Love Script : Nona Muda

Love Script : Nona Muda
Pulang


__ADS_3

Harumi terbangun saat alarmnya berbunyi. Dia masih sangat mengantuk. Tapi memaksakan diri untuk bangun. Menyeret kakinya menuju kekamar mandi. Setelah selesai mandi iapun kelur dari kamarnya dan turun kelantai bawah.


Diatas meja makan sudah tersaji sarapan. Ada dua. Oh, berarti kak Jun sudah pulang, fikirnya. Dia langsung menuju kemeja makan dan menyantap sarapannya. Tidak lama Junseok pun turun dan ikut sarapan bersamanya.


"aku sudah mengabari ayah kalau kita mau datang."


Harumi diam saja mendengarnya.


"kita kesana sekarang ya?" yang dijawab anggukan oleh Harumi.


"aku merindukan ibu."


"iya, oke.!"


Setelah mereka selesai menyantap sarapan. Junseok dan Harumi segera berangkat menuju kerumah ayahnya.


Perjalanan memakan waktu hampir 20 menit. Dan selama itu pula Harumi lebih banyak diam. Hanya Junseok yangb erus mengoceh untuk mengalihkan perhatian adiknya itu. Dia tahu betul bakal ada pertengkaran lagi.


Mobil memasuki pekarangan rumah mewah yang sangat besar. Beberapa penjaga nampak siap digerbang utama. Mereka mengangguk hormat kepada Junseok dan Harumi. Kemudian mobil berhenti digarasi yang ada disamping rumah utama.


Nampak seorang pelayan wanita paruh baya sudah menunggu mereka didepan pintu. Pelayan itu tersenyum saat melihat Harumi turun dari dalam mobil.


"bibi Yoon." Harumi menghambur memeluk wanita paruh baya itu. "aku sangat merindukanmu."


"anda terlihat sangat baik nona. Tambah cantik juga." sahut wanita yang dipanggil bibi yoon itu memandangi Harumi dari kepala sampai kaki. "Tuan muda" sapanya kepada Junseok. "ayo, mari masuk." ajaknya lagi seraya menggandeng lengan Harumi.


"dimana ayah?" tanya Junseok.


"ada diruang keluarga tuan. Mari saya antar, beliau sudah menunggu kedatangan tuan dan nona."


"trimakasih bi." jawab Harumi tersenyum ramah.


Semakin dekat dengan ruang keluarga, jantung Harumi semakin berdetak tak karuan. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Langkah kakinya gemetar. Dilihatnya sosok ayah yang sedang diam membaca koran disofa. Tubuhnya semakin bergetar saat ayah menatap acuh kepada Harumi.


Junseok menggenggam tangan Harumi. Dia menyadari kondisi adiknya itu. Menariknya untuk duduk didekatnya.


Ayah melipat koran yang dipegangnya dan melemparkannya diatas meja.


"ayah, kami datang." Junseok membuka pembicaraan.


"apa kabar ayah?" suara Harumi masih terdengar bergetar. Melihat ayah menatapnya dengan tatapan kebencian. Tatapan mata itu sangat tajam dan berat. Membuat Harumi sulit untuk bernafas. Ayah bahkan tidak menjawabnya. Ayah hanya menatapnya.


"aku akan menikahkanmu." kata ayah spontan yang tentu saja membuat Junseok terkejut, terlebih Harumi.


"apa maksud ayah?" Junseok menimpali. Apalagi ini maksud ayah.?

__ADS_1


"aku akan menjodohkanmu dengan anak kolegaku. Harus. Tidak boleh menolak." kata-kata ayah terdengar seperti petir disiang bolong. Sama sekali tidak masuk akal.


"apa maksud ayah?" Harumi bertanya karna masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"besok siang datang ke hotel. Aku sudah membuat janji makan siang dengan mereka."


Junseok hanya bisa membelalakkan mata, menatap ayah dan Harumi bergantian. Dia sama sekali tidak bisa menebak arah fikiran ayah.


"tidak boleh terlambat. Apalagi sampai tidak datang. Tanggung sendiri akibatnya.!" kata ayah tegas.


Perlahan air menggenang diujung mata Harumi, satu persatu mulai tumpah menetes diatas pangkuannya. Gadis itu meremas tangannya dengan kuat. Meninggalkan luka yang bahkan tidak dirasakannya. Gadis itu menunduk menahan amarah.


"sebegitu inginyakah ayah membuangku? Ayah bahkan tidak menanyakan pendapatku terlebih dahulu. Keputusan macam apa itu ayah? Ayah ingin membuangku atau menjualku? Apa yang ayah dapatkan dari ini semua?! Kenapa ayah tega melakukan ini padaku?! Kenapa ayah memperlakukanku seperti ini?!!!!"


Harumi mengeluarkan amarahnya. Dia bahkan tidak menyadari dia sudah berteriak dihadapan ayahnya. Ayah bahkan bergeming menanggapi amarahnya.


Dia benar-benar tidak mengerti kenapa ayah memperlakukannya seperti ini. Entah apa kesalahan fatal Harumi pada ayah.


"ayah, aku kan sudah akan menikah, tidak perlu menjodohkah Rumi." ayah bahkan tidak menggubris rayuan putranya.


"wah,,wah,,wah,,sudah berani membentak ayah ya? Sudah berani melawan ayah rupanya. Hebat sekali."


Sebuah suara yang sangat Harumi kenal muncul dari balik punggung ayah. Menyilangkan tangan dengan angkuh dan berjalan lalu duduk dihadapannya.


"ini pasti ulahmu.!" tuduh Junseok.


"cukup.!!!" ayah memotong dengan teriakannya. Membuat semua terdiam. Kemudian ayah bangkit dan berjalan pergi dari ruangan itu.


"apa yang sudah kau lakukan Runa?" Harumi menatap penuh kebencian kepada saudarinya itu.


"mengalihkan jodohku untukmu." jawab Haruna seenaknya. "kau harus menderita selamanya, sampai kau mati." Haruna berkata sangat kasar.


"kenapa kau tidak pernah puas membuatku menderita? Aku sudah menyerahkan kebahagiaanku, dan sekarang kau ingin merenggut hati dan masa depanku?"


Haruna tersenyum sinis. "itu bahkan belum cukup." jawabnya lagi. Kemudian Runa berjalan keluar ruangan itu, sampai di depan pintu Runa berbalik. "oh dan, aku dengar dia pria yang sangat kejam, suka bermain perempuan dan membuangnya begitu saja. Itu akan melengkapi penderitaanmu." katanya lagi sebelum menghilang dari ruang keluarga.


Harumi kembali meremas tangannya. Kali ini Runa benar-benar keterlaluan. Junseok memeluk adiknya itu. Air mata Harumi mengalir lebih deras dari sebelumnya.


"sabar Rumi, aku akan berusaha mengubah fikiran ayah."


"tidak mungkin bisa diubah kak, kakak tau bagaimana ayah kalau menyangkut tentangku. Tidak ada yang bisa dirubah dari keputusan ayah. Kali ini Runa benar-benar menghancurkan hidupku sampai berkeping-keping." Harumi terisak dipelukan kakaknya.


Setelah beberapa lama, Harumi mulai tenang dan bisa menguasai dirinya.


"kamu tunggu disini, aku akan coba bicara dengan ayah." Junseok kemudian bangkit meninggalkan Harumi sendiri diruangan itu.

__ADS_1


Aku sangat berharap kakak berhasil membujuk ayah.


Harumi menyeka bekas airmata dipipinya, merapikan rambutnya, dan bangkit berdiri kemudian beranjak pergi juga.


Harumi menyusuri lorong menuju kerumah belakang dimana para pelayan tinggal. Mereka menganggukkan kepala dan membungkuk hormat pada Harumi. Diapun membalas anggukan mereka dengan senyum yang dipaksakan. Beberapa dari mereka menatap heran penuh tanya saat melihat mata dan wajah Harumi yang sedikit bengkak dan merah. Ia tak berhasil menyembunyikannya.


Berjalan menuju kesebuah kamar yang lebih besar dari yang lain, berada diujung. Harumi terus menundukkan kepalanya. Setelah menemukan kamar yang dituju, ia mengetuk pintunya dan seseorang membukakan pintu. Dan iapun langsung masuk dan merebahkan diri diatas tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang itu.


"ahh...dari dulu kamar ini terasa lebih nyaman." Harumi menelentangkan tangannya.


"mau bibi buatkan mie?" tanya wanita paruh baya itu.


"hm,,hm,,boleh." jawab Harumi.


Bibi Yoon kemudian keluar dari kamarnya dan pergi kedapur. Dirumah ini hanya bibi Yoon yang baik padanya. Harumi sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri.


Tidak lama berselang, bibi Yoon kembali dengan membawa nampan berisi semangkuk mie kuah dan segelas susu hangat untuk menetralisir rasa pedas mie buatannya. Harumi sedang duduk didepan meja memandangi sebuah foto lama. Senyuman difoto itu sudah hampir menghilang dari ingatan Harumi. Airmata Harumi kembali menetes.


"nona, dimakan dulu ini mienya. Nanti dingin sudah tidak enak lagi." bibi Yoon meletakkan nampan itu dimeja dihadapan Harumi. Gadis itu mengusap wajahnya.


"trimakasih bi." Harumi melahap makanannya yang terasa sangat pedas, hingga airmatanya keluar. Entah karna pedas, entah karna ayah. Bibi Yoon mengusap-usap punggung nona mudanya itu.


"apa yang harus kulakukan bi? Apa aku harus menikah seperti yang dikatakan ayah? Ayah bahkan tidak menanyakannya padaku terlebih dulu."


"sabar nona, maaf bibi tak bisa banyak membantu nona."


"sampai sehancur apa aku sampai ayah dan Runa puas? Rasanya aku tidak sanggup lagi bi." Harumi kembali menangis dipelukan bibi Yoon.


Terdengar pintu diketuk dari luar, kemudian Junseok datang dengan wajah memerah.


"kakak kenapa?" tanya Harumi terkejut melihat bekas merah dipipi kiri kakaknya. "jangan melindungiku kak, aku tidak ingin ayah juga membencimu karna aku. Aku akan sangat merasa bersalah."


"ayo kita pergi sekarang." ajak Junseok.


Harumipun berjalan mengikuti langkah kakaknya itu menuju kemobil. Junseok melesatkan mobilnya dengan kencang. Harumi sampai takut dibuatnya.


**********


Mobil berhenti disebuah pemakaman. Harumi memandang Junseok dengan iba. Apalagi dengan bekas merah dipipi kakaknya itu.


"masuklah, aku akan menunggu disini. Katakan semua yang ingin kau katakan padanya." Harumi mengangguk pelan lantas keluar dari dalam mobil.


Harumi berjalan perlahan. Tiba-tiba rasa rindu itu membuncah hampir tak bisa ditahan. Berhenti didepan sebuah pusara yang sangat ia rindukan.


"ibu, aku datang." tangannya mengusap foto yang ada dipusara itu. "bagaimana kabar ibu? Ibu baik-baik saja disana? Aku sangat merindukanmu bu. Datanglah ke mimpiku sesekali agar aku tidak melupakan wajah ibu. Ibu, aku minta maaf ya,,aku hampir tidak mengingat kenangan bersamamu. Aku sudah berusaha bu, tapi kenangan itu perlahan memudar dari ingatanku." Harumi memaksakan senyumnya.

__ADS_1


"ibu, ayah dan Runa masih belum memperlakukanku dengan baik. Saat ini aku bahkan dipaksa menikah oleh ayah dengan orang yang aku bahkan tidak tau itu siapa. Aku hanya bisa berharap dia orang yang baik. Aku akan kuat bu, demi kak Jun, dan demi diriku sendiri.. Aku akan mencoba membatukan hatiku dan menuruti perintah ayah. Baiklah, sampai disini dulu aku berceritanya, nanti aku akan menemui ibu lagi. Baik-baiklah disana, tetaplah tersenyum seperti foto ini." Harumi kembali mengusap foto itu. Dan kemudian beranjak pergi.


__ADS_2