna ia bersikukuh menunggu Irene kembali. Gadis yang bahkan tidak menghargai perasaannya.
Hyun akan mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya bersama Irene.
__ADS_1