
Di depan rumah makan Serambi, Haga berjalan mondar-mandir melihat situasi. Kok mau masuk ya segan kalo gak makan, tapi ya emang harus masuk untuk bertanya kan?.
Rumah makan ini sederhana, gak besar. Untuk di bilang ini restoran ya juga bukan. Rumah makan ini lebih seperti warteg, tapi ya juga bukan. Hanya sekedar rumah makan, lauk pauk nya sudah tertata rapi di etalase stelling depan, sepertinya mereka memasak semua hidangan ini di pagi hari, sehingga pada pukul 10 pagi, makanan sudah bisa di jual.
Untuk harga relatif murah, hanya sekitar 10 ribu sampai 20 ribu rupiah aja, rasanya juga enak, apalagi menu utamanya ikan nila bakar. Sambel nya maknyos tiada duanya. Mungkin itu adalah resep andalan dan rahasia yang diturunkan secara turun temurun kali ya.
Loh, kok ngomongin makanannya sih, mikir apa Aku ini, batin Haga. Masih dengan celingak-celinguk nya, mondar-mandir kayak setrikaan, membuat Rahayu yang sedari tadi memperhatikan dari dalam mulai curiga. Apa yang di lakukan lelaki itu di depan rumah makannya, Apakah dia maling? ah tapi gak mungkin lah, setelannya menunjukkan dia orang berada, mau minta sumbangan kah? tapi gak mungkin juga, sebab dia gak bawa kotak amal.
Setelah membuat pengamatan mendalam, Rahayu melebarkan bola matanya karena mengingat sesuatu. Itu kan Si Bapak ngegas yang dia jumpai di toko buku waktu itu, jadi Rahayu dengan menggulung lengan bajunya dan membawa kemoceng mendatanginya.
"Eh si bapak mau ngapain disini dari tadi saya perhatikan anda menoleh-noleh kedalam rumah makan. Bapak mau minta sumbanagn apa mau maling? Bapak udah buat saya curiga loh dari tadidisini mantau terus."
Haga yang mendengar tuduhan itu seketika hendak marah, tapi melihat tampilan Rahayu yang memakai seragam rumah makan Serambi, dia gak jadi marah.
"Kamu yang sopan ya kalo ngomong. Jangan asal nuduh saya maling. Kamu gak liat pakaian saya berkelas!?" Jawab Haga.
"Banyak maling berkedok orang kaya Pak, Jan ngeles lah bapak, hayo ngaku mau ngapain disini?" Rahayu mengacungkan kemoceng nya. "Jangan sampe saya panggilkan pihak keamanan loh buat bawa bapak!" lanjutnya.
"Jangan sembarangan kamu!" Haga melotot.
"Jadi Bapak mau apa kesini?" Rahayu menurunkan nada bicaranya.
"Saya mau ke rumah makan itu, saya lagi nyari seseorang." Jawab Haga sambil menunjuk ke Rumah makan Serambi.
"Siapa yang bapak cari di tempat saya kerja?" Tanya Rahayu penasaran.
"Kamu kerja disitu?" Tanya Haga pura-pura terkejut.
"Siapa pun pasti tau saya kerja dimana dari seragam saya pak, cuma rumah makan kami yang pake seragam luar biasa indah ini, jadi orang-orang udah pada tau cuma Serambi yang punya."
"Norak tuh seragamnya." Jawab Haga acuh.
"Jangan asal ngomong ya pak, ini bahan di beli dan di jahit dengan penuh cinta tau." Rahayu manyun.
"Iya iya kamu menang."Jawab Haga cuek. "Sekarang bawa saya ke rumah makan kamu,"
"Idih... ngapain saya bawa-basa bapak kesana, Bapak kan punya kaki, ya jalan sendiri lah,"
"Kok kamu ngegas?" Tanya Haga ngegas.
__ADS_1
"Lah situ juga ngegas...!" Rahayu gak mau kalah.
Haga harus bener-bener ekstra sabar menghadapi wanita satu ini.
"Adek cantek.. Tolong bawa Bapak ini kesana, saya mau jumpain salah satu karyawan disana karena ada perlu..." Haga berbicara dengan merapatkan giginya.
"Siapa yang Bapak cari memangnya?" Tanya Rahayu.
"Kata Ibu saya namanya Rahayu."
Rahayu menaikkan sebelah alis nya, Lah kok dia yang di cari? kenal juga kagak, ketemu pun baru 2 kali, itu pun di barengi gas gasan. ada apa nih? batinnya. Lagian kok bawa-bawa Ibu nya?
"Memangnya ada apa bapak cari dia?"
"Kamu gak perlu tau, ini urusan saya dan dia." Kata Haga.
"Karena seingat saya, kita gak punya urusan makanya saya penasaran, kenapa Bapak cari saya? dan urusan Apa yang menyebabkan Bapak nyari-nyari saya" Tanya Rahayu lagi.
"Udah saya bilang, ini urusan saya dan...." Haga melotot kala otaknya baru nyambung kalo yang di ajak ngomong adalah Rahayu. "Kamu Rahayu?" Tanya nya lagi.
"Menurut Bapak?"
"Serah deh pak, kita gak punya urusan mendesak, saya mau lanjut kerja, Bhaiii...!!!" Rahayu berbalik hendak pergi meninggalkan Haga, tapi lengannya di tahan oleh Haga sehingga membuat Rahayu berbalik.
"Ih bapak kasar ih,, sakit tauk." Rahayu memelas.
"Eh maaf... maaf.." Haga melepaskan tangan Rahayu. "Habisnya saya gak habis pikir." Lanjutnya.
"Kenapa?" Tanya Rahayu penasaran.
"Wanita petakilan gini dari mana sifat keibuannya?" Haga berbicara pelan namun masih bisa di dengar Rahayu.
"Jangan meragukan kredibilitas sifat keibuan saya pak, Udah dari orok saya punya sifat penyayang sama anak-anak," Jawab Rahayu bangga.
Haga melirik Rahayu dari atas ke bawah. Rahayu yang dilihat seperti itu menjadi sedikit salah tingkah.
"Jangan mesum donk pak, gitu amat ngeliatnya." Rahayu menutupi badannya dengan kedua tangan.
"Gak ada bagus-bagusnya badan kamu tuh, jadi jangan lebay."
__ADS_1
Rahayu hanya mencebikkan bibir nya.
"Mutia sakit," Haga melanjutkan.
"Mutia siapa pak?" Tanya Rahayu bingung.
"Anak saya."
"Terus hubungannya dengan saya apa? sakit di bawa kedokter donk pak, masak bapak laporannya ke saya, ada-ada aja sih bapak mah,,"
"Ibu saya bilang kalo dia Udah minta kamu jadi pengasuh anak saya, tapi kamu belum menghubunginya kembali, jadi beliau nyuruh saya kemari buat kasih tau kamu dan bertanya kapan kamu akan terima tawaran ibu saya?" Haga menjelaskan panjang kali lebar sama dengan luas.
"Maksudnya Bu Susi?" Tanya Rahayu.
"Iya."
"Kok beda ya? Bapak anak kandungnya?"
"Maksud kamu?" Tanya Haga gak senang.
"Bu Susi itu baik, ramah, lemah lembut juga, lah bapak ngomong aja ngegas terus." Rahayu cekikikan.
"Kamu ngehina saya?"
"Lah kan ngegas lagi, Oke oke, saya minta maaf ya Bapak yang baik, ramah dan tampan.... Apa yang bisa saya, Rahayu bantu?" Tanya Rahayu sambil menampilkan senyum pepsoden.
"Saya mau kamu ke rumah sakit, temuin anak saya, sepertinya dia butuh kamu, saya mohon." Haga memohon.
"Kok gitu pak?"
"Kesana aja dulu, nanti kamu tau sendiri."
"Tapi saya ijin ke dalem dulu pak, bapak duluan aja, nanti saya nyusul." Jawab Rahayu. "Oh iya, bapak kirim aja alamat ruangannya, jadi saya gak repot-repot mencari."
"Nomor hape kamu..."
Dan mereka saling bertukar nomor hape, setelah itu Mahaga langsung pergi kembali menuju ke rumah saki untuk memberikan kabar gembira pada putrinya. Sebelum berangkat ke rumah sakit, Rahayu memberi tau pegawainya bahwa dia tidak bisa berada di rumah makan sampai sore. Jadi mereka harus menghandle semuanya.
Rahayu juga mencari Laili yang asik bermain di pasar malam untuk di antarkan ke rumah nenek nya selagi dia pergi ke rumah sakit.
__ADS_1