Madu?!

Madu?!
mulai


__ADS_3

"Maksud nya Tante?" tanya Siska penasaran.


"Iya, Mutia udah ada yang ngasih sekarang. dan dia gak ngasih di rumah ini karena Anaknya sekolah, jadi Mutia yang kesana." jawab Bu Susi.


"Oh, padahal aku pengen banget ketemu Mutia, udah lama gak jumpa, aku kangen Tante." kata Siska memelas.


"Ya udah Tante telponin Ayu biar bawa pulang Mutia." Bu Susi mengambil hp nya dan mulai memanggil Rahayu.


"Ayu?" tanya Siska.


"Iya, nama nya Rahayu, saya panggilnya Ayu,"


"Kayak nama kakak." jawab Siska melow.


"Iya, tapi dia bukan Ayu Pratiwi, menantu Tante,"


Siska tersenyum lega mendengar penuturan Bu Susi, sebab, jika beliau menganggap orang itu sebagai menantunya, maka kecil kemungkinan Siska akan mendapatkan restu dari calon mertua ini untuk menikahi anaknya.


"Kamu tunggu sebentar ya Sis, Tante mau ke dapur siapin makan siang dulu." Bu Susi pun langsung beranjak dari tempat duduk nya menuju ke dapur.


Siska yang duduk di ruang tamu hanya bisa menunggu dan bermain hp-nya sementara itu tak lama kemudian Rahayu datang bersama dengan Mutia.


"Assalamualaikum nenek... Mumut pulang.." Mutia berteriak dari depan pintu untuk mencari neneknya.


"Assalamualaikum Bu Susi kami datang." Rahayu juga sedikit berteriak karena menganggap rumah ini sudah sebagai rumah keduanya karena keramahan Bu Susi dan kebaikan hatinya sehingga Rahayu merasa nyaman menganggap Bu Susi sebagai ibunya.


Lantas Siska yang mendengar suara mereka berdua merasa bingung dan mengerutkan keningnya, loh kok begitu, kok ramah sekali, apa benar dia hanya pengasuh? kok malah lebih seperti calon ibunya Mutia ya pikirnya.


Tapi dengan enggan Siska juga menjawab salam mereka dan membukakan pintu untuk mereka agar mereka segera masuk. Siska tertegun melihat sosok Rahayu yang ternyata wah cantik sekali dan dia tidak menggunakan make up apapun tetapi wajahnya itu berseri, sedikit glowing, putih alami.


Dengan tidak senang hati Siska berkata kepada Rahayu, "kamu pengasuh barunya?"


"Iya Mbak saya pengasuh Mutia, mbak siapa ya?"


"Kamu nggak tahu siapa saya? kenalin saya calon mamanya Mutia." Siska berkata dengan sombong pada Rahayu. "Mutia sini sayang sama Tante, Tante kangen banget sama kamu, kamu nggak kangen sama Tante?" Siska beralih bertanya kepada Mutia.


"Tante,,. mumet juga kangen sama tante, kok Tante lama banget nggak datang-datang ke sini?" Mutia langsung menyerbu kepelukan Siska. Memang dari kecil anak ini sudah dekat dengan Siska karena Siska juga mempunyai kasih sayang yang hampir sama dengan seorang ibu tapi karena Siska selalu sibuk untuk bekerja dan memiliki karir yang tinggi maka daripada itu Siska jarang bertemu dengan Mutia. Tapi berhubung Mutia adalah anak kakaknya maka Siska memiliki kasih sayang yang benar-benar seperti ibu kandungnya. Walaupun Siska hanya seorang tante tapi kasih sayang itu tak pernah palsu dia selalu memberikan kasih sayang yang benar-benar membuat mutia merasa nyaman, tapi Mutia masih belum bisa menganggap Siska sebagai mama kandungnya.


Rahayu yang melihat keakraban antara anak dan calon ibu itu pun berpikir 'oh ternyata ada calon Mama Mutia makanya disuruh pulang.'


tak lama setelah itu Bu Susi keluar dari dapur dan menuju ke depan menyambut kedatangan cucunya dan Rahayu.


"Eh kalian sudah sampai tanya Bu Susi kalian masuk kamu kenapa di luar aja Rahayu ayo masuk masuk." Ajak Bu Susi pada mereka.


"Iya Bu makasih, tapi kalau ada calon mamanya Mutia lebih baik saya pulang aja ya Bu, kan Mutia udah ada yang jaga." kata Rahayu.

__ADS_1


"Eh nggak apa-apa dong ayo kita makan sama-sama. Sebentar lagi siang dan lagi juga si Haga pulang. Jadi kita bisa makan siang bareng," ajak Bu Susi membujuk Rahayu.


"Nggak apa-apa Bu, saya pulang sekalian mau jemput lili anak saya sebentar lagi dia pulang sekolah jadi harus saya yang jemputnya karena nggak ada yang jemput." Rahayu menolak halus ajakan Bu Susi.


"Ya udah kalau gitu biarin saya aja yang jaga Mumut, kamu bisa pulang kan nggak enak juga masak ada calon mamanya pengasuhnya juga ikut jagain, saya juga bisa jaga kok," kata Siska.


"Ya udah Bu saya pamit assalamualaikum."


"Waalaikum salam..." Bu Susi yang melihat kedua wanita itu pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah Siska yang takut sekali anaknya akan dirayu oleh Rahayu dia pun tersenyum padahal tak ada sedikitpun niat Bu Susi untuk menjodohkan anaknya dengan kedua wanita ini. Selain dia hanya menganggap Siska sebagai anaknya tidak lebih dari adik menantunya dia juga tidak ingin menjadikan Siska menantunya karena terlalu sibuk, itu dipikirkan oleh Bu Susi karena belum tentu Siska juga bisa menjadi ibu yang baik sebab pekerjaannya terlalu banyak dan dia juga tidak mau melepaskan beberapa pekerjaannya untuk mengasuh seorang anak apalagi anak itu adalah anak sambungnya bukan anak kandungnya. Memang Bu Susi hanya berprasangka tapi dilihat dari kemampuan Siska untuk mengolah bisnis karena dia seorang desainer yang merancang baju mewah, siapa sih? perempuan mana sih yang mau melepaskan karirnya begitu saja hanya untuk seorang anak tiri?


"Ya udah yuk kita masuk kita tungguin Papa di dalam sebentar lagi kita makan biar tante Ayu pulang aja kamu biar tante yang jagain oke." Siska membuyarkan lamunan Bu Susi.


Mutia yang melihat kepergian Rahayu langsung turun dari gendongan Siska lalu dia berteriak, "Bunda, Bunda mau ke mana? Mumut mau ikut Bunda, ayo Bunda ikut ikut,,"


"Mumut kenapa kemari? ayo balik masuk di situ kan ada Mama, ada Nenek, Bunda mau jemput kakak, sebentar lagi kan kakak pulang sekolah." Rahayu mencoba membujuk Mutia.


Tapi yang di bujuk malah menggelengkan kepalanya, "Enggak. kalau Mumut masuk ayo bunda juga ikut masuk, Mumut nggak mau ditinggal sama Bunda."


"Jangan sayang sebentar aja kok Bunda jemput kakak dulu nanti baru Bunda balik lagi kalau gitu, Mumut masuk aja dulu temani dulu Tante Siska, Bunda janji Bunda akan balik kok."


Tanpa berpikir panjang Mumut berbalik ke arah neneknya lalu dia berteriak, "Nenek, Mumut mau ikut bunda, Mumut mau jemput Kak Lily dulu ke sekolah." Mumut langsung naik ke atas sepeda motor Rahayu, Rahayu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Siska yang melihat kejadian ini menjadi kaku, dia tertegun mendengar ucapan dari Mutia kenapa dia memanggil perempuan itu Bunda apakah dia calon ibu yang lain untuk Mutia? wah berarti dia punya saingan dong.


Hal itu membuat wajah Siska menjadi biru, dia marah tapi dia tidak bisa marah. Dia tidak bisa mengatakan secara langsung bahwa dia marah. Tapi perasaan itu lebih ke cemburu kenapa anak kecil itu bisa sedekat itu dengan orang lain dan sepertinya dia juga baru dalam hal menjaga Mutia.


"Ya udah kalau gitu Bu, saya pergi jemput anak saya dulu nanti saya balik. Permisi Mbak saya pergi dulu." pamitnya pada Siska.


Siska dengan tidak senang hati berjalan masuk ke dalam rumah bersama dengan Bu Susi. Melihat kedekatan mereka Siska pun bertanya kepada Bu Susi, "Tante, kok bisa sih Mumut memanggil wanita itu sebagai Bunda, apakah dia calon istrinya Mas Haga?"


"Bukan, kami juga nggak sengaja kok jumpa sama Ayu soalnya waktu itu Mumut lari-larian, katanya dia lihat Mama, dia berteriak-teriak pada saat itu saya sibuk mencarinya karena kehilangan, eh ternyata dia berada di dalam rumah makan tempat Rahayu bekerja. Jadi saya punya inisiatif untuk membiarkan Rahayu menjadi pengasuhnya Mutia. Awalnya hal itu tidak disetujui oleh Haga, namun ada saat itu ketika dia ingin bertemu dengan Rahayu tapi tak diizinkan oleh Papanya, Mutia demam sepanjang malam, dia selalu mengigau memanggil Mama... Mama... mungkin dia melihat sosok mamahnya dalam diri Rahayu. Kamu kan juga tau Sis, karena sudah dari kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari mamanya jadi dia pun ingin memanggil Rahayu Mama tapi tak diizinkan oleh Haga, oleh sebab itu Rahayu pun berinisiatif agar Mutia memanggilnya Bunda saja karena anaknya juga memanggilnya Bunda.


"Oh jadi dia sudah punya anak, berarti dia udah punya suami dong kan?" tanya Siska


"Udah tapi suaminya udah meninggal beberapa bulan yang lalu jadi sekarang dia janda sama kayak Haga yang duda,hihihi..." Bu Susi tertawa mengingat status anaknya.


"Tante kan udah ada Siska calon istrinya Mas Haga, janganlah jodoh-jodohin lagi Mas Haga dengan orang lain, Siska cemburu loh." Siska memanyunkan bibir nya. Sungguh imut tingkah nya.


"Kalau Tante sih tergantung Haga nya aja, dia mau sama siapa. Mau sama kamu ya nggak apa-apa, mau sama Rahayu juga ya nggak apa-apa. Sekarang kan tergantung Haga, saya juga berharap kalau Mamanya Mutia nanti ke depannya bisa full jagain Mutia dan memberikan kasih sayang kepada Mutia seperti anak kandungnya sendiri, itu aja sih nggak banyak kalau menurut saya." Bu Susi menjelaskan.


Mendengar penuturan dari Bu Susi Siska pun terdiam. Dia termenung memikirkan karirnya dia juga harus memilih jika dia menikah dengan Haga apakah dia akan berhenti menjadi desainer melepaskan karirnya yang sudah lama dia bangun atau hanya menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami selama 24 jam di rumah terus?


Sepertinya Siska juga tidak bisa membayangkan kalau dia akan berada di rumah full seharian tanpa melakukan apa-apa.


Tapi dia juga tidak bisa melepaskan Haga, orang yang dia cintai setelah kepergian kakaknya. Sepertinya Siska masih butuh waktu untuk merenungi bagaimana kedepannya apakah dia akan memilih Haga karena dia mencintainya atau dia memilih karirnya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit mungkin tidak lama, hanya butuh waktu setengah jam untuk Rahayu menjemput anaknya lily. mereka kembali ke kediaman Bu Susi bersama dengan pulangnya Haga dari kantor, Haga pulang karena diminta oleh Bu Susi untuk makan di rumah karena di rumah sedang ada Siska dan juga Rahayu beserta anaknya jadi Haga pulang bukan demi mereka berdua tetapi demi anaknya Mutia. Karena berbarengan mereka bertemu di depan halaman rumah lalu Haga menyambut Mutia yang terlihat sangat senang turun dari sepeda motor Rahayu bersama dengan Lily.


"Eh, anak ayah dari mana kok siang-siang gini panas-panasan? emangnya kamu nggak capek? kenapa nggak di rumah aja istirahat?" tanya Haga.


"Mumut tadi ikut jemput Kak lili sama Bunda, Mumut nggak mau ditinggal sama Bunda Pah," jawab Mumut polos.


"Iya tapi ini kan panas sayang..." Haga membelai pipi anak nya.


"Enggak kok, kan Mumut pakai topi, Mumut juga tadi dikasih helm sama Bunda."


"Ya udah kalau gitu nggak apa-apa, yang penting keselamatan itu harus diutamakan udah pakai helm berarti anak Papa udah pinter, yuk masuk." Haga menggendong anaknya dan mulai berjalan kearah rumah.


Sebelum melangkahkan kaki ke dalam rumah Haga melihat Rahayu dan anaknya, eh kok sepertinya anak itu tidak asing ya batin Haga.


Lili yang melihat ke arah Haga pun sedikit terkejut karena Om ganteng ada di sini di depan matanya yang dia bilang calon ayahnya.


"Om ganteng calon Ayah aku kok di sini? Om ayahnya Mutia ya?" Tanya Lily antusias.


"Iya ini anak saya, Kamu rupanya anaknya Rahayu?" Tanya Haga juga penasaran.


"Iya ini bundanya aku Om, oh berarti Mutia calon adik aku dong Om? tanya lili


"Husss kamu ini yang nggak-nggak aja kalau ngomong, dijaga itu ucapan nak.." kata Rahayu pada lili


"Beneran Bunda, Om ini yang mau Lili jadi calon ayahnya Lily, yang hari itu Lily ceritain sama Bunda.. Berarti Mutia itu calon adiknya Lily Bun,," Kata Laili antusias.


"Kamu itu jangan ngada-ngada Lily, Bunda nggak suka ah kamu ngomongnya kayak gitu," Rahayu menegur anak nya.


"Jadi dia anak kamu? pantes..." kata Haga yang memperhatikan interaksi mereka berdua.


"Pantes apa Pak?" Tanya Rahayu penasaran.


"Pantes sama-sama cerewet." kata Haga lalu berlalu dari hadapan Rahayu sambil menggendong anaknya Mutia menuju ke dalam rumah.


Rahayu hanya bisa mengencangkan giginya mendengar penuturan Haga bahwa dia adalah orang yang cerewet.


"Bunda kenapa yuk masuk kita udah diajak masuk tuh." kata Lily membuyarkan lamunan Rahayu


Dengan berat kaki Rahayu juga ikut masuk ke dalam rumah bersama anaknya. Tapi dalam perjalanan singkat itu Rahayu berpesan pada anaknya, "Dek kamu itu nanti kalau ngomong dijaga di dalam, soalnya ada calon mamanya Mutia jadi jangan sembarang asal ngomong nak ya." kata Rahayu


"Berarti Mutia mau punya mama baru dong Bun?" tanya lili. "Yah kalau gitu Om ganteng nggak bisa jadi ayahnya Lili dong?" tanyanya lagi.


"Siapa yang bilang Bunda mau menikah lagi sayan Bunda itu masih sayang banget sama almarhum ayah kamu.." Jawab Rahayu.


"Lili juga sayang kok sama ayah tapi kan Lili butuh ayah juga bunda kata Lili.

__ADS_1


Rahayu hanya tersenyum menanggapi kata-kata anaknya dia mengelus puncak kepala lili lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk menuju langsung ke meja makan tapi sebelum itu Rahayu mengajak Lily untuk mencuci tangan sebelum makan karena memang sudah menjadi kebiasaan mereka.


__ADS_2