Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
Perjanjian


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam perjalanan, mereka tiba disebuah taman dipinggir sungai yang sepi. Harumi tau kenapa Hyun memilih tempat sepi itu. Tentu saja karna identitasnya sebagai aktor terkenal. Ia tidak mau orang-orang melihatnya dan kemudian sibuk meminta foto bersama.


Mereka turun dari motor dan melepas helm masing-masing. Hyun mengajak Harumi duduk disebuah bangku yang tak jauh dari mereka berdiri. Gadis itu mengikuti dengan patuh.


"duduklah." Kata Hyun.


"apa yang ingin kau bicarakan.?" tanya Harumi saat dia sudah duduk di samping Hyun.


"kenapa kau menyetujui pernikahan ini?"


"kau sendiri kenapa menyetujuinya?" Harumi balik bertanya.


"aku tidak bisa membantah keinginan orang tuaku."


"kufikir kita sama dalam hal itu." Harumi memandang jauh keseberang sungai. "ada apa dengan orangtua kita?"


"kenapa kau mengajukan syarat seperti itu?"


"karna aku tidak ingin menikah denganmu."


"kenapa?" Hyun heran dengan jawaban yang diberikan Harumi.


"kenapa? Karna aku tidak mengenalmu, aku tidak tau seperti apa kau, bagaimana kehidupanmu."


"jujur aku mengagumimu Harumi, aku mengagumi karya-karyamu, itu semua sangat luar biasa. Tapi aku juga tidak pernah berfikir akan menikahimu. Itu sama sekali tak pernah terlintas dalam fikiranku." wajah Hyun berubah sendu. "jadi ayo kita buat kesepakatan."


"kesepakatan? Apa?" Harumi menoleh melihat Hyun.


"kita akan tetap menikah, tapi jangan harap aku akan memperlakukanmu sebagai istri. Hanya didepan orangtua kita saja kita harus menjaga sikap. Jangan sampai mereka tau tentang ini."


"setuju." jawab Harumi secepat kilat.


"aku tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu, begitu juga kau, tak boleh menganggu kehidupan pribadiku. Kita urus hidup kita masing-masing."


"oke."


"kita akan tinggal diapartemenku."


"baiklah, aku setuju dengan itu semua. Tidak ada yang dirugikan diantara kita." Harumi mengangguk menyetujui semua usul dari Hyun.


"aku sedang menunggu seseorang. Seseorang yang sangat ingin kunikahi."


Kenapa dia menceritakan itu padaku? Sama sekali bukan urusanku.


"kalau kau punya seseorang yang begitu istimewa, kenapa orang tuamu menginginkan kita menikah?" tuh kan, Harumi jadi mulai tertarik dengan kisah cintanya.


"mereka tidak menyukainya"


Ponsel Harumi bergetar. Terlihat nama Jisan disana.


"halo kak Ji."


"dimana kau?" tanya Jisan diseberang.


"Aku sedang ada ditaman dekat sungai. Kenapa?"


"kulihat kau menelfonku beberapa kali tadi,maaf aku sedang ada meeting penting dengan Junseok. Jadi aku tidak tau kau menelfonku."


"tidak apa-apa."


"dengan siapa kau disana?"


"sendirian. Kak Ji, bisakah kau menjemputku?"


"oke, satu jam lagi aku akan ada disana."


Merekapun mengakhiri obrolan itu.


"sepertinya kalian sangat dekat." kata Hyun yang memperhatikan dari tadi.


"ya, kami memang dekat. Kami sudah saling mengenal sejak lama."

__ADS_1


"sepertinya dia menyukaimu."


"bukankah kita sudah sepakat tadi untuk tidak mengurusi kehidupan pribadi masing-masing?"


"oh maaf." Hyun hampir melanggar perjanjian mereka.


"kudengar kau lebih sering diindonesia?"


"iya, aku jarang pulang kesini. Hanya beberapa tahun sekali."


"kenapa kau tidak pernah menunjukkan dirimu pada publik? Bukankah karya-karyamu sering masuk dalam nominasi penghargaan bergengsi?"


"ternyata kakaku tidak menceritakan semua padamu."


Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Suasana disini nyaman. Tenang karna tidak banyak orang.


"aku tidak suka keramaian. Aku tidak suka bertemu dengan banyak orang."


"itukah alasanmu mengajukan syarat seperti itu tadi?"


"ya."


"kalau kau tidak mengajukan syarat itu mungkin aku yang akan mengajukannya."


"syukurlah kalau kau sependapat denganku."


Selang beberapa waktu, Jisan muncul.


"kak Ji kau sudah sampai.?"


"ayo kita pergi." Jisan acuh melihat Hyun yang sedang duduk disamping Harumi. Hyun menatapnya heran. Jisan tak seperti biasanya. Biasanya dia akan menyapa dengan ramah.


"aku permisi dulu." kata Harumi kepada Hyun.


"baiklah, sampai jumpa."


Harumi mengikuti langkah kaki hyun menuju mobil. Dia bisa merasakan kalau Jisan sedang dalam suasana hati yang buruk.


"kak Ji kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"aku ingin melihat rumah. Aku ingin menyewa sebuah rumah kecil agar aku bisa konsentrasi menulis." kata Harumi. Padahal sebenarnya tujuan Harumi bukan itu. Rumah itu sebenarnya untuk pelariannya dari apartemen Hyun disaat tidak mungkin pulang kerumah Junseok apalagi rumah ayah.


Jisan menghentikan mobilnya didepan pertokoan, agen perumahan.


"kita bisa cari disini sesuai dengan keinginanmu." kata-kata Jisan masih saja datar.


Hatumi mengukuti Jisan masuk ketoko itu. Setelah mendeskripsikan keinginannya, agen itu segera menunjukan beberapa rumah yang sesuai kriteria yang diminta Harumi.


Jisan dengan sabar mengantarkan Harumi melihat rumah yang akan disewanya. Setelah beberapa rumah yang dilihat ternyata tidak sesuai dengan harapan Harumi, Sampailah di rumah terakhir. Sebuah rumah atap yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Berada disebuah gang yang lumayan jauh dari jalan raya. Rumah itu terlihat bersih dan nyaman. Dan yang terpenting, jauh dari keramaian.


Setelah melihat dan meneliti fasilitas yang ada, Harumi memutuskan akan menyewa tempat itu. Agen yang menemani mereka pergi sebentar untuk memanggil si pemilik rumah.


Harumi selesai berkeliling, dan melihat Jisan sedang termenung disebuah kursi yang ada di teras rumah itu, matanya lurus memandang hamparan rumah-rumah dihadapannya.


"kak Ji?"


"oh," Jisan menoleh kearah Harumi. "sudah selesai melihat-lihatnya?"


"iya, sudah." Harumi ikut duduk disebelah Jisan.


"bagaimana acaranya?"


"hah? Acara apa?"


"bukankan tadi ada pertemuan keluarga?"


"bagaimana kak Ji bisa tau?" Harumi menatap Jisan heran.


"Junseok yang memberitahuku."


"ah. Sudah pasti kau tau darinya."

__ADS_1


"apa Choi Hyun orangnya? Yang akan menjadi suamimu?"


Harumi hanya bisa menjawabnya dengan menganggukan kepalanya.


"hati-hati dengannya. Dia itu playboy. Pacarnya ada dimana-mana. Dia suka main wanita."


"aku tidak peduli dengan kehidupan pribadinya. Itu bukan urusanku."


"tapi kau akan menikah dengannya." tiba-tiba Jisan mrnatap Harumi dengan serius.


"kak Ji, aku sudah membatukan Hatiku. Aku tidak peduli dengan apapun sekarang. Dengan siapa aku harus menghabiskan hidupku, dan bagaimana nasibku, aku sudah benar-benar tidak peduli. Mungkin seperti inilah kehidupan yang diinginkan ayahku untuku. Mungkin seperti inilah aku harus membayar kesalahanku." air mata Harumi mulai menetes.


"maafkan aku Rumi." kata Jisan lirih. Menggenggam kuat tangan Harumi. "seharusnya aku bisa menolong dan melindungimu."


"kak Ji tidak perlu minta maaf, tidak ada yang bisa menolong dan melindungiku selain diriku sendiri. Aku tidak apa-apa kak." Harumi mengusap airmata yang mengalir dipipinya.


"harusnya aku bisa lebih berani. Harusnya aku bisa membebaskanmu dari ayahmu."


"kak Ji, sudahlah. Kakak tidak perlu khawatir. Aku bisa melindungi diriku sendiri, dari ayah dan dari pria itu."


Harumi mengusap wajahnya dengan cepat saat agen perumahan datang bersama seorang wanita, mungkin itu adalah si pemilik rumah. Setelah bernegosiasi dan menyepakati harga, serta meneken kontrak, Harumi dan Jisan meninggalkan tempat itu.


"kak Ji, ayo kita bersenang-senang."


Jisan yang sedang mengemudi menoleh dan mengernyitkan keningnya.


"kenapa perasaanku tidak enak ya." kata Jisan.


"hahahaha."


"kak Ji, tolong jangan beritahu siapapun tentang rumah itu, oke?"


"oke." sepakat.


"Rumi, bagaimana kalau kita pergi saja dari negara ini? Aku akan membawamu."


"kak Ji kan tau seperti apa ayah, dia akan menemukan kita dimanapun kita. Dan akan menghancurkanmu sampai berkeping-keping."


"aku tidak masalah dengan itu."


"tapi aku masalah dengan itu. Aku tidak ingin orang lain terluka karnaku. Apalagi itu kamu kak."


Jisan mengemudikan mobilnya kesebuah tempat dimana Harumi biasa 'bersenang-senang.' setelah sampai ditempat yang dituju Jisan segera markirkan mobilnya ditempat parkir.


"selamat datang." ucap seorang gadis muda. "kak Rumi.!" pekik gadis itu setelah melihat Harumi masuk. Menghambur kepelukan Harumi.


"hehehehe,,,bagaimana kabarmu?"


"baik kak. Nek! Nenek.! Ada kak Rumi nek. Cepat kesini." gadis itu berteriak memanggil neneknya.


Mendengar teriakan cucunya, si nenek muncul dari balik dapur dan berjalan kearah Harumi.


plak.! Sinenek memukul pundak Harumi gadis itu meringis menahan sakit. Jisan hanya tersenyum melihat itu.


"dasar gadis kurang ajar.! Tega sekali kau tidak pernah memberi kabar kepada kami. Hah!"


"hehe,,maafkan aku nek, aku benar-benar sibuk."


"sudahlah, tidak apa-apa, sekarang kau sudah disini. Duduklah dan tunggu sebentar."


Si nenek kemudian masuk kedalam dapur, dan tidak lama kemudian datang kembali membawa sebuah nampan berisi dua mangkuk mie super pedas.


"makanlah." si nenek mempersilahkan Harumi dan Jisan.


Jisan mengernyit, tidak yakin dia akan mampu untuk memakan mie itu. Dia sudah tau seperti apa tingkat kepedasannya.


"kenapa kak Ji? Jangan bilang kau sudah akan menyerah."


Jiwa gengsi Jisan muncul saat mendengar kata-kata Harumi. Diapun segera menyeruput mie yang ada dihadapannya. Rasa pedasnya langsung menyengat dimulutnya. Baru sekali suap, Jisan sudah menghabiskan hampir setengah gelas susu. Harumi tertawa puas melihat tingkah Jisan. Sedangkan ia merasa biasa saja melahap mie itu sampai habis.


Selesai menyantap mie super pedas. Jisan banyak membuat lelucon yang membuat Harumi melupakan sejenak kesedihannya.

__ADS_1


Trimakasih kak Ji, karna selalu membuatku tertawa. Karna selalu menganggapku istimewa. - Harumi.


Berjanjilah kau akan baik-baik saja Rumi. Aku akan selalu ada untuk mendukungmu. Aku menyayangimu. - Jisan.


__ADS_2